Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 17


__ADS_3

“ ALEX!! ”Teriak Bumi. Devan dan teman lainnya pun langsung mengunci ketiganya agar tidak lari. Namun adu jotos terjadi sehingga Alex dan kedua temannya berhasil melepaskan diri dan kabur.


Bumi dan Devan sudah menelepon Ambulance dan itu akan segera datang. Ketika Devan ingin mencabut pisau tersebut, Bumi menghentikannya dengan menggeleng. “ gak bisa sembarangan cabut Dev, darahnya bisa terus ngalir yang akibatnya bisa kehilangan banyak darah. ”


Sementara Alex yang tidak sengaja bertemu Antas di jalanan pun menghentikan cewek itu dengan wajah yang pura-pura panik.


“ dih minggir gak lo?! ”Bentak Antas. Ayolah perutnya sudah lapar.


Tanpa meminta izin lagi Alex menarik tangan Antas untuk menaiki motornya.


Sementara Devan mulai panik. “ tapi tetep harus di cabut Bum, bisa infeksi.”


“ tunggu bentar lagi Dev, ”balas Bumi.


“ bener kata Devan Bum, kalo di biarin bisa infeksi, ”ujar Nadif.


Bumi bimbang antara mencabutnya atau tidak. Dari pada infeksi memang lebih baik ia mencabutnya, itu pikirannya.


Sementara Alex sudah sampai di lokasi yang ia parkir motornya sedikit jauh. Lalu ia menarik tangan Antas dengan paksa tak peduli jika gadis itu memberontak berkali-kali.


“ eh lo mau bawa gue ke mana sih? ”


“ udah ikut aja ntar juga lo tau sendiri kok, ini tuh kejutan spesial banget buat lo. ”


“ kejutan apa? Gue nggak bisa percaya sama musuh besar gue kayak lo. ”


“ bawel deh lo udah ikut aja sini. ”


“ tadaaa sampai! ”


Hening, semua mata menatap kedatangan seorang gadis dan cowok yang sedari tadi menarik tangannya itu. Gadis yang masih menggendong tas sekolah itu pun menatap kosong kepada tubuh yang sangat ia kenali tergeletak tak berdaya di jalanan sepi itu, dengan seorang cowok yang baru saja menarik pisau yang tertancap di tubuh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


“ gimana? Kejutan yang besar bukan? ”


“ M— Mama. ”


Melihat Antas membuat Bumi lemas. Ia menggengam tangkai pisau tersebut dengan erat, tangannya juga bergetar hebat.


Antas berlarian mendekati Mama-nya dan panik merobek jaketnya untuk di belitkan pada bekas tusukan di dada Mama-nya itu.


“ Mah, Kenapa bisa kayak gini? Siapa yang ngelakuin Mah? ”Tanya Antas. Melihat Mama-nya sudah menutup mata dan tidak sadarkan diri membuat Antas mengedarkan pandangannya.


“ SIAPA PELAKUNYA? SIAPA BANGSAT!! ”Teriak Antas histeris.


“ Bumi pelakunya, gue sama temen gue tadi gak sengaja lewat sini dan liat kejadian ini Ntas, makanya gue cepet-cepet nyari lo dan paksain lo ikut gue ke sini, ”jelas Alex yang seketika membuat Bumi terkejut, begitu juga dengan Devan dan teman lainnya.


Antas menoleh ke belakang dan melihat pisau yang memang di genggam Bumi. Cowok itu langsung membuang pisau tersebut dan bangkit mendekati Antas.


“ Sta bukan, bukan gue Sta. Sumpah bukan gue Sta, gue gak mungkin ngelakuin ini Asta, ”jelas Bumi panik.


Antas masih terdiam menatap kosong pisau yang tergeletak di jalanan itu. Alex meneguk salivanya susah payah takut jika Antas tidak percaya.


Antas langsung melihat Bumi yang matanya sudah memerah. Cewek itu mendekati Bumi secara perlahan dan menarik bahu cowok itu dengan kasar.


“ kenapa Bum? Kenapa lo ngelakuin ini? ”Tanya Antas sangat pelan.


“ Asta, ”balas Bumi tak percaya jika Antas benar mempercayai Alex.


“ KENAPA LO NGELAKUIN INI BUMI?! SALAH MAMA GUE DI MANA? LO PUNYA DENDAM SAMA GUE LAMPIASIN KE GUE, SAMA GUE BUMI BUKAN MAMA GUE!! ”Teriak Antas histeris.


