
Setelah melihat semua temannya tertidur pulas, Bumi menurunkan kepala Antas ke sofa dengan pelan. Lalu cowok itu ikut duduk di tepi kolam renang dengan Naren yang sudah dari tadi di sana. Lalu keduanya berbicang-bincang seperti biasa.
“ lo sama Cila lancar? ”Tanya Bumi.
Naren menoleh ke Bumi dengan terkejut. Apakah Bumi tahu tentang dirinya saat ini?
“ maksud lo? ” Tanya Naren.
Bumi menghela nafasnya. “ setelah lo gagal dari Antas, lo mencoba buat deketin Cila kan? Dan lo tau jelas itu anak juga suka sama lo, iya kan?
Mata Naren masih membesar tak menyangka Bumi akan mengetahuinya. Padahal ia sudah berusaha bersikap tenang dan santai.
“ setertutup apapun lo. Lo sama gue itu udah deket Ren, dari segala apapun udah deket, jadi percuma kalo lo nutupin sesuatu karena gue bakal sadar dan tau, ” kata Bumi.
Naren mengalihkan pandangannya lurus menatap kolam renang. Tatapannya yang teduh membuat Bumi yakin, bahwa temannya itu masih mencintai Antas. Cila, mungkin bisa di bilang pelarian? Tidak juga, Naren juga sedang berusaha mendekat kok!
“ cuma waktu yang bisa jawab, ”singkat Naren.
Di tempat lain terdapat Antas yang mengeliat di sofa, perlahan matanya terbuka dan melihat semua temannya yang juga tertidur dengan pulas. Gadis itu duduk sambil menguap dan melihat jendela yang menampilkan hujan deras.
“ Bumi sama Naren ke mana? ” Tanya Antas pelan lalu beranjak dan mencari keduanya.
Saat melihat keduanya, Antas langsung mendekat dan memegang pundak keduanya.
“ Asta, kenapa? Haus? Atau laper? ” Tanya Bumi.
“ kalian kenapa di sini? Kan hujannya lebat banget, ”kata Antas.
“ gak kena hujan kok, kan masih di bawah lindungan atap, ” kata Bumi.
“ tetap aja ya kalian tuh bisa sakit, meskipun gak kena hujan, tapi anginnya itu yang bikin sakit. Ntar kalo masuk angin kan susah sendiri, ” omel Antas.
“ lo kerokin lah, ”kata Bumi.
“ yakali gue gunain 2 tangan gue buat ngerokkin kalian, ”balas Antas dengan memperagakan gerakannya.
“ yaudah nih ayo masuk, ” kata Bumi merangkul Antas. Naren mengikuti keduanya dari belakang.
“ Bumi, ” panggil Antas.
“ apa hm? ”
“ laper. ”
“ tapi semua makanan yang di bawa tadi habis, gak mungkin juga di pesen. Kan hujannya lebat, ” kata Bumi.
“ gue banyak stok mi instan. Kalo mau masak aja, ” ujar Naren.
“ wah seriusan Ren? ” Tanya Antas yang di balas anggukan Naren.
“ let's go! ” seru Antas bersemangat.
“ lo di sini aja bangunin temen lainnya. Biar gue sama Naren yang masak, ”kata Bumi. Antas mengangguk sebagai tanda setuju. Saat keduanya sudah berada di dapur, saat itulah Antas membangunkan teman-temannya.
“ Cil, Ta, Nar bangun, ” ujar Antas menggoyangkan ketiganya.
“ oi ayo bangun, laper gak? Bumi sama Naren lagi masak mi tuh, ”sambung Antas. Ketiganya langsunh terbangun lalu mengucek mata mereka.
__ADS_1
“ giliran makan aja cepet lo pada, ” kata Antas.
“ jam berapa? ” Tanya Letta.
“ 21.43 ” jawab Antas.
“ oh my gosh cepet banget yak kita tidurnya, tapi emang nyenyak banget sih, ” kata Letta.
“ ya namanya juga hujan wajarlah, ”balas Narra.
“ kalian bangunin Dean, Saka sama Bagas tuh, gue mau ke belakang dulu bantuin mereka, ”kata Antas lalu berdiri. Cila pun ikut berdiri, sambil menguap gadis itu berjalan pelan kepada Antas.
“ gue ikut, mau bantu juga, ” kata Cila pelan yang di angguki Antas.
Tibanya mereka di dapur sudah melihat Naren yang sedang merebus air, Bumi yang membuka bungkus mi instan.
“ gue bantu siapin air ya, ” kata Antas.
“ gue mau bikin camilan deh, bahan-bahannya ada kan Ren? ” Tanya Cila
“ ada, cek aja di lemari, ” jawab Naren.
“ emang bisa Cil? ” Tanya Bumi.
“ kemarin gue pernah bikin sekali, ya hasilnya lumayan lah walau gak terlalu sempurna kayak buatan Mama biasanya, ” jawab Cila tertawa pelan.
Selanjutnya mereka kembali sibuk pada tugasnya masing-masing, hingga Narra dan Letta datang langsung duduk di meja makan.
