Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 40


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Mama Antas sudah bisa pulang ke apartemennya dengan surat kesehatan dari Dokter. Memang sudah sembuh, namun Mama Antas tidak boleh terlalu lelah agar tidak kembali jatuh.


Pulangnya Mama Antas bersamaan dengan pulangnya Om Firkri, hal itu jelas membuat semua orang terkejut. Antas dan Bumi langsung menyalami Om Fikri.


“ Fikri, kenapa kamu gak kabarin dulu? ” Tanya Bunda.


“ sengaja biar kejutan, ” jawab Om Fikri tertawa pelan.


“ udah tua pake kejutan segala kamu, ” kata Ayah memukul pelan lengan Om Fikri.


“ heh sudah-sudah, kalian ini kayak anak kecil aja. Liat tuh Antas sama Bumi ketawa, ” kata Mama Antas.


“ haha gak pa-pa Ma kan jarang ketemu ya gak Bum, ” ujar Antas.


“ yoi. ”


Orang tua Antas, orang tua Bumi, dan Om Fikri dulunya memang bersahabat baik hingga sekarang. Bisa di bilang, Om Fikri dan Papa Antas terjebak cinta segitiga oleh Mama Antas sendiri. Sudah di tebak bukan siapa yang berhasil, yap! Papa Antas. Namun hal itu tidak meregangkan hubungan persahabatan mereka, Om Fikri sudah ikhlas dan menyemangati hubungan keduanya. Tapi, Om Fikri masih lajang. Ia sudah terlanjur bersumpah tidak akan menikah jika orang itu bukanlah Mama Antas. Ia juga akan menganggap jika mereka melahirkan anak nanti, anak itu juga akan di anggap anaknya sendiri. Setidaknya, Om Fikri manusia pertama yang membuktikan, bahwa Cinta itu bisa setia, bahkan sampai mati.


...****...


“ oi tumben ke sini? Gak bilang-bilang lagi, ” kata Bagas. Antas menemui semua anak Megalodon di markasnya untuk membicarakan hal penting.


Seraya menaruh jaket di kursi Antas tertawa dan ikut duduk bersama mereka.


“ pengen aja, ” kata Antas.


“ gimana kabar lo? ” Tanya Lutfi.


“ baik dong dan bakal selalu baik, kalian semua gimana? ”


“ kayak yang lo liat, selalu baik juga. ”


“ oh iya, ada yang mau gue omongin, ” kata Antas. “ lo semua tau kan Mama gue udah sadar, sehat dan pulang ke apartemen? ”


Semuanya mengangguk.


“ dan lo semua pastinya juga tau janji apa yang gue ucapkan ketika Mama gue sembuh sepenuhnya. Iya, gue mau nepatin janji gue sekarang, ” jelas Antas.


“ gue mundur dari Megalodon. ”


Semuanya terdiam melihat Antas, ternyata ucapan gadis itu memang tidak pernah main-main.


“ lo serius? Gak bertahan aja Ntas? ” Tanya Bagas.


“ kalo janji gue sama kalian dan temen lainnya aja gue tepati, apalagi sama Mama gue. Tenang aja, gue bakal sering ke sini kok kalo kalian izinkan, dan gue bakal selalu jadi Antas yang kalian semua kenal, ” jawab Antas.


“ ini pilihan lo, gue dan kita semua berharap ini yang terbaik buat lo. Selalu inget, meskipun lo bukan anggota MG lagi, tapi kita masih tetap jagain lo kapan pun dan di mana pun itu, ” jelas Bagas.


“ haha terbaik deh kalian! Makasih ya buat beberapa tahun ini, seneng banget gue bisa ketemu dan kenal sama kalian yang baik ini, ” kata Antas.


...****...


Sudah hampir 2 Minggu semuanya berjalan dengan lancar dan juga baik. Antas bisa kembali tertawa lebar dan tenang tanpa beban dengan Mama-nya. Keduanya juga telah kembali ke rumah lama mereka yang di sita, Om Fikri lah yang menebusnya karena sangat dekat dengan rumahnya.


Bumi, cowok itu telah menyelesaikan masalahnya di sekolah kemarin dengan guru-guru. Ia sudah memutuskan untuk mundur dari jabatan atas kehendaknya sendiri, oleh sebab itu sekarang ia mulai berpakaian bebas tanpa hambatan. Sedangkan Naren, cowok itu masih bertahan akibat bujukan Dean dan Saka karena hanya Naren satu-satunya harapan. Sedangkan pengganti ketua OSIS adalah, Kevin.


