
Cleo mengerjakan matanya, tangannya terasa sangat berat untuk digerakkan. Ternyata Naoki tidur di kursi dengan mengunakan tangan Cleo sebagai bantal.
"Kenapa dia tidur di situ?"
Cleo meraba keningnya yang terasa lembab, ternyata ada handuk basah yang nangkring di sana.
"Apa semalam dia menjagaku?"
Naoki mengeliat tubuhnya, pria itu ternyata tertidur saat merawat Cleo. Naoki merenggang otot-otot tubuhnya.
"Selamat pagi," sapa Cleo.
"Selamat pagi, C," jawab Naoki yang masih belum sadar sepenuhnya.
"Cleo!" pekik Naoki terkejut, saat ia menyadari Cleo menyapanya.
"Kau sudah sadar syukurlah. Apa masih dingin? Aku akan memesankan sarapan untuk mu." Naoki segera menghubungi pelayan hotel untuk mengantarkan sarapan.
Naoki meminta dua porsi bubur ayam untuk sarapan mereka, meskipun ia tidak suka bubur tetapi Naoki ingin menemani Cleo makan.
Cleo tersenyum melihat Naoki yang sedari tadi sibuk bertanya dengan keadaannya. Belum sempat Cleo menjawabnya Naoki sudah menjawab pertanyaannya sendiri.
"Kamu mau mandi nggak?"
" Eh jangan deh, kamu lagi sakit lagian belum sarapan," jawab Naoki pada dirinya sendiri lagi.
"Mas, sini deh. Duduk sini jangan mondar-mandir kayak strikaan gitu, aku pusing lihatnya."
Ucapan Cleo mengentikan langkah Naoki yang sejak tadi hilir mudik tidak karuan. Ia melangkah mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang.
"Terima kasih kamu sudah menjaga aku semalam," ucap Cleo tulus, ia tidak menyangka Naoki begitu memperhatikan dirinya.
"Sudah kewajibanku, kamu nggak perlu berterima kasih."
"Tapi tetep aja, kamu-"
Ucapan Cleo terhenti saat telunjuk Naoki menempel di bibirnya yang pucat.
"Kita suami istri sudah seharusnya saling menjaga, ada masalah apapun juga kita tidak boleh menyimpannya sendiri. Kita harus saling terbuka jika ingin rumah tangga ini berjalan dengan baik."
Ucapan Naoki begitu mengena di hati Cleo, haruskah ia jujur? haruskah ia bertanya tentang foto yang ia lihat semalam? Cleo tidak ingin dianggap kekanak-kanakan, karena cemburu dengan foto Naoki bersama wanita lain. Bisa saja itu foto lama kan, ia bisa jadi. Cleo tidak boleh sembarang lagi, ia harus lebih percaya pada suaminya.
"Apa kau ingin menanyakan sesuatu?" tanya Naoki, ia melihat Cleo yang lebih sering melamun akhir-akhir ini.
"Enggak kok Mas, aku hanya lemes aja," jawab Cleo dengan senyum manis meskipun bibirnya begitu pucat.
"Ingat, jangan sungkan untuk menanyakan sesuatu padaku. Aku bukan dukun yang bisa membaca pikiran orang lain, sekalipun itu kamu. Kalau kamu nggak bertanya atau cerita aku nggak akan tau ada masalah apa nggak. Mulai sekarang kita harus saling terbuka, tapi itupun kalau kamu bersedia." Naoki menepuk pelan kepala Cleo.
__ADS_1
Cleo meremas selimutnya, ia semakin merasa bersalah pada Naoki, laki-laki itu berusaha untuk membuat pernikahan ini berjalan. Tetapi Cleo, ia malah jalan di tempat dengan lebih memikirkan pertanyaan cinta dan masa lalu Naoki.
"Mas kalau gitu aku boleh tanya nggak?" Cleo menelan salivanya, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
"Tanya aja. Kenapa musti gugup begitu?"
Cleo mengambil ponselku, ia mencari foto yang membuat hatinya terbakar.
"Ini siapa?" tanya Cleo sambil menyodorkan ponselnya.
Mata Naoki membulat sempurna melihat foto dan caption yang tertulis di sana. Sejak semalam Naoki memang belum membuka media sosial sama sekali, bisa dibilang Naoki memang sangat jarang membuka akun bukuwajah miliknya.
