
Sudah beberapa hari, Cleo merasa aneh. Ia sering merasa mual saat melihat makanan tertentu terutama nasi. Dia sering pusing dan cepat lelah. Mungkin benar kata Mamanya Cleo hamil, tapi apakah mungkin? selama ini ia tidak pernah telat mengkonsumsi pil KB, ya meskipun intensitas ranjang juga bisa di bilang diatas rata-rata.
Wanita bermata sipit itu mengigit bibir bawah, jantungnya berdegup kencang,was-was. Penuh harap dan cemas, ia merapatkan kedua kakinya. Cleo menelan salivanya saat mencelupkan alat tes kehamilan yang ia beli kemarin. Perlahan tapi pasti, satu garis merah mulai muncul dan samar garis merah mengikuti dibelakang.
"Astaga!" pekik Cleo, ia menutup mulutnya tak percaya.
Walaupun masih samar, tetapi dua garis itu bisa ia lihat dengan baik. Bibir merahnya bergetar, matanya berkaca-kaca, perlahan tangan Cleo menyentuh perutnya yang rata.
Ada sebuah kehidupan bersemayam dalam dirinya sekarang, sesuatu yang belum Cleo harapan ada. Dia masih ingin kuliah, belum terbayangkan oleh Cleo untuk menjadi seorang Ibu di usianya sekarang.
Menjadi orang tua bukalah hal yang mudah, Cleo takut ia tidak bisa merawat bayinya kelak. Dan lagi, kuliahnya juga belum selesai. Cleo baru semester satu.
Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya, takut, senang, haru. Cleo menunduk air matanya luruh seketika. wanita muda itu terisak dalam kamar mandi sendirian.
Tiga hari yang lalu Naoki pamit untuk menemani atasannya ke Jakarta. Cleo berusaha untuk tenang, ia bangkit dari closed yang sejak tadi ia duduki. Cleo mulai menyusutkan air mata dan ingus yang. Cleo membasuh wajah dengan air dingin, dia harus kerumah sakit sekarang.
Cleo pun membereskan tespek dan membuang bekas air seni. Cleo dengan cepat keluar dari kamar mandi, mengganti baju yang lebih pantas. Sebelum pergi tidak lupa Cleo meminta izin untuk tidak masuk kuliah hari ini.
Cleo mengambil nafas dalam, meremas tas selempang yang ia kenakan. Sejenak ia menatap pantulan dirinya di cermin, tersenyum kecil dengan tangan yang mengusap lembut perutnya.
"Kita akan memberikan kejutan untuk Daddy saat dia pulang nanti," ucap Cleo pada janinnya.
Entah kenapa ia merasa yakin Naoki akan senang saat tahu dia hamil, Cleo mengayunkan kakinya keluar kamar.
"Mbak Ning, aku pergi dulu ya," pamit Cleo pada asisten rumah tangganya.
"Iya Non, mau kuliah ya."
"Nggak, tapi ada perlu sebentar. Kalau Mbak sudah selesai, bisa pulang. Sepertinya aku langsung ke rumah Mama nanti," jawab Cleo, sebelum mengigit apel yang ia ambil dari atas meja makan.
"Iya Non."
Motor matic dipacu Cleo dengan kecepatan sedang, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari apartemennya. Setelah 30 menit perjalanan akhirnya Cleo sampai.
__ADS_1
Cleo melepaskan helmnya, setelah memarkirkan sepeda kesayangan miliknya. Dengan rasa campur aduk, gadis yang sudah tidak gadis lagi itu melangkahkan kakinya menuju tempat pendaftaran.
"Selamat pagi Bu," sapa Cleo pada seorang wanita yang berkerja di balik meja pelayanan.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Emh .. saya ingin periksa kandungan," jawab Cleo dengan kikuk, ia menyerahkan kartu identitasnya pada wanita itu.
Wanita itu tersenyum, ia segera memasukkan data diri Cleo, dan memberikan selembar nomer antrian pada wanita muda itu.
"Silahkan menunggu di depan klinik 7."
"Baik terima kasih." Cleo menuju klinik yang di maksud oleh sang petugas.
