
Naoki kembali ke mobilnya, dengan kasar ia melempar paperbag yang di bawanya ke bangku penumpang. Hatinya sungguh merasa tidak tenang, ia memutuskan untuk mengikuti mobil itu.
Naoki menjaga laju mobilnya agar tidak terlalu dekat dengan mobil yang di tumpangi Cleo. Setelah beberapa lama akhirnya mobil hitam itu berhenti di sebuah club. Naoki memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, ia sengaja menghentikan mobilnya agak jauh agar tidak terlalu mencolok. Ia menajamkan matanya saat melihat Cleo keluar dari mobil itu dengan di paksa oleh teman temannya.
"Kok disini sih, kan bilangnya tadi di rumah mike?" tanya Cleo dengan raut wajahnya yang gelisah.
Ia belum pernah menginjakkan kakinya di tempat seperti ini. Alex selalu melarangnya, dan Cleo pun menurut. Ia paham tentang kekhawatiran sang papa, Cleo sendiri juga tidak ingin pergi ketempat hiburan seperti ini. Ia lebih suka berhalu bersama novel novel romantis koleksinya.
"Kan emang ini rumah kedua Mike, loe aja yang nggak tau," sahut seorang pria yang supir mereka tadi.
"Sam, ini nggak bener. Aku nggak mau."
"Ya udah, kalau kamu nggak mau. Tapi apa kamu nggak mau ngucapin selamat ulang tahun gitu sama Mike," bujuk Jesy.
"Tapi Jes, aku -
"Ngucapin selamat doang, abis itu aku anterin kamu pulang. Hargai undangan Mike"
"Iyalah, masa jauh jauh dateng belum masuk udah mau pulang. Kamu juga belum kasih hadiah ulang tahun buat Mike," sambung Widya.
Dasar Cleo anaknya suka nggak enakan. Ia pun akhirnya mengiyakan ucapan temannya itu.
"Iya deh, tapi cuma sebentar aja ya. Abis kasih kado aku langsung pulang."
"Gitu dong!" seru Sam, pria itu berjalan di belakang ketiga gadis yang ada di depannya. Sebuah senyum tak biasa mengembang di bibirnya.
Naoki terus mengawasi para remaja yang masuk ke dalam club. Tangannya mengepal kuat, ia merasa sangat marah melihat Cleo masuk kedalam tempat seperti itu.
Di dalam club.
Dentuman musik DJ menggema di seluruh ruangan itu. Hirup pikuk manusia menari mengikuti alunan musik yabg memekikkan telinga Cleo. Ia tidak terbiasa dengan musik seperti ini, telinganya terlalu akrab dengan K-Pop.
"Ayo." Widya menarik tangan Cleo untuk mengikutinya, setelah menaiki tangga. Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan. Semua teman sekelas Cleo ada di sana, dan beberapa lagi tidak Cleo kenal.
"Hey welcome my friends!" sambut Miko pada teman temannya yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
"Mike, Happy birthday!" Widya berhamburan ke pelukan pria keturunan bule, kemudian memberikannya kecupan besar di pipi Mike.
__ADS_1
"Thanks, dan kamu Nona. Apa tidak mengucapkan selamat padaku." Mike tidak memperdulikan gadis yang sedang mendekapnya, ia malah fokus pada Cleo.
"Selamat ulang tahun," ucap Cleo dengan senyum manisnya, gadis itu mengulurkan tangannya.
Dengan kasar Mike melepaskan Widya, membuat gadis itu memberengut kesal. Mike maju beberapa langkah untuk menyambut tangan Cleo. Mike meraih tangan mungil itu lalu mengecup singkat punggung tangannya. Cleo yang terkejut segera menarik tangannya.
"Emh ... ini hadiah untukmu." Cleo mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita merah diatasnya.
"Wah ... terima kasih Cleo, ini akan jadi hadiah terbaik untukku," ucap Mike dengan wajah berbinar. Cleo tersenyum ramah padanya.
Tanpa keduanya sadari Widya mengepalkan tangannya, dengan mata memerah ia menatap tidak suka pada Cleo.
"Kalau begitu Mike, aku harus segera permisi sekarang. Aku tidak bisa lama-lama. Maaf ya," ucap Cleo dengan tulus.
