C & N

C & N
Eps 61


__ADS_3

Seorang wanita muda tertidur di ruang tamu apartemen mewah, lelah dan penat setelah seharian mencoba membuat kue ulang tahun yang sempurna untuk suaminya. Dia menunggu kepulangan sang suami sejak matahari mulai tenggelam, berharap bisa memberikan kejutan, dan membuat hubungan yang mulai dingin kembali menghangat. Sayangnya, laki-laki bernama Naoki itu tak kunjung datang.


Jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, Cleo terbangun karena dering ponselnya. Sebuah pesan video baru saja masuk lewat aplikasi hijau miliknya, dengan mata yang masih setengah terbuka Cleo meraih ponsel yang tergeletak di meja.


"Nomer ini lagi, mau ngapain sih," gumam Cleo kesal.


Sebuah nomor tidak dikenal yang selalu mengirimkan foto-foto Naoki bersama rekan kerjanya, tentu saja Cleo tidak menggubrisnya. Walaupun beberapa diantaranya terlihat Naoki sedang di peluk atau seorang wanita yang sengaja bersandar manja pada sang suami. Cleo memilih untuk tidak memercayai semua itu, sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Namun, kali ini berbeda. Mata Cleo terbelalak melihat video rekaman yang dikirimkan nomor itu, seorang wanita dengan hanya melilit tubuhnya dengan handuk, tampak berdiri membelakangi Naoki yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Mata Cleo memerah, melihat senyum manis wanita itu yang dengan sengaja merekam semuanya.


"Aaaa ...Naoki bajingan, dasar laki-laki tidak tahu malu!" teriak Cleo marah, tangannya mencengkram erat benda pipih itu.


Sedemikian lama ia berusaha menahan dirinya agar tidak jatuh hati pada Naoki, karena ia tahu satu saat ia harus melepaskannya. Namun, nyatanya tidak bisa. Ia terlanjur mencintai pria itu, setiap foto yang di kirimkan nomer itu menyayat hati perlahan, meskipun Cleo berusaha untuk tidak cemburu dan mengabaikannya.


"Aaaa ...!" Cleo menjerit, membanting ponselnya ke lantai dengan keras.


Untungnya ponsel mahal itu punya kualitas yang sangat baik, hingga tidak bentuk keras itu tidak menimbulkan kerusakan berarti.


Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Cleo berdiri, ia meraih pisau kue yang ia siapkan di meja. Cleo menggenggam pisau plastik itu dengan kedua tangan, matanya taja menatap kue yang sudah susah payah ia buat. Dengan penuh kebencian Cleo menusuk kue ulang tahun yang di buatnya. Menjadikan kue tak bersalah itu sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Kenapa ... kenapa kau melakukan ini, dasar bangsat, bajingan, pengecut! Bilang saja kita selesai! Kenapa kau harus melukaiku seperti ini!" teriaknya dengan berurai air mata.


Kue itu sudah hancur, dengan brutal Cleo memotongnya hingga tak berbentuk. Tubuh wanita itu merosot, ia terduduk lemas di lantai. Kedua matanya tak henti mengalirkan air mata yang begitu enggan untuk berhenti.


"Nggak c, kamu nggak boleh nangis kayak gini. Semua udah jelaskan, Naoki nggak cinta sama kamu, kamu aja yang bodoh jatuh cinta padanya. Pernikahan kalian ini udah nggak ada artinya," ujar Cleo bermonolog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hiks ... Hiks ... Tapi kenapa sesakit ini." Cleo mencengkeram dadanya yang terasa sesak, seolah tak ada lagi oksigen di ruangan itu untuknya bernafas.


Perlahan ia bangkit dari duduknya, dengan langkah gontai Cleo naik ke kamarnya. Ia biarkan semua yang ada di ruang tamu. Ponselnya, ia bahkan tak ingin memungutnya.


Cleo merebahkan tubuhnya di ranjang, tempat dimana ia biasa menghabiskan malam-malam hangat bersama suaminya, berbagi peluh dan kasih. Kasih? Cleo tersenyum miris untuk dirinya, Naoki sekarang mungkin sedang berbagi kehangatan dengan sedikit wanita lain, wanita yang benar-benar dicintanya. Mereka akan lebih menikmati penyatuan yang didasari oleh cinta, bukan sekedar kewajiban seperti yang Naoki lakukan padanya.


