C & N

C & N
Eps 36


__ADS_3

Cleo menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia menghela nafas panjang. Hari ini benar-benar melelahkan baginya, sungguh ia tidak pernah berfikir widya akan tega melakukan hal seperti itu pada dirinya. Apa sebenarnya motif di balik perbuatannya itu?


Cleo membalikkan badannya, terlentang menatap langit-langit kamar yang ia tempati saat ini. Ukurannya tidak begitu besar, tidak seperti kamarnya di rumah. Ada sebuah lemari, meja rias dan ranjang yang cukup nyaman untuk ia tempati. Selama.di rumah asuh cleo tidur di tempat yang di sediakan untuk para pengasuh dan pegawai di rumah asuh itu. Di sini cukup menyenangkan baginya, ia tidak merasa sedang menjalani hukuman sama sekali. Namun, terkadang cleo rindu mengendarai sepeda motor maticnya.


"Kenapa semuanya jadi begini, rumit. Dah lah capek mending aku mandi aja," gerutu cleo dengan tidak jelas.


Cleo bangkit dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan baju ganti. Kamar mandi di pakai bersama di luar kamar, cleo tidak keberatan dengan itu.


Dengan langkah kecil ia keluar dari kamar, melewati lorong kamar menuju belakang. Beberapa kamar mandi berjajar di belakang, tiga mesin cuci dan tempat menjemur pakaian. Cleo masuk kesalahan satu bilik kamar mandi yang kosong.


Setelah selesai membersihkan diri dan memakai baju ganti, cleo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang mengelung di rambutnya. Baru saja cleo melangkah keluar saat seorang memanggil namanya.


"Astaga Cleo, kakak cariin kemana-mana ternyata lagi mandi to!"


"Emang ada apa Kak Bela nyariin cleo?"


"Ada tamu tuh," jawab bela.


Cleo menyatukan kedua alisnya. Dia dilarang menerima tamu oleh papanya, kenapa bela masih mengizinkannya masuk?


"Kak bela kan tau, cleo nggak boleh nerima tamu sama papa. Suruh pergi aja deh Kak," ucap cleo.


"Heh, ini lain dia dikasih izin khusus sama bunda arie. Udah cepatan siap-siap, dia udah nungguin kamu di ruang tamu." Bela mendorong tubuh cleo, agar gadis kecil itu bergegas ke kamarnya.


"Ish ... Kak bela, aku bisa jalan sendiri kok." Cleo melangkahkan kakinya lebar.


"Sapa sih yang dateng, gangguin orang aja," gerutu cleo kesal.


Setelah merapikan dirinya, cleo bergegas ke ruang tamu. Ia sungguh penasaran dengan orang yang berani menganggu rencananya untuk tidur sebelum makan siang.


Seorang laki-laki tampan duduk di sofa dengan kaki menyilang. Kepalanya tertunduk fokus pada ponselnya, memakai kaos berwarna hitam di padu dengan celana jeans panjang, rambutnya yang hitam kulit putih dengan hidung mancung. Sungguh perpaduan yang sempurna.


"Kamu rupanya, ngapain kesini?" tanya cleo ketus.


Naoki mendongakkan wajahnya, ketika mendengar suara khas milik seseorang yang begitu memekikkan telinganya.


"Mau ngapelin calon istriku," jawab naoki singkat.

__ADS_1


"Calon istri, siapa juga yang mau jadi istri kamu. Nggak usah mimpi Bapak Beruang yang terhormat," tukas cleo, ia kemudian berjalan mendekati naoki lalu mendudukkan dirinya di pojok sofa.


"Kamu lupa, aku udah cium kamu, liat itu kamu dan yang paling penting aku sudah melamar kamu pada om alex."


Wajah cleo bersemu merah, matanya mendelik sebal pada naoki. Sungguh sangat sial semua yang naoki katakan adalah benar. Naoki tersenyum tipis ia sungguh suak saat cleo tersipu seperti ini.


"Au ah, aku juga belum jawab."


"Kalau begitu beri aku jawaban sekarang. Atau ...."


"Atau apa?"


"Atau kau akan jadi perawan tua selamanya."