“ Saka, Dean sama Bagas mana? ” Tanya Antas yang memotong buah alpukat untuk di buat jus.
“ susah banget di bangunin sumpah, kesel gue lama-lama, ” jawab Narra.
Bumi tertawa. “ biarin aja, bentar lagi juga bangun karena cium aroma mi ini. ”
“ bener tuh, dan buat lo Ta. Anggep aja latihan buat masa depan lo sama Saka, ” sambung Antas sambil memakan buah alpukat.
Bumi, Cila dan Narra ikut tertawa lebar.
“ bhahaha bener tuh, bener pake bangett, ”kata Cila.
“ lo buat apa Cil? Pake segala oven? ” Tanya Narra.
“ brownis, biar ada camilan yang anget-anget gitu, ” jawab Cila.
Narra mengangguk dan membentuk mulutnya O.
“ habis makan nanti gue juga bikin kopi buat kita semua, biar badan terus hangat dan nyaman, ” kata Antas.
“ wah wah bagus banget tuh! Pasti makin nyaman nantinya, ” balas Letta.
...****...
Kini semuanya sudah berada di kursinya masing-masing menatap mi instan yang sudah jadi di depan mereka. Tak lupa sebelum menyantap makanan nikmat itu mereka berdoa terlebih dahulu. Setelahnya barulah mereka memulai makan malam dengan santai.
“ gue liat tadi lo gak doa Nar, ” kata Dean.
“ hah? Eh gak pa-pa kok, ” balas Narra.
__ADS_1
Jika biasanya orang lain diam dan kalem ketika makan, berbeda dengan circle mereka yang masih mengobrol dan juga bercanda.
Saat makan malam telah selesai, mereka kembali ke sofa dan menyalakan TV. Antas dan Cila masih di dapur, Cila memotong kue buatannya dan Antas menuangkan Cappuccino ke gelas.
Selesai semuanya keduanya kembali ke sofa dan meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Semuanya pun beralih duduk di bawah.
“ lebih nyaman di bawah, ” ujar Letta yang di setujui semuanya.
Narra mencoba kue buatan Cila dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “ lumayan lah Cil, ya walau agak keras dikit tapi rasanya hampir sempurna kok. ”
“ bener tuh enak kok, ” kata Antas. Cila mengangguk mengacungkan jempolnya.
“ hujannya makin lebat deh, padahal udah jam 10, ” kata Letta.
“ tidur di sini aja, dan urusan sekolah besok kan bisa izin, ”saut Bagas yang mulutnya di penuhi kue.
Naren menoyor kepala Bagas. “ habisin dulu. ”
“ haha iya juga sih, tapi emang boleh Ren, Gas? ” Tanya Narra.
“ boleh dong, lagian kita juga cuma berdua di rumah ini. Jadi santai aja, ” jawab Bagas.
“ lebih bagus gitu, ”sambung Naren.
“ bhaha bisa mabar dong, ” kata Saka memainkan alisnya pada Bagas yang mengacungkan jempolnya.
“ kalian para cewek izin dulu ke orang tua biar gak khawatir tuh, ntar di cariin lagi, ” kata Bumi.
“ oh iya lupa, ” kata Letta lalu menelepon Mama-nya. Begitu juga dengan Narra yang menelepon Papa-nya.
“ di izinin kok asal gue gak keluar rumah, ” ujar Letta. “ gue juga sama Saka, jadi gak masalah, ” sambungnya.
“ gue juga gak masalah, kan lagi hujan jadi ya orang tua gue ngerti lah. Asal jangan keluyuran ke mana-mana aja, ” kata Narra.
“ sip semuanya beres, ” balas Antas.
“ kalian gak izin? ” Tanya Narra pada anak cowok.
“ kita mah cowok, jadi bebas! ” Jawab Dean sombong. Tak lama setelah itu handphone-nya berdering menampilkan nama Ibu-nya di layar. Saka menerbitkan lebih dulu, menjawab teleponnya dan membesarkan volumenya.
Di mana? Gak tau ini hari hujan kah? Keluyuran terus Ibu liat. Demam nanti menyusahkan ini itu sama Ibu, minta kerok lah, kompres lah, pijit lah. Tapi gak pernah dengar apa kata Ibu.
Terlihat teman-temannya menahan tawa dengan susah payah. Bagas sudah hampir kelepasan namun mulutnya di tutup oleh Naren.
Bukan gitu Bu, aku lagi di rumah Naren kejebak hujan di sini. Aku juga nginep di sini bareng temen nih banyak.
Alasan kamu saja, awas sampe keluar dan keluyuran gak jelas gak usah pulang ke rumah sekalian.
Tut..
Seketika tawa temannya pecah.
“ BHAHAHA MAMPUS BANYAK GAYA LAGI KAU, ”ledek Saka.
“ BHAHA sumpah emak lo mood banget Dean haha, gue yakin perang mulut terus di rumah, ” sambung Bagas.
Narra tersenyum kemudian tertawa. “ ululu kacian. ”
__ADS_1
Dean mencebikkan bibirnya kesal. Jika sudah begini, apa boleh buat? Ia hanya bisa diam mendengar tawa teman-temannya.