
Seperti biasa saat jam kosong tiba semua murid akan berbondong-bondong keluar kelas. Ada yang menuju kantin, belakang sekolah, perpustakaan bagi yang rajin atau sekedar numpang tidur, ada juga yang di kelas menggosipkan orang lain dan bermain game, tak lupa ada juga yang bolos dan itu adalah hal yang sangat-sangat pasti.
Geng Bumi dan Antas lebih memilih berkumpul di belakang sekolah yang terdapat satu pohon besar nan rindang. Bagi mereka di sana adalah tempat yang pas dengan duduk di bawah pohon tersebut, meskipun harus duduk di bawah tak menghilangkan rasa segar dan nikmat mereka yang duduk di sana. Tenang saja, di sana sangat bersih hingga duduk di tanpa alas pun tidak akan kotor, paling hanya beberapa rumput yang menempel, iya rumput, di sana 'kan penuh rumput halus yang biasanya tumbuh di depan rumah, memang sangat pas untuk bersantai. Eits! Tidak tajam loh, sangat halus kok!
“ eh bentar deh, ” ujar Antas yang masih berdiri.
“ ini si Naren sama Kevin ke mana dah? Dari tadi gue gak ngeliat tuh hidung, ” tanya Antas.
Bumi menarik pelan tangan Antas agar duduk di sebelahnya. Sang empunya pun hanya menuruti.
“ sibuk lah ini 'kan udah masuk bulan bahasa, ” jawab Narra.
“ lah iya goblok gue baru sadar beberapa hari lagi bulan bahasa, ” kata Dean.
“ terus, kalian ada ikutan apa? Di kelas 'kan wajib mewakili beberapa orang, ” kata Letta seraya menyeruput susu kotak dari Saka.
“ muka-muka kita mau ngikut begituan? Beuh kaga mungkin! Dan kalaupun ikut gue yakin belum apa-apa udah ngakak noh, ” kata Cila yang memang ada benarnya.
“ yakin? Ini 'kan bulan bahasa terakhir kita di sekolah ini, kalian gak mau ninggalin kenangan? ” Tanya Letta lagi.
“ mau kenangan gimana lagi dah by? Kenangan kita di sini udah meluber segunung, ” jawab Saka.
“ kenangan goblok, ” timpal Bumi.
Antas hanya terdiam sejak mereka membahas bulan bahasa, gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu, atau lebih tepatnya, rencana?
Bulan bahasa? Hm kayaknya gue punya sesuatu deh buat mereka.
Bumi yang memperhatikan Antas yang terus diam memikirkan sesuatu mencubit pipi Antas.
“ mikir apaan? ” Tanya Bumi.
“ Naren sama Kevin pasti lagi ke kelas demi kelas 'kan buat ambil nama-nama yang di tulis sama ketua kelas? ” Tanya Antas.
“ iya, makanya mereka gak ikutan ke sini, ” jawab Bumi. Lalu detik berikutnya Antas memegang perutnya yang katanya sangat mules.
“ duh duh perut gue tiba-tiba mules mau boker, ” kata Antas lalu berdiri.
“ gue ke toilet bentar, ” sambungnya.
“ eh mau gue temenin? ” Tanya Cila.
Antas menggeleng. “ gak usah gue sendiri aja. ”
Bukannya ke toilet, Antas menyembulkan kepalanya di kelasnya sendiri. Kedua matanya mencari di mana ketua kelasnya berada, di kelasnya juga terdapat Kevin dan anggota OSIS lainnya yang berdiri di depan papan tulis. Saat Angga akan memberikan catatan nama pada Kevin, Antas merampasnya lalu tertawa pelan.
“ hehe mon maap gue pinjem bentar oke, ” kata Antas lalu mengambil pena Angga juga.
“ dugaan gue bener lo bakal ke sini, ” kata Cila.
“ syutt diem-diem aja, ” kata Antas.
Cila mengangguk dengan mengacungkan kedua jempolnya. “ aman! lo di sini catat Dean, Saka dan Narra, biar gue catat nama Bumi sama Letta, gimana? ”
“ lo mau ikutan juga? ” Tanya Antas. Maksudnya adalah Cila akan ikut menjahili para teman-temannya itu.
Cila mengangguk mantap. “ yoi. ”
...****...
__ADS_1
“ Dean, Saka, lo berdua udah persiapkan diri kan buat lusa? Kalian bakal lawan anak IPS, ” kata Angga menghampiri tempat duduk keduanya.
“ ngomong apaan dah lo? ” Tanya Saka bingung.
“ kalian ikut debat 'kan? ” Tanya Angga meyakinkan.
“ kaga njem salah orang lo, ” jawab Saka.
“ tau nih, makanya jangan banyak belajar, jadi stres 'kan lo, ” kata Dean.
“ palamu! Jelas nama lo berdua tercatat, udahlah pokoknya lusa kalian dateng pagi. Debat bahasa Indonesia mulai dari jam 8.15 ”
Saka dan Dean melongo melihat kepergian ketua kelasnya itu.
“ apaan dah? ” Tanya Dean pada Saka.
“ lah mana gue tau, kapan kita daftar jadi peserta debat? ” Tanya balik Saka.
“ nak anj siapa yang daftarin gue woi?! ” Tanya Narra berteriak kecil.
“ heh Mak lampir, apaansih lo teriak-teriak? Ini tuh kelas bukan hutan, ” kata Saka.
“ diem lo ikan koi, ” semprot Narra.
“ kenapa Nar? ” Tanya Dean mendekati kekasihnya itu.
“ liat nih, ” ujar Narra memberikan lirik lagu utama pada Dean.
“ kamu daftar nyanyi? ” Tanya Dean.
