C & N

C & N
Eps 33


__ADS_3

Bram sangat bersemangat pergi berkerja. Sesuai dengan kontrak kerja yang baru ia tanda tangani, bram akan pindah ke kantor pusat dan menjadi salah satu kepala bagian di sana.


Dengan langkah pasti ia turun dari mobilnya, dengan pongah ia melangkah memasuki gedung besar bertingkat itu. Vino menatap pria paruh baya itu dengan tatapan remeh, ah dia seperti narapidana yang siap di eksekusi oleh vino.


Vino berjalan mendekat dengan senyum ramah yang tersungging di bibirnya.


"Selamat pagi Pak Bram, saya tidak menyangka Anda datang sepagi ini," sapa vino ramah.


"Selamat pagi Tuan, saya sengaja datang lebih pagi agar bisa secepatnya berkerja," jawabannya dengan bangga.


Vino tentu saja tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.


"Wah ...wah saya sungguh terkesan dengan loyalitas Anda, tidak salah tuan alex memindahkan Anda ke kantor pusat ini. Mari silahkan masuk, saya di tugaskan khusus oleh tuan alex untuk menyambut Anda." Vino membalikkan badannya, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Mendengar ucapan vino, bram semakin mendongakkan kepalanya. Tuan alex pasti sangat menyukainya hingga menyuruh tangan kanannya langsung untuk menyambutnya. Jika di ibaratkan, kepala bram sudah seukuran dua kali bola sepak, saking bangganya.


Sampai di sebuah patri, vino meminta bram untuk menunggunya. Bram pun menurut, ia berpikir pasti ruangan kerja miliknya masih dibersihkan, karena bram datang terlalu pagi.


Tak berapa lama, vino kembali dengan membawa sebuah baju. Ia kemudian menyerahkannya pada bram.


"Ini seragam khusus kantor pusat. Silakan menggantinya, semoga ukurannya pas dengan tubuh Anda," ucap vino sambil melirik perut buncit bram.


"Apa saya harus memakainya?" tanya Bram, ia menerima baju tersebut dengan raut wajah bingung.


Jujur saja ia belum pernah mendengar tentang seragam ini, bahkan di kantor cabang juga tidak ada seragam khusus seperti ini. Melihat raut wajah bram yang ragu dan bimbang, vin mencoba meyakinkannya.


"Sebaiknya Anda segera memakainya, saya masih ada meeting setelah mengantarkan Anda!" tegas vino.


"Baik." Bram pun segera pergi ke kamar mandi untuk memakai baju yang di berikan oleh vino. Vino tersenyum puas.


Setelah menganti bajunya bram segera keluar dari kamar mandi. Beberapa OB tanpa sudah datang dan menyiapkan pekerjaan mereka di pantry. Mereka melihat bram dengan senyum, bram hanya acuh ia kemudian berjalan mendekat kearah vino.


"Syukurlah ternyata ukurannya pas," ucap vino.


"Diki!"

__ADS_1


"Siap Pak," jawab seorang laki-laki bertubuh tegap dengan raut wajah yang garang.


"Ikut saya," titah vino.


"Baik Pak," jawab dimas singkat.


"Pak Bram, ayo saya akan mengantarkan Anda ke tempat yang telah di siapkan Tuan Alex." Bram mengangguk kecil.


Ketiga pria itu berjalan menuju lantai empat. Dimas terus menatap kearah bram yang berjalan di depannya. Bram merasa tidak nyaman karena tatapan Dimas yang begitu mengintimidasi, tetapi ia juga tidak berani bicara karena ada vino bersama mereka.


Sampai di depan sebuah toilet vino menghentikan langkahnya. Ia kemudian membalikkan badannya hingga vino bertatap muka dengan bram dan dimas.


"Pak bram, ini adalah tempat kerja Anda," ucap vino datar ekspresi wajahnya sudah tak seramah saat menyambut bram.


Bram melongo keheranan, seketika raut wajahnya berubah memerah. Toilet? ini guyonan yang sama sekali tidak lucu. Bukankah tuan alex menjadikannya kepala bagian? kenapa dia malah di suruh berkerja di toilet?


