C & N

C & N
Eps 53


__ADS_3

Seorang wanita memandangi layar ponselnya dengan marah. Ia mengigit kuat ujung kukunya hingga berdarah.


"Sial, bajingan kau Ki, ingat saja aku akan membuat istrimu itu menyesal telah merebut mu dariku!" teriaknya.


Wanita itu membanting ponselnya hingga berkeping-keping. Hatinya begitu sakit, rasa malu yang Naoki torehkan begitu dalam.


"Ha ...Sial!" teriaknya.


Semua benda mati yang ada dalam kamar itu kini menjadi pelampiasan amarahnya. Wanita itu berdiri di depan cermin besar.


"Apa aku kurang cantik? Apa kurang seksi?"


Wanita itu melepaskan dress yang menutupi tubuhnya, hingga menyisakan pengaman saja. Ia membolak-balikkan tubuhnya di depan cermin.


"Apa kurang ku? Hingga kau menolak cintaku dasar Brengsek!"


Savira mengambil lampu tidur lalu melemparkannya pada cermin hingga hancur. Ia menangis kencang, meraung-raung dengan menyedihkan. Namun, sedetik kemudian ia tertawa, tawa yang bergitu lepas tapi terdengar menyeramkan.


🎃🎃🎃🎃


Malam ini bulan tampak malu-malu bersembunyi dibalik awan tipis. Sama seperti Cleo yang begitu malu untuk keluar dari kamar mandi.


Ini adalah malam terakhir dia menginap di hotel, setelah tiga hari bulan madu, besok mereka harus cek out.


"C, sudah selesai belum. Lama amat sih!" teriak Naoki.


"Se- sebentar masih mules," bohong Cleo.


Saat ini Cleo memakai baju yang diberikan oleh mamanya. Sejak tadi pagi ia sudah menyiapkan ide ini, ia ingin menjadi istri seutuhnya. Naoki, selalu berdalih ia tidak tega karena Cleo masih sakit. Maka Cleo mutuskan untuk lebih berinsiatif.


"Ayo C, nggak usah malu. Sama suami sendiri," gumam Cleo menguatkan dirinya sendiri.


"C, kalau kamu nggak keluar aku bakal dobrak pintunya!" teriak Naoki lagi.


Sudah hampir satu jam istrinya itu mengurung diri dalam kamar mandi. Naoki takut terjadi sesuatu pada Cleo, meskipun Cleo masih menyahut kalau dia panggil.


"Iya aku keluar, tapi bisa matiin lampunya nggak?"


"Untuk apa matiin lampu?" Naoki balik bertanya.


"Kalau nggak di matiin aku nggak mau keluar!" pekik Cleo.


Naoki berdecak kesal, ia bangkit dari ranjang untuk mematikan lampu. Kini kamar itu hanya remang saja dengan pencahayaan dari lampu tidur.


"Udah aku matiin, sekarang cepat keluar!"


"Beneran matikan?"

__ADS_1


"Iya."


"Nggak bohong?"


"Buktikan sendiri."


Dengan ragu-ragu Cleo membuka handle pintu. Ia menyembulkan kepalanya dari celah pintu, kamar tampak sepi dan gelap. Dimana suaminya?


Cleo membuka pintu kamar mandi lebih lebar, ia melangkah keluar dengan ragu. Naoki yang bersembunyi dan ingin mengangetkan Cleo malah terkejut sendiri dengan penampilan Cleo, Naoki terpaku.


Dari belakang saja Cleo terlihat sangat seksi dan menggoda, Naoki menelan ludahnya membayangkan penampakan Cleo dari depan.


"Cleo," panggil Naoki dengan suara seraknya.


Merasa namanya dipanggil Cleo pun menoleh.


"Aaa ....!" Cleo menjerit keras, ia segera berlari dan bersembunyi dibalik selimut.


Naoki terkekeh melihat tingkah Cleo, ia menghampiri istrinya. Dengan usil Naoki menarik selimut yang menutupi tubuh Cleo, sekuat tenaga Cleo mempertahankan selimutnya, tetapi tetap saja Naoki yang menang. Tenaga Cleo masih kalah jauh dengan sang suami.


"Kenapa teriak?" tanya Naoki setelah berhasil membuang selimut yang itu.


"A-Aku terkejut, ma-maaf, Mas," jawab Cleo dengan terbata.


Gadis itu sibuk menutupi tubuhnya yang tercetak dengan jelas dibalik kain hitam tipis yang menutupinya.


"Kalau malu kenapa pakai ini?" Cleo hanya diam, ia membuang mukanya kesal.


