C & N

C & N
Part 75


__ADS_3

Mata kecil Cleo mengerjap menyesuaikan cahaya menyilaukan yang masuk. Ruangan serba putih, dengan bau obat-obatan yang menyengat.


Gadis cantik itu perlahan menggeliat, ia mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan.


"Emh ... Naoki?" Cleo sedikit mengangkat tangan, hendak menyentuh rambut hitam sang suami yang duduk dengan kepala tersandar di tepi ranjangnya.


Ada rasa rindu menyeruak. Namun, rasa sakit masih terasa kala mengingat Naoki bersama dengan wanita lain. Tangan yang semula terulur, ia tarik kembali.


Apakah ia tidak pernah ada di hati Naoki? Lalu bagaimana dengan semua kata sayang yang ia ucapkan? Cleo menatap nanar pada suaminya.


"Anda sudah sadar Nyonya?" Seorang perawat masuk kedalam kamar rawat Cleo, menyadarkan wanita yang sedang hamil muda itu dari lamunannya, ia pun mengangguk lemah.


Perawat itu tersenyum, ia berjalan dan berhenti di sisi kanan ranjang Cleo.


"Apa yang Anda rasakan? Apa terasa pusing? Apa perut Anda terasa sakit?" perawat itu bertanya sambil memasang alat tensi darah di lengan Cleo.


"Sedikit pusing, Suster," jawab Cleo dengan suara serak.


"Baik, sebentar lagi kita akan USG kandungan Nyonya. Sebaiknya Anda jangan terlalu stres Nyonya, sebab itu akan sangat mempengaruhi kandungan Anda." Cleo hanya mengangguk, dia bukan tidak menyadari itu, tetapi ia juga tidak bisa untuk tidak memikirkan masalah yang sedang melanda rumah tangganya.


"Nyonya, Anda sangat beruntung mempunyai suami seperti beliau. Di saat beliau sendiri sedang dalam keadaan sakit, dia mengendong Nyonya ke sini sendiri. Dia bahkan tidak mau berbaring di ranjangnya dan lebih memilih duduk seperti itu," ujar si perawat sambil mengecek slang infus Cleo dan Naoki.


"Dia bahkan sempat menolak saat dokter akan memasang infus untuknya, jika bukan karena ancaman dokter dia mungkin dia juga tidak akan mau."


"Memangnya dokter mengancam bagaimana Suster?" tanya Cleo penasaran.


"Jika dia tidak mau di infus, Dokter Yufan tidak akan memberi dia izin untuk masuk ke kamar ini, hehehe ... Kelihatannya suami Nyonya sangat mencintai Nyonya." Cleo hanya tersenyum tipis, ia melihat kearah tiang infus yang ada di sebelahnya.


Bener kata suster itu, dua kantong infus tergantung untuk dia dan Naoki.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya, maaf jika saya terlalu banyak bicara." Perawat itu tersenyum kemudian berjalan menjauh.


Cleo menatap lekat, Naoki yang sedang tertidur pulas. Ada rasa bahagia sekaligus sedih. Cleo menghela nafas panjang, matanya melihat ke langit-langit kamar. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa benar Naoki mencintainya, atau itu sekedar tanggung jawab saja?


"Baby, mommy harus bagaimana?" tangan Cleo memegangi perutnya yang masih rata. Tatapan matanya kosong, dada yang sesak saat mengingat bagaimana Naoki memeluk wanita lain dengan sayang.

__ADS_1


"Sssh ...!" Cleo mendesis, perut bagian bawahnya serasa di remas-remas.


Naoki terbangun dari tidurnya, saat merasa ada pergerakan dari Cleo. Pria itu mengangkat wajahnya, mata Naoki melebar melihat Cleo yang meringis kesakitan.


"C, Mana yang sakit? Apa perut mu? Ak-aku akan segera memanggil dokter." Naoki bangkit dengan segera ia menekan tombol nurse.


"Bertahanlah, Dokter akan segera datang." Naoki menggenggam tangan Cleo.


Seorang Dokter laki-laki dan dua orang perawat masuk ke kamar Cleo.


"Dokter tolong istri saya,"ujar Naoki dengan bibir bergetar.


