
Dean dan Saka berlarian membantu Antas bangun begitu juga dengan anak lainnya. Namun mereka juga tak menyangka jika Naren bisa maju dan membuat anggota baru mereka lebih babak belur, tanpa membuka suara Naren terus memukul wajah cowok itu meskipun darah sudah terlihat dari hidung dan mulutnya.
“ gue gak pa-pa, ” kata Antas berusaha duduk namun sedikit berteriak karena nyeri di punggungnya.
“ ******, tau Bumi gimana? Habis kita semua, ” bisik Rendy pada anggota lainnya.
Antas berdiri yang di bantu oleh Dean dan Saka. Mereka masih melihat kemarahan yang terletak jelas di wajah Naren, biasanya cowok itu akan memilih diam dari pada harus mengotori dirinya maka berbeda dengan kali ini. Entahlah, semua anggota masih bingung dengan tanda tanya.
“ lo mau ke mana? Gak usah mikir buat hentiin Naren, biarin itu anak ngasih pelajaran lebih, ” kata Dean menahan Antas.
“ orang itu bisa sakit Dean, ” balas Antas. Ketika Naren ingin melayangkan pelukannya lagi Antas berteriak kecil.
“ Ren udah, stop. ”
Dan seketika itu Naren berhenti dan bangun dengan rahang yang benar-benar mengeras.
“ masih beruntung Antas kasihan sama lo, ” kata Naren.
“ saran gue sebaiknya lo mundur dan pergi, ” kata Antas.
“ siapa lo bisa ngatur kehidupan gue, ” balas cowok itu.
“ kalo lo masih nekat gue gak angkat tangan untuk urusan selanjutnya. Ini bukan ancaman, tapi mulut dan mata banyak di sini, ” kata Antas yakin.
Lalu dengan di bopong Dean dan Saka Antas berjalan menuju UKS dengan pincang.
Selanjutnya hanya Naren yang ada di UKS itu karena Dean dan Saka kembali ke kantin belakang menyelesaikan urusan tadi.
“ sakit banget? ” Tanya Naren. Antas mengangguk, Naren mengutuk dirinya sendiri kenapa masih bertanya? Jelas suara hantaman itu terdengar jelas sampai meja pun terbalik.
Naren diam sekaligus bingung, ia ingin memeriksa keadaan punggung Antas, namun ia juga tak berani. Cila datang dengan wajah panik, ia sudah mendengar semuanya dari Saka dan Dean sewaktu ia datang ke kantin itu.
“ lo keluar bentar Ren, gue tau kok dan biar gue yang atasi, ” kata Cila.
“ tahan ya Ntas, ” ujar cewek itu lalu mengobati punggung Antas. Tidak ada luka dalam, hanya goresan yang mengupas kulitnya dan berdarah.
“ selesai, ” ucap Cila.
“ makasih ya Cil, ” ucap Antas.
Naren kembali masuk dan mengobati wajah Antas. Suasana menjadi hening karena bergulat dengan pikiran masing-masing.
“ sorry gue telat, ” kata Naren.
“ gak pa-pa kok Ren, lagian dia udah di kasih pelajaran kan, ” kata Antas.
__ADS_1
“ emang keterlaluan sih, walaupun dia anak baru gak seharusnya dong berlaku seenaknya. Apalagi dia udah berani kasar sama lo cih banci, ” omel Cila.
Antas tertawa pelan. “ dia juga gak tau sih, tapi tetap aja salah. ”
“ oh iya Mama gue alhamdulillah udah sadar, bilangin ke Bumi juga ya. Kalo gak mau ketemu gue, setidaknya temuin Mama, soalnya Mama juga nanyain Bumi, ” jelas Antas.
“ gue udah baikan, kalian balik lagi ke kantin. Temen lainnya pasti gak suka liat kalian sama gue, makasih ya, ” kata Antas lalu pergi dengan berjalan pelan dan hati-hati.
“ maaf Antas, ” ucap Narra di balik tembok.
...****...
Waktu pulang sekolah tiba, Antas langsung bergerak menuju rumah sakit. Di sana masih terdapat Bumi yang menjaga Mama Antas. Cowok itu sudah dari pagi di sana.
“ jadi, kamu sama Asta lagi tidak teguran? ” Tanya Mama Antas.
Bumi menggeleng, ia sudah menceritakan segala hal yang terjadi dan meminta maaf. Bumi adalah cowok yang sangat baik, dengan orang tua-nya dan orang tua Antas tidak pernah tertutup soal apapun itu. Bahkan masalah terkecil pun ia adukan kepada kedua orang tua itu.
Mama Antas tersenyum tipis lalu mengusap wajah Bumi perlahan.
