Bumi & Antas

Bumi & Antas
BUMTAS 29


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dan semuanya berjalan dengan lancar di sekolah. Antas masih berada di rumah sakit menemani Mama-nya. Setelah membeli camilan yang berupa kerupuk kentang, ia kembali ke ruangan Mama-nya dan duduk di sofa menonton TV.


Namun pandangan cewek itu teralihkan ke jari Mama-nya. Ia beranjak kaget saat melihat jelas jari-jari Mama-nya yang bergerak. Lalu ia mendekati dengan mengucek kedua matanya agar ia meyakini dirinya sendiri bahwa penglihatannya tidaklah salah.


Setelah benar-benar memastikannya, ia langsung memencet tombol dan berteriak memanggil Dokter, lumayan panik dengan detak jantung yang berdebar kencang.


Saat Dokter datang dengan beberapa Suster yang berada di belakangnya.


“ tadi saya liat jelas jari Mama saya bergerak Dok, ”kata Antas.


“ Adik bisa tunggu di luar dulu ya, biar saya dan para Suster yang memeriksa, ”kata Dokter tersebut. Antas mengangguk dan mengikuti apa kata Dokter tersebut.


Beberapa menit kemudian Dokter keluar dan menghadap Antas.


“ gimana Dok? Apa semuanya baik-baik aja? ”Tanya Antas.


“ ikut saya ke ruangan ya, biar saya jelaskan secara detail di sana, ”jawab Dokter.


Antas terdiam sejenak.


Duh kalo gue yang dengerin ntar ada yang gak di mengerti lagi.


“ ehm Dok bisa tunggu sebentar? Saya panggil pacar saya ke sini dan menghadap Dokter nanti, ”kata Antas.


“ baiklah saya tunggu di ruangan ya, ”balas Dokter tersebut lalu pergi.


Beberapa menit kemudian Bumi datang dengan Naren. Keduanya tampak panik.


“ Dokter tunggu di ruangannya, ”kata Antas.


Bumi mengangguk. “ Ren jagain di sini bentar. ”


Naren mendekati Antas dan melihat Mama Antas yang masih betah berbaring di sana. Cowok itu menyadari bahwa bahu Antas bergetar, oleh sebab itu ia memegang bahu Antas dengan pelan.


“ sabar, pasti ada kabar baik, ”kata Naren.


Antas ikut memegang tangan Naren yang memegang bahunya sambil tersenyum tipis. “ iya Ren Mudah-mudahan aja. ”


Tak lama kemudian Bumi kembali dengan membawa surat di tangannya.


“ kenapa Bum? Apa kata Dokter? Semua baik-baik aja kan? ”Tanya Antas beruntun.


Bumi menyerahkan secarik kertas yang sepertinya hasil dari pemeriksaan Mama-nya hari ini.


“ gue gak ngerti, ”kata Antas.


Bumi tersenyum tipis lalu mengacak rambut Antas pelan.


“ Mama lo lewat dari masa koma, secepatnya Mama lo bakal sadar, ”kata Bumi.


“ i— ini beneran kan Bum? Lo gak bohong kan? Mama bakal sadar Bum, ”kata Antas bersemangat.


Bumi mencubit pipi Antas.


“ bener Asta, dan kata Dokter setelah Mama lo sadar nanti bakal di periksa lagi keadaannya. Jadi sedikit sabar lagi ya Sta, ”kata Bumi.

__ADS_1


Antas sangat bahagia mendengarnya, ia menyeka air matanya dan mengajak Naren bertos ria padanya. Setelahnya cewek itu kembali ke tempat duduk yang ada di samping Mama-nya.


Naren dan Bumi tersenyum ikut senang melihat Antas bisa sebahagia itu.


“ tunggu di sini Ren, gue mau ambil resep obat di apotik, ”kata Bumi lalu pergi.


Naren kembali mendekati Antas dan memberanikan diri mengelus rambut Antas perlahan.


“ bener kan? Setiap kesabaran itu pasti hasilnya luar biasa, tinggal nunggu sedikit aja lagi semuanya bakal sempurna, ”kata Naren.


Antas mengangguk. “ makasih. ”


Hampir 10 menit Bumi masih belum kembali membuat Antas sedikit gelisah.


“ duh Bumi kok lama banget ya, kan cuma ambil obat di apotik, ”kata Antas.


“ lagi ngantri mungkin, ”kata Naren.


“ masa' selama itu? Kita susul aja deh Ren takutnya ada apa-apa, ”ujar Antas.


Keduanya sudah melihat di apotik namun hasilnya nihil, hanya ada beberapa orang lagi. Keduanya pun lanjut berjalan hingga Antas berhenti tak jauh dari kasir.


“ eh Ren itu Bumi kan? ”Tanya Antas.


“ iya. ”


“ dia ngapain di kasir? Kan seharusnya ambil obat di apotik, kenapa bisa nyasar ke sini? ”Tanya Antas lagi.


“ hm kayak ada sesuatu nih, ”katanya lalu melanjutkan langkahnya dengan mengendap-endap.


