C & N

C & N
Part 68


__ADS_3

Selembar kertas yang dilipat rapi, diletakkan di atas meja ruang tamu, Naoki memutuskan untuk mengambil kertas itu. Mata Naoki terbelalak setelah membaca hal yang tertulis di kertas itu.


Saat kau membaca ini, aku bukan lagi istrimu. Jangan pernah mencariku, aku tidak ingin melihatmu lagi.


Aku putuskan untuk bercerai dan mengakhiri pernikahan ini. Tunggu saja surat dari pengadilan.


Cleo.


Naoki meremas kertas itu.


"Aggh ....! Apa maksud semua ini C?!" teriak Naoki frustasi, bagaimana bisa istrinya itu meminta cerai tanpa ada alasan yang jelas.


Tanpa pikir panjang, Naoki segera meninggalkan apartemen. Dia harus bertemu dengan Cleo dan menanyakan hal ini langsung padanya.


Naoki mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan basemen apartemen, dengan hati yang bingung. Naoki menyusuri jalan raya, ada satu tempat yang harus Naoki datangi sekarang. Rumah keluarga Wang.


Naoki mengendarai mobilnya dengan tidak fokus, dia masih memikirkan alasan kenapa Cleo meminta cerai. Juga keadaan kamar yang sangat berantakan, dan noda darah itu. Apa yang terjadi sebenarnya pada Cleo?


Ciit ..


Naoki menginjak rem. Hampir saja ia menabrak seorang pejalan kaki yang menyebrang.


"Kalau nyetir hati-hati dong!" Pria yang hampir ditabrak Naoki itu membentak dan memukul bagian depan mobilnya.


"Maaf ... Maaf Pak," ucap Naoki dari balik setir.


Pria itu bersungut-sungut kesal, menjauh dari mobil Naoki. Naoki memukul setirnya, dia sangat kacau hingga tidak melihat lampu merah menyala.


Setelah lampu hijau menyala, Naoki menginjak pedal gas perlahan.


"Kau harus hidup untuk bisa bertemu istrimu Ki, atau setidaknya jangan membuat nyawa orang lain hilang," gumam Naoki pada dirinya sendiri.


Seorang perawat sedang membalut luka di kaki Cleo yang terluka. Wanita itu tidak merasakan pecahan kaca yang dia injak, Arie yang khawatir dengan keadaan Cleo segera membawanya ke klinik untuk diobati.

__ADS_1


Cleo terlihat begitu lusuh, kedua matanya sembab, darah terus mengalir dari pecahan kaca yang tertancap di telapak kakinya. Arie tidak mengerti kenapa Cleo bisa seperti itu, apa hal yang membuat putrinya terlihat putus asa.


Arie belum sempat menanyakan hal itu, dia langsung membawa Cleo ke klinik begitu melihat telapak kaki Cleo yang penuh dengan darah.


"Untuk sementara jangan kena air dulu ya, saya akan mengambil obat yang harus di konsumsi pasien." Suster itu bangkit dari tempat ia duduk.


"Terima kasih Suster," ucap Arie, suster itu mengangguk dengan senyum ramah.


Arie menghampiri Cleo yang duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, dia duduk di samping putrinya. Mengusap lembut rambut Cleo yang kusut dan lembab.


"Apa ada yang ingin kau katakan pada Mama, Sayang?"


Bibir Cleo bergetar, ia menoleh menatap Arie dengan mata berkaca-kaca.


"Ma, Cleo pengen pergi," jawabnya dengan suara gemetar. Air matanya kembali mengalir membasahi pipi halus Cleo.


"Kau ingin kemana?"


Arie mengambil nafas dalam, sesuatu pasti terjadi pada rumah tangga Cleo. Namun, Arie juga tidak bisa ikut campur dalam urusan itu, Arie ingin mereka menyelesaikan masalah itu sendiri.


"Lari dari masalah, tidak akan menyelesaikannya C. Kita harus menghadapi dan menyelesaikannya, apapun itu hadapi."


Cleo menggeleng cepat.


"Cleo ingin tenang dulu Ma, Cleo mohon. Cleo nggak sanggup," ucap Cleo dengan sendu.


