C & N

C & N
Eps 44


__ADS_3

Sementara itu di rumah besar wang terjadi kehebohan. Alex yang baru saja pulang, setelah melewati malam romantis bersama istrinya, panik karena tidak menemukan Cleo dirumah.


Alex dan Arie pulang pukul sebelas, sedangkan Alex sudah mewanti-wanti Cleo untuk pulang tidak lebih dari jam sepuluh. Namun, sesampainya di rumah, Nining mengatakan kalau Cleo belum pulang.


"Ck, Kenapa tidak di angkat?"


Alex mencoba menghubungi ponsel Cleo. Dengan cemas Alex terus mondar-mandir seperti strikaan.


"Bagaimana Ma? Apa Ipul mengangkat telponnya?" Arie menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa keduanya tidak mengangkat telponnya sama sekali?"


"Sayang, aku takut. Aku takut terjadi sesuatu pada Cleo."


Alex menghampiri istrinya, ia duduk di samping Arie lalu merengkuh tubuh sang istri.


"Kita berdoa saja, semoga semua baik-baik saja." Arie mengangguk kecil.


Bukan tanpa sebab mereka begitu khawatir. Masih jelas diingatan keduanya, bagaimana Cleo dijebak di club. Mereka takut kejadian seperti itu akan terulang.


Suara deru mobil membuat keduanya bergegas bangkit dari duduk mereka, Alex berjalan dengan mengandeng tangan istrinya. Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya, saat melihat mobil yang berhenti didepan bukanlah mobil mereka.


Seorang laki-laki keluar dari dengan, ia kemudian membuka pintu untuk orang yang duduk di belakang. Mata Alex menatap tajam pada pria yang baru saja turun dari mobil, dengan mengendong seorang gadis, ia tahu benar itu adalah putrinya, Cleo.


"Cleo!" pekik Arie ia berhambur mendekati putrinya, Alex pun mengikuti langkah Arie. Air matanya luruh melihat putrinya terkulai lemas dalam dekapan Naoki, wajah Cleo tampak pucat dengan keringat yang membasahi keningnya.


"Dia kenapa? Cleo Kenapa, Ki?" tanya Arie. Naoki diam, ia bingung harus menjawab apa.


"Jawab! jangan diam saja!" bentak Arie dengan emosi.


Alex meraih bahu istrinya, ia mengusap lembut lengan Arie mencoba menenangkan sang istri.


"Kita masuk dulu, biar Cleo.bisa istirahat di kamar," ucap Alex dengan lembut. Arie mengangguk pasrah.


"Bawa Cleo masuk!"


Naoki mengangguk patuh, tanpa banyak bicara ia mengikuti langkah Alex dan istrinya yang sudah mendahuluinya. Andi pun dengan terpaksa mengikuti Naoki, ia tidak mungkin membiarkan sahabatnya menghadapi masalah ini sendirian.

__ADS_1


Alex membukakan pintu kamar Cleo. Naoki berjalan mendekati ranjang kemudian membaringkan tubuh Cleo dengan perlahan. Arie menutupi putrinya dengan selimut, matanya terbelalak saat melihat jejak merah di leher Cleo. Ia sudah sangat hafal dengan benda seperti itu, wanita paruh baya itu mendelik tajam pada Naoki yang berdiri di sampingnya.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pemuda itu, Dada Arie bergemuruh. Nafasnya naik turun menahan amarahnya. Alex sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan Arie. Sementara Naoki, hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Sayang-,"


"Katakan, apa yang sudah kau lakukan pada anakku?!"


Naoki semakin menunduk tanpa berniat untuk menjawab, ia merasa bersalah. Meskipun Naoki tidak merengut kehormatan Cleo, tetapi itu tidak akan mengubah keadaannya sebagai tersangka, apalagi bekas merah di leher Cleo adalah pembuatannya.


"Sayang, apa maksudmu?" tanya Alex bingung.


"Lihat anakmu Pa, lihat apa yang laki-laki perbuatan!" teriak Arie.


Mendengar ucapan istrinya, Alex mendekati putrinya. Dengan seksama ia memperhatikan wajah dan tubuh Cleo, rahang Alex mengeras.


Bugh.


Sebuah pukulan mendarat dengan keras di perut Naoki, membuat pria itu terhuyung kebelakang. Alex menarik kaos Naoki, dengan tajam ia menatap pria yang ada di hadapannya.


