Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 44


__ADS_3

“ lo pake baju apa Ntas? ” Tanya Cila yang masih memakai kimono. Satu jam lagi mereka semua akan pergi ke sungai dekat air terjun.


“ ehm celana pendek sama Hoodie pink, ” jawab Antas.


“ pink? ” Cengo Cila. Pasalnya gadis itu tidak pernah memakai pakaian warna merah muda.


“ di kasih Bumi kemarin, cuma belum pernah gue pake. Nah sekarang gue pake itu aja, ” jelas Antas.


Cila mengangguk mengerti. “ kalo gitu gue pake rok yang atas paha dikit sama sweater gimana? ”


“ nah bagus tuh, ” jawab Antas.


Setelah semuanya kembali berkumpul di bawa dan berjalan kaki menuju sungai, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dan hitung-hitung olahraga juga.


“ woah cantik banget sih ini, ” kata Narra.


“ keren-keren, ” ucap Kevin.


Kemudian Dean dan Saka langsung membuka baju mereka dan berlari masuk ke dalam sungai. Kevin tertawa lebar yang juga sudah membuka bajunya, sekarang cowok itu juga menyebut ke dalam sungai.


“ dingin gak? ” Tanya Cila.


“ lumayan sih, kan masih pagi, ” jawab Dean.


“ Bum gue ke sana ya sama Cila, ” kata Antas.


“ boleh berenang? ” Tanya Bumi.


“ ngapain pake nanya sih ya berenang aja haha. ”


“ kan harus izin sama istri. ”


“ palamu. ”


“ eh fotoin gue dong di sini, yang bagus ya, ” ujar Letta.


mereka mengambil foto secara bergantian, hingga giliran Antas yang sudah mengambil beberapa foto Buku datang langsung merangkul Antas.


“ ish Bumi basah tau! ” Kata Antas.


“ gak pa-pa lah kan lebih menarik, Cila fotoin kita berdua, ” kata Bumi yang langsung di angguki Cila.


Beberapa tangkapan dengan hasil sempurna. Tak lama kemudian Naren ikut berdiri di samping kanan Antas, di ikuti Kevin, Dean, dan juga Saka.


“ heh kok pada rame sih? ” Tanya Antas, padahal ia belum puas foto sendiri.


“ apalagi Cil? Ambil foto kita dong, ” kata Dean bersemangat. Dua pemotretan dengan hasil sempurna lagi tepat Antas di antara mereka semua.


“ eh Ka tolong fotoin kita ber-empat dong, ” ujar Antas memberikan kameranya pada Saka.


“ ngoghey. ”


Setelah selesai heboh ingin berfoto, sekarang Dean dan Narra kembali bertengkar karena Dean terus menyeretnya agar masuk ke dalam sungai.


“ woi Kev bantuin gue lempar nih cewek ke sungai, ” pekik Dean yang menahan tangan Narra agar tidak kabur.


“ gak usah Kev, gue males mandi lagi, ” kata Narra.


“ seru nih kayaknya, okelah lo pegang atas gue pegang bawah oke? ” Ujar Narra.

__ADS_1


“ jangan podoh!! ” Pekik Narra.


“ BANGSAT LO BERDUA! ” Teriak Narra mengusap wajahnya kasar.


Dean dan Kevin tertawa puas. Sedangkan Cila juga mendorong Letta jatuh ke jatuh ke sungai saat gadis itu bermain air di tepi sungai.


“ aaa sayang liat nih Cila jahil banget huaa, ” adu Letta memukul-mukul air.


“ bhaha ululu cayang cayang cayang, ” ledek Cila.


“ emang dasar ya lo demen banget ngejahilin orang lain, ” kata Saka yang sudah memegang tangan Cila.


“ heh mau ngapain lo? Jangan macem-macem ya! ” Ancam Cila sambil melotot.


“ Ren angkat dia, ” kata Saka yang langsung di turuti Naren.


“ Ren eh kok lo ikut-ikutan sih, gue gak mau basah woi aaaa. ”


Gila memang, semuanya memang sah lulusan rumah sakit jiwa. Sehari tidak menjahili sesama serasa mengangkat beban yang berat.


Antas sudah terduduk memegangi perutnya yang sakit, dari tadi gadis itu terus tertawa melihat betapa menderitanya teman-temannya itu. Antas yang tadinya tertunduk agar tidak terlalu keras tertawa kini mendongak karena melihat banyak kaki yang berada di dekatnya.


“ apa? ” Tanya Antas melihat para anak cowok yang berdiri di dekatnya. Antas juga melihat teman-temannya yang sudah di sungai dengan tertawa mengejek.


“ tinggal lo, ” kata Kevin.


Antas perlahan mundur dan berlarian agar tidak tertangkap, ia sudah tahu bahwa selanjutnya adalah gilirannya.


