
Cleo melewati pos satpam begitu saja, tanpa menyapa atau basa-basi seperti biasanya. Pak Mun yang sedang berjaga, heran dengan sikap Cleo apalagi wanita itu melajukan motornya dengan sangat kencang ke arah parkiran.
"Non Cleo kenapa yak? nggak biasanya dia begitu?" Pria paruh baya itu bergumam sendiri, Pak Mun sudah lama berkerja sebagai petugas keamanan di apartemen itu.
Bahkan sebelum Alex jadi pengantin baru dan tinggal di apartemen yang sekarang Cleo tempati. Pak Mundir, sangat mengenal baik Alex, dia juga diamanahi oleh Alex untuk menjaga putrinya secara khusus.
Merasa ada yang tidak beres, Pak Mundir memutuskan untuk melihat keadaan Cleo.
"Rul, aku keliling dulu yak, kamu jaga pos baik-baik," Pamit Mundir pada rekannya.
"Oke Pak."
Mundir mengambil topi yang tergantung di belakang pintu, kemudian memakainya. Umur tak banyak mempengaruhi raga Mundir, diusianya yang tidak muda. Tubuh Mundir masih tegap karena sering berolahraga. Pria itu melangkahkan kakinya cepat menuju basemen, Mundir cukup terkejut saat melihat motor milik Cleo tergeletak di lantai.
Cepat-cepat Mundir menghampiri motor itu dan menstandarkannya.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Non Cleo seperti ini?"
Merasa ada yang janggal dengan sikap Cleo, Mundir memutuskan untuk menelfon Alex. Ia mengambil ponsel lawas yang ada didalam saku, setelah dua kali nada panggilan akhirnya telepon Mundir diangkat.
"Halo, Tuan Alex. Saya Mundir Tuan."
"Halo, iya Pak Mundir. Ada apa?"
"Anu Tuan, Non Cleo."
"Ada apa dengan Cleo?"tanya Alex cepat.
"Non Cleo bertingkah aneh," jawab Mundir ragu.
"Aneh bagaimana?" Alex menahan seorang pegawai yang hendak memberikan laporan padanya.
"Tadi waktu lewat pos satpam dia tidak menyapa, naik motor kenceng banget Tuan. Karena merasa aneh, saya cek ke basemen. Eh ... sepeda motor Non Cleo di geletakin gitu aja di lantai. Aneh nggak Tuan, kalau menurut saya aneh," ujar Mundir panjang lebar.
Alex manggut-manggut mendengar cerita Mundir, terdengar cukup aneh memang.
"Baiklah kalau begitu, saya akan mampir kesana setelah rapat. Terima kasih sudah memberi tahu saya Pak."
"Sama-sama Tuan." Mundir menutup teleponnya.
__ADS_1
"Semoga saja Non Cleo baik-baik saja."
Mundir kembali melanjutkan langkahnya berkeliling di sekitar apartemen untuk memeriksa keamanan.
Sementara itu.
Cleo duduk termenung di tepi ranjang, ia menunduk. Tatapan matanya begitu fokus pada layar datar yang ia pegang. Sebuah video berdurasi tiga puluh detik, yang ia putar untuk kedua kalinya.
"Ha .. Ha ... Hahahaha ...," Cleo tertawa sumbang, kepalanya terangkat menengadah menatap langit-langit.
"Dasar Brengsek!" teriak Cleo, ia membuang ponselnya ke lantai.
Cleo berteriak histeris, dengan sekuat tenaga dia menarik selimut, seprai yang menutupi kasur. Melemparkan semua bantal dan membuangnya sembarangan.
Belum puas dengan itu, Cleo melangkah cepat ke meja rias. Membanting semua benda yang ada diatas meja, vas bunga dan lampu tidur tak luput dari amarah wanita itu.
"Haaa.... Naoki Brengsek! Bangs*t ... Kamu jahat Ki, jahat!" Cleo terus berteriak dengan air mata yang mengalir tanpa henti dari matanya.
Hancur seperti kamarnya saat ini, Hatinya begitu sakit melihat Naoki memeluk wanita lain dihadapannya. Ditambah sebuah video yang baru saja ia lihat, ingin tidak percaya. Namun, Cleo bahkan sudah menyaksikan sendiri Naoki bermesraan dengan wanita lain.