"Ish ... amit-amit, kalau ngomong tuh di jaga. Enggak nikah sama kamu juga masih banyak yang ngantri tau, emang kamu jomblo abadi. Kamu ngajak aku nikah karena takut nggak laku kan, kesepian di hari tua ...oh sungguh kasihan."


"Kamu bilang apa?! aku jomblo abadi nggak salah bukannya kamu yang jomblo karatan," ujar naoki.


"Enggak lah, aku sudah punya pacar. Makanya nggak usah ngarep nikah sama aku. Cari aja kambing buat kamu ajakin nikah." Cleo bangkit dari duduknya, entah kenapa ia selalu seperti itu saat berhadapan dengan naoki.


Naoki mengerutkan keningnya, ia belum pernah tahu ataupun mendengar kalau mempunyai seorang pacar. Mendengar itu membuat naoki merasa marah, sorot matanya menajam.


"Eit, mau kemana?" Naoki memegangi tangan cleo, menahannya agar tidak pergi. Sorot matanya tajam menatap netra bening cleo yang menoleh kearahnya.


"Su-sudah siang." Cleo memalingkan wajahnya, memutuskan pertemuan mata mereka. Sungguh cleo tidak bisa menatap mata naoki saat seperti itu, jantungnya merasa tidak nyaman.


"Aku harus membantu mbak susi masak," kilah cleo. Dia sebenarnya hanya ingin menghindari naoki.


"Aku bantu." Cleo menoleh lagi.


"Apa? mau bantu, emangnya kamu bisa masak?" tanya cleo.


"Kau meremehkan aku."


"Bukan seperti itu, tapi aku nggak pernah lihat kamu masak."


Lagi pula aku juga nggak bisa masak, gimana kalau naoki tahu aku cuma bohong.

__ADS_1


"Kenapa diam? ayo cepat ke dapur. Kasian anak-anak pasti sudah lapar."


"Emh .... I-iya." Cleo dengan terpaksa membawa naoki ke dapur bersamanya, dengan perasaan ketar-ketir.


Sesampainya di dapur cleo tidak menemukan mbak susi, tukang masak yang berkerja di rumah asuh.


"Pak Adi, mbak susi kemana? kok nggak kelihatan? bukannya sudah waktunya masak buat makan siang ya?" tanya cleo pada tukang kebun yang kebetulan sedang mengambil minum di dapur.


"Mbak Susi tadi izin, anaknya sakit jadi kesini agak siangan," jawab adi.


"Sakit apa anaknya?" tanya cleo cemas.


"Demam katanya."


"Kalau begitu Pak Adi tolong kasih tau pak pras untuk ke rumah mbak susi, antar anak mbak susi periksa ke rumah sakit. Bilang juga Mbak Susi cuti dulu sampai anaknya sembuh, nanti biar saya yang mengantikan masak," perintah cleo.


"Baik Non." Adi bergegas meninggalkan dapur untuk menemui pras, sopir yang berkerja di sana.


Naoki tersenyum, ia selalu di buat kagum oleh sikap cleo yang sangat perhatian pada orang di sekelilingnya.


"Emang kamu yakin bisa masak?" tanya naoki dengan berbisik di belakang telinga cleo.


Cleo terkejut, ia lupa ada mahluk hidup lain yang berdiri di belakang.


"Bisalah, kamu mau bantu nggak? Kalau nggak mending diem aja deh!" ketus cleo untuk menutupi kegugupannya.


Bisa nggak sih jangan deket-deket. Nih jantung dah mau copot tau, keluh cleo dalam hatinya.


Cleo berjalan menuju lemari pendingin, sejenak ia melihat catatan yang tertempel di pintu pendingin itu.


"Menu siang ini, sayur sop ayam dan tempe goreng," gumam cleo.


Ia kemudian mulai membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan-bahan yang dia perlukan.


"Seperti ini cukup, tapi bener nggak ya?"


Naoki duduk di atas meja dapur, mengamati tiap gerakan tubuh yang dilakukan cleo.

__ADS_1


"Gadis itu cantik juga kalau lagi serius," gumam Naoki.


__ADS_2