
Pulang sekolah Bumi langsung menuju markas musuhnya. Ia masih tidak terima jika Antas di keroyok dan banyak mendapatkan luka. Tak hanya sendirian namun di ikuti beberapa temannya dari belakang. Begitu sampai Bumi langsung menerobos masuk dan langsung mencengkeram kerah baju Alex ketika melihat cowok itu. Semua anggota the vagos langsung berdiri.
“ mau apa lo? Mau sujud? ”Tanya Alex.
“ berani sentuh Antas udah siap mati lo hah? ”Tanya Bumi.
“ kenapa? Gue padahal mau ngajakkin dia jalan tapi dia-nya udah marah duluan, gak salah dong kalo gue ngelawan. Karena milik gue jadi terserah gue mau ngelakuin apa aja, ”jelas Alex seakan memang bosan bernafas. Bumi langsung melempar cowok itu dan memukulnya dengan keras.
Anggota the vagos lainnya pun ikut menyerang namun teman-teman Bumi menghalangnya dan terjadilah adegan baku hantam lagi.
“ coba lagi sentuh Asta, lo semua bakal habis, ”ancam Bumi kembali melempar cowok itu. “ cabut, ”titah Bumi.
“ BANGSAT!! ”Teriak Alex membuang ludahnya yang berwarna merah.
...****...
Keesokan harinya, Antas menggunakan sepatu berwarna hijau hitam. Ck anak itu selalu membuat dirinya terkena masalah.
Dan sekarang dirinya berakhir di bawah tiang bendera dengan tangan yang terus hormat kepada bendera merah putih kebanggan semua masyarakat Indonesia.
“ panas woi, ”pekik Antas.
Ia di hukum bukan karena warna sepatunya saja. Tapi juga ia terlambat dan memanjat dinding belakang sekolah.
Setengah jam yang lalu.
“ duh sialan pake telat pula, ” gerutu Antas yang sudah di depan tembok sekolah. Motornya ia parkir di depan sekolah. Untung saja ia memakai celana, jadi dirinya bisa memanjat dengan bebas.
Ia meloncat dan masuk ke dalam sekolah. Kemudia ia tertawa seraya membersihkan debu di celananya.
“ bhaha gini doang mah gampang! ” sombongnya sendiri.
“ Antas, ” yang di panggil pun meloncat kaget dan melihat ke belakang dengan perlahan. Antas meneguk salivanya susah payah saat melihat ketua dan wakil OSIS berada di hadapannya. Bukan hanya mereka, namun Pak Sadam selaku guru BK yang terkenal killer pun juga ikut.
“ kamu lagi kamu lagi! ” Pekik Pak Sadam yang seketika membuat ketiga muridnya menutup telinga.
“ sehari gak bikin masalah memang susah?! Sudahlah telat, memanjat dinding dan liat sepatu kamu. Kamu mau jalan atau mau sekolah? ” Tanya guru itu menggebu-gebu.
“ ya sekolah lah Pak. Lagian sepatu saya basah makanya saya pake sepatu ini dulu, ” jawab Antas santai.
“ celana kamu juga, mau jadi cowok? Ganti saja gender kamu. ”
“ habis ini juga saya ganti kok. Saya kan pake motor masa' tetap pake rok pak, enak di mereka dong yang liatnya secara gratis, ” celetuk Antas.
Pak Sadam menghela nafasnya dan terdiam seakan meredam emosinya dengan memijit pangkal hidungnya. “ Bumi, Naren, hari ini Bapak serarkan sama kalian. Bapak terlalu capek, kasih dia hukuman yang berat. ”
Antas, cewek itu tertawa lebar mendengarnya dan terdiam ketika melihat dua cowok yang menatapnya sangat tajam.
“ ikut kita, ” pinta Naren.
__ADS_1
Untung saja kedua penguasa sekolah itu mengenal Antas dengan baik. Maka hukuman yang di berikan sangat ringan yaitu berdiri dan hormat depan tiang bendera hingga jam istirahat.
...****...
Antas berlarian menuju kelas dengan peluh yang menyelimuti dirinya. Nafasnya terengah-engah saat memasuki kelas. Di kelas itu tinggal keempat temannya dan Saka.
“ nongol juga, ” ujar Cila.
“ bikin masalah mulu sih, ” sambung Letta.
“ tapi untung lo gak masuk sih Ntas, soalnya nih ya pelajaran tadi tuh duh mumet banget. ” adu Narra.
“ kantin gak? ” Tanya Cila.
“ duh kalian aja deh, gue mau bocan di belakang. Capek banget gue asli! ” Jawab Antas lalu mengambil beberapa tas untuk di jadikan bantal. Ia tidur di lantai belakang kelasnya.
“ yaudah kita duluan, ” ujar Narra.
“ eh hehe kalian berdua aja deh. Gue mau sama Saka di sini, lagian juga gue bawa bekal. Jadi mau makan barengan, ” kata Letta cengengesan.