Hubungan mereka dengan Kevin juga kian membaik, setelah meminta maaf kemarin barulah bisa tenang dan damai. Meskipun terkadang masih ada perdebatan, itu hal yang wajar dalam pertemanan bukan? Apalagi Kevin adalah teman baru mereka sekarang.

__ADS_1


Begitu juga dengan hubungan Dean dan Narra, keduanya terlihat semakin dekat. Meskipun masih terdapat perdebatan namun terlihat jelas bahwa keduanya saling menyukai.


Dan tidak terasa pula mereka bersekolah di sana sudah 2 tahun. Bumi, Antas dan teman lainnya naik ke kelas 12 tepat pada hari Rabu. Masing-masing orang tua berdatangan bertemu dengan wali kelas anaknya, akhirnya Antas membawa Mama-nya ke SMA-nya saat ini. Jika dulu hanya ia yang terus mengambilnya sendiri, maka tahun ini adalah yang paling bersejarah dalam hidupnya.


Setelah berpesta di sekolah, mereka semua beralih ke kafe tempat biasanya mereka nongkrong.


“ kira-kira kita semua satu kelas gak ya? ” Tanya Narra.


“ gak bisa di tebak sih, gue juga gak nyangka udah angkatan terakhir aja nih kita, ” kata Cila.


“ walaupun gak satu kelas semuanya, setidaknya adalah dari kita semua yang sekelas, ” sambung Kevin seraya menyeruput es jeruknya. Teman lainnya pun mengangguk setuju.


“ oh iya kita kan libur kenaikan kelas kan ya, gimana kalo kita liburan sama-sama? ” Usul Antas.


“ wah bagus! Gue setuju, banget! ” Jawab Letta semangat.


“ giliran liburan aja semangat kamu ya, ” kata Saka mengacak pelan rambut Letta. Yang bukannya membuat si pemilik marah justru tertawa. Begitulah hubungan mereka sekarang, semakin bertambahnya umur maka kedewasaan juga akan bertambah, hubungan mereka tidak terlalu serius, tidak juga selalu bercanda, hanya sedang-sedang seperti pasangan lainnya.


“ ini yang gue tunggu-tunggu dari kemarin! ” Kata Cila tak kalah semangat dengan menepuk tangannya. Gadis itu sampai gugup karena tak sengaja menyenggol lengan Naren yang duduk di sampingnya. Kontak mata mereka bertemu sejenak namun kembali pada awalnya dengan rasa canggung dan datar.


“ emang mau liburan ke mana? Ada tujuan? ” Tanya Dean.


“ Vila gue, ” jawab Bumi yang di angguki Antas.


“ Vila lo? Yang perjalanannya hampir 2 jam itu? ” Tanya Dean lagi.


Bumi mengangguk. “ yoi, gak terlalu lama itu sedang-sedang kok, kalo yang di film-film atau novel pasti makan banyak banget tuh waktunya. ”


“ valid no debat! Vila Bumi juga gak kayak yang di TV atau novel kok kayak ada angker-angkernya gitu. Biasa aja sih, tapi ya gak tau juga lah namanya juga orang hidup pasti hidup berdampingan lah ya kan. Asal kita tetap bersikap baik InshaAllah gak ada apa-apa, ” jelas Antas.


“ gue gak bisa pergi tapi kapan perginya, jam berapa, ngumpul di mana, gue sama siapa, bawa apa aja, dan apa-apa lagi? ” Tanya Kevin.


“ bacotan lo gak guna, ” kata Cila tertawa.


“ lusa gimana? Besok kalian izin sama orang tua dulu, siap-siap juga apa yang di perlukan, ” kata Bumi.


“ oke tuh berarti lusa ya, ” kata Letta.


“ Deal? ” Tanya Bumi.


“ DEAL! ”


...****...


Malam harinya saat baru saja pulang dari rumah Bumi, Antas sudah melihat sendal beberapa pasang sendal di depan rumahnya. Antas dan Bumi lantas masuk


“ ada tamu ya? ” Tanya Antas.


“ mungkin Bunda sama Ayah, ” jawab Bumi lalu keduanya masuk. Dan benar ada orang tua Bumi dan Om Fikri di sana.


“ nah ini dia mereka baru pulang ” kata Om Fikri.


“ Ayah sama Bunda ternyata di sini, ” kata Bumi ikut duduk di samping Mama-nya. Sementara Antas di samping Om Fikri.


“ lah iya kan tadi Bunda udah bilang, ” kata Bunda.


“ gak kedengeran tuh Bun kan tadi berisik banget, ” saut Antas.

__ADS_1


“ jadi, rencana liburan kalian mau ke mana? ” Tanya Om Fikri.


“ nah itu dia Om, Bumi mau bicara di sini aja sekalian kalian semua lagi ngumpul, ” jawab Bumi.


