
Naoki tidak sempat menghalangi langkah Cleo, ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen. Ada rapat penting, Naoki harus segera menyiapkan laporan hasil pertemuan mereka dengan klien di Jakarta.
Naoki melangkah cepat, ia melangkah ke apartemen miliknya. Mata Naoki melebar melihat pemandangan di ruang tamu yang begitu berantakan, potongan kue tart berceceran di meja marmer berbentuk benda, beberapa barang juga tergeletak begitu saja di lantai. Asisten rumah tangga yang ia perkerjakan baru akan datang jam tujuh, sekarang baru pukul setengah tujuh. Naoki melanjutkan mendekati sebuah benda pipih dengan hiasan pikachu berwarna kuning cerah.
"Ponsel Cleo? kenapa ada di sini?" tanya Naoki bermonolog pada dirinya sendiri. Ia memungut benda itu.
Pantas saja Cleo tidak membalas pesannya, ponsel itu mati. Entah kehabisan daya atau terjadi sesuatu pada benda pipih itu. Naoki terdiam sejenak, mencoba menerka apa yang terjadi saat ia tidak pulang semalam. Pria itu melihat sekitarnya, sepotong kue teronggok tak jauh darinya, dengan sebuah tulisan suamiku yang sudah tidak begitu jelas.
"Sial ....!" umpat Naoki, ia baru kemarin tanggal 10 Oktober. Hari ulang tahunnya, Cleo pasti menunggunya semalaman.
Pantas saja istrinya semarah itu, Naoki meninggalkan wanita itu tanpa pesan. Membuat Cleo terjaga semalaman. Naoki bangkit dan bergegas ke kamar, ia harus segera ke kantor, berharap agar perkerjaannya bisa ia selesaikan lebih awal. Agar bisa menyusul Cleo.
Kantor.
Setelah menyelesaikan rapat, Naoki segera menyelesaikan perkerjaan lainnya. Ia harus bisa pulang lebih awal, Ia tidak bisa menghubungi Cleo karena ponsel sang istri ada padanya.
"Agh ...!" Naoki mengacak-acak rambutnya frustasi, raganya ada di depan komputer tetapi jiwanya tidak.
Wajah sedih Cleo terus berputar di otaknya, bayangan buliran bening jatuh dari netra bening Cleo membuat Naoki semakin merasa bersalah. Wanita itu pasti menunggunya dengan penuh harap, Naoki bangkit dari kursi tempat ia duduk. Ia harus bertemu Cleo sekali.
Sementara di tempat lain.
Seorang wanita muda duduk ditepi kolam renang, ia mengayunkan kakinya yang terendam air secara bergantian, matanya yang sembab menatap kosong lurus kedepan. Ia hanya duduk di sana setelah sampai ke rumah itu, membiarkan celananya basah.
Arie mendesah melihat kesedihan di wajah putrinya, ia tahu pasti ada masalah dengan Cleo dan sang menantu, meskipun Cleo tidak berkata apapun. Arie berjalan mendekati Cleo, ia meletakkan dua teh chamomile di meja yang ada di sana.
"C, ganti baju gih. Basah gitu," titah Arie, sambil membelai lembut rambut putrinya.
Cleo mendongakkan kepalanya, menatap wanita paruh baya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ma ...," panggil Cleo lirih, suaranya terdengar serak.
Air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan, akhirnya jatuh sudah. Gadis itu menangis, dengan memeluk erat kaki ibunya. Arie membelai lembut rambut Cleo, berusaha untuk memberikan ketenangan untuk Cleo.
"Kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya Arie lembut, Cleo bukanlah seorang wanita yang cengeng. Ia yakin pasti terjadi sesuatu yang membuatnya begitu terluka.
Bukannya menjawab, tangis Cleo malah semakin kencang dan memilukan. Arie merasa iba melihat Cleo seperti ini, Arie mulai berpikir apakah keputusannya untuk menikahkan Cleo adalah sebuah kesalahan. Tetapi bukankah selama ini Cleo dan Naoki baik-baik saja, bahkan mereka terlihat begitu bahagia. Sempat beberapa kali Arie mengunjungi mereka di apartemen, dan mereka terlihat baik. Apa semua itu hanya sandiwara?
Setelah beberapa saat, akhirnya Cleo mulai tenang. Arie menuntun putri semata wayangnya itu untuk bangun dan duduk di kursi.
"Ganti baju dulu yuk," ajak Arie, Cleo menggelengkan kepalanya pelan.
Arie tidak memaksa, ia mengambil teh lalu memberikannya pada Cleo.
