
Dengan langkah gontai Cleo mengikuti langkah lebar papanya ke ruang kerja. Ia telah berbuat kesalahan besar hari ini.
"Duduk," titah Alex setelah ia mendudukkan dirinya di sofa.
Cleo duduk di lantai dengan bertumpu pada kedua lututnya. Gadis itu bersimpuh di hadapan sang papa yang tengah menatapnya dengan tajam, cleo menundukkan kepalanya ia tidak berani untuk menatap langsung pada papanya.
"Apa ada yang ingin kau bicara, Cleo Wang?!" tanya alex dengan tegas. Terselip kekecewaan yang terdengar sendu.
Cleo meremas paha yang berbalut celana pendek milik Naoki, takut dan marah pada dirinya sendiri. Ia sudah mengecewakan orang tuanya, hal yang belum pernah cleo lakukan sebelumnya.
"Maafkan cleo Pa," ucap cleo dengan suaranya yang bergetar, sekuat hati ia berusaha untuk mengucapkan kata itu dari sekian banyak kata yang berkecamuk dalam otaknya.
"Kau tau papa tidak pernah memberikanmu izin untuk menginjakkan kaki di tempat seperti itu! kau belum tentu bisa duduk di sini jika bukan naoki yang membawamu semalam!"
"Papa kecewa sama kamu C, kau sudah melanggar kepercayaan papa!" tegas alex lagi.
Ia mengambil nafas dalam, matanya terpejam sembari menyandarkan tubuhnya di sofa. Alex berusaha mengatur emosinya.
Air mata cleo mengalir dari sudut matanya. Menyesal, ia sungguh tidak menyangka semua ini bisa terjadi. Tuhan masih begitu sayang padanya dengan mengirimkan naoki datang di waktu yang tepat, jika tidak mahkotanya pasti sudah terkoyak dan entah apalagi yang akan menimpanya.
"Maaf ... maafin cleo Pa," ucap cleo lirih disela rintik air matanya.
Arie hanya bisa melihat cleo dan suaminya dari celah pintu yang terbuka. Ia memang tidak pernah menganggu saat alex mendisiplinkan putri mereka. Sebagai seorang ibu, tentu saja arie merasa tidak tega. Namun, ini sudah menjadi kesepakatannya dengan sang suami. Wanita paruh baya itu juga menitikkan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Alex menghentakkan nafasnya. " Cleo kemarilah." Alex merentangkan kedua tangannya.
Cleo mendongakkan kepalanya, ia segera berhambur ke pelukan sang ayah. Tangisnya yang semula lirih kini pecah sudah, gadis itu menangis kencang dalam pelukan hangat papanya.
"Maafin cleo, maafin cleo. Cleo nggak tau mereka ngajak ke club, mereka bilang pestanya di adain di rumah," ucap cleo dengan sesegukan.
Alex mengusap lembut punggung putrinya. Rahang alex mengeras, ia harus menemukan pelakunya. Alex yakin pelakunya salah satu dari teman cleo, dia pasti ingin menjebak cleo.
"Papa maafin kamu, tapi kamu harus tetap menerima hukuman." Cleo mengangguk.
"Pesta ulang tahun siapa sebenarnya yang kamu datangi?"
"Mike, mike anderson."
"Anak bungsu tuan anderson yang menemani kamu di pesta ulang tahun pernikahan waktu itu?"
__ADS_1
Lagi-lagi cleo mengangguk. Alex melepaskan pelukannya, ia memegangi lengan cleo, ia menatap langsung manik mata putrinya dengan tajam.
"Sebagai hukuman. Tidak boleh menggunakan motor selama satu bulan dan kau harus tinggal di rumah asuh dengan penjagaan ketat dari papa. Papa tidak mengizinkan kamu menerima tamu atau pun keluar dari rumah asuh kecuali untuk sekolah. Mengerti!"
"Cleo mengerti Pa," jawab cleo sendu.
"Bagus, sekarang pergi ke kamarmu. Nanti sore papa akan mengantarmu ke sana."
Cleo mengangguk, ia kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Ia menghentikan langkahnya, ia berhambur ke pelukan sang mama yang sudah menunggunya di luar pintu.
"Cleo."
"Maafin cleo Ma, cleo udah ngecewain Mama sama Papa," cleo kembali terisak dalam ucapannya.
"Cleo nggak maksud pergi ke sana, cleo nggak tau kalau pestanya di adain di club. Cleo juga nggak ngapa-ngapain sama naoki. Mama percaya kan sama cleo?"
