C & N

C & N
Eps.42


__ADS_3

"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," ucap cleo dengan bibirnya yang bergetar.


Naoki tidak menjawab. Ia terus melangkahkan kakinya membawa gadis bermata sipit itu lewat pintu belakang kafe, Naoki membawa cleo ke sebuah kamar yang ada di kafe, tempat yang biasanya di gunakan Andi untuk istirahat atau menginap.


Tubuh cleo gemetaran, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Cleo mencengkeram kemeja yang di pakai naoki dengan erat, tubuhnya terasa seperti terbakar.


Sesampainya di kamar, Naoki merebahkan tubuh cleo dengan perlahan. Cleo mengusap kedua lengannya dengan keras hingga memerah, tubuhnya bergetar hebat, deru nafasnya panas dan cepat.


"Ki, panas ...," ucap cleo lirih matanya sayu menatap naoki dengan penuh damba. Seolah Naoki adalah obat yang bisa menyembuhkannya.


Tangan lentik cleo meraih tangan naoki, mendesis merasakan sentuhan kulit mereka, rasa panas yang begitu cleo inginkan. Naoki menarik tangan dengan kasar, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih.


"Kau gila C, beberapa kali kau harus terjebak di trik murahan seperti ini?!" Bentak naoki, ia mengusap wajah kasar.


Cleo terus menggeliat, rasa panas menjalari setiap syarafnya, menyiksa gadis itu memaksa cleo untuk melepas baju yang melekat di tubuhnya. Ia menarik dressnya hingga robek, dan menunjukkan bongkar padat dibalik kaca mata kuda


"Apa yang kau lakukan?!" Naoki melompat keatas Cleo, memegang kedua tangan, menyatukannya diatas kepala agar cleo.


"Panas, lepaskan aku," rintih Cleo dengan suaranya yang bergetar.


"Kau gila!"


Cleo terus menggeliat seperti cacing kepanasan, ia menggerakkan tubuhnya dibawah kungkungan Naoki. Pria itu memejamkan matanya, berusaha mengontrol dirinya sendiri. Melihat pemandangan seperti ini membuat kejantanan Naoki ikut meronta.


"Ki, tolong aku," pinta Cleo dengan suaranya yang serak.


Naoki melepaskan tangan Cleo, gadis itu segera mengalungkan tangannya di leher kekar Naoki menariknya mendekat hingga kedua belahan lembut mereka bertemu. Cleo mengerakkan bibirnya, mengecup-ngecup bibir Naoki dengan menggebu. Naoki yang awalnya diam akhirnya membalasnya ciuman Cleo, menikmati lembutnya bibir mungil itu.


Cleo mengerang kecil disela ciuman mereka, Naoki pun menikmati permainan itu, kini ia memimpin penyatuan bibir mereka.

__ADS_1


Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan panas, tak hanya bibir mereka yang bertemu lidah mereka pun telah menyatu. Saling menyesap dan merasakan saliva yang tertukar. Cleo mulai membuka satu-satunya kancing kemeja yang menutupi tubuh kekar itu, dengan tak sabar tangannya mulai bermain di dada bidang milik Naoki untuk meredam panas di tubuhnya.


Tubuh Naoki menegang, ia mulai tak bisa mengontrol dirinya. Darahnya berdesir hebat, kedua larut dalam penyatuan. Lidah Naoki menyusuri leher jenjang Cleo, menyesap mengigit kecil meninggalkan tanda merah di sana.


Cleo menlenguh saat Naoki mulai memainkan dua gundukan miliknya, meremasnya lembut. Memberikan kecupan di pucuk pink yang sudah menegang, Cleo mendesis merasakan kenikmatan yang semakin membuatnya ingin.


"Naoki," Cleo menyebutkan nama itu dengan penuh hasrat.


Mendengar namanya disebut dengan begitu mesra, Naoki semakin bersemangat. Dengan lincahnya ia memainkan ujung lidah di puncak gundukan Cleo, tanpa sadar Cleo meremas rambut Naoki menekannya agar bermain lebih dalam lagi.


"Ki, aku mau kamu."


Naoki melepaskan ujung berwarna pink itu dari mulutnya, Ia menarik dirinya menatap lekat wajah Cleo yang menatapnya dengan penuh arti.


