
Sprei bermotif Doraemon itu menjadi saksi, bagaimana sepasang suami-isteri itu diam tanpa suara selama hampir tiga puluh menit. Keduanya duduk ditepi ranjang, dengan jarak cukup jauh. Sesekali Cleo mencuri pandang pada laki-laki yang baru sah menjadi suaminya itu.
Naoki, menghela nafas panjang. Ia kemudian bangkit dari duduknya, merasa gerah Naoki mulai melepaskan beskap yang melekat ditubuhnya.
"Eh ... mau ngapain?" tanya Cleo terkejut, melihat Naoki melepaskan atasannya.
"Mandilah, gerah," jawab Naoki sambil melepaskan juga celana yang ia pakai.
"Astaga Naoki, porno tau. Lepas di kamar mandi sana!" Cleo refleks menutup wajahnya dengan tangan.
"Kita kan suami istri, sah-sah aja dong aku buka di sini," goda Naoki.
Cleo tidak tahu kalau naoki masih memakai celana pendek, ia menyeringai kecil. Otak nakalnya mulai berpikir untuk menjahili istri kecilnya itu. Naoki berjalan menghampiri Cleo yang masih menutup wajahnya.
"Hei Istriku, apa kau tidak ingin melihat tubuhku yang seksoy dan aduhai ini," ujar Naoki dengan nada menggoda.
"Nggak cepat mandi sana, aku takut sawan kalau liat kamu telanjang!" pekik Cleo kesal.
Sawan, emang aku setan apa?!
Merasa tidak terima, Naoki memegangi tangan Cleo, menggesernya perlahan, memaksa gadis itu melihatnya.
"Jangan paksa aku, atau aku teriak!" ancam Cleo. Ia berusaha mempertahankan tangannya.
"Teriak saja, paling juga mama sama papa mengira kita melakukan malam pertama."
Cleo langsung kicep, tak mau orang di rumah itu mengira ia berbuat aneh-aneh dengan suaminya, Cleo memilih diam.
Setelah tangan Cleo tersingkir, mata Cleo masih terpejam erat, ia tak mau melihat tubuh suaminya, bukan tidak mau lebih tepatnya malu.
"Buka matamu, atau ...."
"Atau?" tanya Cleo dengan matanya yang masih terpejam.
"Atau aku akan memakan mu sekarang," bisiknya pada Cleo.
Cleo terbelalak, ia membuka mataku seketika. Cleo mengerutkan keningnya, melihat Naoki yang memakai kaos dalam dan celana pendek, bukannya telanjang.
__ADS_1
"Bagaimana, aku seksi kan?"
"Naoki!" Cleo melemparkan bantal pada suaminya yang terkekeh sambil berlari menjauh.
Cleo tersenyum, suasana yang tadinya begitu canggung bisa mencair dengan keusilan suaminya itu. Cleo memegangi dadanya yang berdegup keras.
"Aku akan mencoba menjalankan pernikahan ini dengan baik, Suamiku," gumam Cleo lirih, dengan senyum manis yang tersungging dibibirnya.
Meskipun pernikahan ini begitu tiba-tiba, dan terjadi bukan atas dasar cinta, aku akan mencoba mencintaimu. Menjadi istri yang baik bagimu.
Cleo bangkit dari tepi ranjang, ia berjalan lalu mendudukkan dirinya didepan meja rias. Ia menatap lekat wajahnya di cermin, Tidak pernah Cleo bayangkan ia akan melepas masa lajangnya secepat ini, Cleo menepuk-nepuk pipinya memastikan ini bukan mimpi.
"Ini nyata, bukan mimpi," Cleo meyakinkan diri lagi.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Cleo menoleh. Naoki baru saja selesai mandi, wangi sabun menguar memenuhi ruangan. Rambut yang basar dengan handuk yang tersampir dilehernya, membuat Naoki berkali-kali lipat gantengnya.
Cleo membalikkan wajah, ia kembali menatap dirinya di cermin. Cleo mengambil nafas dalam, ia berusaha menetralkan detak jantung yang berdebar kencang. Tangan gemetaran melepaskan segala hiasan di rambutnya.
Naoki melangkah mendekat, ia berdiri di belakang Cleo. Dengan sigap Naoki membantu istrinya melepaskan tiara.
"Aku bisa sendiri," tolak Cleo.
Cleo pun mengalah, ia membiarkan Naoki membantu melepaskan semua hiasan di rambutnya.
