
Hari berganti hari, Naoki masih tidak putus asa untuk menghadap sang Ayah mertua. Hari ini mungkin hari keberuntungannya, setelah berlutut setiap malam di depan kamar Alex.
"Ini, jangan buat aku kecewa lagi!" tegas Alex sambil menyodorkan sebuah tiket pesawat kemuka Naoki.
Naoki yang semula tertunduk, menegakkan kepalanya perlahan.
"Terima kasih, Pa," hanya itu yang mampu Naoki ucapkan sambil menatap wajah Alex dengan penuh rasa syukur.
"Cih, jangan berterima kasih dulu. Aku melakukan ini karena sudah muak melihat wajah melas mu, cepat pergi. Pesawatmu akan berangkat sebentar lagi." Alex meninggalkan Naoki, ia kembali ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Naoki menatap secarik kertas yang di pegangannya, matanya membulat sempurna saat melihat jadwal penerbangan yang terpampang di sana. Naoki bergegas bangun, dengan tertatih ia berusaha berlari untuk segera pergi ke bandara. Berlutut sepanjang malam, membuat kakinya mati rasa. Namun, Naoki tidak ingin menyia-nyiakan waktunya, ia memaksakan kaki untuk melangkah, dia harus bertemu dengan Cleo secepatnya.
"Kau sudah memberi tahu Naoki, Sayang?" tanya Arie, sambil mengusap lembut rambut lebat sang suami, yang tengah berbaring manja dipangkuanya.
"Hem."
"Good job." Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Alex.
Alex tersenyum kecil, ia sangat suka saat-saat seperti ini bersama Arie. Tidak setiap hari, mereka bisa memadu kasih seperti ini, Alex sangat sibuk di kantor. Karena tidak ada yang membantunya, Alex tidak ingin memaksa Cleo untuk meneruskan bisnisnya jika memang sang putri tidak mau.
Alex ingin Cleo menentukan pilihan untuk masa depannya sendiri. Dia tidak ingin membebani putri satu-satunya itu, dengan tanggung jawab yang tidak ia inginkan.
"Sayang."
"Hem," sahut Alex dengan manja.
"Apa Cleo, baik-baik saja di sana?" Arie menatap jauh keluar jendela kaca besar yang belum tertutup tirai. Tampak bintang-bintang menghiasi langit malam ini.
"Dia baik-baik saja, orang-orangku selalu memantaunya dari jauh."
Aku tidak mungkin menceritakan sebenarnya padamu, Sayang. Cleo ingin menyembunyikan kehamilannya yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Alex melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri, menenggelamkan wajah pada perut wanita kesayangannya itu.
"Alex, geli... Ah." Arie berusaha mendorong kepala Alex yang mulai nakal, mengigit gemas perutnya.
Arie tertawa terbahak-bahak, saat tangan besar itu mulai ikut menjelajahi punggungnya.
Sementara pasangan yang tak lagi muda itu bercanda di atas kasur. Di tempat lain, lebih tepatnya di bandara internasional Juanda, Naoki berpacu dengan waktu. Laki-laki itu tak membawa apapun selain tas kecil yang terselempang di dadanya,pria beristri itu berlari secepat mungkin, mengejar pesawat yang akan membawanya menemui sang istri. Tidak ada banyak waktu yang tersisa, burung besi itu akan segera berangkat.
Meskipun mepet, akhirnya Naoki bisa masuk ke dalam pesawat. Pria tampan itu merasa cemas, kakinya terus aja mengetuk lantai. Dengan nanar ia menatap foto Cleo di ponselnya, ada binar harapan dan guratan rasa penyesalan di wajah Naoki.
"Sayang, maafkan aku. Aku akan membiarkan kamu menangis lagi, tolong tunggu aku, aku mohon," gumamnya penuh harap.
