C & N

C & N
Part 69


__ADS_3

Naoki duduk dengan tidak tenang di teras rumah keluarga Wang, berkali-kali ia berdiri dan menengok ke arah pintu pagar. Berharap mobil mertuanya tiba.


Laki-laki itu sangat mencemaskan keadaan Cleo. Menurut Bi Asih Cleo datang dengan membawa koper dan luka di kakinya yang masih basah. Bahkan Cleo tidak mengunakan alas kaki, wanita itu terlihat sangat kacau dengan kedua matanya yang hampir tidak terlihat karena sembab.


Naoki tidak tahu apa sebabnya Cleo bisa seperti itu, bukankah semua baik-baik saja. Selama dia di Jakarta, mereka selalu melakukan video call dan Cleo terlihat baik. Istrinya hanya mengeluh masuk angin dan ingin beristirahat.


Ingin rasanya Naoki menyusul kemana Mama Arie membawa Cleo, tetapi Bi Asih tidak tahu kemana Ipul mengantarkan mereka. Naoki memutuskan untuk menunggu saja di rumah.


"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada istriku." Naoki mengusap wajahnya kasar.


"Di minum dulu tehnya," ucap Bi Asih sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja.


"Terima kasih," ucap Naoki dengan tertunduk lesu.


Bi Asih tidak tega melihat Naoki seperti itu, tetapi ia juga tidak paham apa yang terjadi antara Naoki dan Cleo. Keadaan Cleo tadi bahkan lebih buruk dari Naoki, tatapannya kosong. Ia bahkan tidak begitu merespon saat Arie bicara padanya.


"Yang sabar ya, sebentar lagi mereka pasti kembali." Naoki hanya mengangguk lemah.


Naoki mengangkat wajahnya, menoleh kearah sepeda motor Cleo yang masih terparkir di halaman rumah. Pijakan depan motor itu terlihat merah, itu adalah darah Cleo yang sudah mengering. Naoki tidak bisa membayangkan bagaimana luka yang dialami Cleo.


Klakson mobil membuat perhatian Naoki teralihkan, sebuah mobil sport masuk dan berhenti sempurna didepan Naoki.


"Sayang, sabar. Jangan bertindak gegabah," Arie berusaha menahan suaminya yang tampak marah, mata sipitnya melebar dua kali lipat daripada biasanya.


"Aku tidak bisa sabar, ini soal Cleo. Dan laki-laki keparat itu harus merasakan akibatnya!" Dengan kasar Alex melepaskan sabuk pengamannya.


"Tapi Sayang."


Alex seolah tuli, dia tidak lagi bisa mendengar apa yang istrinya ucapkan. Amarah sudah menutup mata dan telinga Alex. Tanpa menutup pintu mobil Alex berjalan bersungut-sungut menghampiri Naoki.


Arie segera turun dari mobil, ia harus bisa mencegah suaminya bertindak gegabah. Naoki bangkit dari duduknya, melangkah maju menyambut Alex.


"Pa, di mana Cleo?" tanya Naoki saat melihat Mama mertuanya turun dari mobil.

__ADS_1


Mobil sport itu hanya muat untuk dua orang, jika Mama dan Papa mertua ada di mobil itu, lalu di mana Cleo. Bukan jawaban yang Naoki dapatkan, tetapi sebuah pukul diperutnya.


"Alex!" pekik Arie.


Naoki memegangi perutnya, sambil meringis menahan sakit. Bi Asih yang ada di sana pun terkejut melihatnya.


"Pa, ada ap.-"


Brugh.


Kali ini pukulan Alex mendarat di wajah Naoki, lagi dan lagi. Naoki terus menerima pukulan dari Papa mertuanya. Bi Asih hanya berdiri disamping pintu, ia bingung harus bagaimana. Ini pertama kalinya Bi.Asih melihat sang Tuan marah seperti itu.


"Alex cukup! Aku bilang cukup!" Teriak Arie, ia berusaha menahan lengan suaminya agar tidak terus memukul Naoki.


"Lepaskan, aku harus memberi laki-laki ini pelajaran!" Alex yang di kuasai amarah tanpa sadar menghempaskan lengannya dengan kuat hingga membuat Arie terjatuh.


