C & N

C & N
Taiwan


__ADS_3

Jalan Wenhua, Bei kang, Chiayi, Taiwan.


Pagi ini hari yang baru di tempat baru. Cleo tiba di Taiwan pukul 4 sore, dari bandara internasional dia pergi ke salah satu kota, dengan menggunakan kereta api cepat.


Di sini Alex mengembangkan sebuah perumahan, dan Cleo memutuskan untuk menempati salah satu rumah di sana. Sebuah rumah kecil minimalis yang terdiri empat lantai.


Mata Cleo masih terlihat bengkak, sisa menangis semalam. Hati dan pikirannya masih tertinggal di Indonesia, tertaut bersama suaminya.


Cleo ingin sekali melupakan Naoki, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan laki-laki itu. Namun, sepertinya semua itu butuh waktu.


Cleo duduk termenung di tepi ranjang, ia bagaikan tubuh tanpa nyawa, tatapan lurus kedepan, kosong.


"Kenapa kau melakukan ini padaku, Ki?" air mata Cleo kembali luruh.


Pagi yang cerah tak bisa menghangatkan hati Cleo yang suram. Ia sangat terpukul melihat video itu, tiap adegannya membuat Cleo jijik, bagaimana bisa Naoki melakukan hal seperti itu. Apakah memang kodrat laki-laki yang lebih mementingkan nafsu sebagai kebutuhan utama. Tapi, papanya sangat setia pada Mama Arie, dan Cleo yakin Alex tidak pernah menyentuh wanita lain selain sang Mama. Apalagi sampai melakukan hubungan badan.


Cleo mengusap perutnya yang masih rata, belum ada yang tahu kalau Cleo tengah hamil. Termasuk Papa dan Mamanya sendiri, biarlah dia ingin sendiri sekarang. Mungkin di sini, dia bisa menemukan ketenangan.


Cleo mendesis merasakan nyeri di perut bagian bawahnya. Sebuah sensasi hangat, terasa mengalir di area V Cleo. Wanita itu mengerutkan keningnya, bukankah dia sedang hamil? lalu cairan apa yang keluar dari rahimnya? Apa dia menstruasi?


Merasa penasaran, Cleo bergegas pergi ke kamar mandi. Dengan cepat ia melepaskan celana tidur dan ****** *****, noda darah terlihat menempel di sana. Warnanya sama persis seperti dia mentruasi, Cleo semakin bingung.


"Bukannya saat hamil sudah tidak bisa mentruasi lagi? lalu apa ini?"


Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi, Cleo segera membenarkan celananya lagi. Mencuci muka dan menggosok gigi. Ia harus segera kerumah sakit.


Setelah selesai bersiap, Cleo berjalan cepat menuruni tangga. Ia semakin cemas karena darah yang keluar lumayan deras, sampai ia harus menggunakan pembalut.


Semua keperluan Cleo memang sudah disiapkan oleh orang kepercayaan Alex. Ia tidak ingin putri semata wayangnya sampai kekurangan apapun di tanah kelahiran Alex itu.


Setelah mencari rumah sakit terdekat melalui aplikasi Mbah Gogo. Rumah sakit itu hanya berjarak dua kok dari tempat Cleo tinggal, hanya beda jalan saja.


Cleo memarkirkan mobilnya di area yang tersedia, dia segera turun dan menuju ruang pendaftaran. Hari masih pagi, membuat Cleo tidak harus mengantri terlalu lama.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sebenarnya, Dokter? Ini darah mentruasi atau apa?" tanya Cleo dengan raut wajah cemas.


Dokter yang baru selesai memeriksa kandungan Cleo, bahkan belum duduk di kursinya saat Cleo memberondong dengan semua keinginan tahuannya.


"Nyonya, silahkan duduk dulu saya akan menjelaskannya," jawab Dokter itu dengan tenang.


Meskipun sedikit kesal, Cleo menuruti ucapan dokter itu. Ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan sang Dokter muda itu.


"Kandungan Anda rawan mengalami keguguran, maaf sebelumnya jika saya harus mengatakan ini. Kandungan Nyonya saat ini sangat lemah," Dokter itu menjelaskan dengan serius.


Deg.


