
“ lo liat dia, liat dia bangsat! ” Bentak Bumi memperlihatkan wajah Antas pada Rajen.
“ sekuat apapun dia dan sehebat apapun dia, dia tetap cewek yang gak seharusnya lo angkat tangan lo brengsek! ”
“ kalian semua juga kenapa diam?! Udah tau Asta risih sama sentuhan dia kenapa cuma diam? Mau mati kalian semua hah?! ”
“ kelewatan lo dengan menambah luka di punggung Asta, minggir Sta, ” titah Bumi.
“ gak, udahlah Bum gue gak pa-pa serius. Udah ya? ”
Bumi masih berusaha maju untuk kembali memukul wajah cowok itu. Namun Antas langsung memeluk Bumi untuk meredakan amarahnya, Antas merasakan dengan jelas dada Bumi yang bergemuruh dan detak jantungnya yang sangat cepat.
“ liat apa kalian cepat bawa dia! ” Sentak Antas.
Beberapa orang mencoba membawa Rajen pergi dari lapangan agar emosi Bumi benar-benar mereda. Namun sepertinya Rajen memang mencari kematiannya sendiri.
“ dia-nya aja yang sok suci, pasti udah di pake sama lo beberapa kali kan Bum, ” kata Rajen tertawa renyah. Semuanya geleng kepala dan meringis pelan karena cowok itu memang sudah bosan hidup.
“ anjing! ” Umpat Bumi langsung menolak pelan Antas ke samping dan menendang perut Rajen dengan keras membuat sang pemilik berteriak kesakitan.
“ bawa pergi sekarang, jangan sampai keliaran di sekitar Bumi lagi, ” kata Antas.
...****...
Selesai mengobati wajah Bumi gadis itu menutup kotak obat lalu berbalik badan. Sedari tadi mengobati Antas hanya diam tak membuka suara, bahkan untuk melihat mata Bumi pun ia tak berani.
Bumi menahan tangan Antas. “ kenapa diem? ”
“ gak pa-pa, ” jawab Antas menunduk.
Bumi menghela nafasnya dan menyuruh Antas duduk di depannya. Lalu cowok itu mengangkat pandangan Antas agar melihatnya.
“ maaf, karena gue lo jadi banyak luka. Gue selalu bikin lo kecewa dan marah, ” kata Antas.
Bumi menaikkan sebelah alisnya, jadi karena itu gadisnya diam dari tadi?
“ justru gue yang minta maaf Asta, coba aja gue masuk sekolah pasti hal ini gak bakal kejadian. Gue juga lengah dengan nerima Rajen jadi anggota baru tanpa di coba terlebih dulu, ” jelas Bumi.
“ seharusnya gak usah berantem Bum, sekarang jabatan lo sebagai ketua OSIS itu musnah, dan itu cuma karena gue. ”
“ hei bukan karena lo Asta, lagi pula dari awal gue emang gak ada niatan buat masuk ke situ, nyusahin tau nggak. ”
“ bener tuh, Bumi jadi ketua OSIS itu karena permintaan kita para temennya, ” kata Dean yang baru saja datang dengan teman lainnya.
“ maksudnya? ” Tanya Antas.
“ maksudnya dengan Bumi yang menjadi ketua OSIS kita-kita gak bakal terancam dengan cara apapun. Kita semua kan gak bisa diam, sehari tanpa masalah kayak beban yang di pikul tuh banyak, ” jelas Saka.
__ADS_1
“ denger sendiri kan? Jadi jangan salahin diri sendiri lagi, ” kata Bumi.
“ terus Naren juga karena kalian? ” Tanya Antas. Dean dan Saka mengangguk lalu bertos ria.
Antas ikut mengangguk lalu beranjak.
“ luka lo udah gue obatin, kalo ada apa-apa dan butuh gue, gue selalu ada di kelas. Kalian bisa lanjut ngobrol, gue ke kelas duluan, ” kata Antas.
Namun Letta dan Narra menghadang jalan gadis itu.
“ lo pergi karena kita kan? ” Tanya Narra.
“ sorry gak seharusnya kita semua perlakuin lo kayak gini, padahal Mama lo udah sadar. Bukannya dateng melihat dan kasih semangat malah diem ngejauhin lo, ” jelas Letta.
Antas menepuk pundak Letta lalu mengusapnya pelan. “ gak pa-pa, setelah ini jadiin pembelajaran. Lupain masa lalu, sekarang fokus ke depannya lagi oke. ”
“ kita keluar, biar Antas dan Bumi di sini, ” kata Naren lalu menarik pelan tangan Cila. Jantung gadis itu berdetak kencang sekaligus terkejut atas perlakuan Naren yang mendadak.
Tinggal mereka berdua di dalam UKS.