Sebenarnya ia merasa sangat tidak enak meninggalkan pesta ulang tahun temannya begitu saja. Namun, disisi lain Cleo sangat tidak nyaman berada di sana. Aroma alkohol yang cukup menyengat hidung dan dentuman musik yang membuat kepala cenat cenut, sungguh membuat Cleo tidak nyaman.
"Apa harus secepat itu Lady?" tanya Mike dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Maaf Mike, tapi aku sudah berjanji pada Mama dan Papa untuk tidak pulang malam," ujar Cleo mencoba menjelaskan.
"Ah ...aku lupa, you are a Big Baby Girl," goda Mike.
Mike sungguh kagum dengan Cleo di jaman seperti ini masih ada gadis yang berfikiran seperti itu. Terlebih selama ini Mike mengikuti gaya hidup bebas, jadi baginya pemikiran seperti Cleo jarang ia temukan di pergaulannya. Seorang remaja biasanya akan memberontak dan bersikap sesuka hatinya. Namun, Cleo. Gadis yang selalu terlihat riang itu sangat menjaga dirinya dan begitu mematuhi peraturan yang di buat orang tuanya. Cleo sampai mendapatkan julukan Bayi besar karena tidak pernah hang out bersama teman temannya.
"Tapi, sebelum kau pulang. Minumlah dulu, sebagai jamuan dari tuan rumah," seloroh Widya baru saja kembali setelah mengambilkan minum untuk Cleo.
Cleo menerima jus jeruk yang diberikan Widya dengan bimbang.
"Tenang aja itu hanya jus jeruk biasa."
"Minumlah, aku jamin itu non alkohol," imbuh Mike.
Cleo pun mengangguk dan segera menenggak minuman berwarna oranye itu.
"Terima kasih Mike, dan sekali lagi selamat ulang tahun."
"Thanks Cleo."
__ADS_1
"Mike aku antar Cleo pulang ya," pamit Widya.
"Ok," jawab mike singkat. Ia sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktunya lebih lama bersama cleo. Namun, ia juga tidak bisa bersikeras untuk menahan cleo lebih lama.
Kedua gadis itu pun mulai melangkah menjauh keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba tubuh Cleo terasa aneh, panas. Seperti suatu terbakar dalam tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering. Widya yang menyadari gelagat aneh dari temannya pun tersenyum tipis.
"Kamu kenapa? apa kau sakit?" tanya Widya dengan cemas.
"Emh ... nggak kok."
"Tapi wajahmu merah banget."
"Aku ...aku hanya ingin buang air saja," kilah Cleo. Ia sendiri merasakan sesuatu yang tidak beres dengan dirinya.
"Mau aku antar ke toilet?"
Cleo mengangguk kecil. Keduanya pun segera melangkah ke kamar kecil yang ada di sana.
"Aku tunggu di luar ya."
"Iya," jawab Cleo lirih dengan suaranya yang terdengar serak.
Cleo langsung masuk ke kamar mandi. Gadis itu segera menyalakan kran dan membasuh mukanya berkali kali, berharap rasa panas itu berhenti menjalar. Ia kemudian memutuskan untuk duduk didalam bilik toilet, untuk sekedar menenangkan dirinya.
Semakin lama tubuhnya semakin panas, baju yang ia pakai terasa menyesakan. Ia mulai mengusap kasar kedua lengannya. Cleo tidak berani keluar dari sana.
Sementara diluar kamar mandi.
"Dia sedang ada didalam, tunggu dia keluar. Atau kau bisa langsung masuk dan membawanya pergi kalau keadaan memungkinkan," ujar Widya pada seorang pria.
"Hem ... lalu harus ku apakan dia?" tanya pria itu.
"Terserah aku tidak perduli, yang aku mau kau harus merekam apa yang kau lakukan pada gadis itu."
"Baiklah, tapi bukankah dia teman baikmu?"
"Apa perdulimu! lagi pula aku tau kau juga ingin merasakan tubuhnya. Jadi kita saling menguntungkan, aku harap kau tidak usah ikut campur urusanku," Ketus Widya.
__ADS_1
"Hahaha ... kau benar sekali Nona, aku ingin sekali mencicipi gadis cantik itu."
Widya tersenyum miring kemudian ia pun segera menjauh meninggalkan pria itu didepan toilet wanita.