“ yakali! Aku gak daftar gituan Dean please deh ah, ” jawab Narra. “ aku gak nulis nama aku di catatan itu tapi kenapa aku yang harus nyanyi? Terus katanya juga nama aku ada di daftar catatan itu. ”
“ fiks ada setan! ” Serentak ketiganya.
...****...
Seperti biasa mereka berkumpul di rumah Antas seraya memakan sesuatu yang mereka buat dan beli.
“ sialan siapa sih? ” Tanya Narra. Mereka puas membicarakan tentang nama mereka yang tiba-tiba terdaftar pada catatan bulan bahasa itu.
“ gue yakin pasti setan, ” celetuk Saka.
“ iya setannya itu elo, ” kata Kevin.
“ heran deh gue juga tiba-tiba jadi ikut drama, tapi untungnya gue jadi Puteri di situ jadi otomatis gue pemeran utamanya, ” kata Letta kesal sekaligus senang.
“ lo apa Bum? ” Tanya Saka.
“ gitar solo, masih mending sih. Dari pada lo berdua debat, gue yakin siapapun bakal kalah, ” kata Bumi yang di setujui semua temannya.
“ bhaha seratus persen deh bakalan menang! Mulut-mulut kalian yang kayak cabe terpedas gue yakin mereka nyerah di pertengahan, ” kata Kevin yang akhirnya di jitak Dean.
“ tapi tunggu deh, kenapa Antas sama Cila gak termasuk? Aneh 'kan? ” Tanya Narra.
“ mungkin setannya gak dendam sama mereka ataupun setan takut sama mereka, ” kata Saka.
“ setan mulu lo anjir! ” Kata Narra.
“ nah iya, lo berdua kenapa gak ikutan? ” Tanya Letta.
__ADS_1
“ mereka yang daftarin kalian, jadi gak mungkin mereka masuk ke lubangnya sendiri, ” kata Naren membuka suara, namun pandangannya tak teralihkan dari PS milik Antas.
“ what? Jadi lo berdua dalangnya?! ” Tanya Narra.
“ emang bener-bener ya lo berdua. Apes banget ******, ” sambung Dean.
“ yaelah santai aja kali gak pa-pa deh 'kan sesekali juga, ” jawab Antas tertawa pelan.
Bumi beranjak lalu menarik pelan tangan Antas. Cowok itu membawa Antas ke tepi kolam renang dan duduk di sana, sementara Naren hanya melihatnya sekilas lalu kembali fokus pada PS-nya.
“ mau banget liat gue main gitar hm? Sampe daftarin gue ke acara gituan segala, rela memangnya kalo gue di liatin semua orang? ” Tanya Bumi melihat wajah Antas dengan tenang.
“ bukan gue tapi Cila yang daftarin karena dia di kelas lo, gue cuma daftarin mereka yang ada di kelas gue, ” jawab Antas. “ ya gue gak mau lah lo di liatin semua orang apalagi para cabe gatel. ”
Bumi menghela nafasnya. “ yaudah gue mundur, gue gak mau ikut gituan. ”
“ gak usah, ” ucap Antas. “ nama lo udah terlanjur tercatat, lagian gak pa-pa kok lo tampil di depan semua murid. Gue yang bakal berdiri paling depan buat liat lo. ”
Awalnya Bumi tersenyum tipis lalu tertawa pelan. “ yakin? ”
Antas mengangguk.
“ yaudah sesuai keinginan kamu. ”
Ini kedua kalinya Bumi memanggil aku-kamu. Melihat Antas yang terdiam melamun membuat Bumi mendekatkan wajahnya dengan wajah Antas.
“ apa? ” Tanya Antas yang tersadar.
“ gue cuma mau liat muka lo lebih dekat, ” jawab Bumi. Jarak mereka semakin berdekatan, semakin dekat dan sangat dekat. Batang hidung mereka juga udah saling menyatu, dan bibir itu juga akan menyatu jika Bumi sedikit maju.
Antas langsung menolak Bumi lalu membuang pandangannya karena ia yakin wajahnya saat ini sangat merah seperti kepiting rebus. Bumi yang melihatnya sangat gemas dan memegang wajah Antas lalu menghadap ke arahnya lagi.
“ kenapa? Aku punya hak, ” kata Bumi.
“ tapi gue belum siap, ” jawab Antas.
“ kalo gitu mulailah panggilan aku-kamu, bukan lo-gue lagi, ” kata Bumi.
“ gue belum terbiasa Bum. ”
“ usahakan, buat jadiin kamu milik aku aja butuh usaha. ”
“ kenapa harus? Padahal lo-gue juga asik biar beda dari yang lain. ”
“ lo-gue gak menunjukkan rasa di antara kita, dan orang lain pasti terus menyangka kita cuma temenan, dan akhirnya cowok lain mulai deketin kamu lagi, ” jelas Bumi.
“ oke. ”
“ apanya yang oke? ”
“ gue— ”
Antas membulatkan kedua matanya dengan sempurna sekaligus terkejut karena Bumi langsung mencium bibirnya. Antas sudah berusaha menolak Bumi namun tenaga cowok itu juga cukup kuat, namun Antas juga cukup menikmati karena ciuman itu sangat halus dan lembut, biasanya mereka yang seperti itu akan kasar dan ganas namun tidak dengan Bumi.
“ itu hukumannya kalo lo ngebantah aku, ” kata Bumi melihat wajah Antas lalu mengelap bibir Antas yang masih basah.
“ manis, ” ucap Bumi dengan senyumannya benar-benar membuat Antas merona.
“ gak pa-pa, ini baru awal, ” kata Bumi.
__ADS_1
Apa maksud dari cowok itu?