“ sumpah Sta bukan gue, ”balas Bumi pelan.


“ jelas lo yang pegang pisau itu Bum, ”kata Antas mulai melemah. “ keluarga gue udah hancur Bum, gue kehilangan Papa gue buat selamanya dan lo mau nambah masalah lagi? Lo bikin Mama gue kayak gitu BUM LO SADAR GAK ANJING! ”

__ADS_1


Antas menggeleng. “ gue gak nyangka ya Bum, setega itu lo sama gue. Gue salah apa Bum? GUE SALAH APA?! ”


“ dan kalau pun gue punya masalah sama lo, seharusnya gue Bum. Gue yang lo sakitin Bum, gue! Bukan Mama gue! ”


Emosi sudah naik ke puncak, Antas memukul wajah Bumi berkali-kali bahkan ketika cowok itu sudah tersungkur pun masih menendang Bumi. Devan dan teman lainnya berusaha memisahkan keduanya. Bumi, cowok itu sama sekali tidak melawan membiarkan Antas memukulnya dengan brutal.


“ lepasin gue bangsat lo harus bernasib sama kayak Mama gue sialan! ”Pekik Antas.


Saat Bumi sudah berdiri dan menyeka darah di hidungnya. Antas, gadis itu nekat mengambil kembali pisau yang di buang Bumi tadi, bagai di rasuki iblis tanpa berpikir dahulu cewek itu langsung menodong pisau ke Bumi. Devan yang menyadarinya pun langsung berlarian tanpa suara berdiri di depan Bumi yang alhasil Devan lah yang tertusuk.


“ Devan, ”ujar Bumi terkejut langsung menahan Devan agar tidak jatuh. Antas langsung menjauh melihat kedua tangannya yang sudah menusuk Devan.


“ gu— gue, ”gagap Antas.


Ini kesempatan besar Alex untuk menarik perhatian Antas. Cowok gila itu langsung membawa Mama Antas masuk ke dalam Ambulance saat mobil itu tiba. Sedangkan Gibran bertugas mengompori Antas.


“ lo gak salah Antas, perlakuan lo benar. Kalo bukan Bumi, Devan juga bersalah. Mereka bekerjasama, ”kata Gibran memegang pundak Antas.


“ kita gak punya banyak waktu, ayo ikut ke rumah sakit sebelum kondisi Mama lo semakin parah, ”sambung Gibran menarik Antas perlahan.


Sambil berjalan Antas menoleh kepada Devan yang sudah terbaring di pangkuan Bumi. Antas juga melihat Bumi yang menggelengkan kepalanya, terlihat jelas dari raut wajah cowok itu jika ia kecewa, tak hanya Bumi, teman lainnya juga menatap Antas tak percaya. Mereka semua— sangat kecewa. Mengapa dengan sangat mudah Antas mempercayainya? Meskipun Bumi yang memegang pisau itu memangnya apa salahnya?


Tanpa rasa bersalah sedikit pun Antas pergi meninggalkan semua temannya seperti mementingkan dirinya sendiri.


“ Bumi memang keterlaluan Ntas, gue juga gak nyangka dia bisa sekejam itu. Padahal kalian dekat banget bahkan kalian cocok, tapi bisa-bisanya dia berbuat hal sekeji ini terhadap Mama lo, ”kata Gibran.


Antas, dan ketiga cowok itu menunggu di depan ruang UGD. Cewek itu menjambak rambutnya sendiri frustrasi.


Alex menepuk pundak Antas. “ gue yakin Mama lo pasti selamat Antas, serahin semuanya sama dokter. Sekarang yang harus lo lakuin adalah balas dendam. ”


Sementara di sisi lain, Bumi menggendongnya Devan menaiki motornya. Mereka berboceng tiga dengan Nadif di paling belakang berjaga-jaga untuk Devan. Dari tadi Bumi hanya diam tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Hingga tiba di rumah sakit ia pun masih terdiam dengan pandangan kosong ke depan.

__ADS_1


“ Devan gak akan kenapa-napa Bum, kita semua cuma perlu doa supaya semuanya baik-baik aja. Kita semua tau luka tusukan Devan gak terlalu dalam, jadi yakini semua bakal baik-baik aja, ”jelas Sofian yang di angguki teman lainnya.


Semudah itu lo percaya Asta, bahkan sama musuh terbesar lo sendiri dan bahkan lo tega nusuk teman lo sendiri. Gue kecewa Asta, lo keterlaluan.


__ADS_2