
Cleo berusaha mendorong tubuh mike yang tengah memerangkapnya di tembok. Meskipun itu sia-sia karena tenaga cleo tidak sebanding, bahkan mike tidak bergeming sama sekali.
"Cleo coba dengarkan penjelasanku sekali saja, jangan seperti ini. Kau terus menghindar, dan tidak memberikan aku kesempatan untuk membela diri. Kau membuat seolah-olah akulah yang bertanggung jawab atas beredarnya foto tidak senonoh mu itu!" ujar mike panjang lebar.
"Kalau bukan kau lalu siapa? Aku harus menyalahkan siapa? Meski kau tidak terlibat langsung di dalamnya, tapi kau ikut andil dalam kejahatan itu!"
"Aku tau dan aku minta maaf," ujar mike dengan nada sendu, jujur ia juga merasa bersalah.
"Apa kau tahu apa yang terjadi sebenarnya hah! Kalau bukan dia yang membawaku pergi, aku tidak tahu apa aku masih bisa berdiri di hadapanmu sekali!" Mata cleo menggembun ingatannya kembali pada malam itu.
Mike terdiam, ia melepaskan kedua tangannya yang memerangkap tubuh cleo.
"Maaf," ucap mike untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah, kau tidak perlu terus meminta maaf. Aku juga bersalah, aku bodoh karena terlalu mudah percaya dengan orang lain. Aku mau pulang, minggir." Cleo melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari mike.
Cleo tidak bermaksud untuk melampiaskan amarahnya pada mike seperti itu, ia hanya terbawa emosi karena masih belum menemukan siapa pelakunya. Meskipun cleo sudah mencair beberapa orang. Namun, ia masih belum memiliki bukti. Cleo ingin menyelidikinya sendiri tanpa harus merepotkan papanya. Ia sudah cukup malu dengan apa yang menimpanya di club, cleo sudah membuat papanya kecewa.
Derap langkah cleo semakin cepat, ia hanya ingin segera pulang.
"Cleo!" teriak seseorang.
Cleo menghentikan langkahnya. Ia tahu dengan pasti siapa yang memanggilnya, salah satu terduga tersangka dalam kejadian malam itu, widya.
Widya berlari mendekati cleo yang berdiri mematung di tengah lapangan sekolah. Nafas gadis itu terengah-engah, ia sudah berlarian kesana kemari untuk mencari cleo.
"C, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu," ucap widya lantang.
Cleo membalikkan badannya, ia menatap tajam pada widya. Cleo bersendekap.
"Apa?" tanya cleo ketus.
Widya bersimpuh di hadapan cleo, dengan kepalanya yang tertunduk.
"Apa yang kau lakukan?! cepat bangun!" teriak cleo, ia berusaha menarik tangan widya untuk berdiri.
__ADS_1
"Aku minta maaf C, malam itu ak- aku yang menjebak mu. Aku yang memasukkan obat dalam minumanmu, aku yang melakukannya maafkan aku!" pekiknya memohon.
Suara widya cukup keras untuk di dengar murid yang berlalu lalang di sana, dalam sekejap kemudian banyak siswa yang berkerumun membentuk lingkaran melihat mereka berdua.
"Jadi kau yang melakukan itu?" tanya cleo dengan bibirnya yang bergetar.
Widya mengangguk.
Seketika cleo menjatuhkan dirinya terduduk didepan widya, kakinya terasa lemas. Meskipun ia sudah menduganya, tetapi tetap saja cleo berharap orang lain yang melakukan itu.
"Kenapa kamu melakukannya? Apa salahku?" tanya cleo lirih.
"Ak- Aku khilaf Cleo, maafkan aku. Aku sungguh menyesal," ujar widya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya.
Cleo diam, ia bingung harus menjawab apa. Memaafkan bukanlah hal yang sulit bagi cleo. Namun, rasa kecewanya tak akan hilang begitu saja. Widya adalah temannya, Cleo selau berdiri untuknya, tapi kenapa ia begitu tega melakukan ini semua?
"Wah ternyata widya yang jebak Cleo."
"Tega bener."
"Huh muka doang polos dalemnya bajingan."
Terdengar bisik-bisik para siswa di sana tentang mereka. Cleo bangkit dari duduknya ia berusaha menguatkan dirinya untuk bangkit.