"C, ini-"
"Kalau Mas nggak mau cerita, nggak apa-apa kok," ucap Cleo dengan menundukkan kepalanya.
"Hei siapa yang bilang, nggak mau cerita." Naoki menaikkan dagu Cleo dengan telunjuk.
Naoki tersenyum tipis melihat mata Cleo yang sudah berkaca-kaca, mungkinkah istrinya cemburu. Apa benar? Itu berarti Cleo sudah mulai menyukainya. Bolehkah Naoki Bahagia sekarang?!
"Dia Savira, teman kuliahku."
Deg.
Jantung Cleo berhenti berdetak mendengar nama itu, jadi benar gadis itu Savira. Dia begitu cantik dan dewasa, sangat berbeda dengan dirinya.
"Foto lama?"
"Iya."
"Sekarang dimana Savira?"
"Setelah wisuda kemarin aku tidak lagi tahu kabarnya, apa lagi aku juga sudah menolak cintanya. Mungkin dia marah sama aku."
"Ka-kamu menolaknya!" Naoki mengangguk pasti.
"Ke-kenapa?"
"Kalau yang halal ada, kenapa cari yang lain." Cleo tersipu mendengar ucapan Naoki.
Suaminya itu ternyata menolak hadits bermata belo itu. Fix mulai sekarang Cleo akan benar-benar berjuang, ia tidak akan lagi cemburu pada selembar foto.
Suara pintu di ketuk, Naoki segera membuka pintu kamar. pelayan hotel mendorong troli makanan itu masuk , setelah itu ia pamit.
Setelah membantu Cleo minum obat, Naoki menyuapinya dengan telaten.
"Mas, Kenapa kita belum melakukan olahraga ranjang?"
__ADS_1
Pertanyaan Cleo yang begitu frontal membuat Naoki tersedak udara. Ia tidak menyangka cleo akan bertanya hal seperti itu.
"Emang kamu mau?"
"Kamu suamiku, kenapa nggak mau," ucap Cleo.
Jantungnya saja sudah jedak-jeduk nggak karuan, tetapi Cleo tidak ingin rumah tangganya diam di tempat. Naoki sudah mengatakan kalau hidup berumah tangga harus saling terbuka, maka dari itu Cleo berusaha menanyakan sesuatu yang mengganjal di hati.
"Sudah jangan bahas itu, sembuhkan dulu dirimu," tukas Naoki.
Cleo mencebikan bibirnya kesal, dengan susah menahan malu, gapi Naoki hanya menjawabnya dengan santai. Melihat perubahan wajah Cleo, membuat Naoki tersenyum.
"Aku nggak mungkinkan meminta Istriku menunaikan kewajibannya dalam keadaan sakit," ucap Naoki menjelaskan.
Cleo tersenyum tipis, ia merasa bahagia mendengar ucapan Naoki.
Keduanya pun menikmati sarapan pagi mereka dengan baik, setelah selesai Naoki meminum obatnya.
"Istirahatlah," ujar Naoki lembut.
Cleo mengangguk, ia kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemah. Naoki mencium kening istrinya, sebuah ciuman yang sukses membuat jantung Cleo hampir copot saking senangnya.
Naoki masih duduk di tepi ranjang menemani sang istri yang hampir terlelap, Naoki pun akhirnya turut merebahkan diri disamping Cleo. Sudahlah pagi ini istirahat saja, Keduanya kembali terlelap.
Kali ini dengan tangan Naoki yang melingkar dengan posesif di pinggang Cleo, tiba-tiba terbersit ide bagus diotaknya.
Naoki mengambil foto dia dan Cleo yang sedang berada diatas ranjang dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh mereka.
Naoki mengecup pipi Cleo. Foto yang begitu mesra, ia segera mengunggahnya di media sosial bukuwajah dengan tulisan.
Terima kasih untuk malam yang luar biasa Istriku.
Dalam sekejap komentar dari teman-temannya membuldak, mereka sangat terkejut dan menebak siapa gadis itu. Pacar atau istri Naoki.
.
.
.
.
.
. Hai hai Mak ada info novel bagus nih, jangan lupa mampir ya

__ADS_1