“ Ayah tau Vila kita kan, nah kita semua sepakat mau liburan di Vila itu. Lagian di sana juga terdapat air terjun yang bikin suasana jadi adem dan seger banget, ” jelas Bumi. “ jadi Bumi juga mau izin ke Tante buat bawa Asta ke sana. ”


“ kalian berdua saja? ” Tanya Mama Antas.


“ nggak Mah, ada temen lainnya juga rame kok, ” jawab Antas.


“ Mama sih terserah kamu aja selagi sama Bumi gak masalah, tapi ya gitu harus sehat pertemanan dan juga pasarannya, ngerti kan maksud Mama? ” Jelas Mama Antas.


Bumi dan Antas mengangguk bersamaan.


“ iya Mah Bumi ngerti kok, Bumi janji gak akan ada yang namanya hal kotor. Bumi juga janji gak akan pernah jauh dari Asta walau sedetik, ” jelas Bumi. Semuanya terdiam termasuk Antas yang serius melihat Bumi.


“ apa? ” Tanya Bumi.


“ lo... Lo tadi manggil Mama gue apa? ” Tanya balik Antas sambil menunjuk wajah cowok itu.


“ Mama. ”


Pipi Antas memerah seperti kepiting rebus, terasa suara detak jantungnya oleh Om Fikri. Semua yang melihat pun tertawa lebar seraya menggoda keduanya.


“ aduh-aduh kayaknya jadi nih kita besanan, ” kata Bunda.


“ aamiin, ” balas Mama masih tertawa.


Bumi hanya tertawa melihat wajah Antas yang masih malu, seraya mengerucutkan bibirnya kesal gadis itu pamit masuk ke dalam kamarnya.


...****...


Keesokan harinya Antas baru saja bangun tidur, saat keluar dari kamarnya sudah terdengar suara obrolan di bawah.


“ pagi Mah, pagi Om Fikri, ” sapa Antas sambil mengucek matanya dan ikut duduk di samping Mama-nya.


“ pagi sayang, ” serentak keduanya.


“ nah mumpung kamu sudah bangun ada yang mau Mama omongin sama kamu, ” kata Mama.


“ Om Fikri sama Mama mau keluar Negeri ke Amerika. Di sana Mama bisa memulai semuanya dari awal, mulai dari membangun butik dan dua perusahaan Papa kamu. Sebenarnya Om Fikri bisa melakukan semuanya, tapi kan gak enak kalo Om Fikri sendirian sementara semua perusahaan itu milik kita. Jadi, lusa besok Mama sudah harus berangkat sama Om Fikri, ” jelas Mama.


Antas terdiam.


“ Mama baru pulang loh, sekarang mau pergi lagi? Gak bisa di sini aja? Beneran mau ninggalin Asta? ” Tanya Antas.


“ dengan di Amerika Mama bisa memulai semuanya dari awal dengan gampang Asta, ” jawab Mama.


“ kamu tenang saja Asta, kan ada Om Fikri. Om janji akan terus jaga Mama kamu dan gak akan Om biarkan Mama sakit, ” kata Om Fikri. “ Om juga janji gak akan bikin atau biarin Mama kerja keras. Om juga sudah melarang dari awal, tapi kamu tau kan Mama kamu itu keras kepala? Om sudah pasrah dengan Mama kamu yang berjanji akan melakukan pekerjaannya dengan santai dan tidak terlalu lelah. ”


“ apa gak bisa nunggu Asta setahun aja lagi? ” Tanya Antas. Ia sangat berat jika harus jauh dari Mama-nya lagi.


“ kalau begitu akan susah Asta, mumpung Om Fikri masih di sini dan bisa membantu kita. Sayang kan kalau 3 perusahaan itu di biarkan begitu saja sedangkan dulu Papa kamu mati-matian berjuang untuk kemajuan perusahaan itu. Mama janji selalu sehat dan kabarin kamu lewat telepon, ya sayang. ”


Asta menghela nafasnya. Benar memang Mama-nya itu sangat keras kepala yang ia turuni sekarang. Menolak pun juga masih berpikir, benar kata Mama-nya jika di biarkan akan sayang. Seperti perjuangan Papa-nya selama ini sia-sia. Lagi pula di sana ada Om Fikri, semua pasti baik-baik aja dan lancar.


“ iya Mama bisa pergi, tapi selalu telepon Asta ya, dan Om Fikri makasih ya udah banyak banget bantu keluarga Asta, ” kata Antas.

__ADS_1


“ sama-sama sayang, kamu itu sudah seperti anak Om sendiri, ” balas Om Fikri.


__ADS_2