"Auh ...!" Arie mengusap bokongnya yang baru berciuman dengan lantai.


"Sayang!"


Alex merasa bersalah telah membuat istrinya jatuh. Bi Asih menuntun majikannya untuk bangkit, kemudian duduk di sofa yang ada di sana. Alex bersimpuh di hadapan Arie.


"Mana yang sakit Sayang, apa ini? bagaimana dengan yang ini, apa sakit?" tanya Alex dengan cemas, tangannya sibuk membolak-balik kaki dan pinggang Arie.


Alex begitu fokus pada isterinya, hingga lupa akan amarahnya pada Naoki. Sedangkan Naoki, laki-laki juga terduduk di lantai. Wajahnya penuh lebam, satu tangannya memegangi perut yang terasa nyeri. Naoki masih sangat bingung dengan apa yang terjadi.


Istrinya terluka, ayah mertua menghajar Naoki tanpa sebab yang jelas. Entah apa salah Naoki pada Cleo sebenarnya.


"Ma, Pa. Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong, jelaskan?" tanyanya memohon.


Alex yang tadinya lupa, kembali geram saat mendengar pertanyaan bodoh Naoki. Apa dia tidak sadar, sudah membuat Cleo menangis dan terluka seperti itu. Alex yang hendak bangkit ditahan oleh Arie.


Alex menatap istrinya, Arie menggeleng pelan.

__ADS_1


"Sudah cukup, kita semua butuh waktu," ucap Arie lembut. Alex membuang mukanya mendengus dingin.


"Ki, sebaiknya kau pulang dulu. Kita bicarakan semuanya besok."


"Tapi Ma, Cleo di mana? aku ingin bertemu dengannya." Naoki menatap Arie penuh harap.


"Cleo, dia juga butuh waktu untuk memenangkan diri. Kita semua sedang tidak baik-baik saja, lebih baik kau pulang dulu."


"Baik Ma."


Naoki berusaha untuk bangkit dengan susah payahnya, ia berjalan gontai dengan seribu tanya dalam hati. Dia berusaha untuk tetap sadar agar bisa mengendarai mobil dengan baik untuk pulang.


Kamar ini, adalah satu-satunya petunjuk tentang apa yang terjadi sebenarnya. Naoki mengedarkan pandangannya dari tengah pintu. Kamar itu begitu kacau, apa seperti ini yang dirasakan Cleo? tapi kenapa? apa yang membuat Cleo seperti ini?


Naoki mulai memasuki kamar itu, tiap langkah kakinya menimbulkan bunyi karena menginjak barang-barang yang berserak di lantai. Pecahan kaca, botol make up, minyak wangi, vas bunga dan lampu tidur. Tidak ada yang terlewatkan dari amukan Cleo, bahkan foto pernikahan mereka.


Naoki membayangkan bagaimana marahnya Cleo, hingga melakukan hal segila ini. Sampai dia tidak merasakan sakit saat darah mengalir dari tubuhnya. Dada Naoki begitu sesak, memikirkan bagaimana kondisi Cleo saat berada dalam kamar itu.


"C, apa yang terjadi sebenarnya Sayang?" Naoki melangkah mundur hingga punggungnya bertemu dengan tembok.


Ia menarik nafas dalam, matanya terpejam. Perlahan tubuh Naoki merosot hingga terduduk di lantai yang penuh dengan barang-barang itu.


Harus kemana lagi dia mencari Cleo, Naoki bahkan tidak tahu siapa saja teman Cleo di kampus.


Naoki menekuk lutut, menenggelamkan wajahnya dalam lutut dan tangan yang tekuk, ia sangat bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Pada siapa dia harus bertanya.


Naoki mengangkat wajahnya, sebuah benda berwarna kuning mencuri perhatiannya. Naoki segera bangkit, dan mengambil benda itu.


Naoki mencoba menyalakan benda pipih milik isterinya itu, ia berharap bisa menemukan petunjuk dari benda itu.


"Mati, ck ...sial!" umpatnya.


Naoki berjalan cepat, ia mengeluarkan charger dari laci disamping ranjangnya.

__ADS_1


"Ayo, cepetan nyala."


Tapi harapan Naoki tidak terwujud, benda pipih itu tidak merespon meskipun Naoki telah mengisi daya.


__ADS_2