"Tuan sangat lucu, bagaimana saya bekerja di sini,"ujar bram, ia menganggap ucapan vino hanyalah bualan semata.


Vino tersenyum miring.


"Bukankah saya di sini akan menjabat sebagai kepala bagian?"


"Apa? Apa maksud Tuan?" tanya bram dengan tergagap, ia sangat terkejut dengan apa yang keluar dari mulut vino.


"Masih kurang jelas, kamu bertanggung jawab atas kebersihan toilet di seluruh gedung ini, dan apa kau pikir tuan alex benar-benar terkesan dengan perkerjaanmu di kantor cabang, beliau tahu semua kebusukan yang kalau lakukan bersama atasanmu tio. Kau bernasib lebih baik Bram, tuan alex hanya menurunkan jabatan mu jadi petugas kebersihan. Kau tau tio sekarang di mana?"


Bram menelan salivanya kasar, wajahnya pucat pas menatap vino dengan ketakutan. Ia menjawab pertanyaan vino dengan gelengan kepalanya.


"Dia berada di tempat yang lebih buruk daripada penjara, aku rasa dia sudah memohon untuk ke matiannya sekarang. Kalian sudah menggali kuburan untuk kalian sendiri, terlebih putrimu," ujar vino dengan seringai yang menyeramkan.


"Dimas awasi perkerjaannya, pastikan dia membersihkan toilet di lantai ini sampai basemen," titah vino.


"Dengan senang hati Pak Vino."


Vino kemudian meninggalkan bram dengan perkerjaan barunya. Sementara bram mulai tersiksa dengan perkerjaan barunya. Di rumahnya terjadi kehebohan yang lain.

__ADS_1


"Siapa kalian? berani- beraninya bikin onar di rumahku!" bentak linda pada dua orang laki-laki berpakaian serba hitam yang ada di teras rumahnya.


"Kami pihak bank yang akan menyita rumah ini," jawab salah satu dari mereka.


"Enak aja, rumah ini baru lunas. Di sita gimana?!" tukas linda tak mau kalah.


Widya dan sam hanya bisa dia memperhatikan mama mereka bersitegang dengan pihak bank, mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.


Alex yang merasa tidak tahan akhirnya turun dari mobilnya. Ia berjalan dengan dua pengawal di belakangnya.


"Tuan Alex," linda berucap dengan gagap, ia sangat terkejut melihat alex yang tiba-tiba keluar dari dalam mobil.


"Apa saya boleh masuk?"


"Ah ... tentu Tuan silahkan."


Alex pun masuk bersama dua pengawalnya, di ikuti oleh dua pihak bank yang tadi bersitegang dengan linda. Alex mendudukkan dirinya di sofa, sementara empat orang tadi berdiri di belakangnya. Linda duduk bersama kedua anaknya di sofa yang berhadapan dengan alex.


"Tu-Tuan ingin minum apa? Biar saya siapkan?" tanya linda berusaha sopan.


"Tidak perlu, aku hanya sebentar." Linda mengangguk mengerti.


"Aku memberimu waktu sampai sore hari untuk mengosongkan rumah ini!" tegas alex dengan sorot mata tajam.


"Tapi, kenapa Tuan ini rumah saya, saya dan suami yang membelinya," linda memberanikan dirinya untuk bicara.


"Untuk apa? Tentu saja untuk mengembalikan uang perusahaan yang digelapkan suamimu!" jawab alex dengan nada tinggi.


Linda terjingkat, ia menundukkan kepalanya sambil meremas baju yang di pakainya. Ia tidak menyangka alex akan mengetahui hal ini. Sementara itu widya tampak shock saat mendengar ayahnya adalah tukang korupsi, beda dengan sam yang terlihat santai seperti ia sudah tahu hal ini sebelumnya.


"Kau, Widya bukan?" tanya alex tiba-tiba.


"I-iya Tuan," jawab widya takut-takut.


"Kau remaja yang berani, aku salut padamu."

__ADS_1


Widya mengerutkan keningnya mendengar ucapan alex.


"Kau berani berhadapan denganku!" sentak alex dengan suaranya yang meninggi.


__ADS_2