“ apa pun itu selesaikan dengan baik-baik ya? Tante tau kalian berdua kan masih dalam masa labil, jadi harus di pikirkan dulu sebelum bertindak biar gak sakit di sana dan sini, jadikan hal ini sebagai pelajaran bagi kamu dan Asta ya, agar Kedepannya lebih bijak lagi, ” jelas Mama Antas.
“ makasih Tan, jangan bilang Asta ya Bumi ke sini, ” kata Bumi.
Mama Antas mengangguk pelan. “ iya kamu tenang aja. ”
“ iya nak hati-hati ya, makasih juga sudah mau datang dan repot di sini, ” balas Mama Antas.
“ sama-sama, assalamualaikum. ”
Beberapa menit kepergian Bumi tadi benar, Antas sudah datang dan masuk ke ruangan Mama-nya.
“ ya Allah Asta kenapa sayang? Kamu berantem lagi sampe luka-luka gitu? ” Tanya Mama Antas.
Antas duduk di samping Mama-nya lalu meminum air mineral.
“ maaf Ma, Asta cuma bela diri Asta sendiri. ”
“ setiap habis berantem kamu selalu saja bilang gitu, kamu itu cewek nak gak baik terus berantem kayak gitu. Gimana kalo Bumi tau. ”
“ Bumi tau juga pasti gak bakal peduli Ma, dia udah kecewa banget sama Asta. ”
Asta juga sudah menceritakan hal yang sama tentangnya dan Bumi dan teman lainnya juga.
...****...
__ADS_1
Keesokan paginya di kelas Antas senyap karena guru PKN sudah berdiri dan menjelaskan di papan tulis. Namun kesunyian itu tiba-tiba berubah menjadi tanda tanya dan kebingungan karena banyak murid berlarian menuju ke lapangan.
“ ada apaan dah berisik amat, ” kata Saka.
“ ada penjual cilok kali di gerbang, ” celetuk Dean.
“ haduh ini kenapa semuanya pada lari-larian sih, apa tidak ada guru di kelasnya, ” kata Bu Dewi.
Satu kelas di kejutkan dengan kedatangan Jefran yang berdiri di depan pintu, tampak wajahnya panik melihat ke arah Antas.
“ kenapa lo Jef? Kayak di kejar setan aja, ” Tanya Saka.
“ Antas, ” ucap Jefran terengah-engah. Semua mata memandang ke arahnya.
“ gue? Kenapa? ” Tanya Antas.
“ Bumi berantem di lapangan, ” jawab Jefran.
“ apa? ” Serentak, Antas, Narra, Dean dan Saka. Kemudian kelimanya berlarian menuju lapangan begitu juga dengan murid lainnya meninggalkan guru mereka di kelas.
“ mati lo bangsat, ” umpat Bumi terus menerus memukul wajah cowok yang bernama Rajen itu.
Teman-temannya sudah berusaha memisahkan keduanya, bahkan guru pun sudah turun tangan namun emosi sudah terlanjur menguasai Bumi. Inilah sebabnya ia terus menahannya walau apa yang terjadi, namun ketika ia mendengar aduan tentang Antas, pitam sudah.
Adegan baku hantam itu sudah terjadi sejak masuknya Bumi ke kelas itu. Yang awalnya seragamnya bersih dan rapi kini lusuh dan kotor dengan debu.
“ sudah Bumi apa yang kamu lakukan, kamu itu ketua OSIS di sini tidak seharusnya kamu berbuat hal buruk di sekolah ini, ” kata guru BK.
Teman Bumi sudah memberi kode agar jangan bicara padanya. Dan lihat sekarang, Bumi diam menatap mata guru yang terkenal kejam itu tajam.
“ OSIS? ” Tanya Bumi pelan. Perlahan ia melepas almamater kebanggaan OSIS SMA garuda itu dan membuangnya sembarang arah.
“ silakan keluarkan saya atau apapun itu saya gak peduli. Selagi dia belum minta maaf ke Asta gak ada yang bisa halangi saya buat kasih dia pelajaran, ” kata Bumi.
Guru itu terdiam lalu mundur beberapa langkah.
“ dan lo, gue percaya sama lo maka dari itu gue nerima lo. Tapi lo sendiri yang jemput maut lo di sekolah ini, ” kata Bumi kembali memukul wajah Rajen.
Setibanya Antas dan beberapa temannya tadi langsung mencoba untuk memisahkan keduanya, Namun Naren menghentikannya.
“ percuma, kalo gue gak bisa hentiin dia apalagi kalian, ” kata Naren.
“ terus harus gimana lagi Ren? Anak orang bisa mati, ” kata Dean.
“ Antas, kuncinya di Antas, ” jawab Naren.
__ADS_1
“ benar, cuma Antas kunci buat Bumi. Bumi cuma bisa nurut sama Antas, ” sambung Saka.
Antas langsung berlarian dan melerai perkelahian itu. Beberapa kali ia tertolak ke belakang sampai akhirnya ia maju dan hampir di pukul Bumi