C & N

C & N
Eps 59


__ADS_3

Naoki dan Cleo menikmati makan malam mereka di sebuah restoran untuk merayakan kenaikan jabatan Naoki. Setelah selesai makan malam mereka terpaksa Cleo terpaksa memesan taksi online untuk mengantarkan mereka pulang, Naoki mabuk karena meminum beberapa gelas wine, ya cuma beberapa gelas dan Naoki sudah pusing.


"Aku kan udah bilang nggak usah minum, kamu tuh ngeyel banget kalau di bilangin!" gerutu Cleo.


"Hehehe ... Kan cuma dikit," jawab Naoki sambil bergelayut manja di lengan Cleo.


Cleo hanya bisa menghela nafasnya panjang.


Mobil yang mengantarkan mereka akhirnya sampai di apartemen, dengan bantuan satpam Cleo memapah Naoki masuk.


"Terima kasih ya Pak," ucap Cleo pada si satpam.


"Sama-sama, Apa nggak sekalian dibawa ke kamar, Nyonya?" tanya satpam itu.


Cleo melirik sekilas pada suaminya yang terbaring di sofa ruang tamu, Cleo merasa tidak nyaman membiarkan orang lain masuk ke kamar mereka.


"Nggak deh Pak, biar di sini aja. Sekali lagi terima kasih," jawab Cleo sopan.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit satpam itu.


Cleo mengangguk kecil sambil tersenyum ramah. Ia pun mengantarkan si satpam sampai ke luar apartemen, Cleo segera menutup pintunya.


Ia kembali mendekati Naoki yang tertidur di sofa, dengan telaten ia melepaskan sepatu yang dipakai Naoki kemudian menyimpannya. Setelah itu ia melepaskan ikat pinggang sang suami.


Greep.


"Aku suka kamu seperti ini Sayang."


Cleo terkejut, Naoki memegangi tangan Cleo yang hendak membuka gesper ikat pinggang sang suami.


"Kamu, pura-pura mabuk!" sentak Cleo.


Naoki tersenyum miring, ia menarik tangan Cleo dengan kuat hingga tubuh mungilnya jatuh diatas Naoki.


"Kenapa? nggak suka ya nolongin suaminya."


Baru saja Naoki membuka mulutnya, Naoki sudah menarik tengkuk Cleo, *****4* bibir ranum itu dengan rakus. Aroma alkohol bercampur dalam saliva yang mereka tukar.


Semakin panas, kedua larut dalam malam yang begitu memabukkan. Melakukannya di teman lain terbuka membuat Naoki semakin bersemangat mencoba berbagai gaya dengan Cleo.


Cleo mencengkeram kuat sandaran sofa yang menjadi pegangannya. Sementara Naoki terus berpacu di belakang Cleo.


Keduanya mengerang saat sama-sama mencapai puncak nirwana yang mereka kejar, Naoki mencium punggung polos Cleo.

__ADS_1


"Udah ya capek," rengek Cleo dengan nafasnya yang tersengal.


Kakinya terasa lemas. Sudah dua kali mereka melakukan olahraga panas itu di ruang tamu.


"Tapi aku belum puas," jawab Naoki.


Pria itu membalikan tubuh Cleo yang lemas, membawakan dalam dekapan. Dua manusia yang sama-sama tak tertutup sehelai benang itupun masuk ke kamar.


Naoki membaringkan tubuh istrinya yang kelelahan di ranjang, Cleo menatap sang suami dengan wajah memelas. Naoki tersenyum, ia mengecup kening dan bibir istrinya dengan lembut.


"Tidurlah, besok pagi saja kita lakukan lagi."


Naoki membaringkan tubuh polosnya di samping Cleo, mendekap istri kecilnya yang sudah kelelahan.


🌅🌅🌅


Matahari mulai memperlihatkan sinarnya, Cleo masih mengulung diri dalam selimut tepat. Tubuhnya masih sangat lelah karena ulah sang suami yang minta jatah lagi menjelang fajar.


"Masih mau tidur?" tanya Naoki dengan lembut.


