Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 34


__ADS_3

“ damn it! ” Umpat Antas saat ban motornya bocor di tengah jalan yang lagi sepi.


Gadis itu menendang motornya kesal terus mengumpat, sedangkan sekolah sebentar lagi akan di mulai.


“ kenapa setiap gue ada masalah tuh selalu aja di jalan sepi? ”


Antas diam sambil melihat jalan lurus ke depan. “ di depan sana mungkin ada angkot. Tapi butuh waktu lama buat jalan kaki ke depan sana. ”


Antas meloncat terkejut saat mendengar suara klakson motor yang berada di sampingnya.


“ Kevin? ” ucap Antas.


“ bocor? ” Tanya Kevin.


“ ya gitu deh liat sendiri tuh, ” jawab Antas.


“ bentar lagi masuk, naik motor gue, ” titah Kevin.


“ terus motor gue gimana? ”


“ tenang aja, nanti gue suruh temen gue ke sini dan bawa motor lo ke bengkel. ”


Antas mengangguk dan naik ke motor Kevin, tak lupa dengan memakai helm.


Sampainya di parkiran sekolah Antas langsung turun dan menaruh helm-nya di motor Kevin.


“ thanks ya Kev, ” ucap Antas.


Kevin mengangguk. “ yoi. ”


“ Asta, ” panggil Bumi yang mendekat pada keduanya. Bumi dan Dean sudah di sekolah beberapa menit yang lalu. Mereka menaruh tas dan kembali ke parkiran.


“ eh udah dateng ya, ” kata Antas.


Tatapan Bumi kian menajam melihat Kevin yang memegang tangan Antas.


“ terus kalo gue belum dateng lo bisa bebas berduaan? ” Tanya Bumi sinis.


“ maksudnya? ” Tanya Antas.


“ kenapa bisa pergi sama dia? Motor lo ke mana? ” Tanya Bumi.


“ motor gue tadi bocor di jalan, terus Kevin gak sengaja lewat makanya gue numpang. ”


“ kenapa gak nelfon gue? ”


“ handphone gue tinggal di rumah Bum. ”


Bumi menghela nafasnya dan mengambil alih tas di tangan Antas. Lalu cowok itu menarik pelan tangan Antas untuk pergi dari sana.

__ADS_1


“ Bumi, ” ucap Antas saat keduanya sudah berada di meja Antas.


Melihat Bumi yang hanya diam dan meletakkan tas-nya di kursi membuat Antas menarik lengan baju Bumi.


“ kenapa? ” Tanya Antas.


“ lain kali handphone-nya di bawa jadi kalo ada apa-apa langsung hubungin gue. Gue gak suka lo deket sama cowok lain apalagi itu Kevin, ngerti? ” Jelas Bumi lalu pergi.


“ sensi amat dah kayak cewek PMS, ” gumam Antas.


“ itu cemburu bukan sensi, ” ujar Narra yang entah dari mana datangnya.


...****...


Waktu istirahat tiba, Bumi dan teman lainnya bersama-sama menuju kelas Antas untuk menjemput teman mereka di sana.


Antas yang dari tadi melamun tidak menyadari jika Bumi sudah duduk di depannya.


“ ngelamunin apa? ” Tanya Bumi.


“ eh Bumi kok di sini? Nanti di marahin gurunya loh, ” jawab Antas sambil melihat ke meja guru yang sudah kosong. Ia juga melihat sekitarannya yang sudah sepi, hanya tinggal teman-temannya saja.


“ kok sepi? ” Cengo Antas.


Bumi mengacak gemas rambut gadis itu. “ mikirin apa sih sampe bel istirahat aja gak kedengeran. ”


“ yaudah sekarang kita ke kantin, ” ujar Bumi.


“ gue ikut, ” kata Kevin dengan memegang tangan Antas. Bumi melangkah maju dan melepaskan tangan Kevin yang masih memegang tangan Antas.


Teman lainnya pun berhenti dan ikut mendekat.


“ heh ini tuh khusus buat kelompok kita aja, lo kan bisa cari temen lainnya, ” kata Saka.


“ tau nih ngerusak aja lo, ” sambung Dean.


“ gue butuh persetujuan Antas, bukan kalian, ” balas Kevin yang benar-benar akam memulai perkelahian.


Saka sudah maju namun Bumi menghentikannya. “ ayo Sta keburu penuh nanti, ” kata Bumi tak meladeni Kevin.


“ tunggu, ” ujar Antas. “ Kev, ayo ikutan. Lo pasti belum punya temen kan? Gak pa-pa ikut kita aja, ” sambung Antas.


