
Puas tetapi juga malu, cleo pulang dari kampus naoki dengan perasaan dongkol. Niat mau membalas rasa malu malah dia sendiri yang merasa malu karena naoki menciumnya di depan umum.
"Ish .. dasar beruang kutub gila!" pekiknya sambil mengendarai motornya pulang.
Setelah puas mengumpat dan memaki naoki yang telah mencuri ciuman pertamanya di perjalanan, cloe akhirnya sampai di rumahnya. Ia memarkirkan motor di garasi, dengan wajah yang di tekuk masam dan langkah yang sengaja di hentak-hentakkan ia berjalan memasuki rumah.
"Kenapa kamu C? apa dramanya berjalan dengan baik?" tanya arie.
Ia merasa sangat heran dengan sikap cleo yang sangat berbeda dengan saat ia pergi tadi.
"Gagal Ma, gatot alis gagal total!" seru cleo kemudian menghempaskan bokongnya di sofa dengan kasar.
"Kenapa?"
"Semua gara-gara Na ... Cleo segera membungkam mulutnya sendiri.
Hampir saja keceplosan.
Arie mengerutkan keningnya. "Na, siapa?"
"Narator Ma, cleo jadi narator. Bukan jadi pemain, kan kesel udah dandan malah nggak ikutan main," kilah cleo.
"Lha emangnya pas latihan nggak di kasih tau tugas kamu apa?"
Cleo hanya tersenyum lebar, memamerkan jajaran giginya. Cukup menyengir saja, dari pada bohonnya nambah.
"Kamu sih aneh-aneh, bukannya kamu nggak pernah tertarik dengan pentas drama seperti itu. Kenapa tiba-tiba sekarang ikut?"
"Iya Ma, ini juga udahan kok, cleo nggak ikutan lagi. Cleo mandi dulu ya Ma, gerah," ujar cleo sambil mengusap-usap wajahnya.
Bukan bajunya yang membuat cleo kegerahan. Terapi riasan tebal yang sengaja ia gunakan untuk menutupi warna kulit aslinya, cleo tidak pernah menggunakan riasan tebal seperti ini sebelumnya. Ini buatnya merasa tidak nyaman, kulit wajahnya seolah tidak bisa bernafas.
"Cepetan mandinya, habis ini ikut Mama," titah arie.
__ADS_1
"Kemana?"
"Tante Yuli," jawab arie singkat.
"Asik karaoke!" pekik cleo kegirangan. Rasa kesalnya menguar sudah.
Ia segera melompat dari sofa tempat ia duduk, dengan kecepatan kilat cleo berlari ke kamarnya. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk membersikan diri dan riasannya, ia harus bergegas sebelum mama cantiknya berubah pikiran.
Memakai kaos warna merah dengan celana jeans panjang, cleo melangkah dengan riangnya. Sang mama sudah menunggu di mobil bersama supir kesayangannya.
Mereka berdua pun akhirnya berangkat ke tempat karaoke Yuli, butuh waktu 1 jam perjalanan dari rumah besar mereka untuk sampai ke tempat karaoke itu.
Setelah mereka sampai, cleo bergegas turun. Ia sungguh sangat tidak sabar untuk menyalurkan hobi terpendamnya. Membuat sakit telinga siapa saja yang mendengar suara khas miliknya.
"Tante Yuli!" teriak cleo, ia berlari menyongsong seorang perempuan yang sedang berdiri menyambutnya.
Cleo langsung memeluknya erat. Yuli sudah menganggap cleo seperti anaknya sendiri.
"Mbak yuli nggak usah ngomong gitu, nanti kalau cleo live di sini malah sepi beneran lho kafenya," seloroh arie.
Cleo melerai pelukannya. Dengan bibirnya yang manyun lima centi ia menoleh kearah mamanya.
"Mama Ih ....," rengekannya.
"Sudah, ayo kita duet," ajak yuli.
Cleo mengangguk. Arie tersenyum lalu mengekor di belakang mereka.
Cleo menghabiskan hari itu seharian di kafe, menyanyikan suara hatinya sendirian. Sementara arie dan yuli sibuk bergosip ala emak-emak.
Beberapa hari berlalu.
Pagi ini di rumah Wang terjadi kehebohan. Alex marah karena Cleo menjadi bahan pembicaraan di halaman berita di internet. Putri semata wayangnya itu di kabarkan hamil di luar nikah dengan salah satu mahasiswa dari sebuah universitas ternama di Surabaya.
__ADS_1
Di tambah ada video dimana mereka berciuman dan Cleo sedang mual dan muntah di kampus si laki-laki. Di kabarkan Cleo ke sana untuk meminta pertanggungjawaban si pria.
"Sayang lepaskan aku. Aku harus menghajar bocah tengik itu. Beraninya dia menyentuh gadis kecilku!" teriak Alex.
"Sayang, kita tunggu Cleo pulang dari sekolah. Kita tanyakan dulu kebenaran dari berita itu." Arie memeluk suaminya yang sudah terbakar emosi.
"Tidak bisa, aku harus segera memberi pelajaran pada anak dokter gila itu. Nggak Bapak nggak anak keduanya sama-sama gila!" marah Alex.
Cup.
Arie mengecup dalam dan lama pipi suaminya, kemarahan Alex perlahan menguap. Ia memejamkan mata saat Arie menyusup kedalam pelukannya.
"Tenang ya. Kita tunggu sampai Cleo pulang dan kita akan menanyakan ini dengan baik-baik." Arie mengusap lembut punggung suaminya.
"Baiklah, kita menunggu Cleo pulang sambil membuatkan adik untuknya!"
"Apa?"
Alex langsung mengangkat tubuh mungil istrinya, menggendongnya seperti koala. Alex melangkah lebar membawa sang permaisuri dalam peraduan cinta mereka.
"Masih siang Sayang," ucap Arie saat Alex membaringkannya di atas ranjang.
"Apa bedanya, kau menyuruh aku untuk tenangkan. Inilah yang bisa menenangkan aku." Alex membuka jasnya lalu membuangnya sembarangan.
Jemari kekarnya mulai membuka kancingnya dengan kasar hingga hampir saya ia merobek kemejanya sendiri. Arie terkekeh, ia meraih tangan suami agar berhenti.
"Pelan Sayang." Arie menarik lembut tangan suaminya, hingga tubuh kekar itu menindihnya.
Bibir mereka menyatu saling menyesap dan mel*mat. Perlahan jari lentik Arie membuka kancing kemeja Alex satu persatu, berbeda dengan Arie. Alex langsung merobek daster yang membalut tubuh istrinya.
Alex melepaskan panutan, kedua saling menatap lalu tertawa bersama. Tangan Alex mulai menyusup pada baju yang sudah ia koyakan, dengan bibirnya yang mungil menyusuri bukit yang selalu menjadi favoritnya. Tangan Arie pun tak tinggal diam, ia mulai mengelus batang yang sudah mengeras di balik celana suaminya.
Selanjutnya ðŸ¤ðŸ™ˆ Mak skip masih siang.
__ADS_1