Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 46


__ADS_3

Narra mengeluarkan sesuatu dari saku rok-nya dan menunjukkannya pada Dean. Cowok itu membulatkan matanya terkejut.


“ lo? ” Ucap Dean tak percaya saat melihat kalung salib yang di tunjukkan oleh Narra. Serentak saat itu juga Kevin mengeluarkan kalung salib juga dari saku bajunya.


“ Narra dan gue sama, dan setiap hari Minggu kita juga selalu berada di gereja yang sama. Gue kira kalian udah tau, ” jelas Kevin.


“ lo nonis Kev? Astaga gue baru tau, ” kata Letta yang di angguki teman lainnya.


Kembali ke Dean cowok itu masih melihat wajah gadisnya yang masih tak percaya.


“ bilang sama gue kalo lo ngerjain gue, iya kan Nar? ” Tanya Dean. Hal ini semakin membuat Narea terpukul, memang tak seharusnya dirinya berani mencintai orang yang beda keyakinan dengannya. Namun apalah Cinta, yang datang tanpa permisi dan tidak tahu waktu dan juga tempat.


“ ini alasan gue Dean, gue berpikir kalo gue jalin hubungan sama lo dari sekarang itu artinya gue siap jatuh sedalam-dalamnya suatu saat nanti, dan itu pasti bakal terjadi. Gue sayang sama lo Dean, gue mau berhubungan sama lo, gue mau kayak Saka dan juga Letta, tapi gue bisa apa? ” Tanya Narra.


“ mending gue jatuh sekarang yang masih bisa buat gue bangkit lagi dengan perlahan, dari pada suatu saat gue jatuh terlalu dalam, gue takut gak bisa bangkit lagi Dean. Gue yakin saat ini lo juga berpikir hal yang sama dengan gue. ”


Dean terdiam sejenak, dengan tenang cowok itu menghela nafasnya lalu menghapus air mata Narra.


“ sekarang gue tau kita beda keyakinan Nar, tapi gak ada salahnya buat coba dulu kan? Cinta juga datangnya gak liat situasi, mungkin suatu saat nanti keadaan bisa berubah secara perlahan Nar lo ngerti kan? ” Jelas Dean.


“ gue takut Dean, ” gumam Narra.


“ please Nar, jangan nyerah duluan. Kita harus yakin suatu saat bakal ada yang berubah, gue yakin itu. Dan gue yakin bakal ada suatu keajaiban yang juga bakal bikin kita selalu sama-sama dan gak akan ada yang misahin, ya? ”


Narra diam menunduk lumayan lama. Lalu kembali mengangkat pandangannya dan melihat wajah Dean.


...****...


“ congrats, ” ucap Kevin menepuk bahu Dean.


“ ini hari pertama lo di tolak dan ini juga hari pertama lo di terima, ” kata Bumi.


“ thanks, ” balas Dean.


“ eh Cil ambilin mangga-nya, ” kata Letta.


Kini mereka semua sedang berada di rumahnya Naren seperti biasa mereka berkumpul di sana setelah beberapa jam pulang sekolah. Mereka juga tengah membuat rujak, Cila dan Letta yang memotong berbagai jenis buah-buahan, Antas dan Narra yang membuat bumbunya.


“ lain kali gak boleh rahasiaan gitu Nar, memang apa salahnya kalo kita semua tau lo beda keyakinan, ” kata Antas.

__ADS_1


“ he'em dengan lo main rahasia gitu artinya lo gak percaya sama kita semua. Padahal kita temen loh, ” sambung Letta.


“ tadinya gue mau jujur, tapi gak tau deh perasaan gue bilang gak usah bilang dulu, lagian gue juga gak terlalu mikirin masalah itu ya kayak di anggep santai aja, ” balas Narra.


“ santai palalu! Seandainya kita-kita maksa lo buat ibadah di masjid nah mampus lo, ” kata Saka yang akhirnya di geplak Dean.


“ campur aja lo, ” kata Dean.


“ udah-udah, yang penting sekarang semuanya udah jelas dan mengerti alasan apa di balik semua ini, ” kata Bumi.


“ ITU ELO! ” Serentak semuanya.


“ lo yang tau di awal gak mau bagi-bagi, ” kata Cila.


“ udah ya, gue bilang ke Asta tuh dah lama tapi orangnya aja yang lemot, ” balas Bumi yang di tatap sinis Antas.


“ udah jadi nah kalian gak mau makan kan? Debat aja terus biar semuanga buat gue, ” kata Narra yang sudah mencicipi lebih dulu.


“ yee Markonah, ” ledek Saka lalu semuanya ikut makan.


