C & N

C & N
Eps 63


__ADS_3

Cleo masih enggan untuk pulang bersama Naoki, meskipun suaminya itu sudah menjelaskan apa yang terjadi dalam video itu adalah kesalahan pahaman. Namun, tetap saja itu membuat Cleo sebal. Bagaimana bisa Naoki membiarkan sembarangan orang masuk ke kamarnya.


Daripada marah-marah tidak jelas, dan kesepian di apartemen Cleo memutuskan untuk tinggal beberapa hari di rumah orang tuanya.


"Kamu benaran nggak ada masalah sama Naoki?" tanya Arie sambil memasukkan popcorn kemulut Cleo.


"Nggak Ma, Mama tanya terus ih ... bikin bete. Kita fokus aja lihat Lee min Ho aja Ma," jawab Cleo kesal.


Anak dan ibu itu sedang menghabiskan sore mereka, dengan menonton film terbaru dari aktor kenamaan korea. Arie dan Cleo selayaknya sahabat, mereka punya hobi dan minat yang sama.


"Ok ...ok .. Mama nggak nanya lagi, tapi kamu boleh cerita sama Mama kalau kamu ada masalah." Arie mengambil segelas es jeruk miliknya di meja.


Cleo menghentakkan nafasnya kasar, ia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari sang Mama. Arie hanya memperhatikan Cleo tanpa bertanya lagi, ia tahu ada yang sedang terjadi antara anak dan menantunya. Namun, Arie memutuskan untuk tidak ikut campur jika Cleo tidak ingin bercerita.


"Ma, Mama pernah nggak curiga sama Papa?" tanya Cleo dengan menunduk, tangannya meremas kuat mangkok brondong jagung yang ada di pangkuannya.


Arie tersenyum, rupanya itu yang sedang dipikirkan Cleo.


"Tentu saja pernah, kenapa?"


"Terus gimana?" Cleo bertanya dengan serius, kali ini ia menatap sang Mama, berharap bisa mendapatkan solusi dari masalah yang sedang ia hadapi.


Hati Cleo masih begitu gamang untuk percaya lagi pada Naoki. Foto dan video yang sengaja dikirimkan orang tidak dikenal itu sangat menganggu Cleo, meskipun Cleo sudah memblokirnya. Dia akan mengunakan nomer lain untuk mengirimkan foto-foto Naoki dengan wanita lain.


"Ya Mama marah sama Papamu, Mama kabur dari rumah. Tapi kemudian Papa menjelaskannya kalau itu hanya kesalahan pahaman, dan Mama memilih untuk percaya," jawab Arie sambil mengenang masa lalu.


"Mama langsung percaya?" Arie mengangguk kecil. Cleo menggeleng kepala sambil tersenyum miring.


"Bagaimana kalau Papa bohong sama Mama, bagaimana kalau Papa bener selingkuh?" cerca Cleo.


"Emang waktu itu Mama cemburu sama siapa?Papa ngapain sama wanita itu?"


"Satu-satu tanyanya." Cleo mencebikan bibirnya kesal, ia benar-benar kepo dengan kisah sang mama.

__ADS_1


"Dia, wanita itu cinta pertama papamu, dia cantik. Lebih cantik dari Mama, dia model internasional." Mata Cleo melebar mendengar jawaban mamanya.


Model internasional? cinta pertama papa? Cleo tidak menyangka jika saingan sang mama begitu berat.


"Terus Ma?" Cleo meletakkan mangkok berondong jagung di meja, ia kemudian mengeser duduknya semakin merapat pada Arie.


"Em ... waktu itu Papa sering pulang malam, malah hampir pagi."


Arie mulai menceritakan kisah Alex dan vivian. Cleo mendengarkan dengan seksama. Tiba-tiba sebuah tangan memeluk Arie dari belakang, dan Arie tahu pasti siapa itu.


"Papa sangat menyesal karena sudah menyakiti mamamu, niat papa untuk menjaga perasaannya malah berbalik menjadi kesalahan yang menyakiti hatinya yang lembut. Maafkan aku Sayang." Alex sedikit mengangkat dagu istrinya kemudian mencium kening Arie dengan penuh kasih.


