
Naoki membaringkan tubuh terlentang menatap langit-langit kamar Cleo. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri, menikah, memberikan nafkah lahir dan batin, mengayun, memimpin keluarga kecil mereka nantinya, tanggung jawab ini, apa Naoki bisa melakukannya? Apa dia bisa menjadi suami yang baik? Kalau masalah nafkah lahir Naoki sudah memiliki pendapat yang lumayan dari kafe miliknya, tapi apa itu cukup? Cleo yang notabenenya anak semata wayang dari seorang pengusaha sukses ini, apa Naoki sanggup menghidupinya?
Apa Cleo cukup dengan angka lima juta sebulan? Bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Kebutuhan rumah tangga, perawatan diri Cleo, uang saku, Cleo juga pasti ingin melanjutkan kuliah. Bagaimana Naoki akan membiayai kuliahnya nanti?
Memikirkan itu semua membuat Naoki mendadak sakit kepala, menikah memang tidak sekedar bersama, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Meskipun Naoki adalah anak dari pemilik rumah sakit ternama di Surabaya, dan Cleo pewaris tunggal perusahaan Alex Wang. Namun, bukan berarti Naoki tidak menafkahi Cleo karena dia anak orang kaya, atau memakai uang sang ayah untuk memberi nafkah istrinya. Naoki sebagai kepala keluarga, tentu saja harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri, bagaimanapun ia adalah seorang suami sekarang.
"Aku harus segera berkerja," gumam Naoki.
Tak Selang berapa lama Cleo keluar dari kamar mandi, dengan lilitan handuk yang menutupi tubuhnya. Rambut basah yang tergerai indah, dengan air yang masih menetes diujungnya, tanda merah di leher Cleo yang tadinya tertutup foundation kini tampak jelas setelah dibersihkan.
Naoki bangun dari tempat ia berbaring, tertegun melihat Cleo yang bergitu menggoda. Jiwa kejantanannya mulai meronta, tanda merah di leher Cleo mengingatkan Naoki saat ia bercumbu mesra dengan sang istri.
"Kenapa liat aku seperti itu?" tanya Cleo, gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada.
Tatapan Naoki yang begitu intens, membuatnya merasa tidak nyaman. Naoki mengedipkan matanya cepat, berusaha menyadarkan dirinya dari sihir kecantikan Cleo.
"Nggak, aku hanya kelaparan. Nunggu kamu lama banget," kilah Naoki.
"Lama? Aku cuma mandi lima belas menit, nggak lama kok."
Dengan santainya Cleo, berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Tentu saja ia berlagak sok tenang untuk menutupi kegugupannya.
Berduan bersama Naoki di kamar sudah cukup membuatnya jantungan. Bodohnya lagi Cleo malah lupa membawa baju ganti ke kamar mandi, hingga dia harus keluar dengan hanya memakai handuk saja.
Setelah mengambil baju, dengan secepat kilat Cleo masuk ke kamar mandi lagi. Naoki hanya tersenyum, sambil terus memperhatikan sang istri yang terlihat gugup dan salah tingkah.
"Cepat sedikit, udah lapar banget nih!" teriak Naoki.
"Iya, bawel. Kamu bisa pergi duluan kalau laper!" jawab Cleo dengan berteriak dari dalam kamar mandi.
"Nggak!"
"Ya udah, sabar!"
Naoki memang sudah merasakan cacing di perut mulai demo, karena belum satu zat pun yang dicerna oleh lambungnya sejak tadi pagi. Tama mengajak Naoki datang pagi-pagi buta, ke keluarga wang. Mereka bahkan tidak sempat sarapan.
Setelah Cleo selesai berpakaian, keduanya pun keluar dari kamar. Ternyata keluarga mereka sudah menunggu di meja makan.
Rambut pengantin baru yang basah tentu saja membuat, Arie dan siska tersenyum senang.
__ADS_1
"Baru aja mama mau panggil kalian tadi," ujar Arie menyambut kedatangan putri dan menantunya.
"Hehehehe .... lama ya Ma?"
"Mama maklum kok, iya Mbak Siska." Siska mengangguk menyetujui ucapan Arie.
"Ish ...Mama apaaan sih," tukas Cleo tersipu.
