C & N

C & N
Eps 57


__ADS_3

Saat makan siang tiba, Naoki pergi ke kantin seperti karyawan lainnya. Ia menikmati sepiring nasi hangat dengan ayam goreng dan es jeruk, ya menu biasa saja.


Naoki mengeluarkan ponselnya, ia teringat akan istrinya. Ia mengirimkan pesan singkat pada Cleo.


[ "Udah makan?" ]


[ "Udah, kamu?" ]


[ "Dalam proses." ]


Naoki mengirimkan gambar makanan yang sedang ia nikmati.


[ "Cepat makan, semangat kerjanya. Aku udah mau masuk kelas lagi." ]


[ "Iya." ]


Naoki tersenyum tipis, ia kembali menyimpan ponselnya.dan melanjutkan makan siangnya. Saling bertukar Chat singkat dengan sang istri, cukup untuk membuat Naoki kembali bersemangat untuk berkutat dengan pekerjaannya.


"Boleh duduk sini nggak?"


"Duduk saja ini tempat umum, nggak usah ijin segala," jawab Naoki tanpa melihat pada siapa yang bertanya.


Savira tersenyum, ia meletakkan teh miliknya di meja kemudian duduk di depan Naoki.


"Masih ketus aja Ki," ucap wanita itu.


Naoki mendongakkan kepalanya, ah ... Savira gadis ini. Sungguh malas sebenarnya, tetapi Naoki harus bersikap profesional di tempat kerja mereka adalah rekan, apalagi Savira adalah atasannya.


"Hem ..." Naoki tersenyum sopan, kemudian kembali menikmati makan siangnya.


Sial aku sudah ada dihadapannya tapi laki-laki ini masih saja mengacuhkan aku. Lihat saja aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku.


"Ki, Apa aku tidak suka padaku?" tanya Savira dengan wajah memelas.


Naoki mengerutkan keningnya, ia masih belum mengerti dengan pertanyaan Savira.


Ia menatap Savira dengan tidak mengerti.


"Suka bagaimana maksud Anda?" tanya Naoki dengan sangat sopan.


"Kenapa kau mengunakan Anda. Kita seumuran kan? Dan aku juga teman kuliahmu, kau tidak perlu bicara seperti itu denganku."


"Bagaimanapun Anda adalah atasan saya Nona Savira, Anda adalah seorang direktur dan saya hanya staf biasa. Sudah sepatutnya saya berbicara dengan sopan Pada Anda," jawab Naoki dengan tenang.


Savira berdecak sebal, ia kira dengan dia berkerja di perusahaan ini akan membuka kesempatan untuk mendekati Naoki, dan membuat hubungan mereka lebih baik. Namun, nyatanya laki-laki ini masih bersikap begitu dingin dan menjaga jarak dengannya.


Tidak boleh seperti ini, Savira tidak pernah mengenal kata menyerah. Dia harus mendapatkan apa yang ia mau, tidak perduli bagaimanapun caranya.


"O begitu ya, maaf ya ini hari pertama aku berkerja jadi aku nggak tau hal seperti itu," ujar Savira dengan raut wajah menyesal.


"Maaf Nona, jam makan siang sudah habis. Saya harus kembali berkerja, dan saya harap kedepannya kita tidak terlalu sering bertemu. Saya tidak ingin ada gosip yang beredar, yang akan menyulitkan saya sebagai staf biasa. Permisi." Naoki beranjak dari duduknya, meninggalkan Savira yang mengepalkan tangannya kesal.


"Papi ...! "Teriak Savira saat memasuki ruangan Presdir.


Pria paruh baya yang sedang berkerja, segera menyambut kedatangan putri kesayangannya.

__ADS_1


"Ada apa Sayang? Kenapa wajahmu masam begitu?" tanya Aksara.


Savira mendudukkan dirinya dengan kesal di sofa yang ada di sana, kedua tangannya terlipat di dada, dengan bibir yang manyun karena kesal. Aksara bangkit dari duduknya, meninggalkan berkas yang hendak ia tanda tangani untuk menenangkan sang putri.


"Kenapa, Hem? Cerita dong sama Papi?" tanya Aksara, setelah duduk di samping Savira.


"Papi aku mau Naoki kerjasama aku," rengek Savira.


"Naoki," beo Aksara dengan alis yang di tautkan.


"Iya Naoki, staf keuangan itu. Anak baru yang satu kuliahan sama Savira dulu," ucap Savira lirih di akhir ucapannya.


Aksara tergelak, ia tahu kemana arah pembicaraan putrinya itu. Rupa-rupanya Savira sedang tertarik dengan lawan jenisnya.


"Katakan siapa dia, papi akan mengaturnya untukmu." Aksara mengusap lembut rambut putrinya.


"Beneran, Pi?" tanya Savira dengan mata yang berbinar.


"Tentu, dong. Kapan papi pernah bohong sama kamu."


"Papi memang terbaik, vira sayang sama Papi." Savira memeluk erat tubuh sang ayah.


"Apapun untukmu Sayang, apapun."


Savira adalah anak kedua dari Aksara, dua bulan setelah kelahiran Savira. Istrinya meninggal, Aksara berjanji akan merawat Savira dengan segenap kasih sayang yang ia punya. Aksara tidak akan membiarkan putrinya itu merasa kekurangan dalam hidupnya.