“ duh ampun deh bucin banget sih, serah lu berdua dah. Yok Nar kita makan yang banyakkkk banget, ” kata Cila lalu keduanya pergi.
...****...
Antas yang baru keluar dari toko dengan membawa belanjaan di tangannya berhenti melangkah saat melihat Bumi yang akan menghampirinya dengan motor. Di situ Antas hanya menunggu kedatangan cowok itu, namun ia melihat sebuah truk yang melaju ke arah Bumi yang ingin menyebrang. Tepat saat Bumi menjalankan motornya saat itu juga truk tersebut menabrak dirinya hingga terpental.
Antas menjatuhkan kantung belanjanya dengan air mata yang sudah menetes.
“ kenapa Ntas? Ya ampun, ”Tanya Letta panik.
Melihat Antas yang masih terdiam dengan tatapan kosong membuat Letta semakin panik. “ Sa, ambil botol minumnya. ”
“ ini minum dulu, ” ujar Letta membantu.
Tenang Antas, cuma mimpi.
“ Antas? ” Panggil Letta lagi.
“ eh? Oh gue baik-baik aja kok, ” balas Antas.
“ lo mimpi buruk? ” Tanya Saka.
“ he'em gue kaget makanya agak panik, ” jawab Antas.
“ Bumi? ” Gumam Saka.
Antas beranjak dengan menyeka keringatnya.
“ eh lo mau ke mana? ” Tanya Letta.
__ADS_1
“ belakang, gue mau cari angin, ” balas Antas lalu pergi.
Dua menit kepergian Antas membuat Saka sadar jika benda yang ia yakini milik Antas tertinggal di lantai tempat ia tidur tadi.
“ yang, apaan tuh? Punya Antas bukan? ” Tanya Saka menunjuk benda tersebut.
Letta berjalan mengambil benda tersebut yang ternyata kartu rumah sakit tempat di mana Mama-nya di rawat.
“ iya ini punya Antas, kartu rumah sakit nih, ” ujar Letta menyodorkan kartu tersebut.
“ aku balikin dulu ke belakang, kamu mau ke kantin kan tadi? Ya udah kamu duluan aja nanti aku nyusul oke, ” jelas Saka lalu pergi.
Antas duduk bersandar dengan kepala yang melihat ke atas. Ia sangat menikmati angin sepoi-sepoi sehingga membuatnya ingin tertidur lagi.
Gadis itu mengatur nafasnya agar kembali tenang dan berpikir positif tentang mimpinya tadi.
Ia menghela nafas berat lalu berdiri. " jadi pengen minum, mereka masih ada di kantin kan? "
Antas membersihkan rok-nya dan juga membenarkan anak rambutnya.
Sementara Saka, ia sudah melihat Antas yang juga ingin pergi. Baru ingin mendekat, Saka di kejutkan dengan seseorang bertopeng di belakang Antas. Orang tersebut membawa balok kayu dan siap memukul Antas dari belakang.
" ANTAS AWAS! " teriak Saka. Namun terlambat, sebelum menoleh ke belakang Antas sudah merasakan pusing yang teramat dalam. Pandangannya mulai kabur dan detik itu juga ia kehilangan kesadarannya.
Saka panik dan menahan tubuh Antas. “WOI JANGAN KABUR LO, ” Teriak Saka. Bodoh jika orang tersebut menuruti kemauan Saka. Tanpa ba-bi-bu lagi Saka menggendong Antas menuju UKS.
“ duh mampus gue kalo tau Bumi bisa di bagi dua badan gue, ” gumamnya sendiri.
Saka menggendong Antas melewati kelas demi kelas. Ia menjadi pusat perhatian para murid.
Dean dan Narra yang ingin menuju kelas pun terkejut melihat keduanya. Lantas mereka mendekati.
“ Ka, ini Antas kenapa? ”Tanya Letta panik.
“ heh lo apain nih anak orang? Wah parah lu kalo tau Bumi bawah sama atas lo bisa kebagi, ” sambung Dean.
“ di UKS gue jelasin, sekarang kita cepat ke UKS, ” balas Saka.
" jadi gimana? " Tanya Dean meminta penjelasan saat mereka sudah berada di UKS. Saka melirik Antas sejenak lalu menceritakan semuanya tanpa di tambah dan kurangi.
" sialan, berani banget tuh orang. Kalo Bumi tau bisa mati tuh orang, " kata Dean sangat kesal.
" lo gak liat mukanya? " Tanya Letta.
Saka menggeleng. “ gue gak liat. ”
“ dan lo Dean, jangan kasih tau siapa pun terutama Bumi. Gue bakal ceritain semuanya di waktu yang tepat oke, ”jelas Saka. Dean berdeham dan mengangguk.
" lo berdua balik ke kelas, biar gue yang nungguin Antas. Kalo kita semua gak ada di kelas, mereka bisa nyari, " kata Saka. Dean dan Narra mengangguk lalu pergi.
__ADS_1
Saka duduk di samping bed Antas. Ia terus melihat wajah Antas yang memang tampak kelelahan.
Siapa orang tadi?