
"Ceraikan aku!"
Kedua mata Naoki membeliak lebar, kata yang baru ia dengar dari Cleo bagai belati yang menghujam hati. Naoki menggeleng cepat, dengan kedua tangannya pria itu membingkai wajah pucat Cleo.
"Kau boleh meminta apapun, apapun tapi tidak untuk berpisah!" tegas Naoki, Cleo tersenyum miring.
"Lalu apa yang bisa kau berikan, aku sudah nggak mau sama kamu, Ki. Aku muak, kamu selalu bohongin aku. Pergi...! pergi dari hadapanku!"
Cleo memberontak, ia mendorong tubuh Naoki sekeras yang ia bisa, meski tak menggeser Naoki menjauh sama sekali. Wanita bermata sipit itu meraung keras dengan bulir bening yang berbondong-bondong keluar dari sudut mata.
"Kamu jahat Ki ...! jahat ...!" kedua tangannya mengepal, memukul brutal dada sang suami.
Naoki membiarkan Cleo menuntaskan amarah dan kesedihannya, rasa sakit yang ia dapatkan dari pukulan itu tak sebanding dengan rasa sakit Cleo. Sama sekali tak sebanding, karena Naoki juga merasakan hal yang sama. Tidak mudah kehilangan sesuatu yang berharga dalam kehidupan kita.
Baru saja beberapa jam yang lalu Naoki tahu keberadaan sang calon buah hati, betapa bahagia ia akan menjadi seorang ayah. Seperti mimpi, semua itu sirna hanya dalam sekejap mata. Lalu bagaimana dengan Cleo, wanita yang mengandungnya. Dia pasti merasa sangat kehilangan melebihi dirinya.
Pukulan Cleo berhenti. Naoki memeluk tubuh mungil Cleo dengan erat.
"Maaf," bisiknya lagi.
"Aa ....!!" Cleo berteriak dalam pelukan Naoki, tangan lentiknya mencengkeram kuat baju pasien yang dipakai sang suami.
"Apa kita masuk sekarang, Sayang?" tanya Arie setengah berbisik.
"Tunggu mereka lebih tenang." Arie mengangguk kecil.
Alex kembali menutup celah pintu yang sempat ia buka. Arie dan sang suami langsung terbang ke Taiwan begitu mendapat kabar dari Naoki. Dan mereka sudah berdiri cukup lama di luar kamar rawat Cleo, mereka berdua memutuskan untuk tidak langsung masuk saat mendengar Cleo berteriak mengucapkan kata Cerai.
Setelah cukup lama meninggal, Arie memutuskan untuk mengintip lagi. Ia membuka pintu sedikit agar bisa melihat ke dalam. Situasi sudah lebih tenang, Arie memberikan sinyal jempol pada suaminya.
Suara derit pintu yang terbuka membuat Naoki menoleh. Dia tersenyum kemudian mengangguk kecil, di sambut senyuman oleh Arie
"Sayang, lihat siapa yang datang," bisik Naoki.
__ADS_1
"Siapa?" suara Cleo terdengar serak, wanita sipit itu sedikit menarik diri dari pelukan Naoki.
"Mama!" Pekik Cleo, Wanita bersuara cempreng itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Melihat Cleo ingin turun dari ranjang, Naoki segera mencegahnya. Arie dan sang suami pun segera mendekat ke ranjang Cleo. Di dekap erat tubuh Cleo yang masih lemas, tangis Cleo tumpah lagi dalam pelukan sang Mama.
Tak ada kata yang Arie ucapkan, ia hanya terus mengusap lembut punggung Cleo yang bergetar. Alex turut mengusap kepala putri semata wayangnya.
Alex memberi isyarat pada menantu kesayangan, agar ikut dia keluar kamar. Naoki mengangguk, ia mengikuti langkah Alex yang sudah mendahuluinya.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang?" tanya wanita paruh baya itu dengan begitu lembut.
"Cleo baik Ma, tapi bayi Cleo dia ... dia ..."
"Stt ... Mama sudah tau semuanya, kamu yang sabar ya. Meskipun Mama tau itu sulit, tapi ini semua sudah takdirnya Nak." Cleo mengangguk lemah.
