
Setelah mengambil obat dan vitamin di farmasi, Cleo melangkahkan kakinya menyusuri lorong di mana ia melihat suaminya. Dia sangat yakin itu Naoki, walau dia hanya melihat sekilas.
Ruangan demi ruang ia lewati, dia masih tidak menemukan Naoki. Cleo hampir menyerah. Namun, ia memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Sekalian jalan-jalan, meskipun hanya keliling rumah sakit pikir Cleo. Dia sudah mengatakan pada dirinya sendiri kalau Cleo salah lihat, mungkin karena terlalu rindu dan ingin segera menyampaikan kabar baik ini.
"Hem, Mommy salah Sayang. Mana mungkin Daddy ada di sini, Daddy kan di Jakarta ya. Mungkin dia akan pulang nanti malam," gumam Cleo lirih sambil mengusap perutnya.
Dia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, Cleo melewati lorong tempat para bayi di tempatkan. Calon ibu muda itu berhenti sejenak, ia menatap gemas pada para bayi begitu imut dan menggemaskan itu.
Sebuah senyum tersungging di bibirnya, tangan Cleo tak henti mengusap perut.
"Kau pasti sangat lucu dan cantik Sayang, atau ganteng. Mommy nggak sabar nunggu kamu tumbuh besar dan ada dalam gendongan Mommy."
Setelah puas melihat bayi-bayi mungil itu, Cleo Kembali melangkah. Ia hanya mengikuti kemana kakinya menuntun. Ia bahkan naik ke lantai tiga tempat ruang VVIP, entahlah dia hanya iseng ingin jalan-jalan saja.
Cleo berjalan santai sambil bersenandung kecil, sampai dia mendengar suara seseorang yang ia kenal. Cleo memelankan langkah kakinya, dengan perlahan dan mengendap-endap Cleo mendekati sebuah pintu ruang rawat yang tidak tertutup dengan baik. Cleo tahu itu sangat tidak sopan untuk mengintip orang seperti ini, tetapi suara itu Cleo mengenalinya. Celah pintu tidak begitu lebar, tapi cukup untuk Cleo melihat ke dalam rumah dengan jelas.
Mata Cleo terbelalak, saat melihat seorang laki-laki memeluk erat tubuh wanita yang sedang duduk di ranjang pasien. Mata Cleo memanas, apa yang Naoki lakukan di tempat ini? Siapa wanita itu? Kenapa mereka berdua berpelukan begitu erat sambil menangis?
Banyak pertanyaan yang berjubel di otak Cleo, haruskah dia masuk dan bertanya langsung pada suaminya, atau tunggu sampai di rumah saja. Saat Cleo memutuskan untuk melangkah masuk, kakinya tertahan mendengar sebuah ucapan yang keluar dari mulut Naoki.
"Maafkan aku Rin, aku tidak bisa menjagamu?"
Deg.
Kenapa Naoki minta maaf pada wanita itu? kenapa Naoki harus menjaganya?
Tanpa sadar Cleo meremas amplop putih yang ia pegang. Seperti hatinya, yang terasa sakit mendengar ucapan Naoki untuk wanita itu.
Wanita yang dipeluk Naoki, menggeleng, dia seperti mengatakan sesuatu. Namun, Cleo tidak bisa mendengar dengan jelas, karena dia berkata dengan lirih.
"Mereka akan datang sebentar lagi. Aku merindukanmu Rin, aku berjanji akan selalu menjagamu," ucap Naoki tulus. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
Rindu? Menjaga? dua kata ini. Sudah cukup jelas untuk Cleo. Cleo mengambil nafas dalam, dia dikejutkan sebelum dia memberi kejutan untuk Naoki.
Cleo mundur beberapa langkah menjauh dari tempat ia berdiri. Bulir bening yang ia coba tahan, terus mendesak untuk keluar. Cleo berjongkok menutup mulut dengan telapak tangannya. Cleo menangis tanpa suara, sesak. Itu yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
Cukup Ki, semuanya sudah cukup. Kita memang sudah tidak bisa bersama lagi.
Cleo larut dalam tangis tanpa suara, tubuhnya bergetar hebat meringkuk di antara lalu lalang para tenaga medis dan pasien. Cleo tak perduli bagaimana orang lain melihat dia, yang Cleo tahu. Hatinya begitu sakit sekarang.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang suster.