"Bangunlah wid, kita cari tempat untuk ngobrol. Aku nggak mau kamu malu," ujar cleo sungguh-sungguh. Ia sendiri merasa risih dengan tatapan semua orang padanya.
Cleo mengulurkan tangannya hendak membantu widya bangkit. Namun, widya malah menepisnya. Sebuah seringai kecil tersungging di bibirnya.
Mana mungkin aku melepaskan kesempatan ini begitu saja cleo wang, ayahmu yang sombong itu sudah menghancurkan keluargaku.
"Nggak, aku nggak akan bangun kalau kamu belum memaafkan aku."
"Kita bicarakan ini baik-baik, nggak di sini."
"Tolong maafkan aku Cleo, atau papamu tidak akan mengampuniku," kekeh widya dengan air mata yang mengiba.
__ADS_1
Mata cleo melebar saat mendengar papanya di sangkut pautkan, gadis bermata sipit itu mendesis sesaat.
"Kenapa dengan papa cleo?"
"Apa jangan-jangan cleo anak mafia?"
"Widya diancam papanya cleo, kali ya biar ngaku salah?"
"Anak preman kali cleo, diakan misterius gitu!"
Mendengar ocehan para siswa yang mulai terdengar menyudutkan cleo, membuat hati widya jingkrak-jingkrak kegirangan. Sementara itu cleo tampak tenang, ia mengambil nafas dalam sebelum membuka mulutnya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Jika masalahnya ada pada papaku dan keluargamu, lebih baik kau selesaikan urusanmu dengan beliau sendiri. Aku tidak punya waktu untuk meladeni dramamu!" tegas cleo, kali ini sorot matanya berbeda. Terlihat dingin dan mengancam.
"Bu-Bukan seperti itu, aku benar-benar minta maaf dengan tulus. Maafkan aku, aku bodoh, maafkan aku." Widya bersujud hendak menyentuh kaki cleo mengiba. Cleo segera mundur menghindar.
"Tolong aku Cleo, katakan pada papamu untuk melepaskan keluarga kami. Aku mohon, papamu sangat berkuasa kami kami hanyalah orang biasa. Tolong lepaskan kami, kasihanilah kami. Aku bahkan rela bersujud di kakimu seperti ini hanya untuk mendapatkan maafmu," ujar widya panjang lebar di sertai tangis yang terdengar memilukan, keningnya benar-benar menyentuh tanah.
"Kenapa kau diam saja Cleo? Tolonglah aku. maaf mu adalah kebebasan keluarga ku," imbuh widya semakin mendramatisir keadaan.
"Cleo kejem banget ya."
"Widya udah ngaku salah, maafin dia!" teriak salah seorang siswa.
Senyum widya semakin lebar, mendengar ada yang mulai membelanya. Cleo tersenyum miring, ia kemudian berjongkok didepan widya.
"Kau yakin jika aku memberimu maaf, keluargamu akan bebas?"
"Iya." Widya mengangkat kepalanya menghadap cleo. Cleo kembali berdiri.
"Papamu melakukan korupsi di perusahaan papaku, Kakakmu di penjara karena narkoba dan kau bersujud di sini meminta maafku. Berharap maafku bisa membebaskan mereka semua?"
"Apa kau tidak bisa berpikir dengan jernih Nona Widya? Papaku alex wang sudah cukup bermurah hati untuk tidak menyeret orang tuamu ke jalur hukum, dan beliau masih mau memberikan kesempatan pada papamu untuk berkerja di perusahaan kami! kalau masalah kakakmu kau bisa membawa pengacara dan membelanya di pengadilan, bukan malah membuat drama di sini. Kalau masalah maaf, aku sudah memaafkanmu tapi aku tidak bisa lagi percaya dengan mu!"
Tangan widya mengepal kuat, ia tida menyangka cleo tau semuanya. Semua orang terdiam saat cleo menyebutkan alex wang sebagai orang tuanya. Mereka sungguh sangat terkejut dengan hal itu.
__ADS_1
Cleo meninggalkan widya begitu saja, semua orang yang berkerumun di sana menatap gadis itu dengan tatapan mengejek.
"Kau akan membayar semua ini cleo wang," gumam widya sambil melempar tatapan marah pada cleo yang berlalu.