"Apa kamu masih marahan sama Naoki?"
Cleo melepaskan pelukan. Arie mengambil mengambil bangku yang tersedia di sana, mengenyakkan bokongnya, meraih tangan Cleo fan menggenggamnya erat.
"Cleo benci sama dia Ma, benci banget." Cleo menunduk memegangi dadanya yang kembali terasa sesak.
Arie menghela nafas panjang, ia kemudian mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"C, Mama tau ini berat. Mama juga tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kamu, tapi ada baiknya kamu memberi kesempatan pada Naoki untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, kadang yang apa yang dilihat mata kita, tidak sepenuhnya benar."
"Entahlah, Ma," jawabnya dengan enggan.
Sambungan ponsel Arie telah tersambung, seorang wanita paruh baya terpampang di layar ponsel Arie.
"Halo Mbak!" sapa Arie.
"Halo, gimana keadaan Cleo Mbak Arie?"
__ADS_1
"Nih, ngomong aja sama orangnya langsung." Arie mengarahkan ponselnya pada Cleo.
"Halo sayang, Gimana keadaan kamu di sana? Maaf ya Mama Siska nggak bisa ikut jenguk kamu, soalnya anak Mama juga sama lagi di rawat di rumah sakit," Siska langsung bicara panjang lebar saat melihat Cleo.
"Iya Ma, nggak apa-apa kok. Cleo baik." Cleo memasang senyum dengan terpaksa.
"Syukurlah kalau begitu, dimana Naoki? kenap dia tidak menemani mu?"
"Naoki sama Alex Mbak, biasalah cowok," sahut Arie.
"Ma, tadi Mama Siska bilang anak Mama di rawat siapa?" tanya Cleo dengan alis yang hampir menyatu.
Siska tersenyum. " Dia adik Naoki, anak Mama yang di culik saat masih kecil."
Mata Siska tampak menggembun saat mengatakan hal itu, wanita paruh baya itu berpaling dari layar mengusap lelehan bening yang jatuh dari sudut matanya.
"Adik," gumam Cleo lirih.
Naoki mengatakan sesuatu tentang adiknya juga, mungkinkah Cleo hanya salah paham? tapi kenapa Naoki tidak pernah memberi tahu Cleo jika dia bertemu dengan adiknya?
Cleo tersenyum getir, Naoki masih sama. Pria itu tidak pernah menceritakan apapun padanya, Cleo merasa seperti orang asing.
Setelah berbincang cukup lama, Arie memutuskan sambungan teleponnya dengan besarnya itu. Cleo kembali istirahat karena masih merasa sangat lemas.
Sementara itu kedua orang tuanya, pamit untuk pulang rumah mereka yang ada di Taiwan. Rumah besar di mana Alex dibesarkan.
Naoki duduk di samping Cleo, tangannya menggenggam erat tangan Cleo. Infus Naoki telah dilepas, karena dia sudah merasa lebih baik. Di tatapannya lamat-lamat wajah pucat Cleo.
"Bagaimana, apa kau akan mewujudkan keinginan Cleo untuk bercerai? jika iya, lekas urus semuanya. Jika tidak, selesaikan masalahmu dengan Cleo secepatnya! Aku sudah menyelesaikan masalah video itu berserta pelakunya, jangan membuat Cleo kecewa lagi. Atau aku akan mengambilnya darimu meskipun dia tidak mau!"
Kalimat yang cukup panjang bagi seorang Alex, dan tiap kata-katanya masih terngiang di telinga Naoki.
"Maafkan aku, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu." Naoki mengecup punggung tangan Cleo lama, laki-laki membaringkan kepalanya ditepi ranjang.
__ADS_1
Hati Cleo terenyuh, sebenarnya wanita itu hanya pura-pura tidur. Saat Naoki masuk, dia sebenarnya sudah bangun. Hanya saja, Cleo masih enggan untuk bicara dengan sang suami.
"Maafkan aku juga Ki, seharusnya aku bertanya dulu sebelum memutuskan untuk pergi," gumam Cleo dalam hati.