
"Bagaimana keadaannya?" guratan cemas terlihat jelas di wajah Cleo yang pucat.
"Dia mengalami hipotermia ringan, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Dia hanya perlu istirahat," jawab Yufan, laki-laki berkacamata itu mengatur jalannya cairan infus untuk Naoki.
"Syukurlah." Cleo memejamkan matanya, hatinya merasa lega tidak terjadi sesuatu yang serius pada suaminya.
Melihat itu Yufan tersenyum kecut, kesempatan untuk mendekati Cleo menjadi semakin kecil dengan kehadiran sang suami. Namun, Yufan tak ingin menjauh dari Cleo, setidaknya ia bisa turut menjaga Cleo sebagai teman.
"Terima kasih Dokter, maaf menganggu Anda."
Yufan mengerutkan keningnya. " Kita temankan, untuk apa kau bicara terima kasih?" Cleo hanya tersenyum.
"Ya Tuhan, aku sampai lupa menawarkan minum, Anda ingin minum apa?"
"Tidak usah repot-repot, aku harus segera kembali ke rumah sakit," jawabnya, melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sekali lagi maaf sudah merepotkan, terima kasih."
"Jangan hanya terima kasih, ingat untuk transfer," goda Yufan yang sukses membuat senyum Cleo merekah.
"Kau beruntung kawan," lirih Yufan pada Naoki yang masih terpejam.
Cleo mengantarkan Yufan sampai ke depan, meskipun Yufan menolak. Setelah sang Dokter pergi, Cleo kembali menemani Naoki di kamar.
Pagi yang sangat mengejutkan. Cleo begitu terkejut saat melihat orang yang memencet bel adalah Naoki. Keduanya mematung saat berhadapan, air mata Cleo menetes tanpa permisi. Rasa rindu yang masih berselimut kabut kemarahan menyesakkan dada Cleo.
Saat tangan pucat Naoki terulur mengusap cairan bening yang membasahi pipi Cleo. Pria itu ambruk, Cleo menjerit meminta tolong pada siapapun yang mendengar.
Tetangga Cleo yang notabenenya adalah anak buah Alex dengan sigap membantu.
"Kenapa kau datang Ki, kenapa?" Cleo menunduk, air matanya berdesakan untuk keluar. Gadis itu menunduk, rambutnya yang tergerai menutupi wajah lentik nan pucat itu.
"Kenapa kau menangis?" lirih terdengar suara Naoki bertanya padanya, Cleo mengusap air matanya dengan kasar, memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kau sudah sadar, aku kan membuatkan sesuatu untukmu," ucap Cleo tanpa melihat kearah Naoki, ia tidak ingin sang suami melihat air matanya.
Naoki menahan halus tangan Cleo.
"C, apa kau baik-baik saja di sini?" Cleo tersenyum getir, baik. Dia jauh dari kata itu.
__ADS_1
Diam Cleo membuat Naoki semakin merasa bersalah, dia tau Cleo sangat marah sekarang.
"C, aku ingin -
"Akan aku buatkan sesuatu, makanlah setelah itu baru kita bicara," potong Cleo cepat. Naoki pun mengalah ia melepaskan tangan Cleo, membiarkan wanita tercintanya berlalu dari pandangan.
Naoki menatap langit-langit kamar Cleo, senang rasanya bisa melihat Cleo lagi. Tak berapa lama Cleo kembali dengan semangkuk bubur hangat.
"Makanlah." Cleo menyodorkan nampan dengan semangkuk bubur, tanpa berniat mendekat.
Naoki berusaha untuk duduk, tubuhnya masih terasa lemas. Cleo berusaha menahan diri untuk tidak membantu sang suami, wanita itu masih kesal.
"Tidak bisakah kau mendekat Sayang, aku belum kuat jika harus berjalan kearah mu," ucap Naoki. Cleo mendekat, ia kemudian menaruh nampan dipangkuan Naoki.
"C, duduklah temani aku. Aku mohon." Wajah Naoki sangat memohon agar Cleo mau ada di dekatnya. Meskipun marah, jujur saja Cleo juga sangat merindukan Naoki, apalagi kehamilannya membuat Cleo semakin ingin dekat dengan sang suami.
Cleo duduk ditepi ranjang dengan tatapan lurus ke depan. Ia takut jika melihat Naoki, di tidak bisa menahan air matanya lagi. Naoki tersenyum, dengan cepat ia menghabiskan bubur buatan Cleo.
"C, kita harus bicara," lirih Naoki, Cleo bergeming. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Naoki mengambil nafas dalam sebelum mulai bicara lagi.
Sang Papa sudah memberi tahu Cleo tentang hal itu, terapi ada hal lain yang membuat Cleo sedih.
"Aku tahu," jawab Cleo datar tanpa melihat Naoki. Mata Naoki melebar, mendengar ucapan Cleo.
"Jika kau tahu, kenapa kau masih marah?" Cleo tersenyum getir, ia menoleh melihat sang suami dengan sebuah tatapan yang sulit diartikan.
