
Cleo bersiap untuk pergi bersama teman-temannya. Mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa berkumpul bersama mereka sebelum kuliah.
Setelah siap cleo pun turun dari kamarnya, memakai dress cantik berwarna merah dan riasan tipis, cleo dengan semangat menuruni anak tangga dengan berlari kecil.
"Sudah siap, C?" tanya arie.
Wanita paruh baya itu juga tampak cantik dengan dress hitam yang membalut tubuhnya.
"Sudah Ma, Mama juga mau keluar? kok dandan cantik kayak gitu?" tanya cleo penuh selidik.
"Em ... mama mau -
"Mama mau candle light dinner sama papa," potong alex cepat.
Laki-laki yang tak lagi mudah untuk terlihat semakin tampan dengan stelan jas mewah. Di usianya yang tak lagi muda kharisma Alex semakin terpancar dengan baik.
"Dih, dah tua pake kencan segala," sindir cleo.
Alex hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri dari belakang.
"Umur hanya angka, semakin umur bertambah kita harus semakin memupuk rasa cinta kita. Ia kan Sayang." Alex mengecup pipi istrinya dengan mesra. Arie mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
"Kelak saat kau punya keluarga, kau harus meluangkan waktu untuk pasanganmu. Meskipun kau sudah punya anak bukan berarti kalian terus lupa dengan jalinan kasih yang harus di pupuk agar tidak putus, ada suami yang terlalu sibuk dengan perkejaan dan sang istri sibuk dengan mengurus rumah tangganya. Namun, mereka lupa dengan pasangan mereka, membiarkan pasangan mereka kesepian sehingga ada celah bagi orang lain untuk masuk dalam rumah tangga mereka," ujar arie panjang lebar.
Cleo manggut-manggut mendengarkan nasehat sang mama.
"You are the best Sayang," bisik alex kemudian mengecup lagi pipinya.
"Hais, romantisnya jangan di sini. Cleo masih jomblo," tukas cleo.
"Ma, Pa. Cleo berangkat dulu." Cleo menyalimi tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Jaga dirimu dengan baik," pesan alex.
"Siap Pa." Cleo melangkahkan kakinya keluar.
Ia segera naik mobil yang di sudah disiapkan untuknya. Awalnya cleo menolak tetapi alex mengancam tidak memberikannya izin jika cleo menolak. Akhirnya ia hanya bisa pasrah.
"Jalan Pak Ipul."
"Siap.Non, kita kemana ini?" tanya Ipul sang sopir.
"Ke kafe jingga Pak." Sang sopir pun mengangguk mengerti.
Mobil yang cleo tumpangi mulai meluncur di padatnya jalanan Surabaya malam ini, mungkin karena ini akhir minggu jalanan jadi sangat padat dan macet.
Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka sampai di sebuah kafe, sebenarnya
kafe itu tidak begitu jauh. Namun, karena jalanan yang macet membuat perjalanan lebih lama.
Cleo menatap lekat bangunan cafe yang ada dihadapannya. Kafe itu adalah tempat
terakhir kali ia bersama sastro dan widya bersama. Kini semua hanya kenangan saja, sastro bahkan belum memberikan kabar pada cleo.
"Pak Ipul bisa pulang, nanti saya pulangnya bisa bareng sama anak-anak yang lain."
__ADS_1
"Ndak bisa Non, saya di suruh tuan buat antar jemput Non cleo."
Cleo menghela nafasnya panjang, ia sebenarnya tidak keberatan untuk di antara jemput. Tetapi ia merasa tidak enak membiarkan sopirnya mati kebosanan karena menunggunya.
"Nanti Pak Ipul bosan lho, acaranya pasti lama," ujar cleo menjelaskan.
Ipul tersenyum. "Sudah biasa Non, Nungguin nyonya bos ke salon aja udah biasa kok."
"Ya sudah kalau Pak Ipul mau nunggu, nanti saya pesankan makanan. Bapak mau makan apa?"
"Kalau ada rujak lontong mau Non," jawab Ipul bersemangat.
"Masak ke kafe cari rujak lontong Pak."
"Kali aja Non, rujak naik pangkat, hehehe."
"Nanti saya pesankan makanan sama kopi ya Pak."
"Terserah Non Cleo."
Cleo pun bergegas turun dari mobil. Ia berjalan dengan anggun menuju kafe.
