
“ lo ada masalah apa Ntas? Kok lo marah banget tadi? ” Tanya Letta.
“ lo berdua beneran mantan? ” Tanya Narra. Sorot tajam milik Antas langsung mengarah pada keduanya membuat mereka terdiam.
“ Antas, ” panggil Cila yang baru saja datang dan duduk di depan Antas.
“ gue belum bisa cerita. Sorry, ” balas Antas.
“ it's okay, when you can tell us we will all be good listeners, ” ujar Cila.
“ yoi Ntas, ” sambung Narra.
...****...
Semua murid bersorak ria kala bel pulang telah berbunyi. Antas, cewek itu meregangkan otot-ototnya karena baru saja bangun dari mimpi indahnya.
“ huaaaap— ”
“ dasar, ” celetuk Dean yang menutup mulut Antas.
“ apaan sih gue lagi enakan nih, ” balas Antas.
“ YOK PULANG!! ” Teriak Cila yang memasuki kelas bersama Letta.
“ pulang bareng? ” Ajak Saka pada Letta. Letta mengangguk dan pamit terlebih dahulu.
“ mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama, ” Narra bernyanyi dengan memegang tangan Antas dan juga Cila. Saat ketiganya akan melangkah, Antas tertarik ke belakang.
“ eitsss! Mau ke mana lo? ” Tanya Angga yang merupakan ketua kelas.
“ ya pulang lah bego, sambung tidur siang gue, ” balas Antas.
“ enak banget hidup lo, udah jarang masuk sekolah dan sekarang lo enak-enak. Noh liat foto di samping kiri lo, ” jelas Angga.
“ buset anjir kok gue baru sadar foto gue paling gede, ” kata Antas.
Fotonya tepat di tengah-tengah semua murid di kelas ini, ia sama sekali tidak tahu jika hari ini giliran dirinya yang piket kelas.
“ haduh-haduh besok ajalah, gue capek nih, ” adu Antas.
“ capek ngapain lo? Habis kuda-kudaan? Lo sepanjang pelajaran juga tidur terus jadi gak ada alesan apa pun. ”
“ Ntas terus gimana? ” Tanya Narra.
“ heh lo berdua pulang duluan aja, noh si botak malah nyuruh gue piket, ” jawab Antas.
“ bang— ”
__ADS_1
“ apa lo?! ”
“ oh yaudah kita duluan ya, ” pamit Cila lalu pergi bersama Narra.
“ gue tinggal, ” ujar Angga lalu pergi.
Bangsat lu Ngga, awas aja lu
“ lo nyapu dan gue tutup jendela sama angkat kursi, ” Antas meloncat kecil kaget dengan Dean yang masih di kelas itu.
“ lo piket juga? ” Tanya Antas.
“ nangkep ayam. Ya piket lah Antas sayang, ” jawab Dean membuat Antas bergidik ngeri.
Tiga menit Antas menyapu, handphone-nya berdering.
Halo?
Dean sedikit mendekat untuk mendengar pembicaraan Antas di telepon. Jiwa kepo emak-emak milik Dean telah keluar.
Antas menghela nafas lalu menutup teleponnya.
“ gila, gue dapet uang sebanyak itu dari mana? ” Gumamnya.
“ dari rumah sakit? ” Tanya Dean. Antas mengangguk seraya kembali menyapu.
“ gak usah, gue bisa sendiri kok. ”
...****...
Pulang melewati jalan sepi adalah penyesalan yang Antas rasakan. Ia bertemu dengan the vagos.
“ wehh liat nih siapa, ”kata Gibran turun dari motornya. Alex yang merupakan ketua the vagos itu maju mendekati Antas.
“ turun, ”titah Alex. Antas mencebikkan bibirnya dan turun dari motornya lalu melepaskan helm-nya.
“ gak usah ngajak ribut, gue lagi capek, ”balas Antas mendekati cowok itu dengan menantang.
Alex tertawa pelan. “ masih berani melawan juga ya lo padahal sendirian. ”
“ terus kenapa kalo gue sendiri? Takut sama kalian? Anjing bakal kalah sama Serigala, ”jawab Antas tersenyum miring. Alex mengepalkan tangannya geram.
“ jangan di kira gue suka sama lo dan gak berani kasih lo pelajaran, ”kata Alex.
“ oh ya? Karena lo udah ngerusak acara tidur siang gue, nikmatin hasilnya, ”kata Antas lalu memukul wajah cowok itu. Teman Alex lainnya tak terima dan menyerang cewek itu secara bersamaan. Bukan Antas jika tidak mempersiapkan dirinya, dengan lebih melawan cewek itu membalas semua pukulan dan tendangan dari beberapa anak the vagos itu.