Cleo bangkit, meninggalkan Naoki sendiri. Naoki tak tinggal diam, dia tidak ingin kesalahan pahaman terus berlanjut dalam rumah tangga mereka.
Naoki mencabut jarum infus dengan kasar, darah mengalir deras dari punggung tangannya. Meski masih lemah, Naoki berusaha untuk turun dari ranjang dan mengejar Cleo.
Naoki menarik lengan Cleo dengan kasar untuk menghentikan langkahnya menjauh. Dengan terpaksa Cleo berhenti, ia tau tidak mungkin ia bisa melepaskan tangan Naoki yang memegangnya dengan begitu erat.
"C, aku nggak tau apa yang bikin kamu marah selain video itu, sampai ninggalin rumah. Ninggalin surat cerai buat aku. Aku benar-benar nggak ngerti apa mau kamu sebenarnya? tolong jangan diam seperti ini."
Cleo masih diam, hatinya mencelos mendengar ucapan sang suami. Kenapa naoki harus menyusulnya jika ia bahkan tidak tahu letak kesalahannya, bagaimana Cleo sakit dengan semua tingkah lakunya selama ini.
"C, aku bicara sama kamu. Tatap aku C!" Naoki membalikkan tubuh Cleo hingga mereka berhadapan.
__ADS_1
Wanita itu menatap tajam pada Naoki, tatapan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Sebuah amarah yang terbalut rasa kecewa yang begitu dalam tersirat dalam dari sorot matanya.
"Kalau kamu nggak ngerti, nggak usah kejar aku terus. Aku capek, lebih baik kamu pulang, bukannya ada orang lain yang udah nungguin kamu," tukas Cleo dengan suaranya yang bergetar. Sekuat tenaga cleo menahan dirinya agar tidak menangis, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Naoki.
"Apa maksudmu? aku nggak ngerti?"
" Siapa wanita yang kamu temui di rumah sakit, dia kekasihmu kan. Kamu udah janji bakalan jagain dia, udah kamu pulang sana. Berhari-hari kamu ninggalin aku, di saat aku butuh kamu. Kamu malah nemani dia, silahkan jika itu pilihan kamu. aku nggak akan mau jadi orang ketiga diantara kalian, tinggalin aku Ki!" Wanita cantik itu akhirnya mengeluarkan semua uneg-unegnya, sekuat tenaga Cleo berusaha untuk tidak menangis.
"Kau tau Ki, aku istrimu, bukan pispot tempatmu membuang sp3rm4!" sentak Cleo dengan air matanya yang tak bisa terbendung lagi. Hatinya begitu sakit saat melihat Naoki bermesraan dengan wanita lain, saat Cleo butuh dia di sisinya.
Hatinya kembali teriris mengenang saat Cleo dengan jelas melihat suaminya mencium pipi wanita cantik itu. Luka yang selama ini coba ia sembuhkan kembali terasa perih dan berdarah.
Naoki terdiam, ia mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Cleo. Sejenak Naoki, ia teringat hari dimana ia melihat Cleo di rumah sakit.
"Mungkinkah yang kau lihat itu-
"Apa? kau pikir aku bodoh.Kau bisa membodohi aku, selingkuh dengan nyaman tanpa aku tau," sela Cleo.
"Dia adikku C, aku-
"Aku tidak peduli dia adikmu atau pel"cur yang kau tiduri. Aku nggak perduli!"
"Tutup Mulutmu!" Naoki mengangkat tangannya ke udara, mendengar Cleo berucap tidak pantas tentang adiknya.
Sebuah senyum getir tersungging di bibir Cleo, Naoki bahkan Meninggikan suara dan bersiap memukulnya demi wanita lain. Sungguh ironis sekali hidup Cleo, Cleo menatap suaminya dengan rasa kecewa yang teramat dalam.
Naoki membeku, ia menurunkan tangan yang bergetar hebat. Ia sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti istrinya. Itu hanya refleks.
"C, maafkan aku," ucap Naoki dengan tergagap. Ia sungguh menyesal melakukan hal itu.
Cleo tak mengucapkan sepatah katapun. Ia melangkah menjauh dengan air matanya yang mengalir tanpa suara. Belum sempat Cleo melangkah jauh, tangan Naoki menahannya. Cleo memberontak, ia menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman naoki
"C, aku mohon maafin aku," ucap Naoki dengan penuh penyesalan.
Cleo sudah tak bisa lagi berkata. Lidahnya terasa kelu, hatinya teramat sakit saat ini. Naoki bersimpuh sambil terus memegangi kaki istrinya. Naoki sadar, ia tidak bisa kehilangan Cleo, ia sudah sangat keterlaluan.
"C, pukul aku, maki aku, jangan diam seperti ini. Percayalah aku tidak pernah melakukan perselingkuhan itu. Dia benar-benar adikku, maafkan aku yang belum sempat menceritakannya," Naoki mencoba menjelaskan.
Namun, Cleo sudah tidak ingin mendengarkan apapun saat ini. Cleo hanya diam tanpa suara, membeku bagai patung tak bernyawa, sesaat kemudian tubuh mungil itu limbung.
__ADS_1
"Cleo!" pekik Naoki.