Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 41


__ADS_3

Ayah, Bunda, Bumi dan Antas sudah berada si bandara mengantar Mama dan Om Fikri.


“ titip Asta ya, kalo bandel tarik aja telinganya, ” kata Mama.


Bunda merangkul Antas lalu tertawa pelan.


“ anak kamu aman sama aku, kan sebentar lagi mau jadi menantu, ” ledek Bunda.


“ kalian semangat ya dan cepet pulangnya. Kita semua bakal nunggu, dan inget buat jaga kesehatan dan makanan kalian, ” jelas Ayah.


“ soal itu gak usah khawatir, kita berdua janji bakal pulang cepat dan bawa kabar bahagia, ” balas Om Fikri.


Saat ingin masuk ke dalam pesawat, Antas berhamburan memeluk Mama-nya dengan erat.


“ sering telepon ya Ma, Asta janji gak akan nakal dan nurut sama Bumi, Ayah dan juga Bunda, ” kata Antas.


“ iya sayang Mama percaya, maaf ya Mama harus ninggalin kamu lagi, ” balas Mama.


“ baik-baik ya, Bumi Om titip anak manis ini ya jaga dia baik-baik, ” kata Om Fikri.


“ siap laksanakan Om! ” Balas Bumi.


Lalu keduanya pun hilang memasuki pesawat yang akan lepas landas itu. Setelahnya mereka kembali ke rumah Bumi. Tidak, hanya sampai depan rumah Bumi dan Antas kembali pergi untuk menemui semua temannya yang sudah berkumpul di rumah Naren.


“ Mama lo udah pergi Ntas? ” Tanya Cila.


“ iya udah, ” jawab Antas.


“ semoga aja semuanya lancar deh dan di jauhkan dari segala kesusahan dan bahaya, ” ujar Narra.


Semuanya pun mengangguk dan bersama-sama mengucapkan Aamiin.


“ jadi, kalian udah izin? ” Tanya Bumi. Semuanya mengangguk seraya mengacungkan jempol.


“ kalian udah siapin semua barang yang mau di bawa atau perlukan? ” Tanya Dean.


“ gue udah dong, gue bawa dua koper dan satu tas, ” kata Letta santai.


“ buset dah lo mau liburan atau pindah rumah Markonah, ” kata Antas.


“ tau nih banyak amat, gak berat apa lo? ” Tanya Narra heran.


“ iih kan dua kopernya baju gue, harus bawa banyak dong biar banyak foto juga. Dan tas besar itu untuk semua alat make-up dan Skincare gue, ” jawab Letta.


Narra menggelengkan kepalanya, sementara Antas dan Cila tertawa renyah.


“ bhaha eh Saka, kayaknya kalo kalian udah nikah nanti gue ucapin selamat deh plus semangat juga, ” kata Antas.


“ karena lo bakal harus kerja keras untuk dapat banyak uang demi istri lo yang tercintahh itu, ” sambung Narra.


“ gak pa-pa Ka, nyenengin istri itu pahalanya banyak loh, ” sambung Dean yang di angguki mantap oleh Bumi.


“ demi Letta, apapun bakal gue lakuin. Kayak kata pepatah itu, laut aku seberangi dan badai akan di lalui, ” balas Saka.


“ bukan kata pepatah, ” kata Antas


“ tapi omong kosong alias bulshit! ” serentak Narra dan Dean.

__ADS_1


Antas dan Bumi saling tertawa lebar.


Lalu Antas terdiam tidak sengaja melihat Cila yang dari tadi hanya diam.


Cila tumben diam, ada apa?


Antas masih fokus melihat Cila yang juga fokus melihat sesuatu.


Liat apaan sih? Kayaknya fokus banget.


Lalu Antas ikut melihat arah pandang Cila yang ternyata terus menatap Naren yang bermain game di handphone-nya.


Naren? Jadi dari tadi tuh anak ngeliatin Naren?


Tunggu, dari cara Cila liatin Naren beda banget dan jelas kalo dia— beuh apa jangan-jangan?


Antas berdeham pelan lalu memanggil nama Naren, cowok itu melihat Antas dengan dehaman sebagai jawabannya.


“ gak pa-pa manggil doang, ” kata Antas.


Kevin, cowok itu tidak bisa ikut berkumpul hari ini karena Mama-nya memaksa agar menemaninya pergi ke mall.


...****...


Hari yang di tunggu tiba, 2 mobil sudah terparkir di halaman rumah Bumi. Ya, semuanya berkumpul di rumah Bumi lebih dulu.


“ ayang bantuin berat banget nih, ” adu Letta.


“ iya bentar, koper kamu yang satu aja susah masuknya, ” balas Saka.


“ dari pada lo ngeledek mereka yang jelas udah jelas statusnya, mending lo bantuin koper gue nih! ” Kata Narra menunjukkan kopernya.