Tubuh Cleo lemas, ia jatuh terduduk dilantai yang sudah penuh dengan barang-barang yang ia hancurkan. Matanya menatap kosong pada bingkai foto pernikahannya dengan Naoki yang terpajang di dinding.
Tatapan Cleo menajam penuh kebencian, dadanya naik turun seiring gemuruh yang semakin memuncak sesak memenuhi dadanya. Cleo bangkit, ia melepaskan bingkai besar itu dengan paksa.
Prang
Kaca foto itu pecah berantakan. Puas? tentu saja tidak, tapi kamar ini sudah cukup mewakili perasaannya saat ini. Tak perduli dengan kamar yang penuh dengan pecahan kaca dan botol yang ia banting, Cleo berjalan dengan kaki polosnya kearah lemari. Mengambil koper dan memasukkan semua bajunya dengan asal.
Sudah cukup, Cleo sangat lelah dengan semua ini. Jika memang Naoki tidak menginginkan pernikahan ini, maka Cleo pun tidak. Tak lupa Cleo memasukkan semua hal penting yang ia perlukan.
Setelah mencuci muka, Cleo keluar dari kamar dengan menarik kopernya. Tak ada lagi yang menahannya ditempat ini, tidak ada.
Cleo melangkah cepat, melewati ruang tamu, ia berhenti di meja dan meninggalkan sebuah surat untuk Suaminya di sana. Ia berdiri diambang pintu, menoleh sejenak untuk terakhir kali melihat tempat itu untuk terakhir kalinya.
Wanita itu menutup pintu apartemen perlahan, sama dengan hatinya. Cleo juga menutupnya untuk Naoki. Sudah cukup ia terluka, Cleo tidak ingin lagi.
Sampai di basemen, Cleo meletakkan koper diantara kaki, dan segera menyalakan mesin motor. Cleo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan gedung apartemen itu.
Naoki yang merasa cemas, karena tidak bisa menghubungi Cleo bergegas pulang.
__ADS_1
"Hape kamu kenapa sih C? kok nggak aktif. Apa dia benar-benar sakit? Semoga dia baik-baik saja," gumam Naoki, ia menginjak gas lebih dalam, untuk menambah kecepatan mobilnya.
Tak butuh waktu lama bagi Naoki untuk sampai ke apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya di basemen, Naoki segera turun dan berlari menuju apartemennya. Naoki menekan kode akses untuk membuka pintu, dengan tergesa-gesa, dia sungguh khawatir dengan keadaan Cleo.
"Cleo!" panggil Naoki.
Hening, tak ada tanda-tanda Cleo. Naoki berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
Naoki memelototkan matanya, melihat keadaan kamar yang tak ubahnya seperti kapal pecah. Semua benda berserakan di lantai, Naoki yang masih memakai sepatu berjalan masuk dengan perlahan.
Tiap langkah Naoki menimbulkan bunyi, karena menginjak kaca dan serpihan botol dan vas yang berserak. Naoki memicingkan matanya saat melihat bekas tetesan darah yang berceceran di antara beda-beda itu.
"Kenapa ada darah di sini?" Naoki menyusuri jejak darah itu.
Cairan merah itu berjejak keluar, dari dekat lemari pakaian. Dia terlalu tergesa-gesa saat masuk hingga tak melihat moda darah dilantai. Khawatir dengan apa yang terjadi, Naoki menghubungi pihak keamanan apartemen.
"Halo, Selamat pagi menjelang siang apa ada yang bisa kami bantu?"
"Pak Mundir?" tanya Naoki memastikan.
"Iya, dengan saya Mundir. Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Apa Bapak melihat istri saya?"
Naoki melangkah keluar dari kamar mengikuti jejak tetesan darah, menuruni tangga dan mengenang sedikit lebih banyak di dekat meja ruang tamu.
"Non Cleo tadi pergi sekitar jam 7.15 kemudian kembali pukul 9.45 lalu satu jam kemudian dia keluar lagi pukul sepuluh lebih Tuan," jawab Pak Mundir dengan rinci.
"Apa ada orang lain yang masuk ke apartemen saya Pak?"
"Tidak Tuan, hanya Nona Cleo yang sangat terburu-buru saat pulang dan pergi."
"Baik Pak, terima kasih."
"Sama-sama."
Naoki menutup sambungan teleponnya, ia menghela nafas sambil memijit batang hidung.
"Kemana kau, C?"
__ADS_1