"Wah ini dia primadona kita," sambut seorang laki-laki, teman sekelas cleo.
Cleo hanya tersenyum kecil menanggapinya. Cleo memang tidak terlalu dekat dengan mereka, meskipun begitu ia selalu bersikap ramah pada semua temannya.
"Bisa aja kamu."
"Hai, kamu cantik banget malam ini," ucap mike sambil mengulurkan tangannya, tetapi sayang tangan mike tidak di sambut baik oleh cleo. Gadis itu malah melenggang pergi melewatinya. Mike menarik kembali tangannya dengan perasaan malu.
Cleo berjalan kearah meja kasir, untuk memesan sesuatu.
"Mas, saya pesan kopi susu sama roti chane, tolong antarkan untuk sopir saya di sana, namanya pak ipul," ujar cleo pada seorang pelayan.
"Baik, adalagi," jawab pelayan itu dengan sopan.
"Tidak terima kasih." Cleo pun berlalu.
Setelah cleo berlalu, widya mendekati pelayan yang menerima pesanan cleo. Sementara itu cleo berjalan menghampiri teman-temannya.
"Lagi main apa nih, seru amat. Boleh gabung nggak?" tanya cleo pada teman-teman yang duduk melon di meja.
"Ayo sini Cleo duduk sebelah aku," ajak Clarissa, teman sekelas cleo.
Cleo mengangguk, ia kemudian duduk di bangku kosong disamping clarissa.
"Kita lagi main Truth or dare, mau ikut?"
"Boleh siapa takut," jawab cleo.
"Asek, kita mulai permainannya!" seru salah satu diantara mereka.
Sepuluh orang duduk melingkari sebuah meja kosong, satu orang berdiri untuk memutar botol kosong ditengah meja. Botol itu dibiarkan berputar sampai berhenti dan ujung botol mengarah pada salah satu diantara mereka.
"Truth or dare?" tanya mereka serempak saat botol berhenti.
__ADS_1
"Truth," jawab laki-laki berkaca mata itu.
"Kapan pertama kali kamu mimpi basah?"
Wajah laki-laki itu memerah, semua orang menanti jawabannya.
"Kelas tiga SMP," jawabnya.
"Hu ....!" sorak sorak mereka.
Botol kosong itu di putar lagi. Kali ini benda itu berhenti pada Clarissa.
"Truth or dare?"
"Dare," jawab Clarissa mantap.
"Tembak cowok yang kamu sukai."
Clarissa menutup wajahnya. Malu, jelas saja bagaimana ia bisa menyatakan cintanya pada sang pujaan hati yang selama ini di kagumi dalam diam.
"Ayo, terima nggak tantangannya?"
"Oke-oke." Clarissa berdiri dari duduknya, ia mengambil nafas dalam-dalam.
"Ketua kelas aku suka sama kamu!" ucapnya dengan lantang.
Laki-laki berkaca mata itu terkejut clarissa menembaknya. Ia pun berdiri lalu menghampiri Clarissa yang masih menutup matanya karena malu.
"Clarissa, aku juga suka sama kamu."
"Hu...!"
"Cie ...cie ...!"
Angga menarik tangan Clarissa ke tempat lain untuk melanjutkan percakapan hati mereka. Botol di putar lagi, kali ini berhenti pada cleo.
"Truth or dare?"
"Dare," jawab cleo.
"Ok, kamu harus menampar playboy di sekolah kita."
"Apa? Enggak aku nggak mau!" tegas cleo.
Menampar playboy berarti ia harus menampar mike, yang notabenenya adalah playboy cap tokek menurut cleo.
"Kalau nggak mau nampar siram aja pake ini," ucap salah satu teman cleo sambil menyodorkan sebotol soda.
"Haduh nggak ada tantangan yang lain ta?"
Moderator permainan itu pun terdiam untuk berpikir sejenak.
"Kalau nggak mau bikin malu playboy, kamu harus mencium kodok, Bagaimana?"
Cleo melonggo mendengarkan pilihan yang sama sekali tidak bisa di pilih itu. Kodok adalah hewan yang paling cleo takuti, ia bahkan punya trauma tersendiri dengan hewan itu.
__ADS_1
"Ayolah, masa nggak ada pilihan lain?" tanya cleo dengan memelas.