"Ki, terima kasih," ucap Cleo lirih.
"Kamu bilang apa? Aku nggak denger?" Bohong Naoki.
"Enggak denger ya udah," ujar cleo dengan bibirnya yang sudah manyun lima centi.
Naoki tersenyum, ia mengerai rambut Cleo yang telah terbebas dari semua hiasan kepala. Naoki memutar tempat duduk Cleo hingga berhadapan.
"C, lihat aku."
Cleo tak menghiraukan, ia masih menunduk dengan muka yang ditekuk masam. Naoki mengalah, ia berjongkok di depan Cleo. Ia genggam tangan mungil istrinya dengan lembut.
"Apa kau sudah mengingat semuanya?"
__ADS_1
Cleo menjawabnya dengan anggukan.
"Kita nggak ngelakuin sesuatu yang si luar bataskan Ki? Kenapa kamu nikah sama aku?" kali ini Cleo memberanikan diri menatap wajah Naoki.
Keduanya terdiam sejenak, menikmati pertemuan mata mereka. Ada ketulusan yang di rasakan Cleo dari sorot mata Naoki. Pria itu tersenyum kecil.
"Kalau menurutku, kita sudah berlebihan, C. Aku tidak mau menjadi laki-laki brengsek yang meninggalkan mu begitu saja, setelah melakukan itu."
Cleo diam, ia mendengarkan dengan seksama apa yang di ucapkan Naoki.
"Kita sudah menikah. Meskipun ini pernikahan ini begitu mendadak, aku harap kamu mau mencoba menjalaninya dan memberikan aku kesempurnaan untuk menjadi suamimu." Naoki meremas lembut tangan Cleo.
"Aku juga berpikir hal yang sama. Apapun alasan kita menikah, aku mau kita tetap menjalaninya, bagaimanapun janji yang kau ucapkan telah disaksikan Tuhan dan para malaikatnya. Bagimu mungkin ini hanya terdengar lebay, tapi aku ingin menikah sekali seumur hidupku."
Jeda sejenak.
"Tapi aku juga tidak ingin membuat seseorang bertahap dalam sebuah hubungan yang tidak ia inginkan. Aku belum tahu bagaimana perasaanmu padaku, begitu pula sebaliknya. Saat kau merasa hatimu tidak bisa menerimaku, saat kau menemukan seseorang yang bisa membuat hatimu bergetar dan merasa bahagia katakanlah, aku akan dengan ikhlas melepaskan mu," ucap Cleo dengan senyum seolah tanpa beban.
Mata Naoki melebar, mendengar ucapan Cleo. Kenapa Cleo bisa begitu entengnya mengucapkan keikhlasan untuk melepaskannya, tidakkah ia tahu bagaimana Naoki khawatir padanya. Bagaimana pria itu ingin melindunginya.
"Iya," jawab Naoki dengan perasaan kecewa, ia melepaskan genggaman tangan mereka.
"Ki, selama saat itu belum tiba, maukah kau berusaha untuk membuka hatimu untukku? menerima segala kekurangan ku? Aku hanya anak kecil, aku masih harus banyak belajar tentang semua ini. Menjadi istri bukanlah hal yang mudah, tapi aku akan mencoba yang terbaik yang aku bisa."
"Dan lagi aku belum pernah pacaran. Bahkan kau adalah laki-laki pertama yang menciumku," aku Cleo dengan tersipu.
Sungguh menggemaskan. Naoki kembali tersenyum mendengar semua ocehan Cleo. Gadis itu, sungguh berbeda dengan yang lain. Dia berkata akan mengikhlaskan Naoki, tetapi ia juga meminta Naoki untuk mencoba menerimanya.
"Selama itu juga, jadilah dirimu sendiri, C. aku suka Cleo yang biasanya," ucap Naoki sambil mengacak-acak rambut Cleo yang sudah berantakan.
Cleo tertegun, rasa hangat menjalar dari sentuhan tangan besar Naoki di kepalanya.
"Kenapa melamun, cepat mandi! bau," ucap Naoki sambil mencubit gemas kedua pipi Cleo.
"Sakit," rengek Cleo.
Naoki tertawa. Cleo mengusap kedua pipinya yang memerah karena cubitan Naoki. Cleo pun bangkit dari duduknya, perlahan ia berjalan ke kamar mandi. Gadis itu sebenarnya juga gerah memakai kebaya itu.
__ADS_1
"Mandinya cepetan, aku udah laper!" teriak Naoki pada istrinya.