Alex menghempaskan tubuhnya dengan kasar, hingga Naoki jatuh terduduk di lantai. Naoki bisa saja melawan, tetapi ia lebih memilih untuk diam sekarang.


Naoki membenarkan duduknya, ia berlutut dihadapan kedua orang tua Cleo. Alex duduk di tepi ranjang, bersama istrinya yang terus menangis menatap Cleo.


"Begini Om, Tante. Cleo dan teman-teman mengadakan pesta perpisahan di Kafe teman saya, dan kebetulan saja juga ada di sana waktu itu. Saya melihat Cleo bersama seorang laki-laki, dia hampir saja diperkosa," tutur Naoki.


"Apa? Siapa yang berani menyentuh putriku." Alex mengepalkan tangannya dengan kuat, hingga buku-buku tangannya memutih.


"Saya juga kurang tahu, dia siapa. Yang jelas saya sudah memberikannya pelajaran. Tapi ..."


"Tapi apa? Cepat katakan Ki?" Kali ini Arie yang bertanya.


"Tapi sepertinya Cleo sudah diberi obat perangsang Tante, Saya tidak tahu sebelumnya sampai saya mengajak Cleo untuk beristirahat di kamar yang ada di kafe itu, .... Lalu kami tanpa sadar melakukannya," ucap Naoki penuh penyesalan.


Alex memejamkan matanya, sebagai seorang ayah ia merasa gagal melindungi putrinya. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa menyalahkan Naoki sepenuhnya.

__ADS_1


"Seharusnya kamu bisa menahan diri kamu, Ki. Kamu seharusnya melindungi Cleo!" Bentak Arie.


"Maaf Tante, maafkan saya." Naoki menunduk dalam, ia sangat menyesali perbuatannya.


"Jadi benar kau yang melakukan itu semua pada Cleo?"


Naoki menjawab dengan anggukan.


"Kau tau, meskipun bukan kau yang memberikannya obat itu pada Cleo. Tapi kau uang yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini?" tanya Alex, ia berusaha untuk bersikap tenang. Meskipun hatinya sedang hancur saat ini.


"Iya Om, saya mengerti."


"Besok datanglah bersama kedua orang tuamu. Siapkan semua berkas, kau dan Cleo akan melakukan akad nikah di sini besok!" tegas Alex.


"Apa Pa? Menikah? Tapi bagaimana dengan Cleo, dia bahkan belum siuman?" cerca Arie.


"Itu efek obat yang disuntikkan dokter Tanye, tadi saya sempat memanggil dokter untuk memeriahkan Cleo," ujar Naoki menjelaskan.


Arie hanya mendengarkan tanpa menoleh pada Naoki, dia masih merasa kecewa karena Naoki benar-benar melakukan hal itu pada Cleo. Naoki kembali diam, Arie yang biasanya begitu ramah kini bersikap dingin padanya.


"Papa, tau tapi kita harus melakukan ini secepat. Besok setelah keluarga Naoki datang kita akan membahasnya," ucap Alex menjelaskan.


"Terserah Papa."


"Om, Tante. Naoki pamit pulang."


"Hem," jawab Alex.


Perlahan Naoki bangkit dari duduknya, dengan langkah gontai ia keluar dari kamar Cleo. Sebelum berlalu, Naoki melirik sekilas wajah Cleo yang terlelap.


"Maafkan aku C," gumam Naoki sembari menutup pintunya perlahan.


"An, tolong anterin gua pulang, bisakan?" tanya Naoki pada sahabatnya yang berdiri di luar kamar, karena Alex tidak membiarkannya masuk.


"Siaplah, gimana tadi di dalem?" tanya Andi, melihat satu pipi sahabatnya yang memerah sudah pasti ia mendapatkan.cap tangan dari orang tua Cleo.


"Ya begitulah, besok gua balik kesini bawa orang tua gua."

__ADS_1


Andi menepuk bahu sahabatnya. " Yang sabar ya Bray."


Naoki hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatku, di satu sisi Naoki senang bisa menikah dengan Cleo. Namun, di sisi lain Naoki kecewa pada dirinya. Apa yang diucapkan Mama Cleo benar, seharusnya dia lebih bisa menahan dirinya, seharusnya ....


__ADS_2