
Alex duduk diruang kerjanya, dua tangannya menyatu sebagai sandaran kening. Pria paruh baya itu baru saja menerima telepon dari seorang anak buahnya yang ia suruh untuk menyelidiki Naoki.
Saat Cleo meminta izin untuk liburan, sudah merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, cerita dari Arie juga masih abu-abu, sepertinya Cleo tidak menceritakan keseluruhan masalah yang ia alami pada mamanya.
Dari yang ia dengar dari anak buahnya. Naoki pergi keluar kota bersama atasannya yang tak lain adalah anak dari pemilik perusahaan, dia juga teman kuliah Naoki. Dari situ Alex bisa mencium bau masalah bermula, cemburu. Tetapi, apakah cemburu saja bisa membuat Cleo sesedih itu. Alex rasa tidak, masalahnya tidak sesederhana itu.
Alex menghela nafas berat, ia mendorong tubuhnya kebelakang. Bersandar dengan mata terpejam, sepertinya ia butuh sedikit waktu lebih untuk mencari tahu apa yang terjadi pada rumah tangga Cleo.
Arie masuk tanpa permisi, dengan membawa teh herbal kesukaan suaminya, ia menghampiri Alex. Aroma rempah hangat yang menenangkan menguar dari cangkir yang ia bawa. Perlahan Arie mendekati suaminya, setelah menaruh teh di meja, Arie mencium pipi suaminya.
"Jangan terlalu lelah, nanti kau bisa sakit," ucap Arie lembut. Alex tersenyum, perlahan ia membuka matanya melihat wajah cantik yang sangat ia cintai.
"Bagaimana aku bisa lelah, jika ada kamu." Alex memeluk erat pinggang sang istri.
Laki-laki itu menyandarkan kepalanya manja di dada Arie, dengan penuh cinta Arie mengusap rambut suaminya.
"Sudah menemukan sesuatu?"
"Bagaimana kau bisa tahu aku mencari sesuatu?" tanya Alex balik.
"Hem ... Hanya menebak," jawab Arie enteng.
Alex terkekeh, tebakan yang selalu benar. Arie selalu bisa tahu apa yang Alex lakukan, walaupun ia sementara ingin menyembunyikan ini dari sang istri. Namun, kenyataannya tidak bisa.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" Arie mengerutkan keningnya.
"Kau seperti cenayang, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Sayang. " Alex mendongakkan wajahnya, mata sipitnya menatap Arie dengan penuh kasih.
Arie yang merasa gemas mencubit hidung mancung suami manjanya itu.
"kita sudah bersama selama bertahun-tahun, aku sudah mengenal dirimu lebih baik dari dirimu sendiri."
"Ya, dan aku sangat bersyukur karena itu."
Arie tersenyum kecil dengan pipinya yang merona. Pemandangan yang sangat menggemaskan bagi Alex. Ia menatap wajah Arie dengan penuh rasa cinta, hingga membuat Arie semakin merona.
__ADS_1
"Ehem, jadi apa yang kau tahu, Sayang? kenapa Cleo bisa seperti itu?" tanya Arie mengalihkan pembicaraan, jantungnya sudah berdegup kencang seperti ABG yang jatuh cinta lagi.
Alex melepaskan tangan yang membelit pinggang Arie, ia mengambil ponsel miliknya lalu memberikan pada Arie.
"Dia atasan Naoki, dan juga teman kuliahnya dulu. Ada rumor di perusahaan Naoki kalau wanita itu menyukai menantu kita, Apa kau berpikir apa yang aku pikirkan, Sayang?" tanya Alex pada istrinya yang sedang menatap sebuah foto di layar pipih itu.
"Tapi aku rasa bukan hanya karena gosip Cleo sampai nekat ke Taiwan, pasti ada hal yang lain." Arie mengusap ujung dagunya dengan jempol.
Cleo begitu terlihat begitu sedih, masalah ini pasti tidak sesederhana itu. Arie mengenal baik putri kecilnya itu, Cleo bukan orang yang segampang itu untuk menitikkan air mata.