Naoki menyatukan kening mereka, Nafas kedua memburu menahan hasrat yang harus segera dituntaskan. Naoki memejamkan matanya sejenak, mencoba menjernihkan pikirannya.


"Ini salah C, aku nggak bisa melakukan ini," ucap Naoki penuh penyesalan.


Cleo kembali menarik Naoki, menyatukan bibir mereka kembali, dengan rakus Cleo melum4tnya. Naoki mendorong tubuh tubuh Clo menjauh, melepaskan tautan bibir mereka. Naoki melepaskan sabuk miliknya, untuk mengikat kedua tangan Cleo.


"Ki, sakit lepaskan," rengek Cleo. Tubuhnya terus saja mengeliat, gadis itu sungguh tersiksa. Ia menatap Naoki dengan mata sayunya, memohon agar Naoki melepaskannya dari penderitaan itu.


Naoki mengikat kuat tangan Cleo dengan sabuknya, ia sadar semua ini salah, menurutinya saat ini, sama dengan menghancurkan Cleo. Naoki mencari sesuatu di laci meja untuk mengikat kaki Cleo, ia menemukan kaos dalam yang pastinya milik Andi. Tanpa pikir panjang Naoki, merobek kaos tipis itu, menjadikannya tali untuk mengikat kaki Cleo.


"Nao, tolong aku," pinta Cleo dengan penuh harap.


"Maafkan aku, C. Aku tidak bisa."


Naoki mencium kening Cleo, merapikan baju yang sudah melorot sampai ke perut, sejenak Naoki tertegun melihat betapa banyak bercak merah yang ia ciptakan di leher dan dada Cleo. Dengan cepat Naoki merapihkan baju Cleo, menutupi bagian dada yang sudah ia jamah.

__ADS_1


Naoki, mengangkat tubuh Cleo, membawanya ke kamar mandi, yang ada dalam kamar itu. Tak ada bath tub untuk berendam, Naoki terpaksa mendudukkan Cleo di lantai, menyalakan shower dan membiarkan tubuh mungil itu di guyur rintikan air dingin. Semoga itu bisa meredakan hawa panas yang menyiksanya.


"Maafkan aku," ucap Naoki lagi sebelum meninggal Cleo. Gadis itu menatap Naoki dengan tatapan yang sulit diartikan.


Meskipun tak tega, Naoki akhirnya meninggalkan Cleo di kamar mandi. Setelah merapikan baju, ia keluar dan mengunci kamar itu dari luar. Ia bergegas menemui Andi yang ada di ruang kantor.


"Kamu kenapa? kusut banget?" tanya Andi, ia sungguh heran melihat wajah temannya yang kusut dan berantakan.


"Kapan acara anak-anak itu selesai?" tanya Naoki setelah mendudukkan dirinya di sofa.


"Jam 10, setengah jam lagi lah."


Naoki melirik jam tangannya, lima belas menit lagi semua orang itu akan pergi.


Aku tidak melihat sepeda motor Cleo di parkiran tadi, apa dia di antar supir?, batin Naoki.


Naoki bangkit dari duduknya, dengan sedikit berlari melewati para remaja yang sedang asik berpesta. Dengan langkah lebar, Naoki memeriksa mobil yang terparkir di halaman kafe.


"Ini mobil keluarga wang," gumam Naoki saat melihat sedan hitam yang terparkir paling pinggir.


Naoki berjalan kearah kemudi, seorang pria paruh baya tampak tertidur pulas, dengan kepala yang di kemudi.


"Pak ...Pak ...!" Naoki berteriak sambil mengetuk kaca mobil. Namun, orang itu tak merespon sama sekali.


Naoki membuka pintu mobil yang ternyata tidak dikunci.


"Pak ...Pak ...! Bangun!" Naoki mengguncang bahu Ipul yang tertidur pulas, tapi tetap tak ada respon sedikitpun.


"Astaga ... ini tidur apa pingsan sih?"

__ADS_1


Khawatir dengan keadaan sopir itu, Naoki memutuskan untuk manggil dokter kenalan. Naoki mengatur kursi mobil agar membuat bisa membaringkan si sopir, sambil menunggu kedatangan dokter. Ia tak mungkin membawa pria ini masuk, sedangkan keadaan kafe masih ramai dengan pengunjung.


__ADS_2