"Iya ...Mama percaya kok, sekarang Cleo istirahat ya." Arie melepaskan pelukannya, cleo mengangguk kecil sembari mengusap pipinya yang basah.
Arie mengantarkan cleo ke kamarnya.
"Kamu mandi dulu, setelah itu istirahat. Mama buatin susu hangat buat kamu ya."
Cleo hanya mengangguk lemah. Arie beranjak turun ia ke dapur untuk membuatkan susu coklat untuk cleo dan teh herbal untuk suaminya.
Alex tampak bicara sering di telepon, ia sampai tidak menyadari saat arie masuk.
"Bagus, kerjakan sesuai perintahku." Alex meletakkan ponselnya dengan kasar di sofa.
Satu tangannya memijit pelipisnya. Arie melangkah mendekat, ia meletakkan teh herbal di meja yang ada di samping sofa.
"Sayang," panggil arie lembut, ia berdiri di hadapan suaminya yang sedang bermuram durja.
Alex membuka matanya. Ia memeluk pinggang istrinya, menengelamkan wajahnya dalam pelukan arie. Dengan lembut arie membelai surai hitam milik suaminya.
"Apa aku terlalu keras pada cleo, Sayang?"
"Aku rasa tidak, Sayang." Arie mennakup wajah alex mengarahkan keatas hingga tatapan mereka bertemu.
"Kau papa yang hebat Sayang," ujar arie meyakinkan suaminya.
__ADS_1
Alex kembali menengelamkan wajahnya dalam pelukan arie. Ia begitu menyayangi putri semata wayangnya, alex sangat takut apa yang dilakukan menyakiti hati cleo. Sebersit rasa bersalah.
"Cleo pasti mengerti, kalau kamu melakukan semua ini karena rasa sayangmu padanya."
"Aku harap begitu."
Sementara itu di kamar, cleo menatap pantulan dirinya di cermin. Sekilas bayangan terlintas saat ia begitu agresif pada naoki, mengingat hal itu membuat wajah cleo memerah karena malu.
"Astaga, apa yang aku lakukan? aku seperti wanita murahan." Cleo menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kemudian ia teringat bagaimana sam juga masuk ke kamar mandi wanita.
"Apa dia yang menjebakku?" gumam cleo.
"Aku harus tahu siapa yang sengaja melakukan ini padaku." Cleo mengepalkan tangannya kuat. Ia bersumpah akan membalas semua orang yang menjebaknya hari ini.
💫💫💫
"Gila kamu Wid, aku nggak mau lagi bantuin kamu!" teriak Sam dengan menggebu, wajah pria itu lebam begitu juga bagian tubuhnya yang lain.
"Kenapa? kamu yang bego, seharusnya Kakak tuh harus bisa nyeret si cleo dari sana. Bukan malah babak belur dan biarin dia kabur gitu aja," sahut widya tak kalah nyalang.
Sam mendelik tajam pada widya. Adik tirinya itu selalu bertindak seenaknya sendiri, kali ini sam membantunya karena terpaksa. Widya mengancam akan melaporkan pada sang ayah kalau sam memakai barang haram selama ini.
"Inget ya, kamu harus tetep bantuin aku balas dendam sama cewek murahan itu. Gara-gara dia mike ninggalin aku, aku nggak terima!" teriak widya dengan marah.
"Terserah, aku nggak mau lagi ngikutin ide gila kamu!"
"Kamu lupa Sam, aku punya rahasia kamu!"
Sam menyeringai, ia berjalan mendekati widya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Mau apa kamu?" tanya widya dengan tergagap.
Sam terus mendekat widya melangkah mundur. Tubuh gadis itu terhenti saat tak ada lagi ruang di belakangnya, tubuhnya terbentur tembok. Sam semakin menyeringai, ia semakin menghimpit tubuh mungil widya memerangkapnya dengan kedua tangannya.
"Kau kira aku takut," ujar sam penuh penekanan.
Widya menelan ludahnya kasar, bukankah sam begitu penurut padanya kemarin. Kenapa hari ini dia berbeda?
__ADS_1
"Kenapa takut? bukankah dulu kau menikmatinya saat aku berada didekatmu, seperti ini." Sam mulai menekan tubuhnya, memainkan lidah dan giginya di ceruk leher widya.
Tubuh widya gemetar, ia tak sanggup untuk menolak apa yang sam lakukan padanya.