Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 36


__ADS_3

Semenjak ia melihat kedekatan Antas dan Kevin semakin jadi bahkan Antas yang sudah berani tidur di rumahnya memang membuat Bumi sangat kecewa. Hari-hari cowok itu selalu diam, ia jarang pulang ke rumah karena selalu berpindah-pindah tempat. Mulai dari markas, tongkrongan lainnya, rumah temannya dan lainnya lagi.


Bumi juga bukan tipe cowok yang akan merusak barang dan memukul orang sana sini untuk meredakan emosinya. Cowok itu selalu diam, hanya diam. Karena ia tahu, bergeraknya ia sedikit karena emosi maka semua akan tamat, hanya penyesalan yang tertinggal.


“ gimana? ” Tanya Bumi saat melihat Naren datang. Saat ini mereka sedang berada di markas. Bumi yang beberapa hari ini tidak masuk sekolah dengan alasan izin, sementara Naren baru hari ini bolos untuk menemui Bumi.


“ masih sama, jadi diem. Mungkin karena gak ada temen, ” jawab Naren. Ia selalu memberikan laporan tiap harinya pada Bumi tentang aktivitas Antas.


“ masih deket sama Kevin? ” Tanya Bumi lagi.


Naren menggeleng lalu ikut duduk di sofa. “ gak. ”


Bumi menghela nafasnya, kembali bersandar lalu menutup matanya.


“ mau sampai kapan lo kayak gini? Gue yakin Antas nyariin lo, ” Tanya Naren.


“ gue belum siap ketemu dia, ” jawab Bumi.


“ semua cuma salah paham, gue yakin lo tau itu. ”


“ gue tau Ren, gak mungkin Asta punya rasa ke Kevin atau ngelakuin hal yang bodoh. Tapi tetap gue kecewa, gak pernah gue liat Asta bisa deket sama cowok lain selain gue dan temen-temen gue Ren. ”


“ tapi terlalu lama kayak gini juga gak baik buat lo berdua, mengikis jarak cuma menimbulkan perpisahan secara halus. ”


Bumi diam tak menjawab, lalu cowok itu kembali bersandar dan menutup matanya. Tak lama kemudian handphone-nya bergetar yang segera ia angkat. Ternyata pihak rumah sakit dan pesan masuk dari Bagas yang memberitahukan jika Mama Antas sudah sadar.


Lalu Bumi menelepon Bagas untuk mengikuti Asta dan melihat kondisi Mama-nya, dan jika dokter menjelaskan sebabkan Bagas yang teliti mendengarkan.


“ kenapa? ” Tanya Naren.


“ Mama Asta sadar. ”


“ ke sana? ”


Bumi menggeleng. “ gue udah suruh Bagas buat pantauin Mama Asta beberapa hari ini dan pastiin kondisi Asta juga baik-baik aja. ”


...****...


Keesokan harinya seperti biasa Antas sendirian lagi. Jika biasanya ia selalu lengket bersama temannya mulai dari bermain bersama, makan bersama, toilet bersama bahkan buat ke ruang guru saja bersama-sama maka tidak lagi dengan sekarang. Cewek itu memang sudah seperti makhluk transparan bagi semua temannya.

__ADS_1


Antas juga mulai diam, Kevin mengerti itu. Antas tidak marah ataupun membenci Kevin, ini salahnya, hanya salahnya sendiri.


“ gue gak bisa diam aja, gue harus tau di mana Bumi. Gue juga harus kasih tau kalo Mama udah sadar, ” gumam Antas yang berjalan sendiri di lapangan hendak menuju kantin.


Saat melihat Letta gadis itu ingin mendekat dan bertanya, namun langkahnya terhenti dan diam.


“ percuma tanya sama Letta, apalagi temen lainnya. Mereka gak bakal kasih tau di mana Bumi, ” kata Antas.


Lalu Antas kembali berjalan sambil memikirkan cara. Ia pun melihat Cila yang berjalan berlawanan arah.


“ astaga, ” ucap Cila terlonjak kaget saat tangannya di pegang dari belakang.


“ Antas, kenapa? ” Tanya Cila.


“ gue butuh bicara, sebentar aja, ” jawab Antas.


“ ngomong aja. ”


“ lo pasti tau kan di mana Bumi? Tolong kasih tau gue Cil, gue bener-bener butuh, ” jelas Antas.


Baru Cila akan membuka mulutnya, Letta dan Narra datang dan mendekati keduanya.


“ gak usah Cil, ” saut Letta.


“ ada hal penting yang mau gue omongin ke Bumi, ” kata Antas.


“ hal penting? Hal penting tentang lo dan Kevin? Udahlah Ntas kan emang itu mau lo, Bumi mah nurut aja dengan ngejauhin lo, gak salah kan, ” jelas Narra.