Bisakah Naoki melihat usahanya, dengan susah payah Cleo menahan malu. Untuk pertama kalinya dia berlaku seperti wanita murahan, yang menyodorkan dirinya pada laki-laki. Tidak bisakah Naoki mengerti itu.


"Aku akan mengambil baju untukmu."


Cleo menahan tangan Naoki, Naoki menoleh kedua netra bening mereka bertemu. Cleo menatap suaminya dengan penuh pinta, bibir mungilnya terasa kelu tak mampu untuk berucap. Naoki menatap dingin pada istrinya.


"Aku tidak ingin kau menyesal, C."


Cleo menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik tangan Naoki agar kembali duduk di sampingnya.


"Aku istrimu Mas, kau berhak atas diriku."


Naoki mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya tepat di telinga Cleo.


"Kau yakin?"


Cleo hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Jangan salahkan aku, yang tidak mampu menahan diriku lagi," ucap Naoki dengan suara yang terdengar berat.

__ADS_1


Laki-laki itu menarik wajahnya agar bisa menatap wajah Cleo lebih jelas. Tatapan Naoki bergitu berbeda, dingin tapi juga hangat secara bersamaan. Rasanya seperti Cleo tengelam di dalamnya. Cleo mengalungkan tangannya di leher Naoki.


"Lakukan, aku sangat menantikannya," ujar Cleo dengan nada menggoda.


Naoki mendesis merasakan sentuhan tangan Cleo di lehernya, Naoki mulai menyatukan bibir mereka. Pelan dan lembut, Cleo membalas ciuman itu sebisanya, karena dia memang belum bisa berciuman dengan baik.


Naoki mengigit gemas bibir Cleo agar terbuka. Keduanya kini menari dengan lidah mereka, Naoki menahan tengkuk Cleo sambil memperdalam ciumannya.


Tubuh Cleo berdesir hebat, ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Dia ingin Naoki lebih, lebih dari sekedar menciumnya.


Perlahan Naoki membaringkan tubuh Cleo, melepaskan tautan bibir mereka. Naoki beralih menyusuri leher jenjang Cleo, tangannya juga mulai aktif meremas dua gundukan yang begitu indah. Suara manja Cleo membuat Naoki semakin bersemangat.


Naoki menarik dirinya, ia melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Jujur saja selama ini ia sudah sangat menahan diri agar tidak menyentuh Cleo. Tetapi malam ini ia tidak bisa, ia mau Cleo seutuhnya.


Setelah dirinya, Naoki melepaskan gaun Cleo. Naoki menahan tangan Cleo yang hendak menutupi wajahnya.


"Jangan ditutupi, kau cantik seperti ini." Naoki mengecup tangan Cleo.


Naoki mulai menuntun miliknya untuk menyatu dengan Cleo, tidak langsung berhasil. Namun, Naoki tidak menyerah. Ia harus menuntaskannya malam ini juga.


Setelah dua kali mencoba, akhirnya Naoki berhasil. Cairan hangat berwarna merah meleleh saat penyatuan mereka, Cleo mencengkeram lengan Naoki, mencoba mengalihkan panas dan pedih dibawahnya.


Naoki tidak langsung bergerak, ia kembali mencium bibir istrinya, membiarkan Cleo sedikit rileks.


Setelah itu, Naoki memulai permainannya, ia bergerak menghujani Cleo dengan peluh. Kali pertama untuk keduanya, Naoki tidak bisa menahan tenaganya, ia perpacu dengan begitu semangat hingga tak menyadari istrinya yang menahan rintihan kesakitan. Air mata Cleo mulai jatuh.


Setelah beberapa saat akhirnya Naoki sampai di puncak, ia mengerang penuh kenikmatan menyemburkan cairan benih miliknya pada rahim Cleo.


Naoki terkejut, menyadari mata Cleo yang basah.


"Maaf ... maafkan aku, aku seharusnya bisa menahan diri." Naoki mengusap air mata Cleo. Ia sungguh merasa bersalah telah menyakiti Cleo.


Celo menggelengkan kepalanya cepat.


"Mungkin ini yang pertama, jadi terasa sakit," ucap Cleo, ia mengusap lembut wajah suaminya yang terlihat cemas.


"Aku tidak apa-apa."


"Kau kesakitan, bagaimana bisa tidak apa-apa!"


Cleo tersenyum, Naoki turun dari atas Cleo ia merebahkan diri disamping istrinya. Naoki memeluk Cleo dengan erat.


"Maafkan aku C," ucap Naoki lagi.


"Tidak Mas, jangan minta maaf."


Naoki sedikit menarik dirinya, ia menatap Cleo dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Terima kasih." Naoki mengecup lembut kening Cleo. Gadis yang baru kehilangan mahkotanya itu mengangguk bahagia.


__ADS_2