Dia tahu Cleo pasti sangat marah dan kecewa padanya. Siapa wanita yang tidak marah melihat video seperti itu tentang suaminya, Naoki tidak bisa membayangkan bagaimana hancur hati Cleo saat itu. Namun, disisi lain Naoki pin merasakan hal yang sama, berapa selama ini ia tidak bisa bernafas saat Cleo tidak ada di sisinya.
.
.
.
.
Jiwanya sudah lama hilang saat Cleo pergi, hanya tinggal raga yang bernafas melanjutkan kehidupan yang hampa. Bayang-bayang Cleo yang menangis sedih terus saja menghantuinya. Tidak, Naoki tidak akan membiarkan air mata jatuh lagi dari mata sipit kesayangannya itu.
Matahari baru saja menyapa bumi Formosa, saat burung besi yang membawa Naoki mendarat di sana. Tak perduli dengan dingin yang menusuk, Naoki segera berlari menuju luar bandara.
Naoki melambaikan tangan, menghentikan sebuah taksi. Ia segera membuka pintu dan masuk.
"Take me to this address."
[ "Bawa saya ke alamat ini," ] Naoki menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan huruf mandarin, hanya itu yang Naoki terima dari Alex.
__ADS_1
Sang sopir itu menerima kertas yang diberikan Naoki, sejenak ia membacanya.
"Mr, this so far. You better take the train,"
[ Mr, ini sangat jauh. Anda lebih baik naik kereta,"] ucap supir taksi itu, jarak antara Taipei dan daerah yang dituju sang penumpang cukup jauh jika di tempuh mengunakan mobil.
Naoki menggeleng, ia tidak begitu menguasai bahasa mandarin. Ia juga tidak tahu harus naik kereta apa, dapat supir taksi yang bisa bahasa inggris saja ia sudah sangat bersyukur. Apalagi kepalanya terasa sangat pusing, entah akibat jetlag atau karena beberapa hari tidak tidur dengan baik.
"No, I'll be renting your car for a whole day, so hurry up!"
[ "Tidak, Aku akan menyewa mobilmu sehari penuh, jadi cepatlah!"] ujar Naoki dengan tidak sabar.
"Ok ..Ok Mr." Sopir itu pun segera menyalakan mesin mobilnya, mungkin rejekinya pagi ini dapat penumpang seperti Naoki.
Sang sopir sesekali melihat si penumpang dari spion mobil, ia merasa aneh dengan pemuda itu. Di tengah musim dingin seperti ini, ia hanya memakai kaos lengan pendek dengan celana kain biasa, sang sopir yang asli orang Taiwan saja masih mengunakan jaket tebal dan celana dua lapis untuk menghalau dingin.
Naoki memejamkan matanya, berharap bisa meredam sedikit sakit kepalanya. sesekali ia mengusap hidung mancungnya yang berair, bohong jika ia tidak merasa dingin. Hidung Naoki sampai memerah, karena dingin meski ia ada di dalam mobil.
Kurang lebih tiga jam perjalanan yang harus ditempuh, mobil berwarna kuning itu. Mereka akhirnya turun dari tol dan mulai menyusuri jalan kota.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di sebuah perumahan elit. Taksi pun masuk, sang sopir mengendarai mobilnya dengan pelan. Mencocokkan nomer rumah dengan alamat yang di pegangannya.
Naoki pun turut memperhatikan jajaran rumah yang bermodel sama itu. Jantungnya berdegup keras, ia sangat senang bisa segera bertemu dengan Cleo. Namun, di sisi lain dia takut Cleo tidak mau bertemu dengannya.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah dengan angka 29 berada di tembok depan rumah. Naoki turun setelah memberi beberapa lembar uang berwarna biru pada sang sopir.
Naoki mengambil nafas dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa kesadaran yang ia miliki. Jujur saja tubuhnya terasa lemas karena sejak berhari-hari yang lalu ia tak memperdulikan dirinya sendiri.
Ting tong.
Bel rumah itu berbunyi, saat setelah Naoki memencet tombol dihadapannya.
__ADS_1