
Narra memilih baju yang akan ia beli. Cewek itu ke mall sendirian karena memang ia lagi ingin sendiri, tidak ada masalah, hanya saja perasaannya memang ingin sendiri. Keluarnya dari toko pakaian itu ia menenteng beberapa tas dengan isi baju dan juga celana di dalamnya.
“ heh si mulut bebek, ”sapa Dean pada Narra. Terlihat cowok itu juga membawa belanjaannya seorang diri.
“ enak aja mulut bebek! Lo kali buaya, ”balas Cila.
Dean tertawa. “ gue ganteng makanya banyak yang mau, emangnya ngenes kayak lo. ”
Narra menekuk wajahnya kesal. “ lo sendirian aja? Temen lo mana? ”Tanya Dean.
“ gak tau, gue emang lagi pengen sendiri aja. Lo juga sendirian? ”
“ he'em cuma beli celana doang. ”
“ ck tinggal bilang barang buat pacar lo apa susahnya sih?! ”
“ dih kok sewot, gak ada nih liat sendiri cuma celana gue doang. ”
Dean terdiam saat mendengar suara perut yang kelaparan. Cowok itu melirik Narra yang melihat ke lain arah. Tanpa permisi Dean menarik tangan Narra dan mengabaikan kekesalan cewek itu. Mereka berhenti di tempat makan yang masih berada di dalam mall itu.
“ pesen apa yang lo mau, gue traktir deh, ”kata Dean.
“ woah serius? ”Tanya Narra yang di angguki Dean. Langsung saja cewek itu memesan makanan begitu juga dengan Dean.
Sambil menunggu makanan tiba, Narra menyalakan handphone-nya dan melihat-lihat isi Instagram-nya. Dean yang duduk di samping kiri Narra terus memperhatikan cewek itu.
Sialan gue kenapa sih?
Seakan enggan melepas perhatiannya pada Narra, cowok itu masih setia melihat Narra yang masih fokus dengan handphone-nya. Secara tiba-tiba jantungnya berdebar dan tubuhnya sedikit bergetar.
Gue kenapa ******?!
Tanpa sadar Dean menarik sudut bibirnya, ia tersenyum.
Meski sering berantem, gak tau gue nyaman banget kalo deket sama nih anak. Meskipun Nyebelin dan gak mau ngalah plus suka banget nyari masalah, tapi gue selalu pengen ada di dekat Narra.
“ woah gercep nih mereka, ”kata Narra yang langsung membuat Dean terlonjak kaget dan mengalihkan pandangannya.
Narra menggoyangkan tangan cowok itu agar melihat handphone-nya. “ liat deh Dean, serasi banget sih mereka aaa kapan ya gue bisa kayak mereka? Cocok banget ya Tuhan. ”
“ iya cocok, kayak gue sama lo, ”balas Dean tanpa sadar.
Narra terkejut dan langsung menutup handphone-nya. “ hah apa? Maksud lo? ”
“ hah? Apa? Emang gue ngomong apaan? ”Tanya balik Dean gugup.
__ADS_1
“ gak pa-pa mungkin gue salah denger. ”
...****...
“ PAGI PREN!! ”teriak Cila saat memarkirkan motornya tepat di samping motor Antas. Di parkiran sudah berkumpul teman lainnya kecuali Narra dan Devan.
“ pagi ngab, ”balas Saka.
Cila membuka helm-nya dan menyangkutkannya di depan motor. Mata cewek itu tidak sengaja melihat Naren yang juga melihatnya. Kedua mata mereka bertemu, lumayan lama hingga Naren memutuskan kontak itu membuat Cila gugup sendiri.
“ males banget gue pelajaran pertama, gue lagi musuhan sama Kimia, ”adu Saka.
“ hari ini kayaknya menguras otak, selain kimia, fisika ada matematika wajib juga gila kan, ”kata Dean.
“ mampus mumet dah lo pada, ”balas Letta.
“ btw ekhem yang habis jalan berduaan, ”sindir Cila pada Bumi.
“ eh iya lo pada udah jadian? ”Tanya Dean.
“ belum, ”jawab Bumi.
“ kapan lagi? Keburu di ambil cowo lain tuh Antas-nya, ”kata Saka yang di setujui Letta.
“ gue gak mau buru-buru. Lagian siapa yang berani ambil Asta? ”Tanya Bumi.
“ nongol dari mana lu? ”Tanya Dean.
“ dari rahim emak gue lah, ”jawab Narra yang membuat semua tertawa.
Cila kembali melihat Naren yang dari tadi hanya diam bermain handphone-nya sendiri. Cila sedikit menjinjit untuk melihat apa yang di lihat Naren sehingga sangat fokus dengan wajah seperti itu. Terlihat jelas cowok itu melihat postingan Instagram milik Antas. Cowok itu terus melihat foto Bumi dan Antas yang saling berdekatan, mungkin ini yang di namakan pembodohan. Penyakit di cari!
