
Cleo masuk dengan wajah masam dan langkah kaki yang sengaja ia hentak-hentakkan. Aish ... rasanya ia ingin sekali meremas wajah naoki yang sama sekali tidak memberikan penjelasan pada ibu-ibu tadi.
Saat cleo memilih baju dan perlengkapan bayi untuk ai, beberapa ibu menyangka kalau cleo tengah hamil muda. Salah seorang ibu malah melarangnya untuk membeli perlengkapan bayi, pamali katanya apal melihat perut cleo yang masih rata. Cleo mencoba menjelaskan, tetapi dasar emak-emak mereka dengan kekehnya mengatakan tidak usah malu hamil di usia muda. Apalagi suaminya mau nganterin belanja, ya salam bukannya membantu menjelaskan naoki malah mengompori emak-emak itu kalau cleo pemalu dan belum siap hamil sebenarnya.
Alamat, cleo di ceramahi habis-habisan oleh ustadzah dadakan. Cleo hanya diam mendengarkan, melawan pun percuma. Ia tahu benar emak pantang salah, cleo sudah faham dengan emak cantiknya di rumah.
"C, bantuin kek, berat nih!" teriak naoki yang sendirian menenteng kantong belanjaan.
"Bodo amat bawa sendiri," jawab Cleo tanpa menoleh.
Naoki hanya berdecak kesal. Adi yang melihat naoki kewalahan segera membantunya, ia mengambil beberapa kantong belanjaan yang di bawa naoki.
"Mbok ya satu-satunya Mas bawanya," ucap Adi.
"Hehehe ... biar cepet selesai Pak, satu kali jalan maksud saya tadi."
"Iso ae Mas pean iki."
[ "Bisa saja Mas."] Naoki hanya tersenyum mendengar ucapan Adi.
Mereka pun masuk, kemudian menaruh barang belanjaan di dapur. Naoki kembali ke mobilnya untuk mengambil barang-barang keperluan ai. Dengan di antara adi, naoki pergi ke kamar anak untuk memberikan barang ai.
"Ini Mas kamarnya, saya permisi dulu ya mau beres-beres di belakang," pamit adi.
"Iya Pak, terima kasih," ucap naoki. Adi tersenyum kemudian melangkah menjauh.
Perlahan naoki memutar knop pintu lalu mendorongnya dengan pelan agar tidak menimbulkan bunyi. Ia takut jika bayi itu tengah terlelap tidur.
Naoki terpaku melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya. Cleo, gadis muda bermata sipit itu sedang duduk dengan ai di pangkuannya. Ia bersenandung kecil sambil sesekali mengayunkan tubuhnya, andai saja itu bayi mereka. Eh ... pikiran macam apa ini. Naoki segera menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba datang.
Naoki masuk mengendap-endap dengan langkah pelan mendekat pada cleo.
"C, ini di taruh dimana?" tanya naoki dengan berbisik.
"Astaga, kau mengejutkanku!" pekik Cleo tertahan.
Naoki hanya menyengir sambil mengangkat kantong kresek yang ia bawa.
"Taruh saja di sana." Cleo menunjuk sebuah meja. Naoki mengangguk kemudian meletakkan barang belanjaan itu diatas meja.
Naoki Kembali mendekat, ia membungkukkan dirinya melihat wajah ai yang sedang terlelap dalam gendongan cleo, wajah yang begitu imut dan menggemaskan bagaimana orang tuanya tega membuang ai. Namun, kita tak pernah tahu apa yang membuat mereka melakukan hal ini, pasti ada alasan kuat hingga mereka memutuskan untuk menyerahkan ai pada rumah asuh ini.
__ADS_1
"Lucu banget sih," gumam naoki.
"Lucu kan, jadi pengen punya satu," celetuk cleo.
"Kalau mau, bikin yuk."
"Bikin gundulmu." Cleo menjitak kepala naoki.
"Aduh, kejem banget sih. Sakit tau," ucap naoki sambil mengusap bekas jitakan cleo.
"Makanya tuh di saring," ketus cleo.
"Tapi mau kan."
"Ogah!"
"Ssst .... jangan keras-keras nanti dia bangun," ucap naoki sambil menunjuk ai dengan dagunya.