Melihat wajah Cleo yang begitu sedih, Arie merasa tidak tega. Ia pun mengangguk mengiyakan keinginan Cleo, mungkin putri kecilnya memang butuh waktu.


"Mama akan membicarakan ini dengan Papa." Cleo mengangguk, tangannya bergerak naik mengusap cairan yang meleleh di pipi.


Alex yang mendapatkan telepon dari Arie, langsung meluncur ke tempat kedua wanitanya berada. Dengan mobil sport mewah miliknya Alex tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke klinik.


"Sayang," panggil Alex saat melihat istri dan anaknya di ruang tunggu klinik.

__ADS_1


Arie tersenyum menyambut kedatangan suami sipit kesayangannya, ia mengisyaratkan agar Alex duduk disamping putrinya. Alex mengangguk paham, ia berjalan mendekat, mengecup pipi Arie sekilas sebelum duduk di samping Cleo.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Alex dengan tegas, tangannya mengepal melihat wajah Cleo yang sangat tidak baik-baik saja. Apalagi melihat perban yang membalut kedua kaki Cleo, membuat Alex semakin geram.


"Cleo ingin liburan Pa," jawab Cleo lirih. Ia sama sekali tidak berani melihat kearah Alex.


Dia tahu, Alex akan marah besar melihat keadaannya yang begitu kacau. Jika Cleo berkata jujur sekarang, Alex bisa menghajar Naoki. Cleo tidak ingin itu terjadi, jika memang harus berpisah, berpisah saja. Cleo tidak ingin Papanya melakukan hal yang membuat dua keluarga ini renggang.


"Liburan? oke, mau kemana?" tanya Alex, pria paruh baya itu berusaha untuk tenang. Meskipun dadanya sudah bergejolak hebat.


"C, mau ke rumah Tante."


"Apa kau yakin, C?" tanya Arie.


"Yakin Ma, Cleo ingin suasana baru. Jauh dari semuanya, mungkin dengan begitu aku akan lebih tenang."


"Baiklah kalau sudah diputuskan. Kita ke Bandara sekarang." Alex bangkit dari duduknya.


Pria itu mengambil kursi roda yang tidak jauh dari sana, membantu Cleo duduk dan membawanya ke mobil. Bagi Alex tak ada yang lebih penting selain kebahagiaan putri. Hal ini juga menguntungkan untuk Alex, saat Cleo jauh dari rumah. Dia bisa menyelidiki apa yang terjadi, Cleo tidak mungkin memberi tahu Alex keadaan dia. Alex sangat paham sifat Cleo yang mirip dengan Arie, kau harus jadi detektif conan untuk bisa mengerti dua wanita itu.


"Sayang, apa yang terjadi sebenarnya? Tadi pagi Pak Mundir sempat menelfon dan memberi tahu kejanggalan sikap Cleo, aki berencana ke sana setelah selesai rapat, aku tidak menduga kalau akan seperti ini," ucap Alex panjang lebar.


Setelah mengantar Cleo ke bandara, Alex dan Arie memutuskan untuk pulang. Cleo bersikeras untuk pergi sendiri, meskipun langkahnya tertatih. Alex tidak begitu khawatir karena Cleo mengunakan jet pribadi dan ditemani beberapa orang kepercayaan Alex.


"Aku juga tidak terlalu mengerti Sayang. Cleo datang ke rumah dengan membawa koper dan luka di telapak kakinya, dia terlihat sangat kacau, bahkan dia tidak merasakan kakinya berdarah," sahut Arie sendu.


"Sial, semua ini pasti gara-gara Naoki. Lihat saja, aku akan membuatnya menyesal!" geram Alex.


Arie mengusap lembut lengan suaminya, jujur Arie juga ingin tahu apa sebenarnya yang membuat Cleo seperti itu. Namun, dia juga tidak ingin bertindak gegabah.


"Sabar Sayang, kita bicarakan ini baik-baik ya," Arie mencoba menenangkan suaminya.


Alex mendengus, bagaimana dia bisa sabar. Alex sudah pernah mewanti-wanti Naoki untuk tidak menyakiti hati Cleo, tapi apa. Pria itu malah membuat putri kecilnya menangis dan terluka, Alex tidak bisa diam begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2