“ kurang pengecut apa coba mainnya keroyokan? ”Sindir Antas menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
__ADS_1
“ di sini gue gak bakal nganggep lo cewek, ”kata Gibran menendang perut Antas. Cewek itu tak mau kalah, ia kembali menendang dan menonjok cowo itu bertubi-tubi.
Sementara hujan mulai turun dengan deras membasahi semuanya, namun hal itu tak membuat mereka mundur dan berhenti.
...****...
“ Ren lo bawa mobil gue biar gue bawa motor lo, soalnya gue mau ke markas bentar. Lo mau pulang kan? ” Tanya Bumi. Mereka sekarang berkumpul di kantin belakang sekolah.
Naren hanya berdeham lalu melemparkan kunci motornya. Hari ini Bumi membawa mobilnya karena motor miliknya baru saja mengalami kecelakaan yang berakhir di rawat di bengkel.
“ gue pulang kan? ” Tanya Dean cengo.
“ terserah lu, gue ke markas mau ambil tupperware mak gue, ” jawab Bumi.
“ BHAHAKS anjir. ”
Di jalan ini Naren mengendarai mobil sendirian. Jarang ia melewati jalan ini, namun hari ini ia sangat ingin melewati jalan sepi itu.
Jalan itu tidak sepi, hanya saja waktu sudah hampir malam di tambah lagi turun hujan. Naren menghentikan mobilnya saat melihat perkelahian di yang terjadi di depannya. “ the vagos? ”Gumamnya.
Lalu cowok itu menyipitkan matanya saat yang di keroyok adalah orang yang sangat ia kenali. “ Antas. ”
Lantas cowok berjaket hitam dengan lambang kebanggan DG itu turun dan langsung menendang salah satu anggota the vagos. Naren juga menarik Antas membawanya ke belakang tubuhnya. Antas yang terkejut pun hanya bisa menurut karena tubuhnya sudah sangat pegal.
“ ini yang di banggakan the vagos? Mainnya keroyokan, sama cewek pula, ”kata Naren.
“ gak usah ikut campur lo, kita gak punya urusan sama orang kayak lo, ”balas Dani.
“ urusan Antas urusan gue juga. Dan lo, ”Naren menunjjuk ke wajah Alex. “ besok ganti gender, malu-maluin batang doang. ”
Semakin marah Alex berusaha menendang Naren yang berhasil menangkisnya. Ketua-nya itu tersungkur akibat pukulan dari Naren. Detik berikutnya terjadilah perkelahian yang di tonton Antas. Cewek itu masih berdiam di tempat berhujanan dengan sesekali mengusap wajahnya.
...****...
“ ganti, ”titah Naren memberikan baju dan celananya. Antas beranjak dari duduknya dan naik ke atas. Setelah perkelahian tadi keduanya pulang ke rumah Naren, karena cuaca yang tidak baik membuat Antas di rumah Naren sementara. Sepanjang perjalanan tadi tidak ada pembicaraan bahkan baru tadilah Naren membuka suara. Motor Antas di tinggal dengan Naren yang sudah menyuruh Saka mengambilnya nanti.
Saat Antas sudah turun ke bawah dan duduk di sofa, Naren membuka kotak P3K dan mengeluarkan beberapa obat-obatan.
“ Ren, ”panggil Antas pelan. Naren hanua berdeham tanpa menghentikan aktifitasnya mengobati luka Antas.
“ sorry, ”Naren melihat mata Antas dan terdiam sejenak. “ buat? ”Tanya Naren.
“ karena gue lo jadi berantem, lo juga luka kan? Seharusnya lo biarin aja lagian ini kan hujan lo bisa sakit, mana lo belum mandi pula. ”
Naren masih menatap manik coklat itu dan kembali melanjutkan mengobati wajah Antas.
“ terus, gue harus bersikap bodo amat ketika lo di serang sama mereka dan ngebiarin lo kehujanan yang bakal bikin lo demam, gitu? ”Antas tertegun. Apa yang di depannya itu Naren? Baru kali ini dia mendengar sosok Naren berbicara sepanjang itu.
__ADS_1
“ lain kali kalo ada apa-apa langsung hubungi gue atau temen lainnya. Jangan diem dan hadapi sendiri, lo gak bakal tau mereka bakal senekat apa, ”jelas Naren.