Dunia Cleo seakan berhenti berputar. Cleo mengusap perutnya dengan tangan gemetar.


"Dia tidak akan pergi kan Dokter? tolong bantu saya untuk agar dia tetap di sini," ucap Cleo dengan bibirnya yang bergetar.


"Untuk sementara ini Anda harus mengonsumsi obat penguat kandungan dan istirahat total, Selain itu Anda tidak boleh stress. Kita akan terus memantaunya."


Cleo mengangguk lemah, ia bangkit dari duduknya. Keluar dari ruangan sang Dokter dengan langkah gontai, entah kenapa dokter muda itu merasa tidak tega melihat kondisi Cleo saat ini.


Dokter muda itu bangun dan berlari menyusul Cleo, beruntung Cleo belum jauh. Dokter itu, masih bisa menemukan Cleo sebelum dia masuk ke mobil.


"Nyonya Cleo!" panggilnya dengan setengah berteriak.


Mereka di panggil, Cleo pun menoleh. Dokter muda itu berlari kecil mendekati Cleo.


"Ini kartu nama saya, Anda bisa menghubungi saya kapanpun Anda membutuhkan." Dokter itu menyodorkan kartu dengan dominasi warna biru pada Cleo.


Meskipun enggan, Cleo menerima kartu nama dokter itu. Ia merasa tidak enak menolak kebaikan orang lain.


"Terima kasih Dokter," ucap Cleo dengan senyum yang dipaksakan.


"Sama-sama, hati-hati di jalan Nyonya."

__ADS_1


Cleo hanya mengangguk, wanita itu melanjutkan langkahnya menuju mobil. Yufan hanya bisa menatap punggung Cleo yang semakin menjauh, entah kenapa ia berharap Cleo menghubunginya.


"Aish ... Aku pasti sudah gila, berharap istri orang," gumam dokter muda itu.


Sudah cukup lama Yufan menjadi seorang dokter kandungan. Namun, Cleo adalah pasien pertama yang mencuri perhatiannya. Wajah itu, Yufan ingin melindungi dan membuatnya tersenyum.


Dia membayangkan bagaimana cantik dan indahnya wajah Cleo saat tersenyum.


"Sadar Yufan dia seorang Ibu, dan pastinya sudah bersuami." Yufan menepuk kedua pipinya dengan keras. Ia pun menghela nafas, dan kembali masuk ke rumah sakit.


Sementara itu.


Pagi yang sama, hanya satu jam lebih lambat dari negeri Formosa.


Naoki, duduk di sofa sambil menghisap rokok. Pagi ini pun terasa begitu suram bagi laki-laki itu.


Baju yang lusuh dan bau, mukanya pun tak jauh berbeda dengan baju yang ia kenakan. Lingkaran hitam dibawah mata Naoki sangat jelas terlihat, dia tidak bisa tidur semalaman memikirkan Cleo.


"Sayang, kau di mana?" Naoki menyandarkan kepalanya yang berminyak karena seharian tidak mandi.


Naoki sudah mencoba menghubungi semua orang yang ia tahu, bahkan dia meminta nomer telepon teman-teman Cleo pada pihak kampus, dan menghubungi mereka satu persatu. Namun, nihil, tak ada seorang pun yang tahu keberadaan Cleo.


Dia benar-benar kalut, Naoki tidak bisa diam saja seperti yang diinginkan Mama mertuanya. Satu-satunya petunjuk yang tersisa tentang kejadian kemarin hanya ponsel Cleo yang Naoki temukan dilantai.


Karena kerusakan yang cukup berat, Naoki harus menunggu sampai temannya bisa memperbaiki ponsel itu.


Naoki bahkan memutuskan untuk tidak menjenguk Karina terlebih dahulu. Dia tidak ingin adiknya melihat keadaan Naoki sekarang.


Tok ...tok ... tok....


"Tuan, sarapan sudah siap!" seru seseorang dari balik pintu.


"Mbak Makan saja, saya tidak!" teriak Naoki.

__ADS_1


Bagaimana dia bisa makan, sedang ia sendiri tidak tahu apa Cleo sudah makan atau belum.


"Sayang pulanglah, aku merindukanmu," ucapnya lirih pada foto Cleo di ponselnya.


__ADS_2