
Pergumulan malam pertama menghasilkan rasa canggung pada diri Cleo, malu sungguh teramat malu rasanya. Apalagi mengingat dia begitu agresif pada malam itu, jika bisa ingin rasanya ia menenggelamkan wajahnya di lubang cacing.
Setelah jalan-jalan berkeliling kota, pengantin baru itu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah keluarga Wang, sebelum ke rumah orang tua Naoki.
Mobil sedan yang mereka kendarai akhirnya terhenti di pekarangan rumah besar wang.
"C, ayo turun." Cleo terkejut saat suami sudah ada dihadapannya dengan tangan terulur hendak membantu ia keluar dari mobil, setelah ia mengambil koper di bagasi.
"A-Aku bisa sendiri," Cleo tergagap, wajahnya tertunduk memerah. Cleo sedikit menepis tangan suaminya, bukan bermaksud menolak ia hanya terlalu malu.
Naoki tersenyum, kedua tangannya mencubit gemas pipi Cleo. Ais ... sejak kapan kaleng rombeng yang biasanya berisik dan bar-bar berubah malu-malu seperti ini. Jika tidak sedang di pekarangan rumah mertua, ingin rasanya Naoki melahap istrinya sekarang.
"Apa sih sakit tau!" protes Cleo.
"Makanya ayo turun." Cleo langsung menarik tangan istrinya, dengan bibir yang sudah manyun Cleo mengikuti langkah sang suami.
Mereka berjalan memasuki rumah, Arie sudah menanti kedatangan anak dan menantunya di ruang tamu.
"Mama!" pekik Cleo, gadis yang sudah tidak perawan itu, lari berhambur ke pelukan Arie.
"Ish ... Dah jadi istri orang masih aja manja," sindir Arie.
"Ma ...," rengek Cleo manja.
Naoki tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. Seandainya saja adiknya masih ada, mungkin pemandangan seperti ini juga akan ia temukan di rumah.
"Ma ... ," panggil Naoki sopan pada mertuanya.
Naoki mencium dengan takzim. Arie tersenyum, ia mengusap lembut kepala Naoki. Arie yakin menantunya ini bisa membahagiakan putri.
__ADS_1
"Istrirahatlah, mama akan menyiapkan makan siang untuk kalian."
"Biar Cleo, bantu."
Naoki memicingkan matanya, seulas rasa kecewa terbersit di wajah Naoki. Arie yang melihat itu pun mengerti.
"Temani suamimu, dia pasti lelah menyetir seharian," bisik Arie pada Cleo.
Wanita bermata sipit itu mencebikan bibirnya kesal, ia menatap Arie dengan memelas. Cleo ingin melarikan diri dari suaminya, Kenapa mamanya malah mendorong Cleo untuk berduaan bersama Naoki di kamar.
Arie menggelengkan kepalanya pelan, ia tahu Cleo belum begitu peka dengan hal seperti ini, apalagi putri kecilnya itu memang belum pernah menjalin hubungan dengan seorang pria sebelumnya.
"Udah mandi dulu sana, nanti mama panggil kalau makan malam sudah siap." Arie mendorong pelan tubuh mungil Cleo, hingga menabrak dada Naoki.
Masih dengan muka masam Cleo akhirnya menuruti perintah mamanya. Naoki tersenyum tipis hampir tidak terlihat, ia menggandeng tangan Cleo, menariknya lembut agar istri kecilnya itu mengikuti langkah Naoki.
Tanpa Cleo sadari Naoki sudah ada di belakangnya, dengan usil ia mengangkat tubuh Cleo.
"Hei .... Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekik Cleo sambil memukul-mukul dada Naoki.
"Bagus ya ... sudah bisa melawan sekarang. Apa kau sudah kembali menjadi Cleo yang asli?"
"Cleo yang asli? Emangnya sejak kapan ada Cleo palsu?!" bentak Cleo.
Naoki membaringkan Cleo di ranjang, Cleo hendak bangkit. Namun, dengan cepat Naoki menindih tubuhnya, mengunci tangan mungil itu diatas kepala. Hingga membuat Cleo tak berkutik.
"Setelah mengambil keuntungan dariku, merayu dengan tubuh indah dan wajah cantikmu. Apa kau tidak ingin bertanggung jawab padaku Nyonya?"
Cleo mengerutkan keningnya, entah dia harus senang karena Naoki memujinya atau kesal karena pria itu menuduhnya mengambil keuntungan. Bukankah jelas-jelas Cleo yang kehilangan selaput daranya, kenapa sekarang ia jadi tersangka dan Naoki korbannya?
__ADS_1
"Aku nggak ngerti kamu ngomong apa." Cleo memalingkan wajahnya, ia tak sanggup menatap mata Naoki yang begitu intens.
"Kemarin manggil mas, sekarang kenapa kamu, kamu terus?"
Cleo diam, bukan maksudnya seperti itu. Tetapi kemarin malam sungguh sangat memalukan baginya.
"Mikirin apa? Kenapa merah gitu mukanya?"
"Mana ada," jawab Cleo berkilah, tanpa menatap Naoki.
Naoki melepaskan tangan Cleo, menyandarkan keningnya pada dua bongkahan padat yang begitu empuk dan kenyal. Nafas Naoki mulai memburu, Cleo bisa merasakan hembusan hangat saat Naoki mengecup lehernya. Kedua tangan kekar milik Naoki melingkar erat di pinggang Cleo.
"C, boleh aku melakukannya sekarang?" Suara Naoki terdengar berat seperti menahan sesuatu dalam dirinya.
Cleo menelan salivanya, apakah suaminya akan mengulang malam itu lagi. Masih segar diingatan Cleo bagaimana rasanya saat pembobolan pertama. Naoki terus menjelajah leher jenjang Cleo, seolah sudah menjadi candunya, wangi tubuh itu selalu membuatnya ingin.
Naoki menyesap kulit mulus Cleo hingga meninggal beberapa jejak, satu tangannya mulai mengangkat kaos Cleo hingga tersingkap keatas dan memperlihatkan dua bukit milik Cleo. Naoki menurunkan wajahnya untuk menikmati dua gumpalan pada yang begitu indah, Cleo mengigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh.
Suara decakan Naoki yang sedang menyesap seperti bayi menggema di ruangan itu. Tanpa sadar Cleo meremas rambut Naoki, menekannya agar bermain lebih dalam.
"C, boleh ya?" tanya Naoki lagi. Rasanya sudah diubun-ubun, Naoki sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Nanti sakit," ucap Cleo lirih.
Naoki tersenyum, ia menghentikan kegiatannya sejenak. Menarik dirinya sedikit menjauh agar bisa melihat wajah Cleo yang sudah memerah.
"Aku akan melakukan dengan lembut kali ini. Apa boleh?"
Cleo mengangguk pelan. Sudah seperti ini, bagaimana Cleo bisa menolaknya. Naoki tersenyum senang, dengan cepat ia melepaskan kaos yang dipakainya lalu membuangnya asal.
__ADS_1