Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 07


__ADS_3

Antas menunjjuk ke belakang Bumi dan Naren dengan wajah terkejut. Melihat keduanya menoleh ke belakang membuat Antas tersenyum dan lari sekuat tenaganya dengan tertawa.


“ sialan di kibulin, ”kata Bumi.


“ kejar, ”titah Naren. Keduanya ikut berlari mengejar Antas, namun mereka lupa jika jiwa Antas separuh cewek dan separuh cowok.


“ akhirnya huh, ”gumam Antas yang sudah berdiri di depan pintu kelasnya yang sudah tertutup. Ia kembali menghirup nafasnya yang masih saja menyengat karena alkohol.


“ terlambat lagi? Kali ini dengan alasan apa? ”Tanya Bu Gina. Antas menyengir dengan menggaruk tengkuknya dan mendekati Bu Gina.


Antas tidak membuka mulutnya sedikit pun, ia hanya berbicara menggunakan isyarat tangan. Menjawab bahwa ia ketiduran.


“ itu saja alasan kamu seperti tidak alasan lainnya. Sudahlah, kamu duduk sekarang, berdebat sama kamu juga malah membuat saya semakin pusing, ”pinta Bu Gina.


Antas menghela nafasnya ketika sudah duduk di samping Narra. “ anjir bau apaan nih ****** nyengat banget, ”celetuk Narra yang langsung di bekap oleh Antas.


“ diem bege! ”Bisik Antas. Sementara keempat pasang mata sudah memperhatikan keduanya dari samping. Saka dan Dean, keduanya duduk tepat di samping mereka.


“ kenapa? ”Tanya Saka berbisik. Antas tersenyum dengan menggeleng.


...****...


Di sinilah Antas sekarang, di kelilingin teman-temannya yang menatapnya dengan tajam. Kecuali Narra, Cila dan juga Letta.


“ gue perlu gimana sih Sta ngadepin lo? Udah cukup lo gak ngedengerin gue buat berhenti ikut-ikutan geng motor itu, dan sekarang lo malah ikut-ikutan minum, itu juga di bar? Sadar gak apa yang lo lakuin semalem? ”Oceh Bumi kesal setengah mati. Memang dirinya belum berbaikan dengan Antas, namun Bumi masih memiliki hak untuk menjaga Antas dari kejauhan karena amanah dari Papa Antas.


“ siapa yang ngajakin? ”Tanya Bumi pelan. Seperti inilah yang Antas takuti, pelan namun akan membentak di akhir kata jika tidak di jawab.


“ Bagas, ”jawab Antas pelan.


Bumi menaikkan sebelah alisnya, lalu melihat Dean. “ telepon anak itu sekarang suruh dia ke sini saat ini juga, gue tunggu tujuh menit kalo masih belum dateng gue yang datengi mereka semua, ”jelas Bumi langsung di turuti Dean.


...****...


“ astaga gue lupa harus bayar rumah sakit, ”kata Antas menepuk jidatnya. Ia baru saja sampai di apartemennya dan sekarang ia harus keluar lagi? Baiklah tidak apa-apa.


Seperti biasa, sebelum menuju rumah sakit Antas menggunakan pakaian formal dengan topi dan juga masker hitam, seperti penguntit? Tidak, ini demi Mama-nya, jika ia terang-terangan maka musuh akan mengetahui keberadaan Mama-nya. Bahkan Bumi saja tidak di beritahu di mana Mama-nya di rawat.


“ permisi Sus, ”sapa Antas. Suster penjaga kasir itu heran dan bertanya-tanya dengan raut wajahnya. Antas yang semula bengong kini terkekeh dan menurunkan maskernya ke dagu.


“ oh Dek Antas, ”ujar Suster tersebut ikut terkekeh.


“ saya baru ada uang-nya sekarang, jadi saya akan bayar tunai sekarang juga. Berapa biaya-nya Sus? ”

__ADS_1


Suster tersebut melihat data di komputernya, mengotak-atik papan ketik itu. “ di sini kamu sudah bayar Ntas, ”kata Suster itu.


Antas menaikkan sebelah alisnya. Kapan ia membayarnya? Bukankah kemarin baru ia dapatkan uang ini? Itu juga mempertaruhkan nyawanya di jalanan.


“ masa' sih Sus? Coba cek lagi deh, saya emang baru dateng sekarang loh. ”


“ nih kamu liat kalau gak percaya, jelas tertulis Antas dengan jumlah yang lunas bahkan sudah di tanggung sampai Mama kamu benar-benar sembuh dan keluar dari rumah sakit ini, bahkan Mama kamu sudah pindah dari VIP ke VVIP, ”jelas Suster tersebut jelas membuat Antas terkejut.


“ di pindahkan? Tapi siapa Sus? ”


“ duh soal itu saya gak tau, soalnya yang jaga kemarin bukan saya. Saya baru dua hari ini jaga lagi. ”


“ yaudah makasih ya Sus, tapi tolong ya Sus cari tau siapa orangnya lewat Suster yang jaga kemarin, tolong ya Sus. ”


“ saya usahakan ya. ”


Antas lantas berlari menuju kamar Mama-nya yang baru, ia sudah meminta nomor kamar Mama-nya pada Suster tadi.


Antas pun menghela nafasnya lega saat melihat Mama-nya memang terbaring di tempatnya itu, dengan selang infus yang menetes serta mangkuk oksigen yang menyalurkan oksigen ke pernapasan Mama-nya.


“ Ma, siapa orang yang udah menanggung semuanya? Apa Mama tau? ”Tanya Antas memegang tangan Mama-nya.