Tangan Cleo bergerak cepat mengusap air matanya, ini bukan tempat yang tepat untuk menangisi nasibnya.
"Sa-saya baik-baik saja," jawab Cleo.
"Apa Anda yakin, Nona?" tanya suster itu lagi.
"Iya, saya yakin. Saya hanya harus segera pulang."
Cleo bangkit di bantu oleh suster itu, sebuah senyum getir tersungging di bibir Cleo. Bahkan saat ia rapuh seperti ini, orang lain lebih perduli padanya dari pada suami Cleo sendiri.
"Terima kasih Suster."
Cleo melangkah cepat meninggalkan suster itu. Air mata Cleo tak bisa ia bendung lagi, bagaimanapun Cleo mencoba cairan bening itu terus keluar tanpa izinnya.
Begitu lift terbukaCleo berjalan begitu cepat dan tergopoh-gopoh, dia sempat menabrak beberapa suster yang sedang bertugas. Cleo sungguh kacau saat ini.
Naoki yang baru keluar dari lift, memicingkan matanya saat melihat sosok wanita yang berjalan begitu cepat agak jauh di depan.
"Cleo," gumam Naoki.
Dia yakin wanita ceroboh yang berjalan cukup jauh di depannya adalah istri kecilnya. Naoki mempercepat langkahnya. Ia berusaha mengejar langkah Cleo.
"Sedang apa dia di sini?" tanya naoki pada dirinya sendiri.
Cleo menghapus air matanya dengan kasar. Ia melangkahkan kakinya cepat menuju parkiran rumah sakit. Baru saja ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa sebelum akhirnya dihempaskan begitu saja oleh suami.
Cleo segera memakai helmnya full face miliknya. Ia kemudian segera naik dan memacu motor matik miliknya dengan kencang. Naoki menghentikan langkahnya, ia terlambat menyusul, Cleo sudah melaju kencang meninggalkan rumah sakit.
Naoki hanya menatap punggung istrinya yang sudah berlalu.
__ADS_1
"Apa dia sakit? perasaan di rumah tadi nggak kenapa-kenapa," ucap Naoki. Pagi buta Naoki memang sempat pulang untuk membersihkan diri.
Karena melihat Cleo yang tidur lelap ia tidak berani membangunkan, lagi pula dia juga harus bergegas pergi ke rumah sakit lagi.
Laki-laki berdiri terdiam bagaimana patung selamat datang di depan rumah sakit, ia memikirkan alasan sang istri bisa berada di rumah sakit.
"Ki, ngapain kamu di sini?"
Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Naoki dari lamunannya. Ia pun menoleh ke arah samping seorang pria paruh baya memakai kemeja berwarna biru, berdiri di samping bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.
"Eh, ...nggak ngapa-ngapain kok, Naoki mau beli sarapan buat karina," jawab Naoki.
"Jadi beneran adik kamu sudah ketemu, Nak?" tanya Siska dengan penuh harap.
Air matanya sudah menggenang, wanita paruh baya itu sudah tidak bisa menahan rasa rindu pada putri kecilnya.
Naoki menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Oh... Terima kasih Tuhan, ayo Ki. Bawa Mama pada putri kecil Mama Nak." Siska menarik tangan Naoki dengan tidak sabar.
"Sabar, Ma. Naoki bilang dia mau membeli sarapan untuk putrimu, biarkan dia pergi sebentar," ujar Tama menenangkan istrinya.
"Sabar gimana Pa, kita sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Mama ..." Siska tidak kuasa meneruskan ucapannya. Tangisnya tumpah seketika.
"Sstt tenang Ma. kita akan ke kamar Karina biar Naoki pergi beli sarapan, ok." Tama segera memeluk istrinya.
"Ki, di kamar berapa adik kamu?" tanya Tama sambil menenangkan sang istri.
"VVIP nomer empat Pa," jawab Naoki singkat
"Ok, kamu pergi aja beli sarapan. Aku sama Mamamu akan langsung ke sana."
"Iya Pa." Naoki langsung mengayunkan langkahnya, menjauh.
Sedangkan pasangan yang tidak lagi muda itu, berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Mereka menaiki lift untuk naik ke lantai tiga tempat ruang rawat karina.
__ADS_1