C & N

C & N
Eps 49


__ADS_3

Hari yang di nanti telah tiba, Perayaan pernikahan Cleo dan Naoki. Alex mengadakan acara resepsi pernikahan sang putri di salah satu hotel mewah di Surabaya. Bunga mawar ditata dengan apik menjadi pilar-pilar indah.



Cleo memakai gaun pengantin berwarna merah dengan detail warna emas di pinggir gaun, seperti yang dikenakan mamanya ketika menikah. Sementara Naoki, tampan dan gagah memakai tuxedo berbahan beludru mewah berwarna merah maroon . Keduanya duduk di singgasana bak raja dan ratu, mereka tersenyum dengan bahagia.




Naoki menggenggam tangan mungil istrinya, Cleo menoleh, ia tersenyum manis pada sang suami. Meskipun belum ada kata cinta yang terucap diantara mereka. Namun, Cleo dan Naoki merasakan kebahagiaan yang sama hari ini.


"Saatnya untuk berdansa, pada kedua mempelai di persilahkan untuk naik ke panggung," ujar si pembawa acara.


Cleo menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak bisa dansa," ucap Cleo lirih pada suaminya.


"Ikuti saja, percaya padaku." Naoki berdiri, ia mengulurkan tangannya untuk sang istri.


Meski ragu, Cleo akhirnya menerima uluran tangan Naoki. Dengan bergandengan tangan, ke-dua berjalan perlahan menaiki panggung diiringi oleh tepuk tangan para tamu. Naoki, meletakkan satu tangannya di pinggang Cleo, sedikit menarik tubuh mungil itu hingga menempel padanya, satu tangan lagi tetap menggenggam erat tangan Cleo.


"Percayalah, ikuti saja aku," bisiknya pada Cleo.


"Baiklah, " jawab Cleo.


Perlahan Naoki mulai mengerakkan tubuhnya, Cleo memasrahkan diri pada Naoki, ia biarkan tubuhnya bergerak seirama dengan laki-laki itu. Cleo menatap dalam manik hitam milik Naoki, begitu tenang dan menghanyutkan.


Bisakah aku memercayakan hati ini padamu, bolehkah? Aku takut, sungguh takut. Di hatimu tidak ada cinta tapi belas kasih, aku tidak ingin kau bertahan hanya karena kasihan. Tapi, sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu. Aku harus bagaimana? Bagaimana aku akan melepas mu saat kau menemukan cintamu?Bisakah kau selamanya di sampingku? Suamiku.


Cleo menyandarkan kepalanya di dada bidang Naoki, pria itu terkejut. Naoki menghentikan ayunan langkahnya. Cleo tak pernah sekalipun bersikap manja, ini cukup membuat Naoki terkejut.


"Apa kau lelah? Kita bisa istirahat jika kau mau?" tanya Naoki cemas.


Cleo mendongakkan wajahnya, menatap naoki dengan sendu. Naoki bisa merasakan sorot mata Cleo yang berbeda, ada rasa takut dan kekhawatiran yang dalam.


"Kita istrirahat ya?" Naoki benar-benar cemas, wajah cleo begitu sendu menatapnya dengan sangat dalam.


Cleo menggelengkan kepalanya. " Nggak usah, kita belum mengapa para tamu."

__ADS_1


"Tapi Cleo-."


"Aku nggak apa-apa kok," ucap Cleo dengan senyum manisnya, sebuah senyum yang ia paksakan.


Naoki pun tak punya pilihan lain selain mengiyakan keinginan Cleo, mereka berdua turun dari panggung untuk menghampiri para tamu.


"Cleo, kau sungguh cantik, keponakan kecilku," ucap seorang wanita paruh baya, ia memeluk Cleo dengan erat.


"Selamat atas pernikahan mu, semoga kalian bahagia selalu tetap bersama sampai rambut jadi kakek nenek."


"Terima kasih Tante Nuwa," ucap Cleo kemudian melerai pelukan mereka.


"Tante nggak nyangka, jodoh kamu temen sendiri. Atau jangan-jangan kalian ini udah pacaran sejak kecil ya?"


"Nggak kok, kami ini .. emh gimana jelasinnya ya. Pokoknya gitu deh," jawab Cleo asal, ia tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Hahaha ... kenapa jadi salah tingkah gitu sih. Enggak apa-apa kalau nggak cerita, itu hak kamu. Tante hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan kalian." Nuwa menatap Cleo dan Naoki secara bergantian.