Tubuh Cleo terasa lelah, hati dan raganya. Ia tidur dengan posisi meringkuk, seperti seekor kucing yang kedinginan.


....


Mentari menyapa pagi dengan sinar lembutnya, Cahaya terhalang awan tipis yang menutupinya.


Naoki melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia begitu khawatir dengan keadaan istri kecilnya. Kemarin Naoki menemani atasannya untuk pergi ke Jakarta untuk menemui klien, tanpa sempat berpamitan pada Cleo karena ponselnya kehabisan baterai. Meeting mereka lakukan sampai malam, hingga Naoki harus menginap di hotel.


Dini hari tadi, Naoki berusaha menghubungi Cleo saat baterai ponselnya sudah memadai. Namun, tak satupun pesan dibaca oleh sang istri, panggilan pun tak tersambung sama sekali. Naoki panik, ia takut terjadi sesuatu pada sang istri.


"Syukurlah, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Naoki cemas.


Cleo hanya diam, ia tak menjawab ataupun membalas pelukan suaminya. Naoki yang merasa aneh pun melerai pelukan mereka, sedikit menarik tubuhnya menjauh. Ia mengerutkan keningnya melihat penampilan Cleo yang berbeda dari biasanya. Kacamata hitam besar bertengger di hidung mungilnya, memakai celana jeans dan hoodie, tangan Cleo menarik memegang sebuah koper kecil.


"Kamu mau kemana? Kenapa bawa koper segala?"


"Aku mau ke rumah mama, nginep di sana beberapa hari," jawab Cleo datar.


"Kerumah mama? Kenapa mendadak begini? Tunggu aku, kita ke sana sama-sama." Naoki menarik tangan Cleo, tetapi langsung ditepis kasar oleh istrinya.

__ADS_1


"Ini nggak mendadak, sejak semalam aku sudah mau ke sana." Cleo mengayunkan kakinya hendak masuk ke lift, tetapi Naoki mencegahnya.


"C, aku tau kamu marah sama aku, tapi nggak gini caranya. Kita bicarakan semuanya baik-baik, jangan kekanak-kanakan begini, ok!" ujar Naoki dengan nada yang meninggi.


Cleo tersenyum miring mendengar ucapan suaminya.


"Marah? Aku nggak punya hak untuk marah sama kamu. Kamu berhak melakukan apa yang kamu inginkan, begitu juga aku!"


"Udah, minggir sana nggak usah menghalangi jalanku." Cleo mendorong tubuh Naoki agar menyingkir dari hadapannya.


"Kita harus bicara, aku nggak ngizinin kamu pulang ke rumah mama!" Naoki mencengkeram kuat tangan Cleo, ia menatap tajam pada wanita yang ada dihadapannya itu.


Naoki merasa Cleo terlalu berlebihan, ia bukan sengaja bermalam di luar tanpa memberi tahu Cleo, lagipula itu semua masalah perkerjaan. Naoki berharap Cleo bisa memahaminya.


Cleo meringis kesakitan, Naoki begitu kuat mencengkram pergelangan tangannya. Melihat itu, Naoki pun melepaskan tangan Cleo.


"Maaf," ucap Naoki menyesal, ia sungguh tidak bermaksud menyakiti istrinya.


"Aku tetap akan ke rumah mama, dengan atau tanpa persetujuan kamu!" tegas Cleo, ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Untungnya Cleo memakai kacamata yang menutupi mata sembabnya.


"Ok, aku kasih izin kamu. Tapi dengan syarat, aku harus nganterin kamu. Aku nggak mau mama arie berpikiran aneh-aneh kalau kamu pulang sendirian."


"Nggak, aku nggak mau. Aku pulang sendiri, dan kamu nggak usah khawatir mama nggak akan punya pikiran seperti itu!"


"C, dengerin aku-

__ADS_1


Ucapan Naoki terhenti karena dering ponselnya, ia pun segera meraih benda pipih itu dari saku. Sebuah panggilan dari kantor. Melihat Naoki yang sibuk menerima telpon, Cleo bergegas masuk ke lift.


__ADS_2