Antas melihat Bumi dengan sinis, karena cowok itu terus melihat wajahnya dengan tersenyum.
“ apa lo?! ” Sentak Antas.
“ muka lo lucu kalo lagi diem, ” jawab Bumi.
“ Kev lo ngapain di sini? ” Tanya Antas sedikit panik dengan melirik Bumi.
“ lo bisa keluar bentar? Ada yang mau gue omongin sama Bumi, ” jawab Kevin tak enak hati.
Antas melihat Bumi yang mengangguk kecil padanya.
“ tapi janji ya jangan berantem, lo baru aja selesai di obatin Bum, ” kata Antas.
“ iya Bu Bos! ”
“ yaudah Kev masuk aja, gue juga mau ke kantin beli air, ” kata Antas lalu pergi.
Sudah memastikan Antas benar-benar pergi, Kevin duduk di tempat Antas tadi hanya saja sedikit jauh.
“ kenapa? ” Tanya Bumi dingin.
“ gue tau pembicaraan ini bakal bikin lo marah dan gak terima, tapi setidaknya lo bisa dengerin sampai selesai dulu, ” jawab Kevin.
“ yaudah cepetan, keburu Asta dateng. ”
“ gue tau Antas punya lo, memang gak seharusnya gue deketin dia. Tapi Bum kalian masih belum jadian, jadi gue pikir gak ada salahnya kalo gue coba deketin Antas iya kan? ” Tanya Kevin.
__ADS_1
“ gue juga gak bermaksud buat bersaing secara kasar di sini, tapi gimana pun itu gue akui gue tetap salah. Jadi, besok atau lusa gue mau ajak Antas jalan dan ngungkapin perasaan gue, ” sambungnya.
Kevin melirik tangan Bumi yang kembali mengepal, ia menghela nafasnya dan berani menatap Bumi.
“ lo semua yakin kalo Antas cuma suka sama lo dan gak ada yang bisa gantiin posisi lo di hatinya dia, meskipun lo terus tarik ulur perasaannya dia. Jadi lo gak perlu takut kalo Antas bakal jatuh ke gue, lo dan gue tau apa jawaban Antas nanti. ”
“ lo udah tau jawabannya kenapa masih nekat? ”
“ itu yang di namakan Cinta Bum, meskipun kita tau akhirnya gimana gak ada salahnya mencoba. Lagi pula gue memang harus ungkapin rasa gue karena dengan begitu hati gue bisa tenang. ”
“ gue janji, setelah di tolak Antas gue gak bakal gangguin hubungan kalian lagi. Tapi setidaknya izinkan gue jadi temen kalian, bukan untuk berjuang buat Antas, bukan. Gue cuma mau lebih dekat sama kalian dan Antas, jadi kalo gue gak bisa miliki Antas, setidaknya gue bisa jadi teman baiknya dia, ” sambung Kevin.
...****...
“ woah jadi ini yang namanya markas, ” kata Letta melihat kagum markas DG.
Setelah pulang sekolah mereka memutuskan untuk mampir sebelum pulang ke rumah.
“ meskipun sederhana pasti banyak kenangan kan Bum, ” kata Narra.
“ pasti, semuanya udah tercatat jelas di sini. ”
“ oh iya lo janji mau ajarin gue naik motor itu, ” kata Narra menunjuk motor Antas.
“ iya-iya ayo, ” ajak Antas.
Yang lainnya duduk di luar dengan minuman yang mereka beli tadi, sedangkan Narra terus menjerit karena takut menaiki motor besar itu, namun di sisi lain ia juga ingin membawa motor itu biar keren katanya. Letta, ah sudahlah gadis feminin itu hanya meminum susu kotak yang di beli Saka tadi.
“ tunggu, ada yang nelfon, ” kata Antas melepas pegangannya pada motor itu yang membuat Narra hilang seimbang dan hampir terjatuh. Dean dengan sigap berlari dan menahan motor itu.
“ makanya fokus, ” kata Dean.
“ ya mana gue tau, Antas kan tiba-tiba melepas, ” balas Narra.
“ biar gue ajarin, ” ujar Dean. Narra mengangguk setuju dan kembali menyalakan motornya.
“ siapa? ” Tanya Bumi dengan suara beratnya mendekati Antas.
“ Kevin, ” jawab Antas ragu.
“ di ajak jalan? ”
Antas mengangguk. “ yaudah lanjut, pulangnya jangan kemaleman ya, ” kata Bumi.
“ l— lo serius? Gue gak pergi juga gak pa-pa kok, ” balas Antas.
“ udah, pergi aja gue gak marah. Kevin ngajak lo jalan berdua pasti ada hal penting, gak pa-pa gue izinin, ” kata Bumi.
__ADS_1