"Terima kasih Tante, ucap Naoki.


"Jaga Cleo dengan baik."


"Ini hadiah kecil dari tante." Nuwa memberikan kotak kecil berbentuk persegi panjang pada Cleo.


"Terima kasih Tante, di mana lizi dan liam? apa mereka tidak datang?" tanya Cleo.


"Mereka sedang bersama papa mereka di Paris, mungkin besok baru dateng. Maaf karena ibu Daniel sedang sakit," jawab Nuwa sendu.


"Tidak apa-apa Tante, lain kali aku yang akan mengunjungi kalian, semoga nenek cepat sembuh."


"Aamiin, terima kasih doanya."


Cleo dan Naoki pun melanjutkan untuk menghampiri para tamu lainnya. Para Colega Tama dan Alex serta ibu-ibu yang menjadi teman kedua mama kece mereka. Seorang laki-laki berambut cokelat tampak memperhatikan pasangan bahagia itu dari jauh, ingin rasanya dia kesana dan meminta maaf pada Cleo. Namun, ia tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya.


Pesta yang cukup melelahkan keduanya. Setelah acara selesai kedua beristirahat di kamar hotel yang telah disiapkan oleh orang tua mereka. Cleo terperangah melihat kamar yang ditata dengan begitu indah dan romantis, ia melangkah mendekati ranjang dengan menjinjing gaunnya.


"Bagus banget," gumam Cleo.


Di atas ranjang king size, ada dua hiasan angsa yang saling mematuk diatas hiasan kelopak mawar berbentuk hati. Bau harum mawar juga sangat kuat di kamar itu.

__ADS_1



"Cepat singkirkan itu, aku capek mau tidur," ujar Naoki sambil membuka jas yang melekat di tubuhnya.


Cleo seketika menoleh dan memberikan tatapan tajam pada sang suami.


"Apa?"


"Kamu nggak kasihan ama yang bikin, main bongkar aja. Pasti mereka susah banget bikin hiasan kayak gini, lagi pula ini bagis kok."


"Tapi aku mau tidur C, kalau itu nggak di bersihin kita tidur dimana?"


"Mas, bisa tidur di sofa, aku tidur disebelah


biar nggak rusak, gimana?"


"Kamu tega, masak suami sendiri suruh tidur di sofa. Kamu lupa ya ini malam apa."


"Malam minggukan, aku masih inget hari kok," tukas Cleo.


Naoki menyeringai licik, la berjalan mendekati istrinya setelah melepaskan jas dan dasi yang dipakainya. Naoki melingkarkan tangannya di pinggang ramping Cleo, sedikit menundukan kepala hingga bibir Naoki menyentuh belakang telinga Cleo.


"Ini malam pertama kita," bisik Naoki dengan lembut.


Tubuh Cleo memegang, kedua tangan mencengkram gaun pengantin dengan kuat. Malam pertama, akankah Naoki Melaku hal itu malam ini. Wajah Cleo memerah, memikirkan apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu.


"Malam pertama kita nginep di hotel. Kamu mikir apa sampai merah gitu." Naoki melepaskan pelukannya, pria itu melangkah menjauh meninggalkan Cleo yang masih mematung.


Entah kenapa Cleo merasa kecewa mendengar penuturan Naoki, malam pertama bukankah itu bagus, kalau mereka memang saling mencintai.


"Jangan bodoh C, jaga hatimu. Jangan jatuh terlalu jauh," gumam Cleo lirih.


Kedua matanya menatap nanar pada punggung Naoki yang berlalu dibalik pintu kamar mandi.


"Tapi sepertinya, terlambat." Cleo meremas dadanya yang terasa sedikit sesak.


"Dia memang tidak ingin menyentuhku," gumam Cleo, setitik air mata jatuh dari mata lentiknya, tetapi dengan cepat ia usap.


Ia kembali menatap hiasan angsa di atas ranjang, dengan tersenyum getir perlahan Cleo menyingkirkan hiasan angsa dan kelopak bunga yang ada di sana. Sayang seribu sayang hiasan ini , kamar yang romantis ini berbanding terbalik dengan hati Cleo yang patah.

__ADS_1


__ADS_2