Kedua orang itu terdiam, mereka mencoba untuk menebak kejadian sebenarnya. Bertanya langsung pada Cleo jelas tidak mungkin, gadis yang sudah menikah itu tidak akan dengan mudah menceritakan tentang masalah yang ia alami.
"Hais ... kalau seperti ini kita tidak akan menemukan masalahnya, kita istirahat dulu. Ini sudah malam, kau juga harus istirahat." Arie mengambil teh herbal yang ia bawa, lalu mendekatkan cangkir itu pada bibir Alex.
Perlahan Alex menyesap teh herbal hangat itu, cairan berwarna kecoklatan dengan aroma khas seketika membasahi tenggorokannya.
"Ya, kau benar Sayang, Cleo masih membutuhkan kita." Alex bangkit dari duduknya ia mengaitkan tangannya di pinggang Arie.
Keduanya melangkah meninggalkan ruangan itu. Dengan perasaan gelisah sejoli itu berusaha melewati malam ini, mencoba untuk sekedar memejamkan mata untuk lebih siap menghadapi esok hari.
.
.
.
Seorang wanita cantik meliukkan tubuh, tangan lentiknya membelai manja dada pria yang ada dihadapan wanita itu. Dengan sengaja ia menempelkan dua bongkahan padat miliknya di dada laki-laki itu, dengan gerakan tarian ia mengesek asetnya naik turun.
Malam ini ia merayakan kemenangannya, dia baru saja mendapat bayaran atas kerja kerasnya mengusik hidup Cleo.
"Ah ... jangan di sini!" pekiknya manja saat tangan laki-laki itu mulai meremas bagian belakang tubuhnya.
"Ayolah, aku sudah tidak tahan." Wajah laki-laki itu terlihat memerah, menatap wajah Widya dengan penuh hasrat.
Widya tersenyum miring, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Biam. Dia mengerti apa yang Biam maksudkan, ia pun menginginkan hal itu.
__ADS_1
"Kita ke belakang," bisiknya.
Laki-laki itu menyeringai, dengan sedikit kasar ia menarik tangan Widya. Pub itu memang menyediakan kamar di area belakang, untuk menginap dan melakukan aktifitas panas.
Biam menutup pintu kamar dengan kasar, langsung mengangkat tubuh Widya keatas ranjang dan mulai melucuti pakaian yang mereka kenakan.
"Nggak sabar banget sih kamu, Sayang."
Biam yang sedang melepaskan ikatan pinggangnya tersenyum.
"Iya dong, Kamu nggak lihat, ini udah tegang banget." Biam melemparkan celananya, dengan tubuh polosnya dia naik ke atas Widya.
"Lagi pula sudah saatnya aku memperoleh imbalan dari perkerjaan ku," bisiknya.
"Malam ini aku milikmu," sahut Widya lirih.
Biam menyatukan inti mereka, tanpa pemanasan. Membuat Widya meringis menahan rasa sakit, tetapi cuma sesaat. Sakit itu berubah menjadi nikmat saat Biam mulai bergerak.
Keduanya begitu menikmati malam ini, melebur dalam peluh dan cairan kenikmatan yang keluar saat keduanya mencapai puncak.
"Emh ...." Erang Biam saat sudah mencapai puncak.
Laki-laki itu turun dari atas tubuh polos Widya, membiarkan wanitanya bernafas untuk sesaat setelah permainan panas mereka.
"Gimana Apa bos mu suka dengan perkerjaanku?" tanya Biam sambil menghisap vape miliknya.
"Suka dong, kalau nggak. Dia nggak bakal ngasih komisi gede buat aku," jawab Widya bangga.
Biam tersenyum, bukan hal yang sulit bagi Biam melakukan hal seperti itu.
"Bagus, aku juga dapet bagian kan?"
"Tenang aja, punya kamu udah aku transfer," jawab Widya santai.
"Emh ... malam yang indah, aku suka malam ini," imbuh Widya sambil meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
Bagaimana ia tidak bahagia, Widya senang karena bisa membalas dendam pada musuhnya, sekaligus mendapatkan uang. Sekali dayung dua puluh terlewati. Benar-benar sangat memuaskan.
Biam hanya tersenyum melihat patner *** nya itu.