“ eh please jangan dong gue gak bawa baju ganti woi, ” rengek Antas sambil berlarian.


“ emang lo pikir yang lainnya bawa baju ganti, ” balas Saka.


“ Bumi jangan macem-macem ya lo! Gue aduin Ayah Bunda loh, gue gak main-main ya! ” Ancam Antas.


“ aduin aja, ” balas Bumi santai.


Antas berlari mendekati Naren dan bersembunyi di belakang tubuh cowok itu karena percaya bahwa yang benar-benar waras hanya Naren.


“ Ren tolongin gue dong yah? Gue janji habis ini kasih permen, janji deh dua rius! ” Kata Antas mengacungkan dua jarinya.


“ gue gak bawa baju ganti, terus ini dingin banget kan, ” sambungnya lagi.


“ gak usah luluh Ren, cuma akal-akalan dia dong. Kita semua tau otaknya Antas, ” kata Dean.


“ yoi udah angkat aja, ” kompor Kevin.


Naren menoleh ke Antas yang sudah melihatnya dengan ragu.


“ apa? ” Tanya Antas. Lalu Naren menarik tangan Antas dan Bumi juga mengangkat kaki Antas.


“ basahkan! Basahkan! ” Pekik Kevin.


“ lempar woi, ” sambung Dean.


“ satu, dua, ” hitung Bumi.


“ gue aduin Ayah Bunda lo ******! ” Ancam Antas lagi.


“ tiga, ” ucap Naren.

__ADS_1


Byurr


“ MONYET LO PADA!! ” Teriak Antas.


“ GUE GAK BAWA BAJU GANTI GOBLOK! ”


“ gimana rasanya? ” Ledek Narra.


“ seperti mati lampu ya sayang, ” sambung Cila sambil bernyanyi.


Antas tertawa yang akhirnya terjadilah perang air antara mereka.


“ bersenang-senang sekarang gak pa-pa, karena sebentar lagi temen-temen lo cuma bisa liat lo lewat foto, ” gumam seseorang yang sama dari kejauhan.


...****...


Malam harinya pukul 11.05 semuanya sudah di kamarnya masing-masing. Setelah bermain dan bercanda di sepanjang hari benar-benar membuat mereka lelah. Melihat Antas yang sudah lelap tertidur membuat Cila tak tega membangunkannya, gadis itu ingin minta di temani ke dapur karena ia haus. Dengan langkah malas gadis itu keluar kamar dan menuruni tangga.


Cila kemudian mengucek matanya saat melihat Naren pun berada di dapur sedang menyeduh kopi.


“ lo belum tidur? ” Tanya Cila.


“ belum. ”


Cila mengangguk lalu mengambil gelas.


“ lo kebangun? ” Tanya Naren.


“ he'em gue haus banget, ” jawab Cila. “ lo bikin kopi ya? Gak bisa tidur dong nanti. ”


“ memang, ” singkat Naren.


Cila berdecak pelan karena sebal. Lalu gadis itu berbalik badan dengan segelas air yang ia bawa.


“ mau sampai kapan terus jadi orang bodoh? ” Tanya Naren. Cila menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


“ maksud lo? ” Tanya Cila.


Selesai mengaduk kopinya Naren menaruh bekas sendok ke mangkuk kecil lalu mendekati Cila dengan perlahan.


“ lo sama gue sama-sama bodoh, karena mencintai seseorang yang udah jelas di hatinya buat siapa, ” kata Naren.


Cila terdiam, ia seperti mengenal kata-kata itu. Beberapa detik kemudia matanya membesar dan sedikit gugup.


“ makanya lain kali sebelum ngegalau pastiin gak ceroboh, ” kata Naren memegang pucuk kepala Cila. “ gue denger semuanya, lo suka kan sama gue, ” sambungnya lalu menurunkan tangannya.


Cila masih diam, ternyata kemarin tanpa ia sadari telah memencet tombol telepon.


“ kenapa gak jujur aja? ” Tanya Naren.


“ l— lo salah paham, ” cicit Cila pelan.


“ jangan cari penyakit dengan terus diam, ” balas Naren.


“ gue gak bisa jujur selagi gue gak punya keberanian, ” kata Cila. “ seharusnya dari dulu juga lo jelasin kalo lo sebenarnya udah tau, dengan gitu setidaknya gue punya sedikit keberanian. ”


“ tapi karena sekarang gue tau, gue bakal mulai berjuang dari awal. Yang gue pinta cuma satu, jangan risih dan muak sama sikap gue. ”


“ dan gue bakal terus menjadi orang bodoh yang suka sama lo meskipun gue tau di hati lo cuma ada Antas, ” sambung Cila tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Naren yang masih terdiam di tempatnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2