"Aku sudah memaafkamu, lagi pula ini sudah lama berlalu, aku hanya bercerita karena Cleo bertanya." Arie membelai lembut wajah sang suami yang menatapnya dengan sendu.


"Ehem ... halo, ada bocil nih. Pamer kemesraannya bisa di tunda nggak," ketus Cleo.


"Ck ... Dasar penganggu." Arie terkekeh melihat tingkah suaminya.


"Sayang aku capek, kita ke kamar ya," rengek Alex manja.


"Untuk apa malu, aku bermanja pada istriku," jawab Alex penuh percaya diri.


Cleo hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak ada yang bisa mengalahkan raja bucin ini.


"Udah, Mama urus dulu bayi besar ini. Cleo nggak kuat lihat virus bucin akut Papa," ujar Cleo sambil mengibaskan tangannya.


Dengan senang hati Alex membantu sang istri berdiri dari duduknya, dengan lembut ia menarik tangan istrinya untuk meninggalkan ruang keluarga. Cleo menatap orang tuanya dengan senyum lebar. Ia berharap bisa seperti mereka, bahagia dan menua bersama.


Sementara itu di tempat lain. Naoki sedang bersitegang dengan atasannya, yang tak lain adalah Savira.


"Apa maksudmu mengirimkan video itu, kamu ingin aku dan istriku bertengkar!" bentak Naoki.


"Apa maksudmu? video apa?" tanya Savira balik.

__ADS_1


"Jangan berlaga bodoh, aku selama ini menghargai kamu sebagai atasanku, apa lagi kita juga teman sekampus. Tapi aku nggak nyangka kamu sebrengsek ini."


"Kamu bilang apa? aku brengsek! Jangan bicara sembarangan, memang apa yang aku lakukan? Kenapa kau menghinaku seperti itu?" Mata Savira berkaca-kaca.


"Jangan bohong Sav, lihat saja sendiri." Naoki membuka ponselnya ia memutar video dimana Savira ada di kamar hotel Naoki saat malam itu.


Savira menutup mulutnya yang terbuka, ia terlihat sangat terkejut saat melihat video itu.


"Ini, siapa yang mengirimkan ini padamu. Aku melakukan video call dengan Mama saat kita di hotel, aku nggak merekamnya," kilah Savira.


Naoki mengerutkan keningnya. Ia tidak bisa percaya pada wanita itu sepenuhnya.


"Jangan bohong Sav! kamu kira aku akan percaya, Heh!" sentak Naoki.


"Aku mohon kamu percaya sama aku, aku bisa bantu kamu jelasin ini sama istri kamu. Beneran nggak sengaja ngerekam video itu, apalagi sampai mengirimkan itu pada istrimu," ujar Savira dengan sungguh-sungguh. Ia berusaha meraih tangan Naoki. Namun, Naoki segera menepisnya.


"Pasti ada seseorang yang menyadap ponsel aku Ki, aku nggak salah aku mohon kamu percaya sama aku."


Naoki menggelengkan kepalanya, ia sudah sangat kecewa dengan Savira. Apapun alasannya, ia tidak ingin lagi berdebat dengan wanita itu.


"Aku nggak perlu bantuan kamu." Naoki mengeluarkan sebuah surat dari saku jasnya, kemudian meletakkan surat itu di meja dengan kasar.


Savira terbelalak melihat surat pengunduran diri Naoki.


"Ki, kamu nggak bisa mengundurkan diri begitu saja. Kamu masih terikat kontrak kerja, dan lagi kamu jangan campur aduk masalah pribadi dengan perkerjaan."


"Maka dari itu aku memilih mundur, masalah kontrak kerja. Aku akan tetep berkerja sampai proyek terakhir yang aku kerjakan selesai. Selamat sore." Naoki melenggang pergi meninggalkan ruangan Savira.


Wanita itu mengepal tangannya melihat kepergian Naoki.


"Agh ... dasar wanita ******! Berani-beraninya dia membuat Naoki marah padaku!" teriak Savira saat Naoki sudah berlalu dari balik pintu.


"Lihat saja aku akan membuat Naoki menjadi milikku, dia hanya akan jadi milikku!"

__ADS_1


Sebuah tawa mengerikan menggema di ruangan itu.


__ADS_2