“ buset bawa barang yang sama kayak Letta lo anjir pake koper segala, ” balas Dean.


“ ya kaga lah, itu baju gue sama skincare doang, cuma satu koper doang itu cepetan. ”


Meski sempat berdebat namun di tetap Dean laksanakan.


“ ewahh kode tuh Dean, ” saut Cila di mobil belakang.


“ palalu! ” Semprot Narra.


“ heh bocah bantuin ini, ” kata Kevin yang mengangkat dua tas besar.


“ eh makhluk aneh! Lo ngapain bawa tas segede gaban gitu? Mana besar-besar pula, ” tanya Cila berkacak pinggang.


“ bukan skincare atau make-up ya bege! Ini tuh dalemnya makanan sama camilan semuanya, bantuin makanya, ” jawab Kevin.


Cila mengangguk dan membantu memasukkan dua tas tersebut ke belakang mobil. Tak tinggal diam, Naren mendekati Cila dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


“ masuk, biar gue beresin, ” titah Naren. Cila mengangguk ragu dan akhirnya masuk ke dalam mobil.


“ siap berangkat? ” Pekik Antas.


“ SIAP!! ”


Bumi, Antas, Dean dan Narra dalam satu mobil pertama yang jalan terlebih dahulu dengan Dean yang menyetir dan Narra yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Bumi dan Antas duduk di belakang.

__ADS_1


Di mobil belakang terdapat Naren, Cila, Saka, Letta dan Kevin. Naren yang menyetir dan Cila yang duduk di sebelahnya. Sementara Saka dan Letta duduk santai di belakang. Dan Kevin? Cowok itu duduk di kursi belakangnya lagi yang dari tadi terus menghela nafasnya.


“ nasib gue dah selalu di pertengahan orang uwu, tau ah mending gue tidur! ” Katanya sendiri lalu mengambil posisi ingin tidur.


“ kamu mau tidur? ” Tanya Saka.


“ emangnya masih lama? ” Tanya balik Letta.


Saka membawa kepala Letta ke bahunya sambil mengangguk. “ masih dua jam setengah lagi, tidur aja biar gak capek. Jadi sampe sana tinggal main aja. ”


“ kalo capek bilang ya Ren, biar gantian bawa mobilnya, ” kata Cila.


“ tidur aja, gue bisa bawa sampai Vila, ” balas Naren.


Sementara di sisi lain sudah jelas Dean dan Narra yang terus berdebat. Dari tadi kucing dan tikus itu saling memukul pelan meskipun Dean sedang menyetir.


“ gila lo anjir bisa diem gak? Nyetir yang bener sono, ” kata Narra.


“ lo duluan yang mulai! Gue suruh buka tutup botol dan bantuin gue minum aja susah lo, ” balas Dean.


“ kayak gak punya tangan aja lo. ”


“ buat nyetir podoh! ”


“ alesan. ”


“ lo!! ”


Dan kembali pukul memukul di antara mereka, pelan ya gak kuat kok:)


Bumi dan Antas terus menggelengkan kepala mereka sambil memijit pangkal hidung.


“ hadeh kapan alurnya dah, ” kata Antas.


“ gue rasa gak akan pernah, ” kata Bumi.


“ Dean, lo gak liburan sama pacar lo? ” Tanya Antas.


“ udah di putusin semua Sta, ” jawab Bumi.


“ hah? Dean yang putusin? ” Tanya Antas.


“ yoi, dah males gue, bosen, ” jawab Dean.


“ halah tinggal bilang ada satu cewek yang bener-bener lo suka susah banget, jujur lebih baik, ” kata Bumi.


“ iya dah iya, gue suka sama satu cewek maka dari itu gue putusin semuanya. Gue gak mau main-main lagi, gue bakal serius kali ini, ” jelas Dean.


“ woah crocodile king bisa serius, demi apa dah siapa sih cewek yang lo suka? Sampai bisa bikin lo berubah gini, ” Tanya Antas lagi.


“ seseorang, ” jawab Dean.


Antas mengangguk dan melihat Bumi yang mengedipkan satu matanya. Narra dari tadi diam, gadis itu selalu saja diam jika membicarakan pacar-pacar Dean, dan sekarang Dean mengatakan bahwa ada satu cewek yang sangat ia sukai, dan ia rela meninggalkan banyak cewek cuma demi satu cewek yang ia sukai sekarang, siapa? Pertanyaan itu akan selalu melekat di pikirannya, ingin bertanya namun tidak akan mungkin. Karena gengsi, akan selalu di depan.


“ muka lo kenapa? Tiba-tiba cemberut gitu, mana diem lagi biasanya heboh, ” heran Dean.


“ gue ngantuk, ” jawab Narra lalu memalingkan wajahnya ke jendela dan menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2