Laki-laki itu sudah rapi dengan jas yang melekat di tubuh kekarnya. Cleo menggeleng, ia semakin mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya.


"Nggak kuliah? udah mau jam tujuh lho," ucap Naoki lagi, sambil mengusap rambut Cleo yang memunggungi dirinya.


"Nggak, aku kuliah agak siang hari ini. Nanti jam sepuluh," jawab Cleo dengan suara serak.


Naoki tersenyum, ia memberikan kecupan manis di pipi Cleo. Wanita itu sungguh tampak kelelahan, salahkan Naoki yang tidak bisa menahan diri.


"Aku sudah siapkan sarapan, aku berangkat kerja dulu," pamit Naoki.


Di kantor.


Naoki kini menempati ruangan baru, mulai hari ini ia berkerja sebagai sekertaris direktur.


"Selamat pagi sekertaris ku," sapa Savira, wanita itu masuk keruangan Naoki tanpa permisi.


"Selamat pagi Bu Savira," jawab Naoki sopan.


Savira berdecih sebal, hari ini ia sengaja berdandan dengan cantik, untuk menarik perhatian Naoki. Namun, pria ini tetap terlihat tidak tertarik dengannya.


"Panggil Savira saja, nggak usah embel-embel Ibu!" tegasnya.


"Maaf, tapi Anda adalah atasan saya. Sudah seharusnya saya memanggil Anda Bu," jawab Naoki dengan tenang.

__ADS_1


"Kamu, bisa nggak sih nurut sama aku."


Savira melangkah lebar mendekati Naoki, dua tangannya bertumpu di meja dengan tubuh yang dicondong pada Naoki.


"Kita temankan, apa salahnya jika memanggil nama," ucap Savira lirih. Tanpa sengaja ia melihat tanda merah di leher Naoki.


Nafas Savira memburu, ia terbakar. Savira tidak rela tubuh Naoki dijamah orang lain meskipun itu istrinya.


"Ini kantor, jadi Anda masih atasan saya."


Tanpa aba-aba, Savira menarik dasi Naoki menempelkan bibir mereka berdua. Naoki yang sadar segera mendorong tubuh Savira dengan kasar, hingga wanita itu jatuh terjungkal.


"Apa yang kamu lakukan!"


Naoki menatap Savira dengan nyalang. Savira terkejut, ia segera berdiri sambil menahan sakit di pantatnya.


"Kenapa kamu selalu nolak aku Ki, kamu tau aku sudah suka sama kamu sejak tahun pertama kuliah. Tapi kamu selalu acuh, apa sebenarnya yang kurang dariku." Savira mulai mengusap kasar air mata yang meleleh di pipinya.


Naoki menghela nafas kasar, ia berjalan mengitari meja. Naoki berdiri di hadapan Savira yang sedang menangis sesenggukan.


"Perasaan seseorang nggak bisa dipaksakan, kamu wanita yang cantik dan pintar. Pasti ada seseorang yang mencintaimu dengan setulus hati, tapi bukan aku. Aku sudah menikah, dan aku mencintai istriku," ujar Naoki.


Savira menatap Naoki tidak percaya.


"Kamu beneran udah nikah?"


"Iya, cincin ini nggak mungkin hanya pajangan kan." Naoki menunjukkan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya.


"Maafkan aku, Ki. Aku nggak akan ganggu kamu lagi, tapi aku harap kita bisa jadi sahabat fan patner kerja yang baik," ucap Savira penuh penyesalan.


"Tentu, aku harap kedepannya kita bisa berkerja sama dengan baik."


"Terima kasih Ki. Maaf, sekali lagi aku minta maaf udah lancang cium kamu."


"Anggap saja itu tidak pernah terjadi." Naoki kembali duduk di kursi kerjanya.


Sementara Savira keluar dari ruangan Naoki dengan wajah yang berubah masa. Tangan mengepal kuat.


"Aku nggak perduli, kamu hanya akan jadi milikku," gumam Savira.


Tidak ada kata menyerah dalam kamus Savira. Naoki harus menjadi miliknya, dengan cara apapun.


Savira masuk ke ruangannya,

__ADS_1


__ADS_2