"Kamu tuh!"
"Kamulah," elak naoki.
"Kamu, pokoknya kamu!"
"Ush ... us ... maaf ya, Kak Naoki emang nakal nanti kak cleo sentil," tugas cleo.
Naoki mengangkat bahunya acuh. Ia kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan cleo menenangkan ai yang menangis.
"Dasar nggak tanggung jawab, gitu kok ngajak bikin anak," gerutu cleo pelan. Namun, masih terdengar oleh naoki, ia tersenyum tipis.
Minggu berganti, Cleo sudah menyelesaikan masa hukumannya. Ia kembali ke rumah besar wang, dia kembali diperbolehkan mengendarai motor matic kesayangannya.
Hari ini adalah hari kelulusannya. Cleo tampil cantik dengan kebaya warna biru muda yang membalut tubuhnya. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga berwarna perak di pinggirnya, riasan wajah yang simpel. Namun, terlihat elegan dan semakin menonjolkan kesan ayu dalam kesederhanaan.
Cleo duduk bersama dengan para murid lainnya, satu persatu nama mereka di panggil kedepan untuk menerima ijasah.
"Cleo Eileen Wang."
Mendengar namanya di panggil, cleo bangkit dari duduknya tepuk tangan riuh mengiringi langkahnya menuju podium.
"Selamat ya, kamu lulus dengan nilai terbaik," ucap kepala sekolah sambil memberikan ijazah pada cleo.
__ADS_1
"Terima kasih Pak." Cleo menerima ijasahnya dengan tersenyum bangga.
Juru foto mengambil foto naoki bersama kepala sekolah. Arie dan Alex bertepuk tangan, melihat anak semata wayang mereka dengan bangga. Dengan senyum yang menghias bibirnya, cleo melambaikan tangan pada kedua orangtuanya. Arie mengangguk kecil.
"Anakmu Pa," ucap arie sambil mengusap air mata bahagianya.
"Anak kita." Alex merengkuh bahu istrinya erat.
Cleo turun dari podium, ia berlari kecil kearah orang tuanya. Cleo memeluk erat sang mama juga papanya.
"Anak mama cantik banget sih, liat kamu pake kebaya jadi kebayang kalau nanti kamu nikah," ucap arie dengan matanya yang memerah, ia melerai pelukannya agar bisa menatap wajah cantik anaknya.
"Mama ngomong apa sih? Baru juga cleo terima ijazah udah ngomongin nikah. Cleo baru sembilan belas Ma," tukas cleo.
"Jodoh kita nggak pernah tau kapan akan datang, C," ujar arie.
"Sudah, nanti aja ngomongin itu. Selamat ya Sayang, terima kasih atas kerja keras kamu."
Cleo mengangguk, ia memeluk lagi tubuh pria paruh baya itu dengan erat. Mike berjalan mendekat, ia membawa buket bunga mawar.
"Cleo, selamat atas pencapaian." Mike memberikan buket bunga pada cleo.
Gadis bermata sipit itu melerai pelukannya dengan sang ayah untuk menerima bunga dari mike.
"Terima kasih, selamat juga untukmu."
"Kamu ikut nggak? Nanti rencananya anak-anak mau makan-makan buat merayakan kelulusan."
"Gimana ya?" tanya cleo pada dirinya sendiri, ia kemudian melirik kearah papanya. Ia sudah sempat membuat sang ayah kecewa, cleo takut untuk meminta izin padanya.
Arie seakan mengerti dengan kebimbangan putrinya, ia mengusap lembut lengan suaminya. Alex menoleh kearah sang istri, mengerti dengan apa yang di isyaratkan arie padanya.
"Dimana kalian mengadakan acara itu?" tanya alex pada mike.
"Di kafe Om," jawab mike cepat.
"Apa kau bisa berjanji pada papa untuk menjaga dirimu dengan baik, Cleo?" tanya alex penuh penekanan.
"Tentu Pa, cleo bisa," jawab cleo pasti.
"Baiklah, kau boleh pergi." Cleo langsung memeluk papanya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih Pa, terima kasih."
Setelah acara kelulusan itu selesai. Cleo dan kedua orang tuanya pulang.