Cila terdiam lalu melihat wajah Naren dalam diam. Ia terus memperhatikan gerakan mata cowok itu yang kini sudah memperhatikan Antas, sudut bibir cowok itu tertarik, ya! Cila melihatnya dengan jelas, sekali lagi Naren tersenyum karena melihat Antas. Mereka itu sebenarnya kenapa? Selalu mencari penyakit yang berujung air mata.
...****...
“ Bu izin toilet udah di ujung, ”ujar Antas.
“ gak ada, tetap di tempat kamu atau saya hukum. Alasan kamu saja ke toilet, akhirnya malah ke kantin, ”jawab Bu Tini.
Antas melihat guru tersebut dengan sinis lalu melihat Saka dan juga Dean yang tertawa diam-diam. Mata cewek itu melihat keduanya dengan tajam.
“ awas lo pada, ”gumam Antas.
Ketika bel istirahat berbunyi semua murid pastinya berhamburan ke keluar kelas menuju kantin. Teman-teman Bumi dan Antas sudah siap memasukkan makanan ke dalam perutnya masing-masing.
__ADS_1
Di sepanjang makan siang itu seperti biasa di penuhi canda dan tawa. Apalagi kelakuan absurd dari Saka dan Dean.
Antas yang tertawa lebar langsung berhenti saat handphone-nya berdering.
Halo?
Ini suster dari rumah sakit Mama kamu
Jantung Antas seketika berdebar kencang. Tidak biasanya pihak rumah sakit meneleponnya di saat seperti ini. Ada apa?
Kenapa ya Sus? Semuanya baik-baik aja kan?
Saya harap kamu cepat ke sini dek, kondisi Mama kamu kembali kritis dan secara tiba-tiba terkena serangan jantung.
Antas terdiam menaruhnya sendok yang ia pegang. Semua temannya pun berhenti tertawa dan mengobrol karena melihat Antas. Air mata Antas jelas terlihat sudah berlinangan.
“ kenapa Sta? Ada apa? ”Tanya Bumi panik.
“ kenapa? Suster yang nelfon kan? ”Tanya Devan.
“ Asta jawab kenapa?! ”Sentak Bumi menyadarkan Antas.
Cewek itu langsung berlarian tanpa menjawab dan menjatuhkan handphone-nya ke lantai. Bumi dengan segera menyusul Antas meninggalkan teman-temannya yang masih kebingungan.
“ jangan, ”ujar Devan menghentikan temannya yang ingin pergi juga.
“ biar gue sama Naren yang liat, kalian tetap di sini supaya gak ketahuan sama guru. Gue bakal kabari apa yang terjadinya nanti, ”jelas Devan langsung pergi bersama Naren.
Antas membawa motornya seperti orang kesetanan, menggaskan habis tak peduli sumpah serapah orang lain. Cewek itu juga tidak memakai helm karena terburu-buru. Sepanjang jalan air matanya terus menetes dengan pikirannya yang sudah di luar kepala.
Bumi pun membawa motornya di atas rata-rata mengejar gadis itu. Sementara Devan dan Naren juga di belakang Bumi menyusul keduanya. Karena terburu-buru tadi dan kecepatan di luar batas serta dirinya yang sangat panik membuat Antas terpeleset membuat dirinya mencium aspal. Jalanan sepi, tidak ada satu orang pun yang lewat. Antas berusaha bangkit dengan keningnya yang sudah berdarah serta tangannya yang lecet terseret aspal.
Antas kembali menaiki motornya dan masih membawanya di atas rata-rata. Seolah lukanya tidak berarti dan tidak merasakan sakit sedikit pun cewek itu hanya memikirkan Mama-nya. Bumi yang melewati jalan yang sama berhenti sejenak melihat pecahan motor Antas yang berserakan di aspal.
“ sialan, ”umpat Bumi.
Ketika sampai di rumah sakit itu Antas berlarian masuk menerobos orang-orang yang lewat. Ia berhenti di depan UGD dan melihat Mama-nya lewat kaca bulat di pintu itu. Air matanya semakin deras melihat dokter yang terus menangani Mama-nya. Jika dari tadi ia menahan suara tangisannya kini suara itu mulai terdengar dengannya yang sudah duduk di lantai. Ia menarik rambutnya frustrasi dan memukul kepalanya sendiri.
Bumi yang baru saja tiba langsung melihat Mama Antas lewat jendela yang sama, cowok itu juga langsung memeluk Antas dengan erat.
“ Mama Bum, Mama gue!! ”Pekik Antas.
“ Asta hei tenang. Tenang okei, ”ujar Bumi mengelus punggung Antas.
“ Mama gak boleh pergi Bum, Papa udah ninggalin gue, jangan Mama juga, gak boleh Bumi, gak boleh. ”
__ADS_1
Berikutnya Devan dan Naren tiba, keduanya melihat Antas yang kacau dengan darah di mana-mana. Devan mengintip keadaan Mama Antas dan menghela nafasnya gusar. Ketika dokter keluar semuanya mengerubunginya termasuk Antas yang sudah berharap berita baik. Dokter tersebut menghela nafasnya pelan dan melihat wajah Antas.