“ Antas takut. Takut kalo orang itu punya maksud tertentu, memangnya siapa yang berani bayar rumah sakit ini serta semua kebutuhan obat Mama? Sebulan aja udah hampir puluhan juta, lah ini dia nanggungnya sampai Mama bener-bener pulih dan keluar dari rumah sakit ini. ”


“ Ma, cepat bangun ya? Asta kangen. Kangen omelan Mama, kesalnya Mama, dan segala yang ada di diri Mama. Apa Mama tau? Sekarang Asta tau gimana kerasnya dunia dan juga hidup. Makanya Mama harus cepet bangun dan pulih, Asta sendirian Ma. Papa udah gak ada, Asta kesepian Ma. ”


Cewek dengan tingkat keganasannya itu hanya bisa lemah di hadapan Mama-nya, bahkan saat ini ia menangis sesegukan. Ia rindu, sudah hampir empat bulan Mama-nya seperti ini, mengapa Tuhan memberikannya cobaan yang bertubi-tubi? Mulai dari kebangkrutan perusahaan Papa-nya, kehilangan Papa-nya untuk selamanya, Mama-nya yang di fitnah, dan sekarang Mama-nya terbaring lemah di kasur rumah sakit itu.


Ia hampir tidak sanggup menghadapi dan juga menjalani semuanya, di tambah lagi Bumi, sahabat sekaligus cinta pertamanya menjadi jauh dan membesarkan kebencian yang teramat dalam pada dirinya.


Cowok yang dari tadi berdiri di depan pintu yang tertutup itu pun hanya bisa meneteskan air matanya, ia mendengar semuanya. Menyandarkan diri di dinding sebelah pintu membuat dadanya menyesak. Ia sangat ingin menghampiri gadis itu dan memeluknya, ia tahu jika saat ini Antas membutuhkan tempat untuk bersandar. Sudah berapa lama gadis itu menderita dan menjalani hidupnya seorang diri, cowok itu hanya berharap secepat mungkin ia harus membuktikan bahwa semuanya hanya jebakan untuk dirinya.


...****...


“ oi tumben lu diem, ada masalah? ”Tanya Cila meringis pelan melihat wajah Antas yang berantakan sejak pagi tadi.


“ he'em dari sepanjang pelajaran juga lo gak fokus, ya walaupun sering gitu tapi kali ini beda banget. Lo gak sakit kan? ”Tanya Narra.


Antas menggelengkan kepalanya. Posisinya tetap mengaduk minumannya, mereka sudah ada di kantin sejak tujuh menit yang lalu.


“ PMS kali, ”gumam Letta.


Antas menghela nafasnya lelah. “ gue bingung siapa orang yang udah bayarin semua tanggungan rumah sakit Mama gue. ”

__ADS_1


“ apa? Ada yang bayarin? ”Tanya Letta.


“ emang siapa? ”Tanya Narra juga.


Antas berdecak kesal. Apa temannya itu tidak mendengar yang dia katakan tadi?


“ ya mana gue tau siapa orangnya, kalo tau gue gak perlu stres gini, ”gas Antas.


“ yee nih anak bukannya bersyukur plus seneng semua udah di tanggung, ini malah stres. Aneh lo, ”kata Cila menyeruput air milo-nya.


“ ya gue juga harus tau siapa orangnya Cil, gue juga mau tau maksud dan tujuannya apa. Lo semua tau rumah sakit Mama gue itu mahal banget, bahkan gue sendiri harus taruhan nyawa gue di jalanan buat bayar semua itu. Satu lagi, dia juga mindahin Mama gue ke ruang VVIP gila kan? VIP aja mahalnya bikin gue stres apalagi VVIP, ”oceh Antas.


“ dan ya, kalo bantuan kalian aja gak gue terima barang sepeser pun, bantuan ini juga gue gak bakal terima. Gue juga bakal cari orangnya sampe dapet, ”sambungnya.


“ terus kalo udah dapet mau lo apain? ”Tanya Cila.


“ gue ganti uangnya meski harus ngutang dulu, ”jawab Antas mengelus tengkuk lehernya.


Ketiga temannya saling pandang dan menghela nafas masing-masing. Antas itu sekalinya keras kepala tetaplah keras.


...****...


Bumi beserta teman-teman lainnya tengah makan siang juga di kantin belakang. Selain asap yang memenuhi ruangan itu, Dean mengeluarkan vape yang ia beli dua hari lalu.


“ rasa? ”Tanya Saka.


“ mint, ”jawab Dean.


“ nambah polusi lu, ”kata Bumi. Dean hanya tertawa pelan lalu siap menghisap benda bernilai ratusan ribu itu.


“ Oh iya Bum, kemarin gue denger sendiri dan liat sendiri kalo Antas manggil nama lo pas dia lagi tidur, ”kata Saka.


“ maksud lo mimpi? ”Tanya Bumi.


Saka mengangguk mantap. “ gue rasa dia mimpi buruk tentang lo, soalnya dia manggil nama lo kenceng banget udah gitu ekspresinya pas duduk syok gitu dengan pandangan kosong. ”


Bumi tersenyum tipis membuat Saka mendelik. “ gue serius gak bohong, tanya aja Letta tuh dia juga liat sama denger kok. ”


“ gue percaya. ”


“ terus kenapa senyum-senyum? ”


“ gue cuma seneng, sebenci-bencinya dia sama gue masih ada nama gue di pikirannya Asta. ”

__ADS_1


Saka mengangguk mengerti, sementara Naren masih berdiam diri di sofa usang itu. Ia dari tadi rebahan dengan menutup mata mendengar semua obrolan teman-temannya itu.


__ADS_2