Naoki hanya tersenyum, ia kemudian duduk di sebelah Cleo yang sudah duduk terlebih dahulu. Arie mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami, begitu pula Siska ia melayani suaminya sebelum mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Melihat Cleo yang hanya diam Arie pun menegurnya.
"C, layani suamimu. Ambilkan dia makan," ujat Arie dengan lirih.
Dengan malas Cleo mengangguk, ia kemudian mengambil nasi untuk Naoki. Nasi dan lauk memenuhi piring Naoki hingga menyerupai gunung.
"Terima kasih," ucap Naoki sinis, ia tahu Cleo sengaja melakukan hal ini.
"Sama-sama Ki."
"Kok Ki? Panggil dengan sebutan mas atau Sayang gitu biar romantis," celetuk Arie.
"Uhuk ...."
Mendengar ucapan sang mama, Cleo langsung tersedak. Naoki dengan sigap memberikan air putih pada istrinya itu.
Arie pun menurut. Mereka pun akhirnya makan dengan tenang, setelah mereka menyelesaikan makan siang. Arie dan Siska mengajak Cleo ke kamar. Sementara Alex dan Tama, kedua papa itu membahas sesuatu dengan Naoki di ruang kerja.
"Ki, bagaimana rencanmu setelah selesai kuliah? Apa kau mau berkerja di perusahaan ku?" tanya Alex sambil menyeruput teh herbal miliknya.
"Tidak, terima kasih, saya akan berusaha sendiri," jawab Naoki dengan mantap.
"Bagaimana mana kalau di rumah sakit Papa?" Tanya Tama.
"Terima kasih, Pa. Naoki yakin bisa mencari perkerjaan sendiri, izinkan Naoki untuk berubah berdiri dengan kaki sendiri Pa."
"Baiklah, kami tidak akan memaksamu. Tapi katanya saja bila kau butuh bantuan kami," ucap Alex. Naoki mengangguk dengan senyum.
Lain di ruang kerja lain di kamar.
Arie memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam pada Cleo, sebagai kado pernikahannya.
__ADS_1
"Apa ini Ma?" tanya Cleo penasaran.
"Buka saja."
Cleo mengangguk, dengan semangat Cleo membuka kotak yang diberikan oleh sang mama. Serupa dengan warna kotaknya, ternyata Arie memenuhi janjinya memberikan baju dinas perkasuran pada Cleo.
Mata Cleo terbelalak melihat model baju haram itu. Siska pun tak kalah terkejut melihatnya.
"Astaga Mbak Arie!" pekik Siska terkejut.
"Ma, ini?"
"Ini baju lucu yang pernah mama janjikan," jawab Arie dengan santai.
"Dulu kan Cleo belum ngerti, Ma," ucap Cleo dengan wajah yang memerah.
Cleo tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia memakai baju itu di depan suaminya.
"Lha emang sekarang udah ngerti, bagus dong. Udah ada musuh yang halal lagi, jadi tambah enak."
"Astaga Ma, baru aja aku jadi istri masak udah pake gini-ginian."
"Jangan salah, salah satu resep keharmonisan rumah tangga salah satunya adalah, rajinlah manjain suami di kasur. Iya kan Mbak Siska?"
"Bener sih, bikin Naoki ketagihan sama kamu C, Mama yakin dia pasti bakalan super bucin kayak papa-papa kalian," jawab Siska membenarkan ucapan besannya.
"Astaga Mama Siska, Cleo malu kalau harus pake baju kayak gini," rengek Cleo.
"Ini baru satu, besok mama belikan lagi biar kamu bisa ganti tiap malem. Mama kan pengen cepet-cepet gendong cucu, kalau bisa bikin kembar, jadi aku sama besan masing-masing satu. Setuju?"
"Sangat setuju, Besan memang the best." Siska mengacungkan dua jempol pada Arie.
"Tugas Cleo pake baju itu, tugas Naoki minum jamu biar anu. Besan udah siapin kan ramuan itu."
"Tenang aja Mbak Arie, aku sudah siapkan dengan baik, di jamin Cleo bakalan terpuaskan malam ini."
Kedua wanita paruh baya itu tertawa bersama, Cleo hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
"Malangnya nasibku," gumam Cleo.
__ADS_1

Kado dari Mama Arie 😆😆😆