“ lagian lo bisa-bisanya ngebelain Kevin di kantin kemarin, terus marah-marah pula sama kita, ” kata Letta.


“ bukan itu maksud gue Ta, kalian salah ya gue salahin. Gue tau kalian temen gue, tapi yang namanya salah ya tetep salah, ” jelas Antas. “ gue butuh Bumi, serius ada hal penting yang mau gue omongin. Kasih tau gue di mana Bumi. ”


Antas menghela nafasnya. Sudah di wanti-wanti agar tidak berdebat dengan mereka tapi tetap saja. Lihat lah, bukannya mendapat jawaban tapi hanya berdebat.


“ yaudah gue duluan, ” kata Antas lalu pergi.


Jujur Cila tidak tega, meskipun soal apapun itu ia selalu tegas tapi soal ini ia lemah. Namun apa dayanya di saat semua temannya menjauhi Antas karena perkara salah paham?


Antas berlarian menuju kantin belakang dan memasukinya untuk menemui Naren. Benar, terdapat Naren, Dean dan Saka yang duduk di sana serta anak DG lainnya.

__ADS_1


“ gue mau tanya, ” kata Antas. “ lo tau kan di mana Bumi? Semalem lo gak dateng kan ke sekolah? Bumi di mana Ren? ”


Dean dan Saka tidak meladeni dan kembali mengobrol dan bercanda. Sementara Naren hanya diam.


“ Widih siapa nih? Cantik amat neng, ” Tanya cowok yang mendekatinya. Wajahnya asing di mata Antas, lalu kenapa cowok itu bisa masuk ke kantin ini?


“ hei kenapa? Duduk dulu dong ngobrol sama gue sini, ” kata cowok itu memegang pundak Antas. Gadis itu langsung menipisnya dengan tatapan tajam.


“ Ren jawab gue, kenapa diem? Lo tau kan di mana Bumi, ” kata Antas lagi.


“ Bumi? Kenapa cari dia? Sama gue aja sini ayo sayang, ” kata cowok itu merangkul Antas. anak DG sudah memberikan banyak kode untuk tidak menyentuh Antas.


“ bisa diem gak?! Gue gak ngomong sama lo ya, ” sentak Antas.


“ lo juga gak mau kasih tau gue Ren? Yaudah gue balik ke kelas dulu, ” kata Antas lalu pergi.


Namun langkahnya terhenti saat tangannya di tahan cowok itu dan dengan santai dan beraninya ia memegang dagu Antas dengan tatapannya dari bawah hingga atas, penuh dengan *****.


“ gak usah sentuh gue brengsek! ” Bentak Antas memukul wajah cowok itu hingga terdorong ke belakang. Semua anggota DG pun berdiri dengan cowok itu yang penuh terkejut.


Naren, Dean dan Saka sebenarnya sudah geram dan mengepalkan tangannya. Namun mereka masih diam yang di tahan oleh Naren.


“ berani juga ya lo, ” kata cowok itu tertawa pelan sambil mengusap bibirnya.


“ gak usah sok suci lo j**ang, ” balasnya dengan menampar wajah Antas.


“ nyari ribut lo ******, ” kata Antas menendang cowok itu hingga tersungkur. Tak hanya itu, Antas juga menaiki tubuh cowok itu dan memukul wajahnya berkali-kali. Yang di pukul pun belum siap apapun, ia tak menyangka gadis yang ia tampar tadi bisa seganas ini, jika tahu begini ia akan membalasnya dengan pukulan keras tadi.


Semua anggota DG yang ada di situ dan murid lainnya pun yang diam melihat mereka, antara ingin memisahkan namun juga takut pada Bumi. Jika saja Antas terluka karena pisahan dari mereka, maka mereka akan tamat.


“ jangan, ” ujar Naren yang menahan tangan Dean dan Saka.


Antas berdiri dengan nafasnya yang memburu, dadanya naik turun karena emosi yang sudah memuncak. Terlihat cowok itu terbaring dengan sesak dan beberapa luka lebam di wajahnya.


“ cuma cowok brengsek dan gak punya etika yang berani nyentuh cewek sembarangan, siapa dia? ” Tanya Antas.


“ anggota baru Ntas, kemarin baru di angkat sama Bumi dan Naren, ” jawab Jefran pelan.


Antas melirik Naren yang juga menatapnya. “ ini anggota barunya? Model kayak dia yang kalian pilih? ”

__ADS_1


“ kenapa Emangnya dan masalah lo apa anjing?! ” Bentak cowok itu lalu kembali memukul wajah Antas. Tak terima Antas kembali memukul wajah cowok itu. Ketika cowok itu bangkit dan melihat Antas lengah ia langsung menendang Antas keras ke belakang hingga punggungnya jelas terdengar terhantam meja.


“ Antas. ”


__ADS_2