“ gue mau denger lebih dekat, gue yakin mereka lagi bicara sesuatu yang penting, ”bisik Antas.


“ yang membayar rumah sakit atas nama Asta? ”Tanya Suster penjaga kasir itu.


Bumi mengangguk lalu mengeluarkan kartu kreditnya.


“ bayar rumah sakit Asta? Itu kan nama gue, maksudnya gimana sih? ”Tanya Antas pelan.


“ maksudnya itu Mama lo Antas, Bumi cuma pake nama lo doang, ”jawab Naren.


“ lah? Jadi yang dia orang yang bayarin segala hal rumah sakit Mama gue? ”Tanya Antas lagi.


“ menurut lo aja, ”jawab Naren.


Antas terdiam memainkan jari-jarinya.


“ Asta, Naren, kalian kenapa di sini? ”Tanya Bumi.


“ jadi lo orang yang bayar rumah sakit Mama gue bahkan mindahin Mama gue ke ruang VVIP, ”kata Antas.


Bumi terdiam. “ Sta soal itu— ”


“ kecewa gue sama lo Bum, ”potong Antas. “ lo bohong soal ini, lo pikir gue udah gak mampu apa?! ”


“ karena itu Asta gue gak bisa bilang ke lo. Lo pasti gak mau dan gak bakal setuju kalo gue yang bayar, ”kata Bumi.

__ADS_1


“ tetap aja ya Bum gue berhak tau walau akhirnya gue gak terima. Lo udah tau gue gak bakal terima itu tapi kenapa masih lo lakuin? ”


“ gue bisa jelasin Asta, gue ikhlas lakuin semuanya. Gue gak ada maksud apa-apa. ”


“ mana obatnya? ”Tanya Antas.


Bumi memberikan beberapa obat pada Antas, lalu melihat gadis itu pergi dengan menarik tangan Naren. Bumi menghela nafasnya.


Naren ikut berdiri di samping Antas yang duduk di samping Mama-nya.


“ gak seharusnya lo ngomong gitu ke Bumi Antas, ”kata Naren.


“ gue gak suka Ren, gue masih mampu, ”balas Antas.


Naren menghela nafasnya dan berlutut di samping Antas. Ia juga memutar tubuh Antas agar menghadapinya.


“ kita semua tau prinsip lo Antas. Tapi dengan Bumi menolong bukan berarti nganggep lo udah gak mampu, menolong itu kewajiban bagi setiap manusia kan? Kita semua sahabat gak ada salahnya kalau saling menolong. Dan menolong itu gak mandang dari mampu atau enggaknya, semua tergantung ketulusan hati. Meskipun Bumi juga salah karena gak jujur, tapi semua itu juga demi kebaikan lo Antas. Lo dan kita semua tau, semua yang di lakuin Bumi itu semata-mata buat kebaikan lo, iya kan? ”Jelas Naren.


Antas terdiam, ada benarnya yang di bilang Naren. Ia terlalu labil dalam memikirkan sesuatu dan selalu mengedepankan emosi.


“ jadi gue salah ya, ”gumam Antas.


Naren menangkup wajah Antas dan tersenyum tipis melihat wajah Antas yang di tekuk sedih.


“ gak ada yang salah Antas, Bumi cuma selalu mikirin perasaan lo, sementara lo selalu teguh sama prinsip lo yang gak mau menyusahkan orang lain selagi lo mampu, ”kata Naren.


“ makasih ya Ren, ”ucap Antas.


Naren mengangguk dan mengelus pundak Antas. Kemudian Bumi masuk dan berjalan pelan mendekati keduanya.


Antas beranjak dan langsung memeluk Bumi. “ maaf ya Bum, gue selalu kekanak-kanakan yang terus mengedepankan emosi. Padahal niat lo baik, bukannya terimakasih gue malah marah-marah sama lo. ”


Bumi melirik Naren yang mengangguk padanya. Bumi juga mengelus pundak gadis itu dengan perlahan.


“ maafin gue juga Sta, gak seharusnya gue bohong soal ini, ”balas Bumi.


Cowok itu melepas pelukannya dan menghapus air mata Antas lalu mencubit pipinya pelan.


“ lupain, dan gue gak mau lo bayar ke gue semua biaya yang udah gue keluarin,”kata Bumi penuh tekanan. “ anggep ini hukuman buat lo, ”sambungnya.


“ hukuman? ” Tanya Antas.


“ hukuman karena kemarin lo ngejauhin gue, ”jawab Bumi.


“ mana ada hukuman kayak gitu, ”protes Antas.


“ emang mau push up hm? ”


“ ya enggak sih. ”


“ nah makanya terima aja. ”


“ yaudah deh, besok atau lusa gue masuk sekolah lagi. Gue udah lega dengar Mama gue bakal sadar, lagian gue juga kangen gak bikin masalah, ”kata Antas tertawa.


Bumi ikut tertawa lalu kembali mencubit pipi gadis itu. “ dasar. ”

__ADS_1


__ADS_2