Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 09


__ADS_3

Tok tok tok


“ Ntas? ”Panggil Naren di depan kamarnya membawa segelas air putih. “ udah bangun? ”


“ he'em masuk aja Ren, ”balas Antas.


Terlihat gadis berambut panjang acak-acakan itu bersandar dengan mata yang masih tertutup. Naren menghela nafasnya pelan, ternyata gadis itu baru bangun.


“ minum, ”titah Naren yang langsung di turuti Antas.


“ kenapa belum mandi hm? ”Tanya Naren.


“ gue baru bangun, bentar lagi lah kumpulin nyawa dulu. ”


“ bisa jalan? ”


“ bisa kok kan tadi malem udah di obatin sama lo. ”


“ cepet mandi dan turun ke bawah, makan. ”


Antas mengangguk mantap. “ siap bos. ”


...****...


“ uhm wangi banget, lo masak nasi goreng ya? ”Tanya Antas menuruni anak tangga. Naren meliriknya sekilas lalu berdeham sebagai jawaban. Ia hanya melirik wajah Antas, belum sadar dengan pakaian Antas.


“ lo bisa masak? ”Tanya Antas, lagi.


Naren menatap gadis itu datar. Antas terkekeh geli lalu ikut duduk di depan Naren. Ia mulai mencicipi nasi goreng buatan cowok kulkas itu.


“ gila demi apa ini enak banget sumpah! Bahkan gue yang cewek aja gak bisa masak, kalau pun sekalinya masak gak enak, ”kata Antas.


“ lo cewek? ”Sinis Naren. Antas mencebik bibirnya dengan menatap sinis cowok itu.


Beberapa menit mereka telah menyelesaikan sarapan pagi. Untung saja hari ini libur sekolah, jadi tidak perlu terburu-buru dalam mengerjakan suatu hal.


Antas mengutip piring dan juga gelas ke pencucian piring. Naren yang baru sadar akan pakaian Antas pun merinding.


Bangsat nih cewek.


Antas hanya menggunakan baju Naren dengan hotpants. Kini Naren memalingkan pandangannya.


“ Ren? Lo kenapa? Kok muka lo merah? Lo sakit ya? ”Begitulah Antas, ketika sudah bertanya maka akan beruntun.


“ lo kenapa cuma pake baju? ”Tanya Naren tetap tidak melihat gadis itu.


Antas melihat bawahannya, memangnya kenapa? Toh bajunya juga sebatas pahanya dan dia juga mengenakan hotpants.


“ gue coba celana lo kebesaran di pinggang, jadi yaudah gue pake baju lo aja kan ukuran besar, ”jawab Antas santai.


Naren menghela nafasnya lalu beranjak naik ke atas. “ heh lo mau ke mana? ”Tanya Antas.


“ ambil obat, ”jawab Naren.


Antas berjalan pincang menuju sofa, kakinya masih terasa ngilu dan juga sakit. Bayangkan saja terjepit motor dalam waktu yang lumayan lama, itu membuat betis dan mata kaki gadis itu membiru dan juga membengkak.


Naren datang dengan membawa kotak P3K di tangannya. Melihat Antas yang sudah menonton Spogebob.


Tanpa permisi terlebih dahulu Naren langsung mengambil kaki kanan Antas dan meletakkannya di paha cowok itu. “ anjir mau ngapain lo? ”Tanya Antas terkejut.

__ADS_1


“ ck diem lo! ”Jawab Naren.


Baru saja ingin mengoleskan krim pada betis Antas, handphone Naren berdering.


Satu menit obrolan mereka di telepon, Naren memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


“ siapa Ren? ”Tanya Antas.


“ Saka. ”


“ mau ngapain? ”


Naren berdecak sebal, mengapa gadis di hadapannya ini terus bertanya? Lantas Antas terdiam dengan memperhatikan tangan yang penuh urat itu mengobati kakinya yang lebam dan juga membengkak.


Setelah di rasa sudah benar mengobatinya, Naren membereskan semua obatnya ke dalam kotak P3K itu.


“ Ren mereka mau ke sini ya? ”Tanya Antas. Naren berdehan pelan membuat gadis itu berdecak kesal. Cowok itu, memangnya tidak ada jawaban lain selain dehaman, oh, ya, oke, hm. Fucek!


Naren melirik Antas yang menekuk wajahnya. Cowok itu tersenyum tipis, sangat tipis yang bahkan hanya kucing yang bisa melihatnya, bercanda kok.


“ lo udah imut, jangan di imut-imutin lagi, ”kata Naren berhasil membuat Antas salah tingkah.


“ apaansih gak ya! ”


“ gue lupa kalo lu cowok. ”


“ ish ngeselin banget sih lo. ”


“ biarin. ”


Oke gadis itu menyerah, mau berdebat sehebat apa pun dengan Naren tetap membuatnya kalah telak. Kulkas berjalan itu bahkan terlalu simpel dalam menjawab sesuatu. Mama-nya dulu ngidam apa?


Naren mendekat, semakin mendekat hingga membuat gadis itu terus memundurkan kepala-nya. Kini punggungnya sudah menyentuh sandaran sofa. Dan saat ini juga Naren benar-benar mengikis jarak di antara mereka.