Cleo sempat bertanya pada beberapa suster, karena tidak bisa menemukan klinik itu. Setelah sampai, ia mengambil tempat duduk diantara para ibu hamil yang sedang menunggu giliran periksa. Banyak dari mereka sudah hamil besar, Cleo membayangkan bagaimana jika perutnya nanti mengembang sampai sebesar itu, ia tersenyum sendiri membayangkannya.
Satu persatu pasien di panggil, sampai pada giliran Cleo. Setelah suster memanggil namanya, Cleo segera masuk kedalam ruangan dokter.
"Permisi Dokter," sapa Cleo pada seorang dokter muda.
Cleo mengangguk sembari, menarik kursi yang ada di hadapannya.
"Kehamilan pertama?" tebak dokter itu, melihat sikap Cleo yang tampak gugup.
Cleo mengangguk kikuk, ia *******-***** jemarinya yang sudah basah karena keringat dingin. Cleo merasa lebih gugup dari pada saat dia dihukum kakak pembina saat ospek.
"Santai saja jangan gugup, apa sudah di tes?"
"Sudah Dokter, tadi saya hasilnya dua garis meski masih samar," jawab Cleo.
"Baik, kalau begitu kita lakukan USG saja. Untuk lebih memastikan usia kandungan Anda."
"Suster tolong siapkan," titahnya pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Baik Dok, mari Nyonya ikut saya."
Cleo mengangguk, ia mengikuti langkah sukses yang mengajaknya. Wanita muda itu dipersilahkan untuk berbaring di ranjang pasien.
"Saya akan menyingkap sedikit atasan Nyonya," ucap suster itu meminta izin, Cleo mengangguk.
Setelah itu barulah suster menaikan baju atasan Cleo dan menurunkan celananya sampai bawah pusar. Ia kemudian mengoleskan cairan gel yang terasa dingin saat menyentuh kulit Cleo.
Sang Dokter duduk disamping Cleo, ia kemudian mulai menempelkan alat dan menggerak-gerakannya di tempat yang sudah dilapisi gel.
"Nah, Nyonya bisa lihat bintik kecil itu, itu adalah anak Nyonya yang baru saja mulai tumbuh."
Cleo bergeming, rasa haru menyeruak memenuhi dadanya. Cleo buru-buru mengusap sudut mata yang mulai basah.
"Dia tumbuh dengan sehat usianya sudah menginjak 4 minggu. Apa ada keluhan selama beberapa hari ini?" tanya sang Dokter.
"Saya sering merasa mual di pagi hari, nggak suka beberapa makanan terutama nasi Dokter, apa itu normal?" Cleo bangun perlahan dari ranjang ia berbaring setelah suster membersihkan gel di perutnya
"Morning sickness biasa terjadi di semester pertama Nyonya, saya akan memberikan resep untuk mengurangi rasa mulanya dan juga vitamin."
"Baik, terima kasih," ucap Cleo.
Cleo duduk sejenak, menunggu hasil foto USG dan resep dari dokter. Setelah beberapa menit, suster itu memberikan amplop putih pada Cleo.
"Ini hasil foto USG dan jadwal kunjungan selanjutnya, juga resep yang harus Anda tebus di bagian farmasi. Saya ucapkan selamat untuk kehamilan Anda "
"Terima kasih Suster, saya permisi," pamit Cleo.
Calon ibu muda itu keluar dari ruangan Dokter. Senyum cerah terukir dibibir Cleo, meski kehamilan ini tidak terencana. Namun, kedatangan malaikat kecil itu tetap ia terima dengan bahagia.
"Hai, apa kau sudah bisa mendengarku?" tanya Cleo lirih pada janin diperutnya.
Cleo duduk ditempat antrian Farmasi setelah menyerahkan resep pada loket farmasi. Dengan riang, ria mengayun-ayunkan kedua kakinya seperti anak kecil. Ia melihat sekeliling, dan tanpa sengaja ia menangkap sosok yang sangat ia kenal.
__ADS_1
"Naoki?"
Apa yang dia lakukan di sini? bukankah suaminya itu seharusnya ada di Jakarta. Cleo bangkit dari kursi tempat ia duduk, kaki Cleo mulai melangkah mengikuti Naoki. Namun, disaat yang sama nama Cleo dipanggil loket farmasi.