...****...


Beberapa hari kemudian semua masih berjalan dengan baik. Malam ini setelah dari markas MG Antas langsung pulang ke rumahnya dan siap untuk tidur karena waktu juga telah menunjukkan pukul 12.40


“ siapa sih ******, ” gumam Antas kesal.


Nomor tidak di kenal itu mengirim beberapa pesan kepada Antas dan satu foto.


**Gimana? Udah kenyang senang-senangnya?


Sekarang gimana kalo kita main-main dulu?


Coba liat, siapa yang ada di foto ini**.


Antas memperbesar foto yang di kirim itu, terlihat jelas seorang cowok yang sedang telungkup dengan menindih darah segar. Dan jaket yang di kenakan cowok itu sangat Antas kenali.


“ Bumi, ” ucap Antas. Lalu gadis itu terus-menerus menelepon nomor tidak di kenal itu meskipun tidak ada jawaban sama sekali. Panik, cewek itu langsung menyampir jaket hitam dan kunci motornya. Ia pergi hanya menggunakan tanktop yang di balutkan dengan jaket.


Dengan kecepatan penuh Antas tidak peduli benda apapun yang ia langgar, tujuannya saat ini adalah markas DG. Dari sore tadi ia memang tidak bertemu Bumi maupun mendengar kabar cowok itu.

__ADS_1


Terlihat pohon berukuran sedang tumbang di depannya, namun karena kecepatan di atas rata-rata tadi membuatnya tidak sempat mengerem yang akhirnya terpeleset dengan motornya sekali.


“ bangsat, ” umpatnya lalu kembali berdiri. Tidak peduli dengan goresan aspal di tangannya gadis itu kembali menaiki motornya dan mengambil jalan lain.


Sampainya di markas dengan terburu-buru ia menerobos masuk hingga depan pintu markas, semua orang yang ada di sana sontak berdiri siaga karena mengira geng lain akan menyerang.


“ gila lo, bisa nabrak woi, ” kata Jefran menggelengkan kepalanya. Lalu cowok itu melirik tangan Antas yang terkena luka goresan aspal.


“ itu tangan lo kenapa? ” Tanya Jefran.


“ Bumi mana? ” Tanya Antas tak menghiraukan pertanyaan Jefran.


“ santai Ntas, itu lo jatoh? ” Tanya Jefran lagi.


“ gue tanya Bumi di mana?! ” Sentak Antas lalu menerobos masuk dengan memanggil nama Bumi.


“ Asta, ” balas Bumi bangun dari duduknya. Naren, Saka, Dean dan Kevin ikut berdiri.


“ kenapa? ” Tanya Bumi tampak khawatir.


Setelah melihat Bumi membuat lutut Antas melepas dan terduduk. Sontak membuat Bumi semakin khawatir.


“ hei, kenapa? Ada apa Sta? ” Tanya Bumi.


Tanpa menjawab Antas memeluk Bumi dengan erat sekaligus menghapus air matanya. Ia sudah takut setengah mati jika di foto itu benar-benar Bumi. Tapi, jaket yang di kenakan cowok itu adalah jaket Bumi.


“ Ka, bikin air hangat sama teh hangat. Dean ambilin gue air kompres buat luka Antas, dan Kevin ambilin selimut di gantungan belakang, ” titah Bumi yang langsung di turuti ketiga temannya itu.


Bumi membawa Antas duduk di kursi, Naren memperhatikan tangan Antas yang menggenggam erat handphone-nya. Tanpa pikir panjang Naren mengambil handphone Antas dan membuka aplikasi berwarna hijau itu.


“ gue dapet pesan dari nomor gak di kenal. Di situ jelas jaket lo Bum, dan cowok yang ada di foto itu tergeletak penuh darah, ” jelas Antas. Bumi melirik Naren yang mengangguk padanya, lalu Naren memberikan handphone itu pada Bumi.


“ nih Bum, tehnya kayak biasa gak terlalu manis kan? ” Tanya Saka yang di balas anggukkan Bumi.


“ ini kompresnya juga, ” kata Dean.


Kevin sudah kembali dari tadi yang langsung menyelimuti punggung Antas.


“ kenapa Bum? Ada masalah? ” Tanya Saka.

__ADS_1


“ lo cari siapa orang yang pake nomor itu sekarang, ” kata Bumi menyerahkan handphone-nya.


“ gue di sini Sta, gak bakal kenapa-napa. Gue dari sore memang di sini, itu pasti cuma orang iseng, jangan di pikirin lagi ya, ” kata Bumi sambil membersihkan luka Antas.


__ADS_2