“ l—lo mau ngapain? ”Tanya Antas sedikit takut.


Mata Naren melihat setiap sudut gadis itu, hingga Tatapannya terhenti pada telinga Antas. Cowok itu dengan tiba-tiba menyelipkan anak rambut Antas ke belakang telinga. Lalu Naren kembali menatap wajahnya dengan lekat begitu juga Antas. Jantung keduanya kini sedang berpesta.


“ COWOK GANTENG SEDUNIA DATANG!! ”Siapa lagi kalau bukan Saka?


“ Gue—


Anjing! ”Saka mendelik saat melihat keduanya. Begitu juga teman yang lainnya terdiam melihat adegan yang ada di depan mata mereka. Sedangkan Naren dan Antas langsung berjauhan dengan duduk seperti biasa. Antas terus berdeham sedikit panik.


Ada Bumi, Dean, Letta, Cila dan Narra. Mereka sudah berjanji akan bermain di rumah Naren karena sudah mendengar kejadian yang menimpa Antas.


“ wew salah waktu nih, ”kata Saka pelan.


“ padahal udah dikit lagi anjir, ”sambung Dean.


Narra menyenggol lengan Dean dan menyuruh Dean melihat Bumi dengan isyarat. “ jangan gitu tolol, ”bisik Narra.


Terlihat Bumi yang diam masih memperhatikan keduanya. Ia berjalan mendekati keduanya.


Saka dan Dean saling menyenggol satu sama lain. “ kenapa tuh? ”Bisik Saka.


“ bukannya udah jelas? Udah ikutin aja, ”jawab Dean.


Keduanya terdiam saat Bumi duduk di singel sofa. “ kenapa Sta? ”Tanya Bumi melihat Antas yang terlihat canggung.

__ADS_1


“ hah? gak pa-pa, ”jawab Antas.


“ itu kaki lo kenapa? ”


“ lecet dikit doang. ”


“ gue denger dari Naren katanya tadi malem lo di kejar sama anak buahnya Alex ya? Terus mereka nendang motor lo sampe jatuh, ”kata Cila.


“ ya gitulah, salah gue juga yang gak hati-hati. Tapi gue baik-baik aja kok, cuma lecet dikit doang, ”kata Antas.


“ duh Ntas ada-ada aja deh lo, ”ujar Letta bergidik ngeri.


“ emang lo dari mana? ”Tanya Saka.


“ gue dari markas, biasa numpang makan, ”jawab Antas terkekeh.


“ dasar. ”


Bumi berdeham, sedari tadi matanya tak pernah lepas untuk terus melihat gadis itu. Naren pun beranjak dengan membawa kotak P3K.


“ mau ke mana lo? ”Tanya Dean.


“ kamar, ”jawab Naren.


Mata Bumi terus mengekori Naren yang hampir menghilang itu. Ia melirik Antas sekilas yang juga melihatnya. Cowok itu beranjak lalu mengikuti Naren ke atas.


“ hm gue merasakan hawa dingin dan panas, ”sindir Dean.


“ antara dingin dan panas, cuma mereka yang tau, ”sambung Saka.


“ ke depan yuk Ntas, lo bisa jalan kan? ”Tanya Narra.


“ bisa lah, cuma agak pincang dikit kok, ”jawab Antas. Lalu para cewek ke depan duduk di ayunan mengobrol ria seperti biasa. Sedangkan para cowok tetap duduk di sofa.


Saka melirik PS di lemari TV Naren, ia menyenggol bahu Dean. “ oi gas? ”


Dean ikut melirik PS itu dan memasang wajah datarnya. “ kalah traktir satu bulan. ”


“deal! ”


Sementara di kamar Naren. Keduanya berdiri di teras kamar itu, melihat Antas yang terus tertawa bersama tema-temannya itu. Bumi melirik Naren yang juga fokus ke gadis itu, Bumi melihatnya dengan jelas. Bahkan senyuman Naren yang jarang terlihat itu kini jelas terletak di bibirnya.


Bumi menghela nafasnya. “ lo suka? ”


Naren tersentak dan kembali ke wajah dasarnya melihat Bumi. “ Antas? ”


“ memangnya siapa lagi kalo bukan dia yang dari tadi lo perhatiin? Dan gue belum bilang cewek itu Antas. ”


Naren masih menatap lekat wajah cowok yang kelewat tampan itu dan berusaha bersikap santai. “ gak. ”


Bumi tertawa pelan seraya menunduk lalu kembali melihat wajah cowok dengan rahang tegasnya itu. “ bohong, gue dan lo sama-sama cowok. Gue bisa Bedain mana tatapan suka dan mana yang gak suka. ”


“ kalo gue suka juga gue bisa apa? ”Ujar Naren yang berhasil membuat Bumi terdiam. Cowok itu melirik tangan Bumi yang memainkan jari-jarinya.


Cowok dingin itu tersenyum miring. “ tetap percaya gue sebagai sahabat lo Bum, dan lo tau seorang sahabat gak akan pernah mengkhianati sahabatnya sendiri. ”


“ meskipun gue suka, bukan berarti gue harus memiliki, ”sambung Naren lalu keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.


Bumi kembali melihat Antas yang tersenyum lebar pada temannya.

__ADS_1


Antas.


__ADS_2