
“ eh eh mau ke mana lo? ” Tanya Saka menarik kerah belakang Kevin.
“ ikut mereka duduk, ” jawabnya menunjuk ke arah Bumi dan Naren. “ kan semua piring sama gelas udah gue keluarin, ” sambungnya.
Saka melihat piring dan gelas yang memang sudah lengkap, ia melihat Kevin dengan sinis.
“ mampus gak bisa santai lo, ” ledek Kevin lalu berlari.
Letta yang dari tadi melihat kekasihnya itu sudah memasang wajah cemberut dengan menodongkan garpu ke wajah Saka.
“ kamu mau santai kayak mereka? Gak mau bantuin aku? ” Tanya Letta. “ tega biarin aku kecapean, ” sambungnya lagi.
“ eh haha nggak kok sayang, kan aku cuma nanya doang tadi, ” jawab Saka seraya mendorong pelan tangan Letta agar garpu tersebut jauh dari wajahnya.
“ bener ya? ” Tanya Letta lagi.
“ iya sayang bener kok, yaudah lanjut ya tinggal beberapa lagi ini. ”
“ bhaha sok-sok'an pengen bantuin pacar, mamam noh pacar gak bisa santai dulu kan lo haha, ” kata Kevin yang sudah duduk di samping Bumi.
Bumi menoyor kepala Kevin. “ ngeledek doang lo bisanya. ”
“ ya biarin, lagian bucin banget sih, ” jawab Kevin.
“ lo belum pacaran makanya gak bisa ngerasain, jadi diem aja dah kalo iri, ” balas Bumi balik bertawa.
“ Nar air yang lo bikin udah selesai? ” Tanya Antas yang masih mengipasi dagingnya.
“ udah selesai tinggal masukkin es batu aja, ini baru mau hancurin es batunya dulu, ” jawab Narra.
“ bisa Nar? Mau gue bantuin? ” Ujar Antas.
“ hm gak usah lah, pecahan es batu doang gue bisa kok. ”
Narra sudah bersiap akan memukul es batu tersebut dengan balok kayu berukuran sedang. Namun saat ingin memukul Dean datang dan langsung menarik tangan kiri Narra.
“ apasih lo? ” Tanya Narra kesal.
“ kalo gitu cara lo mecahin ea batunya, bukan es batu yang pecah tapi tangan lo, ” jawab Dean.
Narra diam melihat tangan kirinya yang memang di atas es batu, ceroboh memang.
“ udah sana, biar gue pecahin es batunya, ” kata Dean.
Narra mengangguk dan kembali mengaduk sirup sirsak buatannya. Saat Dean kembali dengan membawa semangkuk es batu yang sudah terpecah menjadi beberapa bagian.
Tanpa mengucap terimakasih dan tanpa mengatakan apapun, Narra mengambilnya dan langsung menuangkannya ke dalam beberapa teko air.
“ ehm Nar, ” panggil Dean yang masih berdiri di samping Narra. “ lo masih marah sama gue? ”
Narra hanya diam dan membawa satu teko ke tikar yang sudah di gelar Bumi dan Naren tadi. Dean menahan tangan Narra dan melihat gadis itu lekat.
“ maaf ya, gue salah. Jangan diem gini dong, gue gak ada temen gilanya. Gue udah kayak orang dongo yang planga-plongo, maaf ya jangan marah lagi, ” kata Dean.
Narra menarik tangannya dan menghela nafasnya, lalu kembali melihat Dean dengan kesal.
__ADS_1
“ siapa yang marah sih? Gue gak marah ya, yakali gue marah sama lo cuma karena lo bilang lo suka sama cewek lain dan cewek itu yang berhasil bikin lo berubah, ” jelas Narra tanpa sadar.
Semua teman yang tadinya sibuk sama tugas masing-masing kini beralih melihat Narra karena mendengar semuanya dengan jelas.
“ wah hebat, ” gumam Letta yang masih memegang sapu tangan.
Dean terdiam, begitu juga Narra yang sudah melihat sekelilingnya yang melihatnya.
“ jadi lo cemburu Nar? ” Tanya Cila.
“ c— cemburu? Gak ya! Gue tuh kesel sama Dean karena bangunin gue gak bisa santai. Udah deh gue mau masuk, mau minum, ” jawab Narra gugup lalu masuk ke dalam.
“ lah kan dia yang bikin minumannya, kenapa harus masuk dah? ” Tanya Saka.
“ itu artinya dia gugup dan salah tingkah karena keceplosan, ” jawab Cila.
“ apalagi Dean? Srepew, ” saut Bumi tertawa.
“ bener kan apa kata gue, Narra tuh juga suka sama lo. Ngeyel sih, ” kata Kevin yang juga ikut tertawa.
Antas hanya diam dengan terus tersenyum tipis dari tadi.
Sementara di dapur saat ini Narra terus mengutuk dirinya sendiri sambil memukul kepalanya sendiri.