"Naoki, kamu dipanggil ke ruang Presdir," ujar seseorang.


"Baik Pak, saya akan segera kesana," jawab Naoki tegas.


"Mana ku tau Bambang," jawab Naoki.


"Aku saleh bukan bambang, Ferguso."


"Terserah kamu, Fernando." Naoki bangkit dari duduknya, ia bergegas ke ruang Presdir yang ada di lantai 20.


Setelah menarik lift, akhirnya Naoki sampai didepan ruangan pimpinan perusahaan itu. Dengan sopan Naoki mengetuk pintu besar yang ada di hadapannya.


"Masuk," sahut seseorang dari dalam.


Naoki mendorong pelan pintu itu hingga memungkinkan ia masuk. Pria paruh baya yang duduk di kursi kebesarannya, menyambut Naoki dengan senyuman ramah.


"Apa Bapak memanggil saya?" tanya Naoki dengan sopan.


"Iya, benar. Duduklah."


Naoki mengangguk, ia kemudian duduk di salah satu bangku yang berhadapan dengan sang pimpinan.


"Begini, saya akan mempromosikan kamu untuk menjadi sekretaris direktur. Kebetulan posisi itu masih kosong dan saya rasa kamu orang yang cocok dengan perkejaan ini," ucap Aksara to the points.


"Sekretaris direktur Pak," beo Naoki.


"Iya."


"Tapi saya baru berkerja di sini seminggu, apa saya pantas untuk naik jabatan setinggi itu?" tanya Naoki dengan ragu.

__ADS_1


"Kamu meremehkan penilaian saya."


"Tidak Pak, tentu saja tidak."


"Kalau begitu saya anggap tidak ada masalah lagi. Untuk rincian gaji dan lain-lainnya akan kamu terima besok, kamu boleh pulang lebih awal hari ini, siapkan dirimu dengan baik."


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."


Naoki pun undur diri, antara senang dan heran. Semudah inikah untuk naik pangkat di perusahaan ini, seminggu saja dari staf keuangan biasa bisa langsung jadi sekertaris direktur. Aneh, tapi ya sudahlah. Semakin tinggi jabatan bukankah gajinya juga akan lebih besar.


Karena Naoki diizinkan untuk pulang lebih awal, ia memutuskan untuk pergi ke kafe, sudah lama ia tidak mengunjungi kafenya.


"Naoki!" panggil seseorang dengan berteriak.


Naoki pun menoleh, ia memutar bola matanya saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Kamu udah mau pulang? Boleh bareng nggak?" tanya Savira dengan wajah memelas.


"Aku .... Apa rumah kita searah? Saya rasa tidak," jawab Naoki dan mulai mengayunkan kakinya menuju mobil.


"Kamu kan bisa anterin aku dulu, lagi pula kamu sekertaris aku. Jadi ya boleh dong aku nebeng, mobil aku mogok soalnya," bohong Savira.


"Apa?" Tanya Naoki terkejut, langkahnya terhenti seketika. Hingga Savira menabrak tubuh Naoki yang berhenti mendadak.


"Aku jadi sekertaris kamu?" tanya Naoki lagi, ia membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Savira.


"Iya, kamu seneng kan." Savira dengan serta merta memeluk erat Naoki, tentu saja Naoki segera melepaskannya walaupun, tubuh Savira menempel seperti noda membandel.


"Astaga, aku pikir aku akan jadi sekertaris pak bagas direktur keuangan, kenapa bisa jadi sekertaris kamu," keluh Naoki setelah berhasil melepaskan pelukan Savira.


"Pak bagas? Dia kan udah ada jenny jadi sekertarisnya, aku yang nggak punya. Lagian kenapa sih, kan enak bisa kerja sama temen sendiri."


Naoki menghela nafasnya berat, tangannya memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Melihat ada kesempatan, Savira langsung nemplok lagi pada Naoki.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan? Ini kantor


jangan macem-macem!" sentak Naoki sambil lepaskan tubuh Savira.


"Berarti kalau nggak di kantor boleh?"


"Nggak! Ingat kita hanya rekan kerja nggak lebih, maaf aku ada urusan mendadak jadi nggak bisa nganterin kamu pulang. Lebih baik kamu naik taksi aja, selamat sore." Naoki melangkah meninggalkan Savira.


Savira tidak mengejar Naoki, ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Seorang wanita keluar dari tempat persembunyiannya, ia tersenyum kearah Savira.


"Bagaimana? Bagus nggak?"


Wanita itu tidak menjawab, ia memperlihatkan ponselnya pada Savira. Savira berdecak kagum, ia dan Naoki terlihat begitu intim siapapun pasti akan mengira mereka berpelukan dengan sengaja.


"Kerja bagus," puji Savira.


"Tentu Nona, saya tidak akan mengecewakan Anda," jawab wanita itu.


"Ok, selanjutnya aku serahkan pada kamu." Savira meninggalkan wanita itu.


"Tentu saja aku akan dengan senang hati menghancurkan Cleo," ucap Widya dengan seringai liciknya.

__ADS_1


__ADS_2