"Saya akan melakukan yang terbaik." Dokter muda itu menepuk bahu Naoki, mengisyaratkannya untuk kembali duduk, dan tidak menganggu pekerjaannya.


Setelah dokter memeriksa perawat mendorong ranjang beroda Cleo ke unit radiologi. Naoki sempat ingin mengejar Cleo, tetapi ia di cegah oleh Dokter, karena keadaan Naoki sendiri sedang tidak baik. Dengan terpaksa Naoki, berdiam diri di kamar rawat di sendirian.


"Ya Tuhan tolong selamatkan istriku." Naoki mengusap wajahnya kasar, guratan khawatir tampak jelas dari wajah pria itu.


Satu jam berlalu, Naoki merasa cemas karena tak kunjung mendapat kabar tentang keadaan sang istri.


Pintu kamar terbuka, seorang laki-laki memakai kacamata masuk melangkah mendekatinya. Ekor mata Naoki terus mengikuti gerakan Dokter muda itu. Pria itu berdiri di samping ranjang Naoki, dengan wajah menunduk.


Deg!


Tubuh Naoki menegang, ia menatap Dokter Yufan dengan tak percaya. Baru saja ia tahu kalau sang istri sedang mengandung buah hati mereka, dan sekarang kabar buruk yang ia dapatkan.


" Hahaha ... Dokter bercanda kan," Naoki tertawa dengan kaku, ia sangat berharap apa yang di dengar olehnya adalah bohong semata.


Yufan menggeleng pelan. Naoki menarik kerah almamater Yufan, menatap tajam dengan penuh kemarahan.


"Katakan kalau kau bohong! cepat katakan!" Yufan menggeleng.


Naoki menunduk, cengkraman tangannya mengendur. Naoki mencoba menahan air matanya, ia tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain.


"Bisakah aku menemui Cleo, Dok?" lirih Naoki berucap. Yufan melepaskan tangan Naoki, lalu merapikan bajunya.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia akan di pindah lagi keruangan rawat ini, saya turut berduka." Yufan menepuk pundak Naoki pelan.


"Saya permisi, masih ada hal lain yang harus saya lakukan." Dokter muda berkaca mata itu pergi meninggalkan Naoki dalam kesedihannya.


Kosong, itu yang Naoki rasakan. Baru saja ia merasa bahagia, sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Saat Cleo belum sadar, Naoki sempat berbicara pada calon anaknya yang masih dalam kandungan Cleo.


Ia merasa bersalah karena tidak ada di samping sang istri, ia berjanji akan menjaga Cleo dan bayi mereka. Menjadi suami dan ayah yang siaga. Namun, semua itu tidak akan terjadi.


"Ya Tuhan, begitu cepat kau mengambilnya. Apakah ini hukuman dari -Mu," lirih Naoki.


.


.


.


.


Cleo menatap lurus ke luar jendela, tatapan kosong. Tak ada gairah kehidupan di raut wajahnya. Ia baru saja siuman, setelah proses kuret yang dilakukan dokter setelah ia keguguran.


"C, maafkan aku. Maaf aku mohon maafkan aku." Naoki menggenggam erat tangan Cleo. Entah sudah berapa ribu maaf yang ia ucapkan, tapi tidak satupun kata yang keluar dari mulut sang istri.


"Sayang tolong katakan sesuatu," Naoki terus memohon agar Cleo mau merespon ucapannya.


Naoki mencium punggung tangan Cleo, kemudian mencium lama keningnya. Ciuman yang terasa hambar oleh Cleo. Melihat sang istri yang masih bergeming, dan enggan untuk menatapnya. Naoki pun memeluk wanita yang paling ia cintai itu.


"Maafkan aku,"sekali lagi kata maaf Naoki ucapkan.


Cleo tersenyum getir mendengar ucapan Naoki.


"Apa kata maaf mu bisa membuat dia kembali padaku?" tanya Cleo dingin.


Kalimat yang begitu tajam untuk Naoki, tetapi pria itu senang. Setidaknya Cleo sudah mau bicara.


Naoki melepaskan pelukannya, sedikit menarik dirinya menjauh agar bisa menatap Cleo yang sedang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Aku tahu, seandainya ada yang bisa aku lakukan," ucapnya sendu.


"Ceraikan aku!"


__ADS_2