Senyum kemenangan terletak jelas di bibir Kevin. Lalu cowok itu dengan santainya menggandeng Antas yang membuat Bumi benar-benar sudah geram.


“ jangan cari-cari kesempatan lo. Terserah lo mau ngerusak dengan segala cara, tapi selagi gue ada di dekat Asta, jangan harap lo bisa deket dan sentuh dia, ” tegas Bumi lalu menarik Antas pergi dahulu.


Sampainya di kantin, seperti biasa dalam satu meja mereka berpasangan. Seperti Saka dan Letta, Dean dan Narra, Naren dan Cila, Bumi dan Antas. Namun posisi Antas tetap di antara Bumi dan Naren. Saat itu Kevin berebut mengambil tempat duduk Naren, namun Naren dengan sigap menghempas bokongnya di kursi itu.


“ kursinya kurang ya Kev? Di meja sana kosong kok, ” kata Narra.

__ADS_1


Kevin memang berjalan menuju meja sebelah, namun bukan untuk makan di sana melainkan hanya sekedar mengambil kursi dan duduk di samping Naren namun di pertengahan batas meja.


“ mau makan apa? Biar gue pesanin, ” kata Kevin.


Baru Antas membuka mulut Bumi sudah menyergap duluan. “ gue yang pesanin, urus aja diri lo sendiri. ”


Saat makanan sudah berada di depan pemiliknya masing-masing, seperti biasa mereka selalu makan dengan mengobrol ria dan bercanda.


“ Let itu minuman lo gak kebanyakan es ya? Bukannya lo gak suka terlalu dingin? ” Tanya Antas.


“ terserah gue dong, ” jawab Letta sinis.


Antas terdiam lalu kembali makan. Selanjutnya ia lebih merasa aneh di antara semuanya, karena ia tak di ajak bicara maupun di ladeni saat bicara, semuanya tampak— berbeda.


“ Kev punya lo enak gak? Gue gak pernah beli dimsum soalnya, ” kata Antas.


“ enak kok, nih kalo lo mau, ” kata Kevin menyuapi Antas. Namun saya, sebelum masuk ke mulut Antas dimsum tersebut sudah di lahap Naren secara tiba-tiba.


“ ih Naren itu kan punya gue, ” protes Antas.


“ beli, ” balas Naren santai.


Antas mendengus kesal lalu kembali memakan mi ayamnya. Ia hanya memperhatikan teman-temannya yang terus bersenda gurau, ibaratkan ia di situ hanya makhluk yang transparan.


Hingga Narra menumpahkan air jeruknya yang mengenai seragam Kevin. Antas tahu hal itu di sengaja, karena terlihat jelas tangan Narra yang sengaja terangkat.


“ ups sorry, ” ucap Narra.


Kevin bangkit dengan membersihkan celananya dengan tisu kering. Setelahnya ia duduk kembali.


Belum lama setelah itu Letta berjalan mendekati Cila yang kebetulan sangat dekat Kevin, Letta bermain sendok dan garpu dengan Cila hingga garpu milik Letta melukai tangan Kevin.


Cowok itu menjerit terkejut membuat semuanya juga menoleh.


“ eh haha kena ya? Ya maaf, ” kata Letta santai lalu kembali ke tempat duduknya.


Antas yang melihatnya sudah geram plus sangat-sangat kesal. Tidak ada satu pun di antara mereka yang membantu Kevin, hingga Antas sendiri menggebrak meja dan bangkit.


“ kalian punya masalah apa? Punya dendam apa? Kevin tuh diem ya dari tadi tapi kenapa kalian jahat banget ngerjain dia terus-terusan, ” sentak Antas.


“ lo marah sama kita Ntas? ” Tanya Letta.


“ iya gue marah kenapa emang? Gak suka? Gue marah karena kalian salah ya! Dari tadi gue perhatiin benci banget kalian sama Kevin, lo semua ngira gue bodoh? Jelas kalian sengaja mindahin air dan ngelukain tangan Kevin, ” jelas Antas.


“ duduk Asta, ” ujar Bumi.


“ duduk? Guna gue di sini apa sementara kalian semua nganggep gue transparan di sini. ”


“ ayo Kev, gue obatin tangan lo, ” sambung Antas lalu pergi dengan Kevin.

__ADS_1


Semuanya terdiam, terutama Bumi yang sudah mengepalkan tangannya. Ia harus sabar dan jangan gegabah, atau akan lepas kendali dan membuat Antas kembali membenci dirinya.


__ADS_2