"Minum dulu, biar lebih tenang. Mama nggak akan paksa kamu buat cerita. Mungkin ini juga salah mama, membiarkan kalian menikah diusia dini seperti ini," ucap Arie dengan senyum lembut. Namun, raut wajahnya menunjukkan penyesalan.
"Enggak Mama nggak salah, Cleo mungkin masih kekanak-kanakan Ma," ujar Cleo. Ia tidak ingin sang mama menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu memang masih anak-anak."
__ADS_1
"Anak-anak yang bisa produksi anak," celetuk Cleo.
"Emang udah ada?"
Cleo mengangkat bahunya, ia menghirup aroma wangi chamomile yang menguar dari cangkir yang ia terima. Perlahan cairan berwarna kecoklatan itu ia teguk, mengalir menghangatkan kerongkongannya. Tersenyum miris menatap teh dalam cangkir yang dipegangnya.
Nining tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Nyonya, ada suaminya Non Cleo di luar," ucap Nining saat sudah berada di dekat Arie.
Arie tidak langsung menjawab, ia menatap Cleo. Menanti jawaban dari putrinya, Cleo meletakkan cangkir yang baru saja ia tandaskan isinya.
"Kenapa Mama lihat cleo?"
"Naoki datang, apa kamu mau menemuinya?" tanya Arie balik.
"Ini rumah Mama, Mama berhak menerima tamu yang Mama mau," jawab Cleo seraya bangkit dari duduknya.
"C, mama rasa kamu harus bicara dengan suamimu. Mama nggak tau apa yang terjadi diantara kalian, tapi coba dengarkan dia. Ok," bujuk Arie.
Cleo menghela nafas kasar, ia masih marah. Hatinya masih terluka, sebenarnya Cleo belum ingin dan belum siap bertemu dengan Naoki. Namun, ia juga tidak ingin melihat sang mama khawatir.
"Mbak Ning, suruh dia ke kamar Cleo."
"Baik Non." Nining segera pergi ke depan, begitu pula Cleo ia beranjak menuju kamarnya.
Naoki berdiri di teras rumah besar itu, ia menunggu dengan harap-harap cemas. Meskipun ia menantu di rumah besar wang, tetapi saat seperti ini Naoki memilih untuk masuk setelah mendapatkan izin dari sang tuan rumah.
"Beneran Mbak?" tanya Naoki dengan mata
berbinar.
"Bener dong, masa saya bohong. Cepatan gih, kasihan lho dari tadi Non Cleo nangis terus."
Mendengar ucapan Nining, Naoki semakin merasa bersalah. Dengan langkah lebar ia masuk, Naoki segera menaiki tangga menuju kamar Cleo yang terletak di lantai atas.
Sampai di depan pintu kamar Cleo, Naoki mengambil nafas dalam, ia memegang dada sebelah kiri mencoba untuk menetralkan rasa gugupnya. Menghadapi Cleo yang merajuk adalah pertama kalinya bagi Naoki, apalagi ia juga belum memiliki pengalaman apapun dalam hal merayu wanita. Pelan tapi pasti, tangan Naoki memutar knop pintu kamar. Naoki melangkah lebar masuk, kamar itu sepi. Hanya gemericik air yang terdengar dari kamar mandi, Naoki tersenyum tipis. Bayangan tubuh polos Cleo yang di bawah rintikan air shower, terlintas di benaknya.
"Hais .... Ini bukan waktunya mesum." Naoki menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran kotor yang ada di otaknya.
Pria itu berjalan mendekati ranjang, mendudukkan dirinya di tempat dimana ia dan Cleo pernah menghabiskan malam bersama. Aroma manis yang sama, parfum lavender milik Cleo. Naoki merebahkan tubuhnya, lelah. Ia hampir tidak tidur semalaman saat jauh dari sang istri.
_.._.._.._.._.._.._.._.._.._.._
Cleo melangkahkan kakinya keluar sebagai menyelesaikan ritual mandi. Tangannya mengusap rambut panjang yang masih meneteskan air, langkah kaki saat mata Cleo menangkap sosok yang sangat ia kenal. Pria itu meringkuk diatas ranjang sambil memeluk erat guling kuning kesayangan Cleo.
Seulas senyuman terbit di bibir mungil Cleo, wajah itu. Wajah yang begitu ia nantikan semalam, berharap malam itu akan terlewati dengan penuh kasih dan kebahagiaan. Namun, semua itu hanya harapan kosong. Senyum Cleo seketika sirna saat mengingat video yang masih tersimpan rapi di ponselnya, luka dihatinya kembali meradang.