“ duh bodoh, bodoh, bodoh! Narra bodoh! Ngapain pake keceplosan segala sih? ” Omelnya sendiri.
“ duh mau taruh di mana muka gue buat ketemu sama Dean lagi? Argh bisa-bisanya gue suka sama dia, lagian sih bukannya tetep diem masih aja keceplosan. ”
“ jadi bener lo suka sama gue? Kenapa gak jujur aja? ” Tanya Dean yang dari tadi sudah mendengar semuanya. Sejak beberapa detik ia terdiam tadi akhirnya memutuskan menyusul Narra dan meminta penjelasan. Tapi mendengar Narra bicara sendiri, ia mengundurkan niatnya dan mendengar semua.
“ l— lo dari kapan ada di situ? ” Tanya Narra.
“ sejak lo mukul kepala lo sendiri, vodoh emang, ” jawab Dean.
...****...
“ ehmm enak banget anjir, ” kata Cila melahap makanannya dengan nikmat.
“ sumpah ya asik banget kalo udah kumpul sama kayak gini, ” kata Letta.
“ makanya gue sama Bumi ajak kalian ke sini biar semuanya makin deket dan kita semua bisa senang-senang, ” kata Antas.
“ bener tuh, biar kalian semua gak selalu serius, ” sambung Bumi.
“ ambilin gelas dong sambil tuangin airnya, ” kata Narra.
Dean langsung menuruti permintaan Narra, padahal bukan Dean yang ia mau melainkan teman lainnya.
“ nih minum yang banyak, ” ujar Dean. Narra menerimanya dengan canggung tak berani melihat wajah cowok itu.
“ besok kita semua bangunnya paling telat jam 08.30 karena gue mau ngajak kalian ke air terjun, di sana ada sungai dan pemandangannya juga di jamin bagus deh, ” jelas Bumi.
“ air terjun? Sungai? Wah terbaik deh lo Bum tau aja nih kita butuh swa foto, ” balas Cila.
“ asik!! Gue harus cantik banget nih biar dapet foto yang sempurna, ” kata Letta.
__ADS_1
“ tanpa make-up juga cantik sayang, ” kata Saka.
“ itu mah kata kamu, di instagram harus tampil wah dong ya nggak Nar, ” kata Letta lagi.
“ iya bener banget, biar gak ngecewain para pengikut bhaha, ” balas Narra.
“ bisa mandi Bum? ” Tanya Kevin. “ dalem gak? ”
“ bisalah, gak dalem juga ya cocok buat kita-kita. Kayak sungai biasanya juga, dingin dan sejuk, ” jawab Bumi.
“ nah buat kalian yang mau berenang gak usah mandi dulu deh, mending mandi di sana aja, ” kata Antas.
“ nah gitu dong baru asik, berenang kita Dean, ” kata Kevin.
“ Saka, Naren dan Bumi juga wajib ikut, ” balas Dean.
“ kalo niat mah gas ajalah haha, ” balas Saka.
...****...
Keesokan harinya Antas bangun lebih dulu dan sudah mandi juga. Rambutnya masih di lilit handuk karena basah habis keramas, gadis itu bangun awal pada pukul 06.45 dan sekarang ia sedang berada di halaman Vila bermain dengan kucing berwarna oranye yang entah datang dari mana.
“ oi ceng punya siape lo? ” Tanya Antas mengelus kucing tersebut.
“ hm kocheng oren, kucing bar-bar ya anda. ”
Bumi yang baru saja selesai mandi dengan bertelanjang dada dan celana pendek, rambut yang masih basah keluar dari kamarnya menuju dapur. Namun langkahnya terhenti saat melihat pintu depan terbuka dan terdapat Antas yang berjongkok bermain sesuatu.
“ Asta, ” panggil Bumi mendekati Antas dan melihat seekor kucing.
“ pagi Bumi, baru selesai mandi? ” Tanya Antas.
“ iya, lo juga baru mandi kan? ” Tanya Bumi.
Antas mengangguk seraya tersenyum dan menunjuk handuk yang melilit di rambutnya.
“ nih keramas, ” jawab Antas.
Bumi mengangguk lalu ikut berjongkok melihat kucing yanh bergelut manja kepada Antas.
“ ini kucing siapa? Gak biasanya ada kucing di sini, ” tanya Bumi.
“ gak tau, pas keluar udah ada kucing ini, ” jawab Antas.
“ mungkin kucing liar, ” kata Bumi.
Sementara di seberang sana terdapat seseorang yang dari tadi memperhatikan Antas. Ia tersenyum.
“ bagus, dengan lo menyentuh kucing itu artinya lo siap sama maut lo sendiri, ” katanya lalu menelepon temannya.
Kenapa?
Malam ini kumpulkan semua anggota di markas, jangan ada tersisa satu pun. Lo tau kan gue gak suka sama kesalahan meski sedikit.
Oke siap Bran.
__ADS_1