Cleo dengan kasar melemparkan handuk basah yang ia pakai. Naoki terjingkat, ia terbangun saat merasakan sesuatu yang berat dan basah menimpanya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan!" teriak Naoki kesal, karena tidurnya terganggu.
Naoki sontak berdiri, ingin rasanya ia memaki orang yang berani menganggu istrirahat Naoki. Cleo berdiri sambil berkacak pinggang, matanya memerah dengan sudut mata yang sudah mengembun.
"Cleo," panggil Naoki dengan terkejut, amarahnya menguap begitu saja saat melihat wajah Cleo yang begitu sendu.
Tak menjawab, Cleo melenggang begitu saja untuk duduk di meja rias. Naoki segera melompat turun dari tempat tidur, dengan langkah ragu ia melangkah mendekati Cleo.
Naoki bingung harus mengatakan apa, ia begitu awam dengan hal seperti ini, merayu wanita, meluluhkan hati yang sedang marah. Ia belum pernah mempunyai pengalaman seperti itu, ini adalah yang pertama baginya.
Tanpa kata, Naoki melingkarkan satu tangannya di bahu Cleo, menyusupkan wajahnya di pangkal leher sang istri. Cleo meletakkan lagi pengering rambut yang hendak ia pakai, pelukan Naoki begitu hangat. Namun, juga menyakitkan.
Apa dia juga memeluk wanita itu semesra ini? Kau menghabiskan malam ulang tahun mu bersama wanita lain, dan mengabaikanku begitu saja. Apa di hatimu tidak ada namaku?
Cleo menatap pantulan Naoki di cermin. Ingin rasanya ia menanyakan banyak hal, pada Pria yang sedang bermanja padanya itu. Dimana dia semalam? kenapa tidak menghubunginya? Siapa wanita yang bersamanya di kamar itu? Apa hubungan kalian?
Ingin rasanya pertanyaan itu Cleo lontarkan. Namun, di sisi lain Cleo takut. Ia takut terluka jika kebenarannya seperti apa yang ia pikirkan, Cleo masih ingin bersama Naoki. Terlepas dari apa yang ada dalam video yang di kirimkan nomer tak di kenal itu.
Cleo meyakinkan dirinya, sebuah video atau foto bisa saja di edit dengan sengaja. Ya, Cleo tidak boleh percaya begitu saja dengan hal yang tidak ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Salahkah aku? Bodohkah aku? Aku hanya ingin bersamamu. Aku tidak perduli dengan apa yang kau lakukan, selama kau belum mengatakan kalau kau ingin pergi dariku. Biarkan aku di sini, di sampingmu.
Cleo mengusap lembut rambut Naoki, menatap bayangan suaminya dengan sendu.
"Kenapa semalam tidak pulang?" tanya Cleo dengan lembut.
Naoki begitu senang mendengar Cleo yang mau bertanya padanya, apalagi dengan nada yang begitu lembut, berbeda dengan pagi saat mereka bertemu. Naoki yang tadinya sibuk merangkai kata dalam hati, segera mengangkat sedikit kepalanya lalu mencium lembut pipi Cleo.
"Aku harus menemani atasanku untuk menemui klien di Jakarta. Aku ingin memberi kabar padamu, tapi baterai ponselku habis. Aku menginap di hotel, karena sudah terlalu malam untuk pulang," jawab Naoki, ia berusaha menjelaskan pada Cleo tentang keadaannya semalam.
"Apa kau marah?" tanya Naoki.
Cleo hanya mencebikan bibirnya kesal, jelas ia marah. Seharian sibuk membuat kue ulang tahun, tetapi suaminya itu malah tidak pulang.
Naoki tersenyum, ia mencubit gemas pipi Cleo. Membuat si empunya meringis kesakitan.
"Sakit tau!" pekik Cleo kesal, sambil mengusap kedua pipinya yang memerah.
"Kau terlihat mengemaskan seperti ini."
Naoki meraih dagu Cleo, sedikit memutarnya ke kanan hingga kedua bibir mereka bertemu. Naoki mengecup lembut belahan kenyal itu, Cleo pun tak kuasa menolaknya. Setelah puas, Naoki melepaskan tautan bibir mereka.
"Jangan marah, aku tidak sengaja melakukannya. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf," ucap Naoki dengan penuh rasa bersalah.
Ia mengusap bibir Cleo yang basah akibat ciumannya.
"Kita masih bisa merayakannya sekarang?"
Cleo mengerutkan keningnya. "Merayakan apa?"
__ADS_1
"Ulang tahunku."
"Ih ... Ogah, dah lewat."